'nBASIS

Home » ARTIKEL » IDULQURBAN

IDULQURBAN

AKSES

  • 568,912 KALI

ARSIP


karikatur

Warga Kampung Kajang, Makassar, Sulawesi Selatan. Mayoritasnya bekerja terkait dengan sampah. Nurlia Nipsa, salah seorang di antaranya. Ia hanya seorang penyapu jalan, sambil menjadi pemulung di area kerjanya. Pada malam hari ia masih menyempatkan diri menjadi guru mengaji untuk anak-anak. Mengikuti program investigative report berbau penonjolan aspek humanistik sebuah tv swasta nasional, ia menuturkan segalanya untuk publik. Sesuatu yang begitu penting sebagai fakta keindonesiaan dengan segenap diversitas keberagamaannya (Islam) saat ini.

Sambil menangis tersedu dan berurai air mata ia menuturkan, bahwa setiap kali melihat kalimat spanduk yang kerap terbacanya di jalanan, hatinya selalu tergugah. Spanduk itu berkata “setiap bulu hewan qurban diganjar pahala”. Mengapa orang miskin tidak boleh merebut pahala itu? Ia tak dapat berkompromi dengan itu. Ia yakin bahwa berbagi pada sembarang waktu, tidak untuk ditunda. Lakukan itu saat susah maupun senang. Maka dengan gaji pokok yang hanya Rp 550.000 (bukan Rp 5.500.000), setiap awal bulan Nulisa Nipsa tidak akan berbelanja kebutuhan keluarga sebelum menyisihkan sebagian tertentu untuk tabungan qurban.

Meski tidak dijelaskan, namun yakinlah bahwa di sini ada sebuah gerakan kesadaran kaum miskin yang secara rinci mampu menjelaskan arti miskin dan kemiskinan pada satu pihak; dan kewajiban dan idea-idea imperative agama pada pihak lain. Jika James Scott kerap dikutip untuk perlawanan orang miskin (Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance, 2008), maka di sini teori itu tidak begitu relevan. Mereka justru melawan diri sendiri dan komunitasnya dengan segenap konstruk atas fakta-fakta dan kenyataan sosial di sekitarnya berikut kesejarahannya. Bukan para koruptor yang membuat kacau negeri ini yang menjadi sasaran perlawanan buat mereka. Juga bukan orang kaya yang harus dipaksa mengeluarkan dana CSR (corporate social responsibility) dari perusahaannya. Juga bukan tuan-tuan tanah yang mengukuhkan kerajaan atas kaum miskin.

Mereka juga tidak hendak berfikir membentuk panitia qurban untuk menampung dana-dana yang kerap tak jelas entah dari mana asal-usulnya untuk dikonversi sebagai biaya qurban. Barangkali, dalam bahasa yang dapat difahami oleh semua warga, lead itu meniscayakan tindakan kolektif  yang diikat oleh sebuah cita-cita keagamaan yang kuat, menerjemahkannya begitu kontekstual dan tak membiarkan agama buyar sebagai sejarah belaka. Jumakking, warga Kampung Kajang yang lain, semakin menjelaskan semua itu. Ia hanya seorang supir truk angkutan sampah. Tahun ini warga kami mampu berqurban 3 (tiga) ekor sapi. Tahun lalu hanya 2 (dua) ekor.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Tamanggapa, Makassar, Sulsel juga memiliki nama-nama lain seperti Darliah,  seorang janda yang pekerjaannya hanya mengupas atribut botol bekas yang upahnya hanya Rp 400/kg (bukan Rp 4000/kg). Tahun ini ia dapat berkata puas “akhirnya saya gembira ikut juga mebeli sapi untuk qurban pada tahun ini”. Itu setelah ia dan warga yang lainnya mampu menyerahkan Rp 1.150.000 untuk membeli sapi seharga Rp 8 jutaan.

Di tempat lain orang miskin bernama Sapto, yang tinggal di Sanggrahan, Sukohardjo, juga diberitakan berqurban tahun ini. Ia tak mungkin dikategorikan sebagai orang kaya atau berkecukupan. Memang, hingga saat ini kita tidak memperoleh data sebanyak yang kita perlukan untuk mendeskripsikan keberagamaan kaum miskin (kuantitatif dan kualitatif) yang mengampanyekan perlawanan jihad untuk jalan Allah. Tidak cengeng dan sembari bersikap altruistik (peduli orang lain), mereka tak mengeroyok pemerintah atas dosa-dosa pembiaran kemiskinan yang tak pernah tereduksi secara substantif.

Kisah orang Miskin Jakarta. Beberapa media yang berpangkalan di Jakarta secara rinci menuturkan laporan seputar pembagian daging qurban di Mesjid Istiqlal kebanggaan ibukota sekaligus Negara itu. Tahun ini 6.000 kupon daging dibagikan, 4.000 dikirim ke luar Jakarta. Salah satu dari media itu memulai laporannya dengan lead yang pedas: “Derita kemiskinan yang menghimpit puluhan juta rakyat Indonesia telah mengubah cara berpikir dan pola hidup mereka. Misalnya, setelah semalam suntuk ribuan orang memadati Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Rabu (16/10/2013) dan rela berdesak-desakan untuk mendapat daging hewan qurban, namun setelah mendapatkannya banyak dari mereka lebih memilih untuk menjual ketimbang memakannya”.

Perhatikan kaum miskin Jakarta melakukan perlawanan. Mereka pandai berhitung. Mereka memiliki kiat dalam kemiskinan. Salah satu bentuk perlawanan kaum miskin itu bisa digambarkan dari penuturan Muis (36 tahun), Warga Sawah Besar. Ia berkata: “kalau sudah terbiasa tidak masak daging, kita lebih suka menjual untuk kebutuhan keluarga. Makan cukup dengan tahu tempe saja”.  Datang ke mesjid Istiqlal bersama puteranya yang juga mendapatkan sekantongan daging qurban (1 kg), Muis beroleh Rp 70.000 sebagai hasil penjualan dua kantong daging. Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Ya’qub, membenarkan kisah yang sudah berulang itu sambil “berfatwa” bahwa itu tidak tindakan salah.

Mesjid Istiqlal dipastikan tak mampu menghitung untuk cara terbaik mendistribusi daging qurban, termasuk daging qurban yang diantarkan oleh orang-orang penting seperti Presiden SBY yang tahun ini diberitakan menyerahkan sapi terbaik dan terbesar.  Itu menyebabkan sebagaian warga yang enggan berdesakan memilih membeli di luar kerumunan (sekitar mesjid) daging qurban di bawah harga pasar.  Mesjid Istiqlal dan mesjid-mesjid lain, termasuk panitia-panitia di luar mesjid, diyakini akan merasa kesulitan untuk hal ini. Kesulitannya banyak, termasuk soal pendefinisian kemiskinan. Jika berdasarkan data BPS (Maret 2013), jumlah penduduk miskin di Indonesia dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Standar Garis Kemiskinan mencapai 28,07 juta orang (11,37 %), saya kira tak banyak orang yang sepakat dengan data itu.

Penutup. Kita sudah mendengar unjuk rasa warga sebuah kelurahan di Jakarta yang menolak hasil lelang jabatan yang memberi mereka seorang lurah perempuan yang tak mereka kehendaki karena agama yang berbeda. Tapi itu tak menghalangi Ahok, Wagub DKI, menyumbang untuk qurban. Hal yang lucu sekali adalah sikap lembaga penerimanya. Media menyebut, bahwa Jakarta Islamic Center (JIC) menyatakan penghargaan kepada Ahok yang telah ikut menyumbang hewan kurban walaupun ia berbeda agama dan tidak berkewajiban.  JIC malah menyebutnya sebagai  zakat, sembari memuji kadar kebhinneka Tunggal Ikaan Ahok. Lembaga ini juga menerima sapi yang cukup besar dari Gubernur DKI Jokowi, yaitu senilai Rp 20 juta, di samping pemberian perorangan, perusahaan-perusahaan swasta, dan instansi pemerintah.

‘Iedulqurban tahun ini dengan jujur telah mempertontonkan pola dan aroma keberagamaan kita. Bagi sebagian orang ini sebuah cita-cita keberagamaan yang aktif. Ada bukti bahwa kadar kemiskinan tak selalu memperlihatkan kadar keberagamaan yang identik. Hal yang paling membuat pusing ialah ketika ‘iedulqurban diagendakan lain di luar ketentuan pokok syari’ah yang mewajibkannya, katakanlah tak ubahnya ritus tahunan setara MTQ atau perhelatan lain, termasuk kesyahwatan politik yang menyesatkan. Apalah makna di balik ‘iedulqurban jika tak mengasah tawhid, solidaritas dan keinginan bangkit dari keterpurukan (mereduksi jumlah kaum miskin dan memenjarakan koruptor, misalnya)?

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, 21 Oktober 2013, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: