'nBASIS

Home » ARTIKEL » GUMUN

GUMUN

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


Penyelenggara pemilu sarat masalah: tak netral, tak bisa membuat DPT dan selanjutnya menghadiahkan Indonesia data pilihan politik dan legitimasi yang sangat tak terpercaya. Dengan semua kebobrokan bersemangat transaksi itu, disuguhkanlah masalah kepada MK sebagai pemutus final

“Saya tidak tahu latar belakang kejadian. Saya tidak pernah meminta uang atau janji sepeserpun! Yang kemudian saya ditetapkan sebagai tersangka. Banyak saksi kejadian itu, ajudan, petugas jaga dari kepolisian dan security. Di tengah berita yang mendzolimi saya, menyudutkan dengan hal-hal yang aneh mengikuti perkara ini, saya tidak akan merubah sikap saya terhadap bangsa ini. Saya bukan penghianat! Walau saya harus mati untuk itu semua”. (Akil Mochtar).

Kalimat di atas dipetik dari surat Akil Mochtar (AM) tanggal 3 Oktober 2013 yang ditujukan kepada para Hakim Konstitusi. Hal pertama yang dikemukakannya dalam surat yang ditulis tangan itu ialah permohonan maaf kepada para hakim konstitusi, seluruh staf dan karyawan MK. Juga pernyataan mengundurkan diri terhitung sejak tanggal suratnya.

Kelak, peradilan dengan prinsip praduga tak bersalah-lah yang akan membuktikan apakah ia bersalah atau tidak. Termasuk ketika AM nanti mengajukan pembelaan diri: “Yang Mulia. Saya tidak mengenal dan tidak tahu siapa yang datang ke rumah saya, kecuali CN yang pernah menyatakan ingin bertemu melalui sms. Mereka yang membawa uang Rp 3 milyar lebih itu sama sekali tidak saya kenal. Faktanya memang benar bahwa mereka tertangkap tangan oleh tim KPK, justru di depan rumah dinas saya. Marilah sama-sama kita duga secara kuat bahwa mereka memang sedang berusaha menyuap saya. Yang Mulia. Sebegitu banyak orang yang menjalankan tugasnya dalam pemerintahan maupun sektor lain di negeri ini selalu digoda. Tentu Presiden juga selalu digoda, Menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota, tak terkecuali Jaksa Agung, Kapolri dan Ketua serta para komisioner KPK. Jika selama ia tidak tunduk pada godaan itu, apakah ia dapat kita vonis bersalah?”

Tentulah harus difahamkan bahwa KPK sudah sangat siap melawan pembelaan semacam itu. Juga dapat difahamkan bahwa perintah untuk memata-matai, termasuk menyadap pembicaraan dan lalu lintas pembicaraan AM dengan pihak-pihak mana pun, tidak muncul dalam hitungan jam sebelum peristiwa penangkapan.

Puncak Gunung Es. Dalam bahasa Jawa konon ada sebuah kata yang dapat melukiskan situasi nasional saat ini, yakni gumun. Gumun itu kurang lebih dapat bermakna gembar-gembor ketercengangan atau kekaguman atas sesuatu terutama karena rasa ke-pro-an atau ke-kontra-an atau bahkan kebingungan atas sesuatu kejadian yang kesemuanya bersumber pada ketidak-tahuan atau keawaman. Ketidak-tahuan dan keawaman sama-sama menerangkan kualitas kebangsaan yang tak terdidik, yang sejarahnya dapat dilacak pada ulah para pemimpin negeri dan kebijakannya.

Meskipun banyak orang merasa paling perlu heboh (bagi politisi dan juga pengacara, tak ada fenomena yang bisa dihebohkan pun biasanya mereka pasti selalu ingin heboh saja) atas penangkapan AM, terutama karena alasan kedudukannya sebagai orang nomor satu pada lembaga yang disebut pengawal konstitusi. Tetapi saya merasa kebanyakan memang benar-benar tidak jujur. Mestinya tahu dan pastilah tahu bahwa tidak ada lembaga terpercaya di negeri ini. Jika semua pimpinannya “diendus” seketat ‘pengendusan’ terhadap AM, semua pasti dengan tanpa kecuali wajib memakai baju tahanan KPK itu. Apalagi dibumbui lagi dengan rekayasa lain seperti temuan paket narkoba di ruang kerja AM, terlebih masih bisa ditambah lagi dengan isyu sejuta perempuan cantik seperti terjadi pada LHI, yakinlah, kerontokan moral seseorang yang menjadi target politik sangat mudah.

Siapa pula yang tidak tahu bahwa peradilan adalah sesuatu yang hingga kini hanya sebatas wacana formal dari cita-cita keadilan yang tak pernah beranjak? Kediaman (diam) orang yang semestinya berteriak, atau bahkan model partisipasi orang yang sepatutnya melawan, banyak sekali berkontribusi atas kebobrokan sistemik dalam bernegara yang kita hadapi sekarang ini.  Kecuali sebagian besar pemilihan Kepala Desa, Pemilu 1955 dan pemilu 1999, semua orang sudah tahu pemilu dan pemilukada Indonesia itu hanyalah urusan transaksi belaka. Itu sebabnya geliat penggugatan atas semua putusan atas sengketa Pemilukada pasca penangkapan AM begitu marak di daerah.

Meski keadaan ini sudah berlangsung relatif lama, tetap saja tidak ada niatan untuk memperbaiki secara lebih beradab konsep demokrasi yang dicopy dari Negara barat ini, misalnya untuk mendefinisikan apa itu money politic, trade in influence, intimidasi, penggelembungan suara, dan lain-lain. Mainstream upaya berhenti pada dukungan pialang dan kepialangan untuk pencarian kekuasaan. Pembentukan penyelenggara pemilu sarat masalah yang selalu menerangkan mengapa ia tak bisa netral, tak bisa membuat DPT dan selanjutnya menghadiahkan Indonesia data pilihan politik dan legitimasi yang sangat tak terpercaya, serta dengan semua kebobrokan bersemangat transaksi itu, disuguhkanlah masalah kepada MK sebagai pemutus final. Mestinya hanya malaikatlah (di MK) yang bisa tak tergoda uang haram melalui design kasus-kasus kriminalisasi demokrasi dari semua daerah.

Penganut keyakinan Machiavelli bertambah setiap hari dengan prinsip segala cara itu halal saja. Itulah potret demokrasi kita. Karenanya, hanya orang gumunlah yang pantas dan boleh berteriak atas fakta penangkapan AM ini. Tetapi gumun juga sudah memberi tempat leluasa bagi Presiden SBY untuk menyelenggarakan apa yang oleh Zimly Ashshiddiqi disebut sebagai arisan petinggi Negara. Bukan cuma karena secara sepihak arisan itu dapat menjadi vonis bersalah kepada MK secara kelembagaan yang sengaja tak diundang karena alasan, menurut Menkopolhukam, MK itu kini tak memiliki ketua aktif. Padahal jangankan Menkopolhukam, Presidenpun kerap harus diwakili oleh Wakil Presiden RI. Hamdan Zoelva masih aktif sebagai Wakil Ketua MK.

Pengawasan Hakim MK. Jika design pemilu Indonesia yang tak berubah nanti akan menghasilkan sesuatu, maka sesuatu itu adalah perkara-perkara buruk kriminalisasi demokrasi yang akan disidangkan MK. Menguasasi MK adalah hal paling strategis bagi pencari kekuasaan di Indonesia terutama karena para hakimnya suka uang sogok atau bisa diperintah sesuai kehendak kekuasaan. Kini muncul ide untuk mengembalikan pengawasan para hakim konstitusi yang sudah pernah dibatalkan oleh MK.

Alkisah, suatu hari seorang petani menangis menyaksikan apa yang terjadi. Di ladang ia menempatkan dua ekor anjing terlatih agar bisa setiap saat menjaga. Karena kesibukan lain, selama 3 hari ia tak pergi ke ladang dan menganggap ladangnya akan tetap aman karena kedua ekor anjing penjaga terlatih itu. Ketika hari keempat ia berkesempatan datang ke ladangnya, ia pun sangat terkejut menyaksikan kedua ekor anjingnya sudah bersahabat akrab dengan monyet-monyet yang menghabisi seluruh tanaman. Bahkan di antara kawanan monyet itu, ada 10 ekor yang benar-benar menidurkan sambil mengambil kutu-kutu yang ada di sekujur tubuh kedua anjing terlatih yang sudah bersahabat dengan kawanan monyet itu.

Jika Anda masih penasaran, inilah satu bukti yang tidak terbantahkan. Menurut Anda sudahkah eksekutif kita makin baik setiap hari karena pengawasan yang luas oleh legislatif? Dalam berbagai bukti malah sudah sangat luas dikembangkan opini bahwa legislatif ternyata lebih korup dari eksekutif. Ini sistem, dan kebobrokan MK belum tentu lebih buruk dari kebobrokan lembaga lain tempat orang-orang berteriak lantang menunjukkan perlawanan semantik dan oratorisnya tentang korupsi. Kesalahan dan kebobrokan ini juga tidak boleh ditimpakan kepada si Paijo apalagi si Painem.

Shohibul Anshor SIregar. Diterbitkan oleh Harian Waspada, Senin, 14 Oktober 2013, hlm C5.

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: