'nBASIS

Home » ARTIKEL » Status FB: PLN

Status FB: PLN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


PAGI ini saya mencoba updating status facebook. Tetapi niat itu urung karena saya lebih tertarik kepada status orang-orang yang memberi pandangan, dan bahkan sumpah serapah kepada PLN. Luar biasa. Saya menemukan banyak status tentang kedongkolan atas kinerja PLN ini. Ada yang sekadar mengekspresikan kesedihan. Ada yang sekadar mencaci maki PLN, dan ada pula yang melihat ke root of the problems.

Amirullah Hidayat. Orang ini aktivis mahasiswa, dan sering demo. Ia barkata begini: “gimana katanya mau negara maju ngurus listrik saja pemerintah nggak mau”.  Nah, dalam pandangan ini terselip keyakinan bahwa Negara sebetulnya mampu dan bisa, hanya saja tak mau. Mengapa tak mau? Apakah karena oknum-oknumnya merasa lebih enak memperoleh keuntungan pribadi dari keburukan? Begitulkah?

Irwan Effendi Loebis. Beliau ini beberapa kali menulis secara beruntun. “Dulu kala masa listrik dikelola NV.OGEM. Listrik tdk pernah padam. Tetapi setelah dinasionalisasikan dan di kelola PLN. Berobah menjadi Padam Lalu Nyala. (PLN), Padam Lagi lalu Nyala (PLN), sungguh Cerdas mereka mereka itu. Lalu setelah (mungkin) merasa sia-sia marah-marah, ia pun menambah “Menikmati giliran Gelap, dengan Cahaya Rembulan Karunia Illahi,…..”, dan “Rembulan,…. Dan PLN” dan “Begadang sampe pagiii,…. Gara2 PLN. Lampu padam sejak Isya sampai sekarang,………”. Ia kelihatan sudah tiba pada sebuah kepasrahan tak berdaya.

Cut Zahara, seorang PNS karir: “Mati lampu dan mati air silih berganti, ditambah lagi Sannyo rusak alamaaaak masih untung ada sumur nimba yuuuk nimba agar otot tambah tegang….”. Ini khas keluhan ibu rumah tangga, yang memaparkan efek domino dari masalah kematian aliran listrik. Banyak kajian memang tentang itu, tapi tak bermanfaat kecuali sekadar untuk diketahui dan diperbincangkan dalam banyak ruang seminar. Muhammad Alharist Ritonga berjiwa besar dengan berkata “Pabahat sobar !  Kata Wak baroya tu, jangan salahkan PLN yg mematikan lampu tiga kali sehari… Salahkan aja dokter yg telah membiasakan resepnya 3x sehari… Bah.. !!” Kira-kira apa di balik kalimat ini? Katakan sajalah ia sudah tiba pada kesimpulan, ejek diri sendiri sajalah. Percuma berucap sesuatu untuk perbaikan pelayanan PLN. Tak mungkin. Tak mungkin. Dedy Ardiansyah: “Coba dicek, saat listrik padam, bagaimana kantor/rumah direktur dan pejabat PLN Sumut, ikutan padam atau hidup? Kalau tetap hidup, tak ada gunanya sumpah serapah kita itu”. Ketegasan ini mungkin sudah bersifat final. Betul tidak ya? Ha ha.

Soel Bahrie Siregar: “Beginilah akibat PLN sesuka hatinya mematikan Listrik…….. Lampu tellong-tellong…..” . Entah dari bahasa mana pun tellong-tellong itu, kiranya orang dari mana saja pastilah faham maksudnya, bukan? Seorang yang marah seperti Soel Bahrie Siregar ini bisa berucap “3 X dalam sehari mati lampu… Anggo dong gari Ronggur ku madung hupalua aso disoro ia PLN i so rap golap be….”. Ronggur itu maksudnya petir. Ia ingin PLN disambar oleh petir, agar pergiliran tidak ada: serentak mati saja listrik itu. Ha ha. Syah Ilham: “Ditanya Masalah Listrik di SUMATERA ini jawaban Jero Wachik.Beberapa daerah di Sumatera saat ini sedang mengalami krisis listrik. Sejumlah daerah listriknya mengalami pemadaman bergilir alias byar pet. Apa tanggapan Menteri ESDM Jero Wacik soal ini?” Nah, Jero ini kan orang paling jero (jeroan: bagian dalam), bukan zero (nol) dalam kebijakan soal energi listrik di tanah air? Jika demikian….

Jaya Arjuna, seorang akademisi yang sangat vocal soal isyu lingkungan: “ayo tuntut listrik dari PLTA Asahan…..602 MW cukup untuk sumut…..”. Ini yang belum serius dilakukan. Ada sih beberapa yang kerap berteriak ribut-ribut dan kemudian diam. Kediaman dan keributannya lama-lama difahami orang sebagai trik belaka. Jaya Arjuna tak mau seperti itu. Tuntaskan dengan upaya hukum. Sylvia Sral: MATI LAMPU (ADUH GELAPNYA). GELAP GELAPAN JADINYA (HA HA HA). Ia mengutip syair sebuah lagu dangdut. Apa ia mampu menerima derita ini dengan senyum bahagia? Tampaknya ia orang sabar. Ha ha. Lentera Langit Jingga: “Dalam gulita ini. Langit bersaksi. Tangan dan hati tak sejanji. Mata dan jiwa tak sekata. Cahaya pergi entah kemana”. Puitis benar. Ia memang komponen pencahayaan (lentera). Ha ha.

Jika Ryan P Nasution berkata begini: “Rantau Prapat, Binjai Tebing, habis tu mana lagi ya..”, kira-kira kemana arahnya? Ia mau ada tindakan. Sebab yang dimaksudkannya adalah PLN di Rantauprapat dan Binjai yang sudah “dimarahi” orang. Ia pun menambah satu status lagi: “Polisi dah bnyak kena tembak misterius, jgn bentar lg PLN yg kena tembak nampaknya…” Seperti kehilangan sanak yang dicinta, Organda Manurung berucap dengan memakai huruf besar: “TURUT  BERDUKA CITA ATAS SERINGNYA ALIRAN LISTRIK MATI DI SUMUT. SEMOGA ARWAH PARA PENGAMBIL KEPUTUSAN DI INSTANSI TERKAIT CEPAT-CEPAT DIPANGGIL KE SISI-NYA.” AMIN…!!”

Seorang aktivis mahasiswa yang kini berusaha untuk menjadi anggota legislatif kota Medan, Roni Setarabersaudara, secara sistematis menuturkan kejadian yang ia hadapi: “Dan aku pun pergi dgn bergegas menjauh dr pria itu, bertemu dgn kawan” aku melaporkan ada pria berpistol yg mengancamku. Kami pun beramai-ramai mencari itu namun tak ketemu, tampaknya kita hrs memberi tekanan kpd PLN, krn PLN tak henti-hentinya mengecewakan sejak belasan taun yg lalu. Mrk punya pria berpistol mgkn saja mrk jg punya preman, aku kira ini jg lah yg membuat PLN trus besar kepala”. Sudah sampai begitu rupanya.

Ia pun memberi status lain yang menceritakan sepak terjangnya dulu: “Lampu mati 3x dlm 1 hari warga hanya diam, menunggu mahasiswa?? Ga lah yauu..kln saja lah para warga, sesekali cobalah berunjuk rasa jgn cakap” saja di rmh atau di kede kopi, buat status BBM marah”, kepanasan di dlm rmh mengeluh”, dan “12 taun yg lalu aku prnh berunjuk rasa di dpn PLN Sumbagut JL Yos Sudarso. Peristiwa sm dgn sekarang ini yaitu lampu tak idup alias mati sepanjang hari, ditangan ku sdh ada bensin utk membakar ban bekas dan pagar kantor PLN, namun tiba” saja ada seorang pria menodongkan pistol tepat dipinggangku, lalu ia berbisik kpd ku ” kau bakar ku tembak!!!, tak ada yg tau siapa yg menambakmu” nyali pun lgsng ciut..”

Aris Kurnia: “Sebentar sebentar mati lampu, sebentar sebentar mati lampu. Mati lampu koq sebentar sebentar sih………???!. Lama donk bah…..!!!”.

Iwan Barbarian, seorang sastrawan, jurnalis dan akademnisi: “Ada rumus kuno: tanpa konflik, uang tak mengalir. Bagaimana kalau begini: listrik Medan kacau balau PT PLN perlu genset, PT KAI berperkara dengan Ishak Charlie di Jalan Jawa, tanah PTPN laris manis ke toke-toke dan bandingkan dengan bro Iskan Dahlan, Meneg BUMN, maju dalam Konvensi Partai Demokrat”. Luar biasa analisisnya. Jangan-jangan model analisis ini bisa diterapkan untuk kasus kerusuhan di lapas. Ia pun mengunggah sebuah foto gadis cilik dengan membubuhkan komnetar di bawahnya “Listrik dan tangis”.

Antisipatif betul anak muda ini dengan penuh keyakinan. Farid Achyadi Siregar: “Aku Yakin dan Sangat Yakin. Pasti Sebentar Lagi. Di Daerah Rumah Ku Pasti Kenak Pemadaman Bergilir. Kira Kira 1 atau 2 jam lagi”.   Seorang yang dalam 24 jam ini terus menuliskan tanggapannya atas sebuah pertandingan olahraga sepakbola (berarti di rumahnya tak ada pemadaman listrik), Hasrat Samosir, menebar ketakutan kepada setiap ayah atau ibu yang mempunyai anak gadis atau anak muda. Begini katanya: “Takut juga awaq punya besan dan menantu orang PLN, soalnya kena sumpah serapah tiap hari, gimana mau berkah hidup jika tiap hari dia sumpahi …”. Bagaimana menurut Anda?

Uraian yang panjang datang dari Suhunan Situmorang. Saya potong saja dari bagian paling awal analisisinya: “Di Medan dan hamlpir semua wilayah Sumut, pelayanan PLN amat buruk dalam dua tahun terakhir ini. Dalam sehari, listrik bisa byarpet berkali-kali. Bisalah dibayangkan kerugian dan kejengkelan masyarakat. Herannya, masyarakat Medan dan Sumut yg dikenal tegas dan “keras” itu, sampai sejauh ini belum menunjukkan sikap tegas pada PLN. Bupati, walikota, gubernur, DPRD, di semua wilayah itu, pun belum terdengar melakukan tekanan pada PLN, menteri yg membidangi, juga pada presiden. Ini masalah amat serius. Dampak kerugian sungguh besar.”

Rahman Gjh Andespa, seorang guru berucap: “PLN mungkin sudah kronis tiap hari 3 kali mati dengan durasi 3 jam .. kerugian diberbagai bidang buat masyarakat… kapan berakhir kondisi yan akut ini ..”

Rurita Ningrum yang biasanya bersuara lantang soal anggaran: “Tak ada yg paling menyedihkan saat ini. Selain pengkhianatan PLN. Meminta maaf atas pemadaman yg tak kenal waktu adlh rutinitas yg sgt mengganggu, ditinjau dr segi apapun PLN sangat tak beradab (walau acapkali meminta maaf) membeli lilin trs menerus atau membeli alat elektronik lainnya sgt membebani keuangan apalg bg kel sederhana sptku. Mgkn utk menghemat biaya kuadukan sajalah kekejaman manajemen PLN ini kpd TUHAN”. Ia sebetulnya bisa melakukan audit yang rinci sehingga semuanya menjadi clear.

Alfa Rheza Daulay sebetulnya bukan anti Dahlan Iskan ketika berkata “Kalian bilang dahlan iskan hebat..? Menurutku bahkan dibawah standar.. Pemadaman makin gila sejak ia jadi big boss pln sampe menteri BUMN..Apakah rakyat pernah mengeluh setiap TDL dinaikkan.., tentu saja tidak..”. Komentar yang singkat dari Dicky Zulkarnain “Pln ….brengsek” menggambarkan kemarahan. Brensek itu bahasa Jakarta, bukan bahasa di sini. Anwar Bakti Nasrallah tak biasanya seperti ini (lunak): “Gambar yg paling favorit digunakan di FB dan BBM dlm melampiaskan kekesalan thd PE EL EN………Anak Keling…he he he, Episode tanda-tanda negara yg mau bubar…he he”.

Rahmi Tagore: “5 Pejabat PLN dilimpahkan Kejagung ke Kejari Medan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan flame turbin di Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero) Belawan, Medan, Sumatera Utara tahun anggaran 2007, 2008, dan 2009 yang merugikan Negara sebesar 23, 9 milyar Rupiah”. Mungkin ia hendak memberi tahu bahwa jika korupsi masih menjadi jalan hidup, PLN selamanya akan menjadi seperti lilin yang jika hujan mati dan jika angin kencang mati. Perangkat, peralatan dan sistem manajemennya amburadul. Begitukah maksudnya, Rahmi?

Ini seperti seorang motivator ulung. Dinda Bethari berucap “Ada masalah dengan PLN? Ketik masa bodo, kirim ke hati. Atau kasi makan kucing aja. Ada masalah…” Ketika Dio Utama Nasution berucap “Listrik Padam, Gatot Setel Paok…………” pastilah ia sedang mengritik kekuasaan. Zefrizal Kiffung yang biasanya berapi-api pun berucap “Yang memang sudah tak punya rasa malu laginya mereka ini. Bukan pelayanan yamg lebih dahulu diperbaiki. Listrik byarpet, tarifpun dinaikkan. Lantak kamulah..”. Ini memang gaya marah orang Tanjung Balai yang orang Simalungun mungkin menyebutnya “Lomomma, puang”. Begitu pun ada bahasa terbalik dari Ichwan Tompoel: “Salut liat PLN ini, cocok dpt rekor MURI, dlm wktu yg lumayan lama berkisar 2-3 jam pemadaman listrik pst dilakukan secara bergilir.. bahkan dlm satu hari bisa mencapai 4x pemadaman.. Kalau ada kerusakan ya diperbaiki atau beli baru gardu nya, kemana keuntungan PLN selama ini yg di terima dr masyarakat.. Apa PLN selalu rugi ya.. ??? Sampai2 gardu yg sudah rusak tidak terbeli lagi..???”.

Lalu kita mau apa? Ali Asman mencatat jadwal rutin “Jam 9 -12 mati lampu. Jam 17 – sekarang mati lampu juga. Kalaulah ada Perusahaan Listrik Swasta mungkin Perusahaan Listrik N***ra akan ditinggal orang…Seandainya diriku punya Listrik Tenaga Surya tidak akan seperti ini (kapan ya ?)”.

Kini tiba saatnya menentukan sikap: mau diapakan persoalan ini?

Shohibul Anshor Siregar

PLN


1 Comment

  1. […] Status FB: PLN […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: