'nBASIS

Home » ARTIKEL » Demokrasi Danga-danga Indonesia

Demokrasi Danga-danga Indonesia

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


SEBUAH pertanyaan musykil tentang Indonesia telah cukup lama tak terjawab, yakni mengapa demokrasinya dapat disebut danga-danga (tidak demokratis dan menyalahi ruhnya sendiri)? Konsep danga-danga mengacu pada ketidak-becusan dan standar yang sangat rendah baik karena keusangan maupun karena destruksi dan ketidak-bermanfaatannya menjawab kebutuhan yang berkembang.

Kemaren sore seorang jurnalis lokal bertanya tentang sejumlah masalah yang ia temukan dalam proses rekrutmen anggota KPUD Kabupaten/Kota di Sumatera Utara yang sedang berlangsung. Saya pun tertawa begitu mendengar pertanyaannya. Itulah dasar dari tulisan ini yang saya buat tak hanya untuk memberi jawaban atas pertanyaan simple jurnalis dimaksud.

Kini wacana dan kontroversi pengembalian sistem pemilihan Kepala Daerah bersifat langsung oleh rakyat kepada kondisi semula, yakni dipilih oleh legislatif, sedang menguat dan semakin menguat. Bahkan dengan blow up tentang tuduhan dinasti Ratu Atut, tak kurang dari seorang Presiden SBY menyindir, padahal semua orang tahu apa yang dikritik pada Ratu Atut belum tentu lebih buruk ketimbang apa yang terjadi di tempat lain atau Indonesia secara keseluruhan. Ini pulalah keanehan khas Indonesia itu, seseorang yang sangat pro dan mempraktikkan dinasti dapat menuduh kedinastian orang lain, dan itu dilakukan tanpa beban. SBY misalnya, setelah berhasil mendepak Anas Urbaningrum dari partainya (Partai Demokrat), ia pun menukangi cara teraman untuk menerapkan dinasti. Bukan cuma puteranya yang menjadi Sekretaris Jenderal, semua jabatan terpenting yang dibuat dalam partai ini pun “dikantongi” sendiri oleh SBY. Dalam daftar caleg dari partai ini pun, sejumlah pihak dapat menunjukkan hasrat dinasti yang tak terbantahkan.

Bagi pihak yang mendukung sistem pemilihan langsung wacana ini dianggap setback dari capaian demokrasi. Juga dianggap tidak konsisten, karena dampak negatif dari pemilihan langsung tentu terdapat pada semua rezim pemilu Indonesia (legislatif, presiden dan Kepala Daerah).  Bahkan pemilihan langsung Kepala Desa yang sudah dikenal sejak dahulu, dan yang kini telah terkontaminasi pula seburuk pemilu itu sendiri. Mestinya harus sama-sama direvisi untuk memantangkan pemilihan langsung. Jika orang menyebut begitu besar dampak negatif pemilihan langsung kepala daerah, tentu ia harus lebih sadar bahwa keburukan itu terdapat pada semua rezim pemilu dan boleh jadi malah lebih buruk pada pileg dan pilpres.

Kalau begitu, Indonesia harus segera menemukan penyakit sesungguhnya, agar cerdas tidak seperti dukun memberi terapi tanpa dasar diagnosis yang benar atas penyakit yang ingin disembuhkannya. Salah satu di antara masalah serius dalam hal ini ialah tiadanya kemauan elit untuk membuat pemilu menjadi jujur sejujur-jujurnya dan adil seadil-adilnya. Sebutlah satu contoh, Indonesia tidak mau membuat Daftar Pemilih Tetap yang benar, dari dulu hingga kini. Juga tidak mau menghitung suara pemilih dengan jujur. Tak hanya intimidasi yang berlangsung, money politic pun dipantangkan tapi sekaligus dianggap mainstream. Hukum tak perlu hadir dalam pemilu, karena penguasa adalah hukum itu sendiri itu, seburuk apa pun ia. Lagi pula, bukankah sistem rekrutmen penyelenggara pemilu di Indonesia berlangsung demikian buruk?

Memang, sebuah negara tidak boleh dipimpin oleh orang yang bukan negarawan karena jika bukan negarawan, negara akan dia anggap sebagai mata pencaharian buat dia, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya dan konco-konconya.

Shohibul Anshor Siregar


2 Comments

  1. […] Demokrasi Danga-danga Indonesia […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: