'nBASIS

Home » ARTIKEL » Mempertahankan Kelas

Mempertahankan Kelas

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


IMG_6743

Jika pun kau buat organisasi, itu hanya secara normatif bisa dilayani di kesbanglinmas sekadar memenuhi kewajiban negara untuk mengakomodasi orang yang mau bersyarikat. Gaung organisasimu itu kelak hanya mungkin bisa menjebol (sekali saja) dana bansos yang dipotong setengah dari jumlah yang harus kau tandatangani.

KAU anak seorang jenderal. Tempatmu sudah disediakan di lembah tidar. Kau akan menjadi perwira setelah itu. Penugasan pertamamu kelak boleh jadi ke medan tempur Negara asing, bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian di bawah bendera PBB. Tak ada resiko keamanan di sana, kau hanya menunggu jam-jam patroli dari satu ke lain kamp mewah di sekitar zona aman perang. Selebihnya tunggu waktu pulang ke tanah air, akan ada seremoni di markas besar untuk menandai kenaikan istimewa pangkatmu. Militer berbisnis adalah sebuah keniscayaan. Kau sudah berada pada pusaran utama. Nikmati sepenuhnya. Reguk keseluruhannya.

Kau pewaris bisnis kapital yang digendong-gendong pemerintah setiap saat dengan perlakuan-perlakuan istimewa termasuk mendiskriminasi sesuka hatimu. Kau darah biru niaga yang menyangga Negara. Kerajaan niaga yang berbasis erzats yang dituduhkan oleh Kunio itu memang peran sejatimu. Atur semua pejabat dan kepejabatan dalam semua sektor. Kutak-katik saja sesuka hatimu. Di Afrika Selatan konon ada cerita menarik yang harus kau pelajari dalam kisah sukses penindas di sebuah kehitaman moral dan nilai. Makan sesukamu, itu tak menjadi soal, karena dengan uangmu yang hitampun bisa kau paksakan menjadi putih. Definisi yang perlu dibuat di negeri ini pun selalu akan meminta persetujuanmu terlebih dulu, karena para mandor kecil berseragam sebetulnya sangat tergantung kepadamu. Sejarah telah memilihmu untuk menjadi penindas yang akan diabadikan sepanjang masa.

Kau anak dokter, bukan? Duduk manis saja. Kau akan diwisuda tepat waktu, setelah itu kau boleh menentukan dimana kau akan bertugas, di sekitar kota, agar kau bisa menempuh pendidikan lanjut spesialis otak, atau spesialis apa saja. Peluang mengakumulasi penghasilanmu kelak akan lebih besar jika kau selesaikan pendidikan S3. Jika mungkin di luar negeri saja. Nanti akan kau rasakan uang berkejaran mencarimu. Sebagai anak dokter yang status keistimewaannya di tengah masyarakat selalu sangat terjaga, modal untuk mendirikan sebuah rumah sakit spesialis tentu bukan sesuatu yang harus dibayangkan sulit untukmu.

Kau anak birokrat? Kau sudah didaftarkan sebagai pengendali birokrasi negeri ini setelah pendidikanmu di Jatinangor selesai. Jangan membunuh di sana setelah nanti kau lolos tak terbunuh atas sentimen kesenioran yang norak dengan pikiran quasi milter oriented yang amat salah kaprah. Terbunuh di Jatinangor seolah hal biasa, bagi mereka saja, bukan bagi kita, Indonesia. Itu tak perlu dipermasalahkan serius bagi sebagian orang. Dudukmu, jalanmu, sikap kesamaptaanmu, kau asahlah itu semua setiap hari. Agar kau terlihat (paling tidak menurutmu dan orang sepertimu) makin pantas. Kau penerus untuk banyak hal. Mungkin penerus tradisi korupsional bapakmu yang lihai dan tak pernah terendus penegak hukum.

Bapakmu ketua parpol, dan sudah lama keparpolan di negeri ini terkendala kesehatannya karena orang-orang seperti dia itu. Kau belum lahir bapakmu sudah menjadi orang nomor dua di situ. Kini tak lagi ada di atas posisi bapakmu. Musim politik 2014 kau sudah harus tampil. Memastikan dapil teraman bukan tugasmu. Hal terpenting yang kau perlu jaga hanyalah perilaku keseharian. Jangan menjadi perhatian bagi masyarakat karena perilaku negatif. Pokoknya jaga image saja. Bagi-bagikan sembako karena posisi raskin yang diabadikan tetap menjadi faktor penyedia kedermawanan aneh yang bisa kau lakonkan. Memang di sekitar bapakmu ada brutus dan sengkuni, tetapi itu dijamin kalah dengan penghamba-penghamba serius lainnya yang pekerjaanya hanya merendahkan diri tak sekadar membungkuk di depan bapakmu. Kau ini anak emas demokrasi salah kaprah yang hampir dipastikan berkibar. Cepatlah kau dewasa, karena the lord protector di sekitar partai bapakmu itu bisa berubah pikiran jika bapakmu tergelincir masuk penjara entah karena isyu korupsi atau isyu moral. Kalau itu terjadi kau langsung memasuki liang kuburmu, tanpa prasasti seperti bapakmu yang akhirnya dikenang hanya sebagai bandit berwajah negarawan.

Kau pandai berkelahi, menikam dan menggonikan orang? Dengan itulah kau mungkin bisa kaya raya. Jangan jadi penjagal tok. Kau harus cerdas dan lincah. Kau bisa menjadi “pelindung” bagi yang membutuhkanmu. Kau bisa menjadi pelaksana tunggal pekerjaan kotor orang-orang bermuka baik dalam kewibawaan sesat yang dilegitimasi undang-undang. Asah parangmu, siapkan anak-anak muda yang rajin mabuk dan berpesta pora di antara para pengangguran yang tak terhitung jumlahnya di slum area. Bagikan kepada mereka pisau, klewang dan pakaian seragam yang membuat orang ketakutan. Jangan kau lupa bahwa Proklamasi 17 Agustus harus kau rayakan sebesar-besarnya, tak cuma dengan baliho megah. Beri ucapan selamat kepada semua umat manusia saat mereka merayakan kebesaran hari-hari suci mereka. Kau sudah punya peluang untuk menjadi raja yang sesungguhnya, yang berhak atas pekerjaan dari dana pemerintah, berhak atas seberapa luas tanah yang kau perlukan untuk pelipatgandaan kekayaan dan pengaruh di wilayah sengketa yang sengaja diabadikan.

Jika kau cuma anak seorang tukang beca, ijazahmu tak akan diakui. Kau boleh saksikan dengan sakit hati rombongan yang mengemas uang kontan ratusan juta untuk membeli komponen gabungan angka yang disebut NIP (nomor Induk Pegawai) di kantor-kantor pemerintahan. Keterampilanmu hanya mengoperasikan beberapa program computer sekedar bisa akses internet, menulis sajak kepedihan sambil mencaci maki orang-orang yang sesungguhnya tak kau kenali dalam sistem yang rakus. Itu bukan cuma karena pendidikanmu yang diawali dari satu ke lain sekolah kumuh, tak berkurikulum, tak berguru dan bocor setiap kali hujan dengan genangan air yang selalu menjadi tontotan asik dalam budaya kemiskinanmu. Sudah hebat jika kau menjadi operator atau sales promotion girl di konter-konter retail milik para juragan ganas yang memusnahkan harapan bagi kedai-kedai sampah milik wak Alang dan buk Minah. Jika pun kau buat organisasi, itu hanya secara normatif bisa dilayani di Kesbanglinmas sekadar memenuhi kewajiban negara untuk mengakomodasi orang yang mau bersyarikat. Gaung organisasimu itu kelak hanya mungkin bisa menjebol (sekali saja) dana bansos (Bantuan Soaial) yang dipotong setengah dari jumlah yang harus kau tandatangani.

Negara memang seperti ini dari dulu, dan sejarah hanya berisi kekosongan spiritual yang mematikan nurani. Terasalah semakin penting dan semakin relevan kehadiran agama sebagai lead bagi dirijen yang akan memandukan perjalanan sebuah bangsa. Ia (dirijen itu) harus dicari di tengah comberan yang berbau busuk. Karl Marx mendapat tempat dan akan semakin abadi melintasi zaman. Karena keadilan tak dikenali dan semakin tak dikenali. Tetapi, jika kau seorang ustaz atau rohaniawan, jangan kau berkolaborasi dengan para pemungkar. Berilah fatwamu untuk menyelamatkan negeri ini.


Shohibul Anshor SIregar. Diterbitkan untuk pertamakalinya oleh Harian WASPADA, Medan, Senin 7 Oktober 2013, hlm C5


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: