'nBASIS

Home » ARTIKEL » FENOMENA PERCERAIAN

FENOMENA PERCERAIAN

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Wamenag Nasaruddin Umar belum lama ini mengatakan bahwa angka perceraian di Tanah Air mencapai 212.000 kasus setiap tahunnya. Sepuluh tahun lalu angka perceraian hanya sekitar 50.000 per tahun,

Dalam penjelasan itu disebut pula bahwa hampir 80 % yang bercerai adalah rumah tangga yang usianya terbilang muda dengan anak yang masih kecil. Juga dijelaskan bahwa hampir 70 % perceraian yang terjadi adalah cerai gugat. Dengan demikian, sama seperti di Medan, lebih banyak perempuan (isteri) yang mengajukan gugatan perceraian daripada lelaki (suami) yang menceraikan istrinya.

Multi Faktor. Perceraian adalah fakta sosial yang menjadi fungsi atau menjadi penjelasan bagi fakta sosial lain. Karena kita tidak begitu mendalam mengetahui dimensi-dimensi data perceraian yang sedang kita perbincangkan ini, maka kita hanya mungkin menjelaskannya secara umum.  Sulit menafikan bahwa kini tuntutan kehidupan ekonomi semakin sulit. Dimana-mana faktor ekonomi lazim sebagai penyebab perceraian. Karena itu, bagi saya, ini tak bisa dimintai tanggungjawab kepada Kementerian Agama yang memberi legitimasi atau status hukum atas perikatan orang dalam perkawinan. Faktor ekonomi di luar domain tugas dan tanggung jawab mereka.

Jika kita tanya seorang Walikota, Bupati, Gubernur, dan bahkan Presiden dan seluruh menteri yang membantunya melaksanakan pemerintahan, tentu masing-masing akan angkat bahu saja walau akan menyatakan sikap prihatin. Artinya, pemerintahan kita sulit dinyatakan tak gagal dalam menyelamatkan masyarakat dari kesulitan atau himpitan ekonomi. Mudah saja mengukurnya, yakni dengan menelaah data raskin dan data BLT dan BLSM.

Modernitas yang hampa nurani seperti umumnya menjadi pola dalam masyarakat modern kota cenderung melahirkan ancaman-ancaman baru yang sangat serius terhadap keutuhan perikatan perkawinan. Katakanlah misalnya faktor WIL (Wanita Idaman Lain) atau PIL (Pria Idalam Lain). Ancaman-ancaman atas kesakralan nilai perkawinan semakin besar dari faktor ini. Keperkasaan uang sebagai alat tukar untuk segala macam kebutuhan, termasuk hubungan seksual di luar pernikahan, umumnya disediakan begitu accessfull di kota-kota besar seperti Medan. Jika dulu tempat-tempat maksiat itu ada di luar kota seperti Warung Bubur beberapa puluh kilometer di arah Selatan dan Bandar Baru belasan kilometer di arah Utara, kini hal-hal serupa sudah menyerbu ke pemukiman dengan banyak modus. Bagi pemerintah ini adalah uang masuk ke PAD.

Kita juga membaca berita penertiban dengan menggiring pasangan selingkuh ke kantor polisi. Itu sangat tak memadai dan bahkan diragukan iktikad baiknya karena jika tak difasilitasi perselingkuhan tidak mungkin terjadi sebesar itu. Tetapi penertiban tidak pernah secara langsung ke status rumah-rumah bordilnya meski secara teoritis sangat diyakini sebagian besar memang didesign hanya untuk memfasilitasi orang berselingkuh atau memfasilitasi hubungan seksual di luar nikah.

Di bawah Kementerian Agama, dalam peradilan agama, dan setahu saya ada badan yang tugasnya memberi advokasi bagi pasangan bermasalah yang terancam perceraian. Mereka harus diperkuat secara teknis dan kewenangan. Tentu tidak memadai jika hanya dibekali dengan kemahiran mengungkapkan ayat dan hadits yang mengatur tentang tuntunan moral perkawinan. Mereka harus tahu dimensi lain. Kemudian, mereka harus akses untuk merekomendasikan sebuah keputusan ke lembaga lain, misalnya lembaga keuangan untuk bersedia menyupport permodalan usaha. Jika karena kesulitan ekonomi mereka menyatakan akan bercerai, keselamatan perkawinannya sangat mungkin dengan resep ekonomi.

Tentu tausiah keagamaan yang efektif sangat diperlukan pada zaman kekosongan spiritual seperti ini. Bagaimana institusi yang bertugas dalam bidang ini menjalankan perannya sehingga keterjagaan orang bisa lebih baik hingga tak mudah mengalami kepanikan karena masalah tertentu dan kemudian menjuruskan kesepakatan tindakan perceraian?

Human Investment. Kita wajib memberi pengertian kepada mereka bahwa jika bercerai, yang paling merasakan akibatnya adalah anak sebagai human investment. Mereka pasti bermasalah usai perceraian itu. Jika ayah dan ibu mereka mendatangkan pasangan baru, belum tentu menjadi jawaban bagi mereka. Bahkan banyak data yang mendeskripsikan masalah-masalah baru yang tak tertanggulangi pasca perceraian. Makin banyak orang yang hidup dalam keluarga broken home hari ini, menjadi satu pemastian masa depan masyarakat akan sangat terganggu nanti.

Dalam data yang diekspos oleh Kementerian Agama perceraian dalam usia perkawinan yang masih muda sangat menonjol. Bukankah ini menjadi pertanyaan atas kebebasan remaja pra-nikah sehingga kesepelean pernikahan begitu niscaya di hati mereka? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Berapa andil faktor kemajuan IT seperti HP, internet dan juga sajian tv yang begitu dahsyat itu? Jangan-jangan perkawinan itu sudah merosot dalam pandangan orang muda masa kini, seumpama gonta-ganti sepatu atau hp.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini telah diterbitkan oleh Medan Bisnis tanggal 8 Oktober 2013, hlm 2


2 Comments

  1. kasur busa says:

    Way cool! Some extremely valid points! I appreciate you writing this post and
    the rest of the website is extremely good.

  2. Concepcion says:

    Greetings from Florida! I’m bored to death at work so I decided to browse your blog on my iphone during lunch break.
    I love the information you provide here and can’t wait to take a look when I get home.
    I’m amazed at how fast your blog loaded on my cell phone
    .. I’m not even using WIFI, just 3G .. Anyways,
    wonderful blog!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: