'nBASIS

Home » ARTIKEL » PESAN SUNYI DARI JAKA BARING

PESAN SUNYI DARI JAKA BARING

AKSES

  • 568,727 KALI

ARSIP


 

Minggu malam, Presiden SBY secara resmi membuka Islamic Solidarity Games (ISG) tahun 2013 di Stadion Utama Jaka Baring, Palembang. Event ini adalah sebuah ajang adu prestasi olahraga bertaraf internasional di antara negara-negara Islam yang tergabung dalam The Organisation of Islamic Cooperation (OIC).

Meski sebagian pertandingannya sudah dimulai sejak 15 September lalu, namun pembukaan secara resmi diadakan Minngu malam, dan akan berlangsung sampai 1 Oktober 2013.

Menurut berbagai sumber, sebetulnya, setelah event pertama tahun 2005, agenda ini direncanakan berlangsung tahun 2009 di Iran. Kemudian dijadwalkan kembali menjadi April 2010, namun rencana itu terpaksa dibatalkan.

Berbagai informasi tentang pembatalan ini menyebutkan bahwa keputusan itu dianggap sesuatu yang terbaik setelah terjadinya perselisihan antara Iran dan negara-negara Arab. Olahraga sebagai salah satu bahasa universal tidak mampu mereduksi ketegangan di antara Iran dan beberapa Negara Arab di sekitarnya.

Event pertama yang diselenggarakan pada tahun 2005 di Mekkah (Arab Saudi), dihadiri oleh 55 dari 57 negara anggota OIC. Cabang olahraga yang dipertandingkan saat itu 13, dan jumlah atlit tercatat 6.000 orang. Predikat juara pertama (juara umum) diraih oleh tuan rumah. Sedangkan posisi kedua dan ketiga ditempati Mesir dan Kazakhstan. Kali ini di Jaka Baring, Palembang, terdapat penurunan peserta. Dari 57 negara anggota OIC sekarang, hanya 47 negara  mengirimkan atletnya.

Pesan dari Kesunyian

Tahun 2011 di tempat inilah, Jaka Baring,  event Sea Games ke 26 diselenggarakan. Meriah. Belakangan, dari tempat ini pulalah sejumlah masalah terungkap, yakni korupsi, yang gonjang-ganjingnya masih belum reda hingga kini. Kini dari tempat yang sama, yang pernah diusulkan menjadi Gelora SBY dan ditolak oleh rakyat, ISG diselenggarakan dalam kesunyian.

Dari segi publikasi, event ini sangat sepi dan hanya disiarkan secara langsung oleh TVRI, dan mungkin itu pun, bagi sebuah tv milik negara, hanyalah karena Presiden SBY ada dalam event ini dan membukanya secara resmi. Secara protokoler acara ini dipandu dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

Tidak terdengar bahasa Arab sama sekali. Bahkan pada bagian akhir pidato pembukaan, Presiden SBY sendiri malah membaca bagian dari pidato tertulisnya yang berbahasa Inggeris. Tak ada bahasa Arab kecuali saat mengucap salam dan menyebut beberapa istilah teknis seperti rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam) dan Insyaa Allah (semoga diperkenankan Allah). Bukan berbahasa Arab.

Tetapi, di tengah sekularisasi yang semakin menguat di seluruh dunia, patut dipikirkan bahwa melalui event ini rupa-rupanya orang masih merasa sangat perlu menunjukkan bahwa dirinya (termasuk negaranya) adalah Islam. Sebaliknya, dalam banyak hal, termasuk dalam menata negara dan pemerintahan, sangat perlu menyembunyikan dirinya sebagai Islam untuk mengadopsi konsep lain semisal demokrasi ajaran Barat itu. Sebagai sebuah fenomena kenegaraan dan hubungan internasional, ini memang sangat menarik.

Sambutan dari Presiden Federasi Olahraga OIC sendiri, sebagai pengelola ISG, menaruh perhatian kepada solidaritas sesama bangsa yang diikat oleh ideologi (Islam). Event ini bukan sekadar mengasah prestasi olah raga, melainkan juga mendorong bangsa-bangsa sedunia untuk semakin mempertinggi solidaritas dan kerjasama.

Juga event ini dapat menyumbang  bukti bahwa negara-negara Islam dapat bersatu. Begitu antara lain sambutan Presiden SBY. Kedua pidato itu dapat menjadi pesan utama Jaka Baring, yang memang belum tentu didengar oleh siapa pun mengingat keterpurukan dunia Islam saat ini.

OIC memiliki seorang perwakilan tetap di PBB. Organisasi ini didirikan di Rabat, Maroko, pada 12 Rajab 1389 Hijriyah, bersamaan dengan 25 September 1969 dalam Pertemuan Pertama para Pemimpin Dunia Islam yang diselenggarakan sebagai reaksi terhadap terjadinya peristiwa pembakaran Masjidil Aqsa pada 21 Agustus 1969 di Jerusalem.

Sebelumnya OIC hanyalah organisasi konferensi Islam, dan sejak tanggal 28 Juni 2011 berubah nama menjadi Organisasi Kerjasama Negara Islam.

Meski selalu ditonjolkan sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar dunia, tetapi putera Indonesia belum pernah tercatat menjadi Sekjend organisasi ini. Mungkin Indonesia merasa tak perlu. Berbeda dengan Ali Alatas, mantan Menlu RI, yang pernah dianggap patut diperjuangkan menjadi Sekjen PBB karena lembaga internasional ini memang “bergigi”.

IMF sendiri merasa perlu mengapresiasi Indonesia karena mempercayakan jabatan strategis (meski bukan nomor 1) kepada seseorang yang pernah dianggap menjadi salah seorang yang menjadi bagian dari permasalahan di negeri ini, Sri Mulyani.

Shohibul Anshor. Dimuat pada Harian Medan Bisnis, Medan, 25 September 2013, hlm 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: