'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANTASARI, AKIL MOCHTAR, AUNG SAN SUU KYI DAN ANWAR IBRAHIM

ANTASARI, AKIL MOCHTAR, AUNG SAN SUU KYI DAN ANWAR IBRAHIM

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


BNN sudah memeriksa Akil Mochtar sekaitan paket yang diduga narkoba dan ganja yang diberitakan ditemukan di ruang kerja Ketua Non Aktif Mahkamah Konstitusi (MK) itu. Hasilnya pun sudah diumumkan. Meski dikatakan akan mendalami lebih lanjut, tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan Akil Mochtar sudah dinyatakan tidak terindikasi narkoba.

Senin malam di Gedung MK, Majlis Kehormatan yang dibentuk untuk kasus penangkapan Akil Mochtar, memeriksa beberapa orang terdekat dengan menyiarkannya secara langsung oleh sebuah tv swasta nasional. Sejumlah pakar dan orang yang selama ini diakui integritasnya, yang duduk dalam Majlis, mengajukan pertanyaan. Arah pertanyaan sangat jelas: 

Pertama, betulkah Akil Mochtar ini pecandu. Jika tidak, begitu buruklah scenario yang dibuat untuk ini. Dari jawaban-jawaban yang diberikan para terperiksa, ternyata mereka hanya diminta datang menyaksikan temuan (narkoba), setelah terlebih dahulu ruangan kerja Akil Mochtar itu disegel sore hari beberapa jam setelah penangkapan Akil Mochtar. Apa sebelum disegel, hanya orang tertentu di MK dan penyegel dari KPK itu yang tahu. 

Kedua, lalulintas keuangan Akil Mochtar yang mungkin pernah melibatkan orang-orang dekatnya itu. Rupanya, sejumlah transaksi keuangan yang pernah dilakukan untuk Akil Mochtar oleh Sisilia, sekretaris pribadi, seluruhnya ketika masih sebagai hakim anggota (10 juta, 50 juta dan 500 juta). Jika ini uang korupsi, maka korupsi itu berlangsung ketika MK masih diketuai oleh Mahfud MD. Juga pernah ada permintaan Akil Mochtar kepada pembantunya yang lain untuk membayar tagihan. Tetapi nilainya tidak sampai mencapai Rp 1 juta. 

Ketiga, relasi-relasi tak wajar Akil Mochtar yang diketahui dan atau pernah melibatkan (fasilitasi) semua orang yang ditanya. Seorang anggota DPR RI dinyatakan pernah hadir bertamu, seorang berpangkat Brigjen pernah minta biaya kegiatan panjat tebing (dan permohonan bertamunya ditolak) di kantor, dan ketika pergi ke luar kota juga tidak ditemukan fakta mencurigakan. Akil Mochtar itu tidak aneh-aneh.

Anggota DPR RI Pasek berkomentar pasca pengumuman hasil test atas diri Akil Mochtar. “Yang perlu di kejar, ada apa di dalam itu (maksudnya di MK). Kenapa barang itu bisa di dalam. Jangan-jangan itu bagian dari menjatuhkan Akil ke titik terendah (oleh orang dalam MK atau orang lain di luar itu),” jelas Pasek di Gedung DPR. Ia bahkan menyebut narkoba itu bukan benda santet yang harus difahamkan terbang sendiri ke ruang kerja Akil Mochtar. Ada yang membawa ke situ. Untuk apa lagi kalau bukan untuk merontokkan Akil Mochtar?

Jadi, sekarang pertanyaannya bukan lagi “siapa pemilik paket narkoba di ruang kerja Akil Mochtar” yang sudah berhenti merokok selama dua tahun itu dan meski ada asbak di situ selalu dan hanya digunakan untuk meletakkan benda-benda perkantoran seperti klip, hekter dan alat tulis (kesaksian seorang terperiksa). Marilah kita secara jujur bertanya “Siapa pembawa narkoba ke ruang kerja Akil Mochtar”.

Teringat Antasari. Begitu hebat kesaksian yang diberikan oleh seorang pejabat kepolisian Wiliardi Wizar, semua tak dianggap sebagai fakta persidangan yang penting. Antasari masuk bui juga, meski semua merasa heran. Teringat juga Aung San Suu Kyi dan Anwar Ibrahim. Kekuasaan memaksa hukum untuk menyengsarakan mereka. Mungkin juga mereka bersalah atas sesuatu, yang jika bukan mereka pelakunya akan dianggap sebagai hal-hal biasa yang tak berdimensi hukum apa pun.

Tema penangkapan Akil Mochtar adalah korupsi. Seolah korupsi di Indonesia akan berhenti setelah Indonesia memenjarakan Akil Mochtar. Oh, kita tak suka Akil Mochtar korupsi. Tidak. Tapi kalaulah korupsi yang menjadi tema, dan jika semua pejabat tinggi negara diendus seperti mengendus Akil Mochtar, bukankah setiap hari semua petinggi itu akan memakai baju khas tahanan KPK tanpa kecuali? Sebetulnya itu yang perlu dilakukan oleh KPK. Tak perlu takut kepada siapa pun termasuk yang pernah mengejek bahwa KPK itu hanya bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Presiden SBY pernah membentuk tim pemberantasan mafia hukum. Hasilnya memang meluap wcana. Sebatas itu saja. Tetapi perhatikanlah saat para Capres 2009 mengajukan data harta kekayaan mereka. Fantastis. Jika hanya JK lah yang pengusaha di antara mereka dan masuk akal jika beroleh kekayaan besar, bagaimana menerangkan pemberantasan korupsi di Indonesia di tangan orang yang tak pernah masuk akal memiliki kekayaan tetapi faktanya menjadi kaya raya?  Dunia pasti menertawakan jika seseorang mengaku kaya karena mengetuai sebuah partai. Lebih tertawa lagi dunia jika seseorang mengatakan dirinya sudah menjadi kaya karena pernah memimpin ketentaraan.

Di luar, telah terjadi gumun nasional atas peristiwa itu. Gumun adalah fakta kegampangan terperangah dan takjub. Itu fungsi ketidak nalaran. Masyarakat bodoh dan mudah dibodohi akan selalu berulang bergumun ria. Tetapi dari gumun satu ke gumun lain, mereka tak akan pernah berubah selama mereka tak mencerdaskan diri. SBY malah telah mengatur komunikasi politik seputar perpu tentang MK. Indonesia memang amat khas. Kita tunggulah 2014-2019.

 

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Diterbitkan pertamakali oleh Harian Medan Bisnis, Rabu 9 Oktober 2013, hlmn 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: