'nBASIS

Home » ARTIKEL » Kumpulan Puisi: BERHARAP PONARI MENJADI PRESIDEN

Kumpulan Puisi: BERHARAP PONARI MENJADI PRESIDEN

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


new sampuls

Untuk Ijtihad Siregar dan Tondi Abe Siregar yang sudah berusaha memberi alternatif design untuk sampul. Untuk Roni Jambak yang banyak membantu khususnya dalam finalisasi draft. Untuk Taufiksyah Ismail dan Maestro Sihaloho yang masing-masing sudah berjanji menerbitkan puisi mereka, dan untuk Nirwansyah Panjaitan yang sudah berjanji membantu Taufiksyah Ismail dan Maestro Sihaloho untuk maksud mereka yang mulia. Saya ucapkan terimakasih untuk semua peran dan keberadaan itu.

Seorang sejawat, sambil berlalu, melintas di sisi kanan meja kerja saya, mengajukan pertanyaan: “Anda sedang menulis puisi?” Rupanya pandangannya sempat memeriksa layar laptop yang saya pakai dan menyimpulkan bahwa apa yang sedang saya tuliskan adalah puisi. Memang saya menuliskan sesuatu. Ditambah dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang lainnya lagi, sesuatu yang lainnya lagi, lagi dan lagi. Saya persilakan saja ia mau menyebut apa tulisan-tulisan saya itu. Rasanya  tidaklah begitu penting dipersoalkan, terutama saat saya menuliskan sesuatu pemikiran yang saya anggap sangat penting untuk dituliskan dengan tak selalu terlebih dahulu memikirkan sebuah penamaan atas apa yang akan dituliskan. Tetapi hal yang pasti ialah bahwa saya sedang menuturkan sesuatu, berupa respon pemikiran saya, dan dalam buku ini keseluruhannya berjumlah 70 judul.

Sebagian besar dari ke-70 judul itu saya sarikan dari artikel-artikel yang pernah saya tulis untuk media massa lokal di Medan. Juga dari beberapa tulisan yang pernah saya tayangkan pada blog pribadi http://nbasis.worpress.com dan blog lainnya.  Bagi orang yang pernah membaca tulisan aslinya, terutama karena beberapa judul tidak saya rubah,  tentulah dengan segera akan menemukan ide yang sama meski sudah dalam bentuk yang dimuat dalam buku ini.

Sebuah judul diperlukan untuk merangkum seluruh tulisan itu dalam sebuah identitas yang lebih mudah untuk dipanggil. Sosok Ponari, yang menjadi salah satu bahasan dari satu tulisan dalam buku ini, saya anggap cukup kuat untuk dimenangkan menjadi representasi terkuat dari keseluruhan pemikiran yang digabungkan. Ya, Ponari.

Suatu ketika saya pernah menulis begini:

“Andai sudah ada yang temukan ta’rif terorisme itu. Andai sudah ada yang mampu memaparkan seluk beluk tuduhan teror dan perburuan manusia yang sedang mewabah itu. Maka kuyakin kita semua tak akan berhenti meneteskan air mata. Dan dapat kupastikan bahwa dengan sendirinya moncong senjata pun akan enggan memuntahkan peluru. Dan kupastikan kita akan dapat memahami kembali makna sebuah kata yang hilang: “damai”. Dan aku yakin sepenuhnya, kau tak merasa perlu membenci aku. Aku yakin sepenuhnya Tuhan tak pernah tidur”. Tetapi untuk buku ini saya rasa konten ide yang ada dalam tulisan yang saya kutip di atas itu memang menyumbang sesuatu, namun tak memadai untuk konstruk penamaan secara menyeluruh. Benar, saya merasa ada sesuatu yang tak beres tentang masalah terorisme yang diburu-buru di Indonesia. Ketidak beresan itu pun termasuk salah satu yang saya sorot dalam buku ini. Namun tak saya pilih untuk menjadi dasar bagi pemberian identitas untuk buku ini.

Seorang penulis lain juga saya lihat pernah mengutip tulisan saya, yang saya beri judul “Puisi Anak Indonesia”:

Berilah aku sebuah buku
Yang aku akan sangat ingin membacanya
Karena menceritakan sebuah negeri
Yang tak mau berbohong
Yang tak mau zholim
Yang tak mau mengeluh
Yang tak mau menyembunyikan tangan di bawah
Yang tak mau korupsi
Yang tak mau kehabisan tenaga
Yang tak mau menutup mata
Yang tak mau tidur
Yang tak mau berdosa

Berilah aku sehelai kecil catatan
Yang aku akan sangat ingin mempertahankannya
Tentang sebuah negeri
Yang merasa malu diperdaya
Yang merasa malu berpangku tangan
Yang merasa malu menangis
Yang merasa harus lebih baik mati jika harus tak adil

Berilah aku setetes tinta
Yang warnanya tak pernah pudar
Yang bisa mewarnai jagad raya
Untuk kutuliskan di langit
Untuk menandai kegagalanku berharap

Berilah aku kesempatan
Yang akan membuatku tak akan lagi menyesal seumur hidup
Yang akan membuatku
memperoleh barang seserpih rasa bangga
Karena telah merasakan jantungmu berdegup keras Saat rakyatmu tak lagi makan

Tetapi puisi itu bahkan tidak dimaksudkan sebagai salah satu bagian dari isi buku ini. Karenanya, meskipun saya anggap demikian serius, namun ungkapan-ungkapan dalam puisi itu tidak serta merta dipilih untuk mengkonstrukjadi penjudulan buku ini. Ponari lebih kuat. Daya tariknya besar buat saya. Ia mewakili zamannya yang belum pasti, di tengah kegalauan yang makin memuncak. Ponari saya rasakan menyumbang lebih banyak untuk konstruk buku ini.

Selanjutnya, mengapa berharap Ponari Menjadi Presiden? Berharap Ponari Menjadi Presiden, bagi saya adalah sebuah proses menuliskan sesuatu yang ditemukan dalam fakta kehidupan sehari-hari. Ponari menjadi Presiden? Sebelumnya memang saya pernah menuliskan seperti itu. Saya gambarkan ia beranjak dari kesulitan yang diakibatkan bencana yang dihadapinya, disambar petir,  dan kemudian kesulitan itu pun berubah menjadi sebuah keberuntungan berkat sebuah batu yang ia dapatkan saat peristiwa disambar petir. Batu itu kemudian dianggap sangat berkhasiat, dan setiap dicelupkan ke cairan (air) bersih, diyakini menjadi obat penyembuh berbagai penyakit.

Masyarakat klenikistik tak mengharapkan penjelasan akademis tentang batu itu. Orang hanya mau sembuh dari penyakit. Penyakit itu kan sesuatu yang sangat mengganggu kehidupan, mengendalai, dan biasanya memurungkan jiwa, sebelum akhirnya lazim menjembatani kematian demi kematian. Orang selalu ingin agar dirinya sembuh dari sakit. Anaknya sembuh, ayah dan ibunya sembuh, nenek dan kakeknya sembuh, orang yang sangat dicintainya sembuh, bahkan musuhnya. Tetapi harapan untuk sembuh selalu berulang sia-sia di sembarang tempat yang luas dan di sembarang waktu tak terbatas, hanya karena tak memiliki uang untuk perobatan di tengah industri farmasi yang menjejaringkan keperkasaan kapitalisme internasional. Itu sangat dan terlalu perkasa dihadapkan kepada masyarakat lemah. Itulah sebabnya batu kecil milik Ponari menjadi perlindungan dari kesakitan, dan berharap terbebas dari ancaman kematian yang sangat akrab setiap saat dan memang sebetulnya tak peduli waktu. Ini menjadi penjelasan paling baik terhadap pertanyaan mengapa kemajuan medis tak bertautan dengan kemarakan berbagai jenis pengobatan alternatif, baik yang sifatnya malah lebih eksploitatif terhadap masyarakat maupun yang meneruskan dan menghidupkan kembali residu kehidupan lama dalam kawasan supranatural atau nativisme.

Tetapi, sebagaimana diketahui secara luas, keberuntungan Ponari ini, rupanya, dianggap sangat perlu dicemburui. Karenanya ada orang yang meniru kisah. Tetapi tak berhasil. Ponari unggul dan menang. Ada kepahlawanan dalam upaya mereplikasi Ponari. Mendapatkan uang dalam kondisi kemiskinan, sembari berniat menyembuhkan orang. Itu cukup mulia, tentu saja. Bukankah karena tiada uang orang-orang pergi dengan gelombang besar ke manca Negara dan bahkan bertarung nyawa seperti Siti Hajar dari Garut?

Banyak sekali orang yang datang entah dari mana kepada Ponari dan berharap pertolongannya. Dengan kekanakan Ponari, ia layani semua permintaan penyembuhan itu sambil seperti bermain digendong oleh anggota keluarga yang ditugasi.  Meski ada role penting yang sangat tak tergantikan, tetapi Ponari tetap anak biasa yang harus pergi ke sekolah dan dalam kesempatan yang semakin sempit, tetap juga bermain bersama kawan-kawannya sebaya. Banyak uang mereka karena jasa perobatan itu. Orang-orang di sekitar desanya juga ada yang beroleh rezeki.

Ponari itu orang miskin, anak yang lahir dalam sebuah keluarga miskin. Tetapi saya berharap ia kelak akan menjadi orang pintar, dan peduli kepada sesama. Dia amat saya harapkan mengasah kejujurannya dan kepekaan sosialnya untuk sesama, dibarengi sifat-sifat dan watak kenegarawanan yang begitu menonjol. Dengan kepedulian dan semangat pembelaan terhadap rakyat yang biasa-biasa saja, seseorang, sehebat apa pun dia menurutnya dan menurut teman-temannya, hanyalah sesosok yang akhirnya akan terbukti sebagai pahlawan bagi diri dan konco-konconya belaka. Figur yang begini sangat banyak bertebaran di simpang-simpang jalan, jangankan di kampus dan di partai politik. Ternyata bukan itu yang diubutuhkan Indonesia. Bukan orang yang menikmati kekuasaan seperti raja dan kemudian berusaha untuk mengabadikan kekuasaan di tangannya karena sudah lebih menikmati khilaf sekhilaf-khilafnya dalam memahamkan bahwa dirinya lebih besar dari Negara dan bangsa. Jadi Ponari itu berbeda,  cocok dan tepat sekali menjadi Presiden.

Bagi orang yang melihatnya dari kekuasaan normal dan yang sangat mahal itu, memberi harapan sebagai Presiden bagi Ponari adalah penghinaan besar. Tetapi saya tidak pernah bermaksud sedemikian itu. Jika kalian tak suka Ponari jadi Presiden, maka izinkanlah saya menginginkannya menjadi Presiden. Saya tak ingin mengajak Anda berkompromi.

Anda tahu masih akan terlalu lama menunggu anak kecil ini menjadi dewasa dan menjadi Presiden. Bukan dalam rangka berkompromi jika saya akhirnya berkata “Maka carikanlah saya seorang Presiden yang akan memandu Indonesia menjadi jaya”. Saya, dan kebanyakan orang di Indonesia sangat tak berdaya untuk itu.

  • Kata Pengantar
  • Mempertahankan Kelas
  • Sudah Tak Berani Pintar, Juga Tak Pintar Berani
  • Selembar Rekening
  • Teruslah Mencari
  • Apakah Kau Membayar untuk Jabatanmu?
  • Retorika Para “Toke”
  • Kisah Bangsa Budak (1)
  • Kisah Bangsa Budak (2)
  • Kisah Bangsa Budak (3)
  • Kisah Bangsa Budak (4)
  • Kisah Bangsa Budak (5)
  • Kisah Bangsa Budak (6)
  • Dengan Pancasila Memang Kau Tak Boleh Korupsi
  • Korupsi: Mengapa Tidak?
  • Korupsi dan Kemahatahuan Tuhan
  • Persepsi Kejurdilan Pemilu
  • Kudeta
  • Para Deviant
  • Siapa Untung dari Konsumsi Narkoba?
  • Pejuang ini Gadis Kecilmu
  • Merdeka
  • Harmoni dan Toleransi (1)
  • Harmoni dan Toleransi (2)
  • Harmoni dan Toleransi (3)
  • Mereduksi Tuhan
  • Korupsi
  • Akademisi Survei
  • Siti Hajar Indonesia
  • Dahlan Iskan
  • Aceh
  • Dari Tangerang Mencari Indonesia: Kisah Seorang Anak Miskin
  • Calon Presiden Ponari
  • BPK Periksa KPK: Kenapa Rupanya?
  • Agama” Baru
  • Gerakan Politik Korupsi
  • Konstruk Teroris
  • Pengawasan Hakim MK
  • Teringat Antasari Azhar
  • Jokowi-Ahok, Ha ha ha
  • Kuperkenalkan Kepadamu Ahmadinejad
  • Ko-insidensi
  • Warga Tionghoa Marah Kepada PLN
  • Raja Marsahala Hatoban (1)
  • Raja Marsahala Hatoban (2)
  • Raja Marsahala Hatoban (3)
  • Miss World
  • Revolusi
  • Memperbaiki Demokrasi
  • Konstruk Kekuasaan
  • Berdasi Tanpa Celana dan Baju
  • Caci-Maki Untuk DPR
  • Anas Urbaningrum: Mintalah Yusril Jadi Pengacaramu
  • Orang Paling Tegar pada Masa Sulit
  • Do’a Kaum Miskin dalam Berindonesia
  • Do’a Suksesi
  • Martinus pun ke Bali
  • Rakyat: Just Find me when you need me
  • Revitalisasi Gerakan Mahasiswa
  • Rakyat, Rakyat, Rakyat
  • Petani Miskin Mencari Pemerintah
  • Koruptor
  • Angkat dan Pilihlah Presidenmu: Konvensi
  • Angkat dan Pilihlah Presidenmu: Pengintai Terpenting
  • Angkat dan Pilihlah Presidenmu: I am not your President
  • Angkat dan Pilihlah Presidenmu: Urusan Ad Hock
  • Iedulqurban: Komunitas Persampahan
  • Iedulqurban: Kisah Orang Miskin Jakarta
  • Iedulqurban Agama Tradisi dan Politik
  • Kepemimpinan Profetik: Nasionalitas dan Lokalitas
  • Kepemimpinan Profetik: Imposibilitas

Medan, ‘Iedulqurban, 15 Oktober 2014

Shohibul Anshor Siregar


1 Comment

  1. […] Seorang tukang sapu di kampus bertutur tentang negara. Ia berharap negara mau berubah untuk kepemihakan yang cukup terhadap warga negara, terutama kaum miskin. Ungkapan-ungkapan yang mewakili kaum miskin Indonesia itu dikemukakannya saat didaulat memberi Kata Pengantar untuk sebuah buku kumpulan puisi berjudul Berharap Ponari Menjadi Presiden. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: