'nBASIS

Home » ARTIKEL » PARTISIPASI POLITIK DI DELISERDANG

PARTISIPASI POLITIK DI DELISERDANG

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


PEMILUKADA Deliserdang diselenggarakan hari ini, 23 Oktober 2013. Ini merupakan salah satu kesempatan terakhir sebelum pemilu 2014. Bersamaan dengan Deliserdang diselenggarakan juga pada hari yang sama pemilukada di Langkat. Sebelumnya telah berlangsung di Paluta, Palas, Taput dan Dairi.

Seorang jurnalis lokal bertanya malam ini. “Asslm bang minta komentar tentang minimnya pemilih di pilkada DS, kenapa bisa terjadi…?”

Saya sendiri belum mengetahui data tentang itu. Pada sebuah akun fb seseorang membuat status bahwa peluang pemilukada Deliserdang untuk maju ke tahapan kedua karena tiadanya pasangan yang mampu memperoleh raihan suara melewati batas minimum yang ditentukan. Jadi, untuk sementara saya percaya apa yang dikatakan oleh jurnalis itu (partisipasi politik yang rendah). Sebelum ini beberapa kali saya secara pribadi dan dengan menumpang kepada organisasi sosial kemasyarakatan tertentu berbicara langsung kepada publik untuk tak apatis. Pilih yang terbaik. Yang terbaik itu yang memiliki komitmen pembelaan kepada rakyat. Siapa dia, ya silakan telaah secara cermat.

Apatis. Kejadian ini dapat dijelaskan dengan sederhana. Coba kita berusaha menempatkan diri kita dalam posisi sebagai rakyat Deliserdang. Rakyat apatis (1) emang kalau si anu menjadi bupati, apa kita akan lebih baik? (2) emang kalau si anu itu jadi bupati emang dia tidak akan korupsi? (3) emang kalu kita ikut memilih akan ada pahala?

Jadi, ada dua ufuk yang dihubungkan oleh masyarakat sehingga hasilnya negatif dan tak menggerakkan partisipasi. Ufuk pertama ialah sejarah pengelaman berpolitik, pemilukada dan berpemerintahan. Pertama, pemilukada: Tidak ada pemilu yang jujur dan adil, org merasa yg terpilih hanyalah orang yang mampu menukangi hasil dengan mensubordinasikan penyelenggara dan memerintahkannya berbuat sesuai kemauan dia. Hanya saja rakyat tak memiliki kemampuan untuk mendobrak. Pada semua konflik pemilu (kada) awalnya adalah kebobrokan penyelenggara.

Kedua: pemerintah kita tak ada yang becus, bukan cuma di deliserdang. negara kita memang negara bobrok dengan kadar pemihakan ala kadarnya kepada masyarakat. sudah begitu pun masih ingin dianggap berhasil. mereka narsistik atas diri dan keberadaan mereka sbg pemerintah.

Sebetulnya jika ada figur yang benar-benar mengena di hati rakyat, partisipasi politik bisa meningkat tajam. Jadi di antara 11 (sebelas) pasangan calon itu tak satu pun yang berkelas. Itu bukan saya yang bilang, tetapi cukup dijelaskan oleh partisipasi yang rendah dari rakyat. Harap dicatat, kesebelas pasangan ini sudah mewakili dua jalur (partai dan perseorangan) yang dapat berarti bahwa secara teoritis sangat mengakomodasi aspirasi sosial masyarakat dengan tak menonjolnya faktor dominasi parpol dalam pengajuan calon.

1. Azhari Tambunan dan Zainuddin Mars
2. Harun Nuh dan Bambang Hermanto
3. Rabu Alam dan Purnama Ginting
4. Eddy Azwar dan Selamat
5. Musdalifah dan Syaiful Syafri
6. T.Ahmad Thala’a dan Hardi Mulyono
7. Fatmawati dan HM Subandi
8. Timbangen Ginting dan Parningotan Simbolon
9. Sudiono (Praka) dan Haris Binar Ginting
10. Muhammad Idris dan Satrya Yudha
11. Sihabuddin dan Nemaken Tarigan

Penataan Wilayah. Wilayah Deliserdang mengelilingi kota Medan. Wilayahnya tak cuma berbatasan dengan Serdangbedagai yang merupakan pemekarannya sendiri. Juga ada yang berbatasan dengan Kota Binjai, Langkat dan juga Karo. Dilihat dari kepentingan rakyat dalam soal akses atas pelayanan pemerintah, wilayah-wilayah tertentu sangat perlu dilepas oleh Deliserdang. Saya rasa ini adalah agenda tercecer dalam proses pemekaran Kabupaten Deliserdang tempohari. Kita pun tahu geliat tuntutan pemekaran wilayah di Deliserdang begitu kuat, bahkan sudah berusia belasan tahun. Deliserdang dengan rakyat yang merasa diri warga Kota Medan. Rakyat Deliserdang yang merasa dirinya 100 % sebagai warga Karo, Warga Binjai dan Warga Langkat. Wilayah-wilayah itu mestinya segera ditata untuk digabungkan saja ke daerah terdekat.

Selain itu Deliserdang sarat masalah-masalah lain, sebutlah salah satunya terkait konflik pertanahan. Jika rakyat tak pernah merasa diperlukan atau dianggap perlu oleh pemerintahnya, dan jika tak satu pun di antara 11 pasangan calon Bupati/wakilnya itu yang dapat dia percaya, maka ikatan apa yang membuat dia mau meninggalkan pekerjaan untuk memberi suara di TPS?

 

 

Shohibul Anshor Siregar

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: