'nBASIS

Home » ARTIKEL » NIAS: Sebuah Noktah Ketertinggalan

NIAS: Sebuah Noktah Ketertinggalan

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


IMG_6367

PENDAPAT tentang keterbelakangan Nias ramai disuarakan sejak lama. Misalnya, dirangkum 7 hal penyebab keterbelakangan Nias, yakni (1) tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata rendah, (2) cara berpikir yang masih tradisional dan konservatif, apatis dan anti hal-hal baru, (3) mentalitas dan etos kerja yang kurang baik, (4) keadaan alam yang kurang mendukung, (5) keterisoliran secara geografis dari pusat, (6) tiadanya potensi atau produk andalan, (7) rendahnya kinerja dan budaya korup aparatur pemerintah daerah.

Hadirat Manao, salah seorang di antara putera daerah yang kerap berbicara tentang itu. Bahkan karena panggilan nurani, ia melakukan langkah berani: berhenti (pensiun dini) dari dinas militer untuk lebih memberi perhatian dan waktu untuk membangun kampung halaman. Sejak beberapa tahun lalu ia memilih terjun ke dunia politik.

Dalam dunia baru itu, Manao tentu banyak melakukan adaptasi. Hasilnya tidak mengecewakan. Ia kemudian terpilih menjadi anggota legislatif untuk Kabupaten Nias Selatan dan pernah menjabat Ketua DPRD daerah itu (2004-2009). Apa langkah selanjutnya? Yang jelas ia semakin matang dalam dunia politik dan tanggungjawab makin besar. Untuk pemilu tahun 2014, ia memutuskan untuk maju sebagai Caleg untuk DPRD Sumut.

Manao juga tak berhenti belajar. Bapak dari seorang puteri ini meski telah memperoleh gelar kesarjanaan hingga magister dalam bidang hukum, ia masih menganggap penting untuk melanjutkan. Kini ia sedang melanjutkan studi dan telah terdaftar sebagai peserta program S3 Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, Surabaya.

Suami dari boru Tampubolon yang selalu terkesan teguh pendirian ini juga tercatat pernah memperoleh penganugerahan gelar KRT (Kanjeng Raden Tumenggung) dari Keraton Kesultanan Solo. Semua itu dimaksudkan untuk semakin membuka akses yang lebih luas ke seluruh komponen bangsa dalam kaitan sebagai seorang aktivis dan pemimpin masyarakat.

Apa pendapatnya tentang rivalitas pada pemilu 2014? “Oh, saya hanya merasa wajib berusaha keras. Mudah-mudahan Tuhan memberkati. Itu saja yang saya yakini”. Begitupun, katanya, “mohon do’a dan restu”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: