'nBASIS

Home » ARTIKEL » LANDSCAPE POLITIK SUMATERA UTARA

LANDSCAPE POLITIK SUMATERA UTARA

AKSES

  • 545,203 KALI

ARSIP


Seyogianya ada tiga hal penting yang menjadi prasyarat untuk  mengawali pembicaraan tentang landscape politik, yakni voters dan non-voters, election trends dan voters attitude. Tetapi siapa pun akan menghadapi kesulitan besar di sini. Ini terkait dengan sifat dasar pemilu demi pemilu di Indonesia, kecuali pemilu pertama 1955 dan pemilu 1999, yang menjadi turunan dari thin democracy atau transactional democracy yang berlangsung dan dibudayakan.

Tampaknya, kita dengan sukarela selalu lebih menonjolkan kriminalisasi demokrasi, dan karenanya, boleh disebut Indonesia tidak memiliki data politik. Semua keterangan yang kita miliki tidak dapat dipercaya, melainkan sekadar data klaim politik belaka. Maka dengan demikian, membincangkan ketiga hal tersebut  akan selalu terasa seakan sia-sia.

Sebagai catatan pendukung untuk itu, menurut evaluasi demokrasi Indonesia untuk Sumut (2010), beberapa hal yang tetap menjadi kendala serius di antaranya  netralitas penyelenggara; perdagangan kekuasaan (trade in influence) atau intimidasi oleh pemerintah berkuasa;  Daftar Pemilih Tetap (DPT);  money politics; kecurangan dalam perhitungan suara (pencurian suara);  intimidasi;  dan lain-lain.

Jika dibandingkan dengan data base yang dibuat oleh Sarah Birch (2010), umumnya negara-negara semi-demokrasi dan negara-negara yang baru saja belajar demokrasi, selalu setia menandai pemilunya dengan 15 variable penting terkait dengan keterpercayaan sebuah pemilu. Ini pun sangat bersesuaian dengan fenomena demokrasi Indonesia sekarang ini.

Karena itu, pemilu di Indonesia dianggap hanyalah bagian penting yang meneguhkan karakteristik procedural democracy belaka. Atau dalam bahasa lebih vulgar, Rizal Ramli (2013) menyebutnya criminal democracy. Tetapi tentulah kita tidak dapat menghindari untuk tidak menggunakan data-data tersedia produk lembaga resmi (KPU) untuk membuat analisis, karena hanya itu yang kita punyai.

Catatan dari Masa Lalu. Sumatera Utara adalah Indonesia mini. Provinsi dinamis yang berpenduduk belasan juta jiwa ini tak ubahnya titik perpaduan berbagai etnis dan agama. Potret multikulturalitas mewarnai ekspresi politik. Pada catatan Pemilu 1955 ditemukan bahwa Partai Masyumi unggul, disusul PNI dan PKI. Polarisasi Islam dan non Islam menujukkan pertarungan cukup berimbang.

Kita tahu bahwa Pemilu era Orde Baru selalu menempatkan Golkar sebagai pemenang yang dominan di seluruh wilayah Indonesia termasuk di Sumatera Utara. Kelebihan Golkar itu adalah pada faktor keterbukaan yang menyatukan keragaman budaya menjadi homogenitas yang menautkan seluruh Indonesia. Tetapi jangan dilupakan faktor-faktor penyangga birokrat dan kekuatan militer.

Sesungguhnya tidak ada menariknya membahas pemilu-pemilu Indonesia selama Orde Baru itu, karena sudah dipastikan bahwa PDI harus selalu berada di bawah kekuatan PPP yang menjadi pelengkap bagi Golkar. Jika kedua partai ini dianggap sebagai kanalisasi politik bagi loyalis Islam, nasionalis, dan Kristen, nyatanya kian hari kekuatannya pun kian berkurang. Itu memang by design.

Pemilu pertama setelah reformasi (1999) dominasi tiga dasawarsa Golkar diinterupsi oleh PDI-P. Menurut catatan, mayoritas kabupaten/ kota yang sebelumnya menjadi basis Golkar dapat direbut oleh PDI-P. Tetapi maintenance PDIP tidak mampu mempertahankan kemenangan itu. Karena pada tahun 2004, basis kekuatan mereka kembali dikuasai Golkar. Partai Demokrat secara mengejutkan mengeliminasi kekuatan-kekuatan lama pada pemilu 2009. Golkar dan PDI-P merasa sama-sama mendapat badai “tsunami” yang dahsyat. Partai ini tercatat mampu menguasai mayoritas kursi di DPRD Sumut.  Golkar akhirnya harus puas dengan sisa kekuasaan (lama) di kabupaten tertentu, sedangkan  PDI-P bertahan di wilayah tradisionalnya pula. Tetapi meskipun demikian, fakta yang mirip egalitarianism politik terlihat di beberapa Kabupaten/Kota dalam bentuk tiadanya partai dominan dan penguasaan kursi di DPRD.

Uang, Suku dan Umat. Ke depan diperkirakan masih belum akan ada perubahan dalam perilaku politik pemilu di Indonesia, termasuk Sumatera Utara. Rumusnya uang, suku dan umat.  Secara formal orang semakin berani mengatakan permusuhannya atas agama dalam tataran kelembagaan politik, namun sebaliknya tak tersambut dalam dimensi pereferensional politik rakyat. Ini memang paradoks.

Partai mana yang paling mampu memainkan instrument itu, dianggap memiliki peluang terbesar menjadi pemenang. Ungkapan-ungkapan “wani piro” bukan saja beredar begitu umum di media sosial, tetapi sudah menjadi wacana harian di public sphere. Program legislasi nasional (undang-undang) kita memang tidak tertarik melakukan perbaikan.  Mereka hanya menginginkan para moralis dan agamawan berteriak melawan saat mereka tersakiti oleh praktik money politic lawan.

Seluruh etnis di Sumatera Utara memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu dalam capaian rivalitas politik selama ini. Torehan jejak itu tidak mudah pupus. Apalagi dengan otonomi daerah, penguatan etnisitas dalam politik ternyata mendapat tempat yang subur. Partai agama saja masih ada di Indonesia, maka menepis agama sebagai preferensi dalam penentuan pilihan politik akhirnya adalah menjadi sesuatu yang tidak relevan.

Amerika saja dalam praktik pilpres terakhir masih berhadapan dengan isu ini. Mereka menemukan prinsip “my faith is my vote, atau my vote is my faith”. Tetapi praktik ini tidak terbatas pada upaya pembuhulan mobilisasi politik untuk partai berbasis agama saja, karena di antara sesama caleg dalam sebuah partai pun, hal ini tetap menguat.

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakali oleh Harian Medan Bisnis, Medan, 2 September 2013, hlm 2

Advertisements

1 Comment

  1. […] Landscape Politik Sumatera Utara […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: