'nBASIS

Home » ARTIKEL » ORANG PALING TEGAR PADA MASA SULIT

ORANG PALING TEGAR PADA MASA SULIT

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Saudara. Kita adalah pewaris sebuah negeri yang sudah sangat terbiasa dengan kesulitan. Mungkin terkesan terlalu apatis jika mengatakan bahwa kesulitan adalah warisan terbesar kita. Tetapi faktanya memang begitu.

Tiga ratus lima puluh tahun dijajah Belanda. Saya tak tahu bangsa mana lagi di dunia ini yang dijajah sebegitu lama. Meski sebentar, sekitar 3,5 tahun, Jepang mengeksploitasi dalam kesempatan menduduki dengan memperagakan fasismenya yang mengerikan. Jika kemudian sebuah takdir mengharuskan perubahan hingga akhirnya bisa merdeka tanggal 17 Agustus 1945, itu tak lain ialah berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa. Asa merdeka, tak sebanding dengan daya merdeka.

Saya teringat gelegar pembacaan proklamasi itu. Saya kira Saudara juga pernah teringat arus besar yang terbentuk atas nama kebebasan dan tuntutan kesetaraan dari sebuah poros baru negara-negara lemah, antara lain ketika mereka berkumpul di Bandung tahun 1955 dalam forum yang  kemudian oleh dunia lebih dikenal dengan konferensi Asia-Afrika.

Tetapi saya tidak bisa memahami keindonesiaan ketika Mohammad Hatta yang tulus dan rendah hati itu harus memilih pergi. Sudah sangat benar pilihannya untuk tak bertengkar, dan membiarkan orang yang ingin sendiri karena ketak-siapan berembuk, bermuhasabah dan berdemokrasi. Dunia pasti mencatat kebesaran jiwa itu. Lalu, banyak orang kemudian dipenjarakan. Sebutlah Soetan Sjahrir di antaranya, yang meringkuk justru pada lembaran-lembaran awal catatan negara yang ianya ikut memerdekakannya. Kita berkelahi sesama (perang saudara). Mengapa sangat terkesan keinginan orang-orang pemanggul senjata itu dengan watak tak boleh ada yang menghalangi pemenuhannya? Iya, mereka berwatak tak boleh diinterupsi. Bukanlah sebuah pertanyaan lagi di sini. Jatuhlah Soekarno yang berkeinginan menjadi Presiden seumur hidup, ibarat raja yang punya sejuta alasan pembenaran. Tetapi “kerajaan” pun kembali di persimpangan jalan setelah 3 dasawarsa kemudian. Seperti pendahulunya yang bengal dan udik itu, Soeharto pun tidak tahu harus bagaimana bernegara. Ia benar-benar gagap. Ia hanya tahu dan mungkin pernah membaca bahwa raja itu memang harus selalu siap menerima upeti, memperjelas perbedaan sebagai kesalahan setiap orang untuk alasan penghukuman. Ia adalah titah tak terbantahkan.

BJ Habibie bukan orang dekat, sayang sekali, dan orang-orang yang secara aneh merasa lebih memiliki negeri ini merasa pula bahwa BJ Habibie bukan kita. Bukan kita. Bukan kita. Dia orang jauh. Orang dekat adalah rombongan pengklaim terbesar karena kerongkongan dan suaranya bariton. Itu tak boleh dilawan juga, karena sudah begitu. Mengapa begitu? Ya, karena memang sudah begitu. Mungkin 50 tahun lagi barulah ada penyesalan karena sebetulnya hingga hari ini belum ada orang yang mengenal Indonesia dan BJ Habibie.

Kita turunkan Gus Dur sambil mengejeknya yang bersungut-sungut pergi meninggalkan istana bercelana kolor dengan dituntun para pengawal dan famili-familinya, dan ketika itulah Mega dianggap sudah berubah bentuk menjadi layak merasakan sesuatu yang tadinya dianggap sama sekali bukanlah untuknya. Tiba juga saat ketika ia dianggap sangat berhak, melebihi hak-hak lazim seorang ibu pemilik sanggul besar. Tetapi, ibarat kueh yang hanya sepotong kecil, kedua pewaris penggilir tahta terbatas ini seperti wajib berbagi dua ufuk dengan tarik-menarik yang akhirnya memenggal tak sempurna sepotong roti mentah itu, yang tak bisa dinikmati secara serius dan apalagi nyaman oleh kedua belah pihak, titisan santri atau titisan sekuler. Tidak perlu dipertentangkan sesiap yang bagai paku menancam yang lebih kuat kebumiannya. Tidak perlu. Karena ilmu yang digunakan untuk menimbang itu pasti akan lebih banyak klenik dan irrasionalitas yang membuat semua buku harus ditutup sebelum dibakar menjadi abu.

Kalau SBY terkesan selalu tepuk-tepuk dada hingga anak-anak yang tak masanya dibaris-bariskan seperti pasukan robotik pun dimarah-marahinya karena merasa tak faham omongan si embah, itu mungkin karena di tengah badai ia mampu melipat-gandakan kesempatan untuk dirinya, sesuatu yang tak mungkin dalam rentang waktu yang bisa dinikmati BJ Habibie, Gus Dur dan Mega. Nama SBY pun, sayang sekali, harus dicatat terwarnai pekat oleh renda-renda buram seperti pertanyaan menggantung akibat orang tidak tahu bagaimana uang dipundikan, diinvestasikan dan apa penyelamatan dan perampokan juga menjadi sangat tidak jelas. Di sisi-sisi yang jamak betapa tidak mungkin kuwas-kuwas citra menepis eksistensi Nazaruddin, sebagaimana Gayus Tambunan yang berani itu. Tak juga bakal ada kuwas yang memoles agar Antasari Azhar tak ada dalam kanvas. Itu tidak mungkin, karena Susno Duadji pun ada di sana dengan segenap pertanyaan dan jawaban yang sama-sama dipoerlukan dalam waktu berbeda dan juga bersamaan. Yusril Ihza Mahendra membuktikan bahwa ia bisa “memecat Jaksa Agung. Cukuplah. Cukup. Kuwas tak mungkin memupur itu hingga perlahan hilang, karena waktu pun sudah amat singkat untuk berbuat sesuatu.

Apa yang kita tahu, ternyata belum seberepa, apalagi menjelang penghujung waktu yang sudah disukat. Kalau anda kini sudah beroleh kepuasan, maka syukurlah karena dengan itu Anda mungkin beroleh jalan untuk bahagia. Nikmati saja. Bagi Anda yang merasa sebaliknya, juga bersyukurlah. Meski banyak korupsi, setidaknya sudah ada MPR, DPR, DPRD, KPK, MK, Komisi ini dan komisi itu, Wakil Menteri, Ombudsman, panggung yang menghibur atas nama negara dan politik negara yang mempertontonkan aib kecil dan aib besar secara telanjang.

Indonesia mengalir, tak berusaha menentukan arah mengalir. Indonesia hanya bertepuk dan berdendang dan menari sebagai sebuah keniscayaan belaka, dan hanya apabila musik sudah ditabuh oleh entah siapa. Para penabuh selalu ingin agar ia dianggap teman dan orang baik. Karena Indonesia belum pernah berani pintar dan belum pernah pintar berani, maka menundukkan kepala ke tanah berlumpur sehingga terkadang harus tersepak oleh berpasang-pasang sepatu persahatanan milik lawan, keraplah terjadi. Seperti biasanya, karena belum pernah berani pintar dan pintar berani, Indonesia memilih senyam-senyum apologi, sambil mengelus-ngelus gagang keris yang tak ingin berpindah posisi ke depan dan siap hunus. Mengenali Indonesia memang tak cukup hanya membayar hutang dengan memberi nama untuk semua pulau-pulau kecil terluar yang hingga kini banyak terancam menjadi bukan Indonesia. Seburuk itu pun wajib disyukuri.

Kau kira ini pestamu? Perempuan-perempuan cantik dari manca negara berdatangan sejak pagi tadi hingga menjelas matahari terbenam. Mereka akan kencing dan berak di sini. Mempertontonkan cara memberi penghargaan atas kesepakatan mereka tentang ukuran bra dan buah dada serta organ-organ sensitif yang hanya ada pada wanita sebagai objek belaka. Akan ada si pandir yang karena amat kesal menjadi tergoda memasang bom diselangkangan, ketiak dan paling jauh di pot bunga di pekarangan rumahnya. Itu memang rencana yang ia sendiri sebagai korban bom tak pernah tahu mengapa pot bung di pekarangan, ketiak dan selangkangan menjadi tempat peledakan bom. Ia hanya tahu satu kata: jihad. Meski itu lebih naif dari kucing yang setiap berak berusaha menyembunyikan kotorannya untuk tak diketahui kucing lain dan termasuk untuk tak dapat terdeteksi oleh indra penciumannya yang terkenal paling tajam di antara sesama satwa jinak maupun liar. Mudah-mudahan orang bisa semakin sadar bahwa bom itu adalah pekerjaan orang lain yang diciptakannya untuk dirinya sambil mengutak-atik kepala orang-orang dungu yang dibuat merasa memiliki pekerjaan seperti bidak catur yang siap berpindah petak (hitam dan putih) setiap saat. Itu resiko keabadian keterjajahan juga, tentu saja.

Jangan kau ribut tentang itu. Kau orang jajahan. Kau orang yang tak boleh berpendapat. Lagi pula apakah kau kira Indonesia ini menjadi milikmu hanya karena darah ayah atau nenek-moyangmu sudah pernah ditumpahkan di sini untuk seucap kata merdeka? Itu terlalu konyol ternyata. Indonesia ini adalah selembar rekening, dan jika kau pergi ke Bank atau ke IMF, nama kau tidak ada dicatat kecuali sekadar nama kolektif tersandra utang Indonesia, sebagaimana halnya nama ayah, ibu dan nenekmu tak akan terdeteksi sebagai stakeholder di sana. Berarti kau bukan Indonesia. Indonesia ini selembar rekening. Menangislah jika kau masih merasa punya air mata.

Saudara. Tangis adalah sesuatu yang tidak boleh di sembarang tempat. Itu katanya. Maka, sembunyikan tangismu tatkala merasa perutmu perih tak berisi. Simpan tangismu tatkala pedih menyaksikan ada penyembelihan di Palestina, di Iran, di Irak, dan dipersiapkannya pemusnahan baru oleh si kulit hitam Obama di Suriah. Tangis adalah sebuah produk aba-aba dan komando, jangan sampai kau tak ikut iramanya. Wajib. Kau tak boleh dirundung malang soal itu. Itu bukan hakmu. Perutmu isi dulu, meski sulit. Itulah tugasmu, karena sejak awal kau ditakdirkan sebagai orang yang wajib menderita. Terjajah. Terpenjara. Teradili. Teraniaya. Tersakiti. Itu sebabnya harus ada yang dipertontonkan untuk ditembak setiap hari, karena mereka harus menebar ketakutan bahwa dalam Indonesia yang Islam ada bahaya. Mereka menggenggam cap untuk itu. Kau tak boleh ribut tentang itu.

Saudara. Berilah saya sejumlah nama yang bila menyebutnya akan mengispirasi sebuah langkah dan rencana untuk sebuah solusi semua kesulitan yang membelit ini. Bangsa ini bangsa sulit. Bangsa terbiasa sulit. Sejuta nama tercatat sebagai orang tabah, ulet dan tak mau menyerah. Sebut nama mereka. Sebut nama mereka. Panggil mereka, meski kini telah berbahagia karena tak menjadi budak sebelum dipanggil dengan sejuk oleh tuhannya untuk persinggahan sebelum surgawi terjanjikan pinasti buatnya. Harum nama mereka, karena kau tak boleh ikut-ikutan mengharumkannya dengan tangan kotormu dan nafasmu yang beraroma dosa. Mereka hizbullah yang tak mati karena anggapanmu.

Saudara. Mudah-mudahan lukamu terobati. Panjatkan doamu, sembari melafalkan Pancasila. Siapa tahu lukamu nanti tak kambuh lagi dan kau bisa tidur dengan membayangkan betapa masih banyak orang yang berteduh di kolong jembatan. Tetap saja kau punya pilihan. Kaupun bisa memesan data untuk mengukir senyummu yang palsu karena berhasil melukis keindahan berwarna atas data bohong yang kau maksud. Tak perlu kau takut. Karena taqwa dan ketaqwaan itu cuma istilah buat orang yang beragama dan beriman. Mengapa kau harus ragu dengan dosa dan ganjaran neraka setelah babakan hidup duniawi? Jangan perdulikan itu, karena itu hanya bagi orang yang pernah memiliki tuhan, agama, iman dan amal sholeh. Tuhan menciptakan setan sebagai sahabat, bagi orang yang mengabadikan kemungkaran dan keingkaran.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: