'nBASIS

Home » ARTIKEL » KONSTRUK TERORIS

KONSTRUK TERORIS

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


teroris

Dengan selalu menuduh teroris di balik semua rentetan kejadian kriminal di tanah air, terutama yang terjadi  akhir-akhir ini, tampaknya pikiran juga tidak bisa tenang. Susah masuk akal. Sangat terasa bahwa hal ini hanyalah pembenaran dan atau apologi sepihak dalam ketak-mampuan memberikan tanggungjawab.

Itu menjadi sangat mungkin karena di pihak lain (rakyat), pengetahuan tentang teroris itu sangat dangkal, dan malah kerap menyesatkan. Dengan rentetan penembakan teroris tanpa peradilan, semakin dipaksalah rakyat meyakini apa saja yang diucapkan dalam kesepihakan.

Jangan-jangan nanti ada orang yang akhirnya memahami bahwa teroris itu memiliki kemampuan luar biasa karena tak ubahnya superboy bisa terbang dari satu ke lain gedung dan dengan sorot matanya saja bisa memancarkan sinar laser yang dapat memusnahkan sebuah markas militer dalam waktu sekejap. Bisa menghilang, bisa mengendap, bisa bernafas dalam lumpur hidup, dan makanannya pun hanyalah sebutir super-tablet yang diciptakan dengan teknologi tinggi di Afganistan, Libya, Iran dan pesanteren-pesanteren di tanah air. Jika kena tembak, teroris masih bisa pulih kembali seperti sedia kala. Bahkan jika mati terbunuh dan sempat dikuburkan pun, juga masih bisa bangkit kembali menuntut pembalasan. 

Rumahnya di wilayah antah barantah, sangat tersembunyi dan sangat jauh untuk dicari dan ditemukan. Meski pun demikian ia sangat dekat dan sangat siap melakukan apa saja yang dia inginkan untuk menyakiti dan menghancurkan Indonesia. Teroris itu ibarat penyakit yang memang bermaksud selalu menyakiti. Mengapa? Ya, karena ingin menyakiti saja. 

Apakah teroris itu tidak beragama sehingga mampu dan tega-teganya selalu bertindak sebrutal itu? Ya, dia beragama. Ia Islam. Berbaju putih. Di tangan kanannya ada kitab Al-qur’an. Dia rajin mengaji, berpura-pura jadi ustaz, dan berpura-pura jadi orang baik yang sangat penolong. Tetapi ia selalu ingin berjihad menegakkan syari’ah. Apa syari’ah itu? Ya, sejenis kerangka berfikir yang memantangkan toleransi yang dilengkapi dengan argumen-argumen berdasar kitab suci Al-quran. Jihad itu adalah ideologi yang sangat jahat, dan itu ada dalam Islam serta mengikuti rasul yang tercatat dengan tangan paling berdarah sepanjang sejarah dalam mengembangkan agamanya.

Karena ia orang Islam, maka perlulah diberi pengertian kepada orang-orang Islam lainnya agar jangan menjadi Islam yang seperti teroris itu dan dengan ideologi jihadnya. Awasilah orang-orang Islam ini (deradikalisasi). Sterilkan lembaga pendidikannya. Tangkap dan gonikan setiap yang mencurigakan, agar jangan sempat ideologi jihad dan segenap cita-cita penegakan syari’ah itu lengket di benaknya. Cukuplah Islam ini semacam pandangan hidup saja, ya standar seperti diinginkan oleh kaum sekuler. Atau sebatas pandangan moral semisal orang yang berpandangan metro-seksual, atau disiplin tabu makan daging (vegetarian).

Siapa yang bertanggungjawab atas konstruk seburuk ini? Saya tak menuduh Sydney Jones, Nasir Abbas atau Al-Chaedar. Orang-orang ini ibaratnya kan cuma sekadar “wayang” pasca kejadian 911 yang ditokoh-tokohkan dengan kadar pengetahuan yang amat dangkal meski mungkin pernah bertemu atau memperoleh data primer dari beberapa pemanggul senjata yang berjuang menegakkan hak-hak normatifnya sebagai bangsa. Ngomong sembarangan karena mereka sadar benar diback up oleh kekuatan jaringan berdana besar dan berkuasa penuh di permukaan bumi pada zaman ini. Mereka memang menikmati peran itu sebagai pekerjaan. Ya, sungguh-sungguh sebuah pekerjaan seperti pedagang yang dapat hidup layak dari perdagangannya.

Ada pun lembaga-lembaga keagamaan seperti MUI kelihatannya sedang menikmati bulan madu yang sangat dibenci syari’ah, karena mereka takut memberi peringatan kepada yang salah, terutama pemerintah. Lihatlah ketika mereka berkata Miss World itu tidak boleh, tampaknya tidak ada masalah pemerintah berkata ya, tetapi bertindak tidak. Mungkin juga mereka sangat takut dituduh teroris jika melawan policy Negara yang mempersilakan eksploitasi kaum hawa sebagai komoditi semisal miss world ini. Orang-orang yang terlanjur dianobatkan oleh kelompok-kelompok umat Islam sebagai pemimpin pun, kini sudah semakin yakin bahwa menarik selimut untuk tidur pulas lebih baik ketimbang ikut membincangkan kontroversi yang membuat pemerintah apalagi para mentor internasional tak happy. Ini sebuah keadaan yang sangat mencemaskan, jika mereka tahu.

Teori Runtung Sitepu. Dekan Fakultas Hukum USU, Runtung Sitepu, yakin rentetan perampokan toko emas di Sumut baru-baru ini hanyalah karena terbukanya kesempatan. Juga tidak ada motif lain kecuali bermaksud menguasai harta rampokan itu. “Tiga aksi perampokan toko emas secara beruntun di wilayah hukum Polda Sumatera Utara dalam dua pekan terakhir, dinilai tindakan kriminal murni. Modus dan cara kerja pelaku di ketiga lokasi perampokan, cenderung amatir dan sporadis”, katanya kepada media.

Jadi, harus disingkirkan dugaan bahwa mereka merampok untuk sebuah proyek tertentu misalnya membuat tugu yang kepalanya terbuat dari emas untuk mengimbangi Tugu Monas di Jakarta.  Memang sangat wajar dipertanyakan, bahwa dengan kiloan emas hasil rampokan di tangan, kira-kira bagaimanakah seorang atau sekawanan perampok memanfaatkan hasil rampokan itu untuk kehidupan mereka? Dari pertanyaan itu harus juga diasumsikan bahwa mereka itu relatif memiliki modal dan dapat hidup normal tanpa (atau menunggu) hasil rampokan berhasil diuangkan. Bukankah mereka harus diasumsikan juga sudah berhitung dengan cermat tentang cara paling aman dan tanpa resiko penjualan emas itu tanpa terjejaki? Jangan pula dibayangkan bahwa mereka nanti akan mengubah bentuk emas rampokan itu menjadi jenis-jenis baru perhiasan untuk mereka pasarkan melalui toko emas yang akan mereka dirikan sebentar lagi di Mesir, di Carachi, di Yala, di Pesanteren Ngruki, dan lain-lain tempat.

Mengapa perampok itu memilih bukan penyimpanan uang kontan sebagai sasaran? Menurut teori Runtung Sitepu, itu faktor perhitungan kemudahan melaksanakan saja. Artinya jika ada tempua yang bersarang rendah, untuk apa menggapai tempua bersarang di ketinggian dan dijaga penyengat yang galak? Juga, selain telah menghitung tingkat kemudahan tanpa peluang berhadapan dengan pihak mana pun (termasuk Kepolisian) yang bisa menggagalkan perampokan mereka, para perampok juga tak merasa perolehan senjata api sebagai satu kendala.  Karena senjata api itulah Runtung Sitepu malah melihat ketidak profesionalan. Artinya, orang sembarangan sekiranya hendak melakukan hal yang sama juga dapat bertindak serupa jika memiliki senjata api. Orang mungkin sengaja melupakan bahwa kini kehidupan sulit sekali karena elit hanya mau kekuasaan dan mengusahakan alokasi dana rakyat menjadi pundi bagi partai dengan segala cara, dan rakyat hanya bisa berdoa agar para penjahat kerah putih itu bertaubat dengan sendirinya.

Dalam kerangka berfikir Runtung Sitepu, “lepaskan saja satu tembakkan ke udara, rasa ketakutan orang yang berdekatan dengan sasaran perampokan akan sangat mendukung”. Mungkin saja anggota kepolisian berseragam yang ada di sekitar kejadian pun akan sangat berhitung untuk berusaha menggagalkan, karena ia tak punya senjata atau kalau pun punya, peluru hanya satu. Jangan-jangan begitu mendengar satu letusan ke udara, ia akan lebih dulu menghindar karena terbayang akan menjadi sasaran seperti rentetan kejadian dimana-mana. Bukankah kini mereka dianjurkan menanggalkan pakaian seragam ketika hendak pergi dan pulang berdinas? Dalam konteks inilah ungkapan petinggi militer yang mengatakan siap membantu (kepolisian) jika diminta, menjadi sangat menarik.

Profesional dalam perampokan tidak akan seperti ini: menarik perhatian banyak orang dan malah lupa atau tak berhitung tentang sejumlah bukti yang tertinggal di tempat kejadian perkara.

Politik Kekuasaan. Saya tidak begitu faham sewaktu Presiden SBY sangat terkesan memaksakan agar Timur Pradopo menjadi pengganti BHD sebagai Kapolri tempo hari. Bagi saya yang awam, itu tidak jauh berbeda dengan ketika Presiden Gus Dur mengangkat Wakapolri menggantikan Kapolri aktif dan tidak ada juntrunganya kecuali karena Gus Dur sendiri yang duluan dilengserkan.

Artrinya fakta bahwa Kepolisian sebagai komponen terdepan dalam penjaminan kamtibmas sangat bermasalah, sukar dibantah. Jika kekuasaan tidak memberinya keleluasaan mengembangkan jatidirinya secara profesional, dan jika membereskan dirinya sendiri pun ia tak sanggup, lalu apa yang ia dapat berikan kepada rakyat? Apa pula yang bisa dijanjikan ke depan jika dalam bursa Kapolri saat ini tak ada hal yang menarik diperbincangkan kecuali soal isyu rekening gendut? Bukankah kepolisian masih belum pulih dari image sangat negatif saat petinggi seperti Susno Duaji ditangkap, saat kasus mesin simulator SIM yang hanya berhenti pada sebuah nama dengan kekayaan yang sangat luar biasa, dan lain-lain?

Ada keniscayaan pembenahan yang sangat diperlukan dan itu tak sebatas retorika. Tentulah akan sangat tergantung kepada siapa Presidennya yang menentukan siapa Kapolrinya.Mudah-mudahan tidak sepesimis itu.

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan untuk pertamakalinya oleh Harian Waspada, Medan, Senin 23 September 2013, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: