'nBASIS

Home » ARTIKEL » Raja Marsahala Hatoban

Raja Marsahala Hatoban

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


IMG_6397

Raja Marsahala Hatoban memang sebuah kegagalan menjadi pantas dalam peran, karena kekosongan cita-cita, dan kini benar-benar mengepung rakyat

Saudara-saudara kita itu, orang-orang kerdil itu, kelihatannya semakin kerap berwacana besar-besaran untuk hal kecil-kecil. Memang ini tahun politik (2013), karena berbagai panggung pengukuhan akan segera digelar dengan biaya yang akan menunda agenda kerakyatan. Tidak ada pilihan selain berkicau, karena orang-orang kerdil yang kering gagasan hanya mampu membesar-besarkan hal-hal sepele menjadi sebesar Negara, menjadi sepenting bangsa dan seolah menjadi hal yang predistinatif bagi tanah air. Kekerdilan juga akan selalu ditunjukkan dalam fakta pemaksaan hal-hal kecil menjadi besar dan menjejalkannya sebagai sebuah pengertian sakral bagi rakyat. Sayang sekali, meski telah diembankan peran-peran besar dan mendapat pengukuhan untuk kewenangannya, kekerdilan tetap tak terobati.

 

Itulah sebabnya mereka  menjadi lebih tepat dilihat hanya sebagai noktah-noktah hitam negeri ini, yang hanya membebani rakyat tanpa nurani. Ini memang kesalahan besar yang sebetulnya tak boleh terjadi. Berhubung kesalahan-kesalahan itu dibuat oleh orang-orang kerdil, maka rakyat harus mampu memaafkan mereka. Sebab jika tidak dimaafkan, ia bisa tidak hanya unjuk rasa, tetapi juga mengamuk sehingga menimbulkan kerusakan-kerusakan melebihi kekacauan akibat malapetaka-malapetaka besar seperti Century Gate. Eluslah dada. Ucapkan “astagfirullah”. Panjatkan doa, minta hidayah.

*******

 

Prof Dr Hotman Siahaan dari FISIP UNAIR belum lama ini dengan bahasa lokal menyebut fenomena Raja marsahala Hatoban (RMH). Dalam terjemahan longgar RMH bermakna raja dalam julukan (jabatan, kewenangan dan otoritas), tetapi hanya budak dalam wawasan dan peran sosial (moral obligation). Inilah  salah satu hasil dan proses capaian sebuah demokratisasi yang dirancang orang lain, yang belakangan semakin disadari tidak untuk dan atas nama kepentingan sungguh-sungguh negeri ini dan rakyatnya.

 

Seberapa angkuh kemegahan jabatan, kewenangan dan otoritas itu, sekaligus ekspresi dan ornamen kesombongannya? Jika melihat sematan jabatan, kewenangan dan otoritas dalam negara, mestinya ia bisa menyirnakan kemiskinan sekejap saja, meski sebetulnya belum sepenuhnya (kekuasaan jabatan itu) dijalankan. Karena, jangankan jabatan, kewenangan dan otoritas Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dan camat, jabatan, kewenangan dan otoritas Kepala Desa dan Lurah saja pun sebetulnya sudah bermakna substantif melindungi, menjaga, memajukan dan menyejahterakan serta obligasi moral lainnya untuk rakyat. Itu bisa, meski menjalankannya (jabatan, kesenangan dan otoritas itu) separoh saja. Ya, sangat bisa.

 

Negara memerlukan Kepala Desa, Lurah dan Camat adalah untuk sebuah antipoda yang jelas bagi ketak-terurusan dan kemiskinan. Begitu pulalah sejara benjenjang naik atau berjenjang turun ketika Negara memerlukan seorang Bupati, Walikota, Gubernur, Menteri dan Presiden. Obsesi negeri yang harus adil dan makmur, berpancasila dan berundang-undang dasar 1945, yang dalam pembukaannya saja (muqaddmiah) terdapat larangan keras untuk berpangku tangan sambil berangan-angan, sangat jelas. Lalu mengapa semua jabatan, kewenangan dan otoritas itu tak mampu merubah keadaan? Kontradiksi itulah inti konsep RMH, sebuah konstruk yang diderivasi dari fakta kekuasaan dan politik yang tak menolong keadaan.

*******

 

Kita tahu bahwa mengharamkan keberdiaman (pembiaran) atas ketidak-adilan di dunia, apalagi di sini, di nusantara yang ditinggal Belanda, sangat jelas sebagai penegasan titah dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 itu, termasuk muqaddimahnya. Tetapi mengapa dari waktu ke waktu bertambahnya jumlah penguasa dan wacana penguasaan, tak berkait dengan pembelaan? Mengapa pesta-pesta semakin meriah untuk pelembagaan kekuasaan dan penguasaan? Mengapa kekerajaan semakin melengkapi diri dengan agregat pemanjaan diri berkonjunktur naik  tanpa henti dalam kontinum yang tak bisa diinterupsi (endless) oleh matahari sekalipun? Mengapa pula (sebaliknya) kehatobanan semakin menjelaskan keharusan berkonjunktur turun dengan keminusan-keminusan kontinum terjun bebas (baseless) dalam proses menjauh dari orbit penghambaan di depan rakyat? Aduh. Jangan-jangan pikiran ini akan dianggap subversive dan boleh divonis sebagaimana dulu Bung Karno memenjarakan Mohd Natsir, Soetan Sjahrir dan lain-lain.

 

Jika keduanya (kekerajaan dan kehatobanan) sudah berpadu dalam harmoni satu sosok dan semakin terkukuhkan, makin tak tertolonglah negeri ini. Sangat aneh fenomena RMH itu, memang. Benar. Sangat aneh. Para pengampu jabatan tak pernah bertitik-taut dengan keadilan dan kemakmuran. Raja yang terbengkalai, karena ia hanya tahu keindahan mahkota kerajaannya sambil mengasah narsisme. Di luar itu ia hanya bandrol yang disukat, ditempeli nomor dan dikemas dalam peti kearsipan untuk dapat dibaca dan ditelaah generasi sadar pada kala berikut. Sesekali ia akan dipertunjukkan untuk pameran, karnaval dan festival. Selesai. RMH, disempurnakan dengan ritus kepejabatan yang berhenti sebatas ritus itu sendiri. RMH memang sebuah kegagalan menjadi pantas dalam peran, karena kekosongan cita-cita, dan kini benar-benar mengepung rakyat.

 

Kendati RMH itu adalah lakon berlari dan menari seakan tak pernah ada masalah kendati ia seperti berdasi tanpa baju dan celana, . Kepentingannya tidak pernah senafas dengan kepentingan rakyat, karena dalam persepsi yang diajarkan dalam konsep raja marsahala hatoban itu rakyat adalah simbol dari segala ketidak-beresan. Bodoh, jahat, penipu, radikal, kasar, tak berbudaya dan sekaligus komoditi. Dalam konsepsi raja marsahala hatoban sumbu kerajaan dan sumbu kerakyatan adalah dua ufuk berbeda diametral, keduanya dipisah. Sengaja dipisah. Itu agar ada kejelasan yang mana orang yang diberi wewenang dan diperkenankan menindas, dan yang mana sasaran penindasan.

*******

 

Alkisah,  sebuah negeri kecil bernama Malawi yang lazim juga disebut ”The Warm Heart of Africa” menyisakan kepekatan karena sejarah  campur-tangan asing berkepanjangan yang menyulitkan. Mangkatlah seseorang yang meniscayakan peralihan jabatan, kewenangan dan otoritas kepada yang lain. Negerinya sedang kelaparan. Watak RMH yang menyejarah harus ditebas. Itu tekad dan prasyarat baru memandang ke depan.

 

Dulu ada alasan ekonomis yang dibuat-buat untuk membeli jet bagi keperluan sang raja. Itu semua harus dijual, termasuk mobil mewah para menteri. Uangnya langsung dibelanjakan untuk memberi makan rakyat yang kelaparan tanpa maksud politisasi. Sisanya diposkan untuk mengadakan bibit tanaman, pemeliharaan hingga panen. Joyce Banda nama orang baru pemberi harapan itu. Presiden baru ini tidak identik dengan RMH, karena ia lebih bercita-cita menjadi budak bagi rakyatnya saja. Memang ia mencatat tidak mudah membawa negerinya berubah dari mentalitas Raja Marsahala Hatoban menjadi Raja Marsahala Harajaon. Ayo kita lihat transisi 2014. Seberapa besar peluang untuk ikut jejak Joyce Banda.

 

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakali oleh Harian Waspada, Medan, Senin 16 September 2013, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: