'nBASIS

Home » ARTIKEL » AMIRUDDIN BPM

AMIRUDDIN BPM

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


amiruddin bpm
Menggapai sesuatu yang tak mesti selalu tercapai. Itu yang pertamakali harus kusebutkan ketika akan menuliskan sesuatu tentang almarhum Amiruddin BPM yang meninggal dunia hari ini, Selasa tanggal 29 Oktober 2013 dalam usia 68 tahun lebih.

Sebagai demonstran  66 dan sebagaimana lazimnya orang-orang dari generasinya, Amiruddin BPM adalah orang idealis. Sangat idealis. Makin lama mereka hidup pasca Tritura (Tuntutan Hati Nurani Rakyat) setiap hari di bawah kepemimpjnan yang silih berganti mereka makin merasakan betapa jauhnya perjalanan Negara-bangsa dari koridor yang dikehendaki: mengamalkan Pancasila dan UUD Negara 1945 secara murni dan kosekuen dan mewujudkan keadilan dan kemakmuran. Meskipun mereka tak pernah surut,   di tengah semakin tak berdayanya mereka,  bersamaan dengan itu semakin menguat pula kecenderungan negara menjauh dari cita-cita. Sebagian, dan kita bisa menunjuk mereka saat ini, di antara generasi itu, memang menjadi anak buah dan teman Soeharto. Tetapi, sekali lagi, itu tidak semua. Amiruddin BPM bukannya menjadi lembek atau mengatur kolaborasi dengan kekuasaan, untuk mendapatkan serpihan dari sisik kekuasaan, misalnya. Justru apa yang mereka saksikan menjadi semacam bahan bakar yang membuat idealisme semakin tajam. Ia dan kawan-kawan segenerasinya pastilah menyadari bahwa cek kosong yang diberikan kepada Soeharto telah mengundang bahaya besar dan terpaksa berakhir dengan tragis.

Musim berganti, rezim pun demikian. Apa yang disaksikan Amiruddin BPM tidak juga membuat perubahan sesuai janji-janji. Idealismenya terus membara.  Semakin menjaga jarak dengan kekuasaan.

Sisa mereka saat ini semakin sedikit. MY Effendi Nasution, Zakaria Siregar dan geransi lebih tua sudah pergi. Selang beberapa pekan lalu, Faskinar Rahman juga sudah pergi. Bahkan generasi yang lebih muda pun sudah. Nama-nama besar dalam sejarah tak akan henti tumbuh untuk mengisi lembaran sejarah masa depan. Semua itu berlangsung dalam pengharapan Indonesia makin baik ke depan.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Amiruddin BPM adalah seorang aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Binjai. Itu awal sejarahnya menjadi aktivis. Ia kemudian tergabung dalam KAPPI di Sumatera Utara dan kemudian dengan organisasi itu terus menerus berjuang tanpa henti memusuhi musuh-musuh Negara yang selalu bermaksud jahat kepada Indonesia. Sebagai aktivis ortom, ia kemudian menjadi semacam salah satu ujung tombak Muhammadiyah dalam aktivitas-aktivitas protes serius kepada sistem yang bobrok. Selalu egaliter membuatnya seolah tak memiliki tempat dimana-mana, karena feodalisme akan selalu menolak.

Saat awal perkembangan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Amiruddin BPM persis seperti pengawas yang mengatur jadwalnya berkunjung ke kampus untuk melihat hal yang dianggap perlu diamankan. Ia selalu rewel terhadap siapa saja yang masuk ke kampus dengan tanpa kejelasan aktivitas. “Jangan-jangan kau hendak mencuri kreta di sini. Lebih baik pergi sekarang”, tegasnya kepada anak-anak muda bertampang preman yang masuk kampus tanpa kejelasan maksud dan tujuan.

Ia pernah terdaftar sebagai mahasiswa FISIP UMSU, tetapi tak berkesempatan menamatkannya. Ia sangat banyak tahu tentang kehartabendaan Muhammadiyah, juga tentang media pemberitaan Muhammadiyah (Mercu Suar), serta kapal tongkang Muhammadyah yang diparkir di perairan Sibolga yang dimaksudkan untuk angkutan haji, dan juga kapling-kapling tanah yang luas di Percut dan Saentis di bawah penguasaan Majlis Tani dan Nelayan (sekitar tahun 70-an).

Dalam bidang politik Amiruddin BPM juga pernah berkiprah. Tetapi pada masanya keterpilihan seseorang hanyalah karena screening pemerintahan bergaya militer yang berkuasa. Seseorang seperti Amiruddin BPM bukanlah teman baik bagi pemerintah yang korup. Itulah sebabnya ia tak pernah terorbit, kecuali sekadar pengurus inti dalam tingkat wilayah (Sumut).

Penyadaran. “Kalau kau teguh tak berkompromi dengan kebatilan, maka itulah lapangan hidupmu yang sesungguhnya   untuk menuju ridho Ilahi”. Itu yang dikemukakannya kepada saya satu ketika, saat baru mengenal. Ia bukan tak dekat dengan penguasa. Dengan Rizal Nurdin misalnya, ia sangat teratur dalam berkunjung dan berdiskusi. Ia juga dekat dengan Syamsul Arifin. Kedua mantan Gubsu ini tak juga membuatnya memiliki rumah sendiri dan pekerjaan yang jelas.

Saya kira ia mencontohkan itu kepada saya. Jangan larut meski sebesar apa godaan di sekeliling. Hampir 10 tahun lalu, kami mengadvokasi nelayan. Ia berhasil meyakinkan seseorang untuk membeli kapal boat untuk menangkap ikan. Kemudian ia jalankan usaha itu dengan modal keawamannya. Pak Tagor Lubis, ipar mantan Panglima ABRI Jenderal Feisal Tandjung pernah ikut bersama saya untuk melihgat usaha Amiruddion BPM. Kesimpulan kami waktu itu, sindrom pejuang membuat Amiruddin BPM tidak akan berhasil menggandakan modal seperti biasa dalam bisnis. Ternyata benar. Ia terlalu humanistik berhadapan dengan siapa saja terkait dengan modal kerjanya yang akhirnya kandas tak ada juntrungan. Menyesalkah dia? Tidak sama sekali.

Orang Miskin yang kaya. Setelah saya kembali dari perantauan di Yogya selama 3,5 tahun, secara kebetulan saya bertemu di sekitar lapangan merdeka. Anak saya yang tertua ikut bersama saya. Lalu dengan gembiranya ia menggendong dan merogoh kantongnya untuk menandai pertemuannya untuk pertamakali dengan anak sulung saya. Padahal saya tahu ia orang yang kemana-mana berjalan kaki waktu itu, dan jelas tidak memiliki uang. Dengan kejelasan tak ada pekerjaan, ia mendorong terus semua anak-anaknya bersekolah. Di antaranya dua orang berhasil menamatkan S-2.  Sungguh prestasi luar biasa bagi seorang Amiruddin BPM. Itu sebabnya saya katakan bahwa ia orang miskin yang kaya.

Menduda saat anak-anaknya masih kecil, hingga akhir hayatnya ia mempunyai beberapa cucu, tetap memilih hidup sendiri. Pernah juga ada rencana untuk menikah kembali. Tetapi karena anak-anaknyalah yang menjadi ukuran setuju atau tidaknya, ia pun akhirnya mengurungkan niat itu. Ia seorang yang amat tabah, tentu saja.

Sakit. Anwar Bakti memboyongnya ke rumah Sakit Muhammadiyah di Mandala belum lama ini. Itu secara jarak sangat dekat dengan rumah saya. Tetapi saya tak merasa ia akan pergi. Saya tidak ingin berjumpa dengan dia di rumah sakit. Karena seiring doa, ia saya harap sembuh dan bertemu secepatnya dalam berbagai kegiatan. Tetapi ajal menjemputnya. Saya dengar dari seseorang ia pernah berucap saat dirawat (kepada Taufiksyah Ismail): “Shohibul Anshor Siregar yang belum datang menjenguk ke rumah sakit”.

Saya dan Anwar Bakti sepakat untuk mengusulkannya menjadi pegawai rumah sakit. Ia kami posisikan dalam rencana itu sebagai personal yang membawahkan bagian peneguhan nilai-nilai pengelolaan amal usaha, dan pemberi motivasi kepada setiap orang sakit. Berarti nanti ia akan bekerja di bawah kewenangan Mario Kasduri. Tetapi itu belum kesampaian.

Pagi ini saya membaca sms dari banyak orang. Ia sudah meninggal. Aktivis yang teguh pendirian dan tak pernah lelah. Ia adalah orang yang tak berusaha mencapai cita-cita Indonesia sendirian. Ia ingin berbagi dan selalu berbagi. Ia mencita-citakan sesuatu yang sesungguhnya tak akan mudah tercapai. Itu pahala besar. Besar sekali.

Allahummaghfirlah. Warhamh. A’afih. Wa’fuanh.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: