'nBASIS

Home » ARTIKEL » AKADEMISI BIDANG SOCIOLEGAL

AKADEMISI BIDANG SOCIOLEGAL

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


lawandsociety.org

lawandsociety.org

Sepi sekalilah KPK itu kalau tidak mengagendakan penyadapan dan penangkapan atas kurcaci-kurcaci sambil berbicara kepada media yang mengamini kealpaan lembaga ini untuk penamaan prestasi dengan ukurannya sendiri. Mereka harus memeriksa beberapa kepala daerah, dan sensasinya pasti menimbulkan bangunan pengakuan bagi kalangan awam.

Law and Society Association adalah sebuah organisasi ilmiah interdisipliner yang berkomitmen dalam ilmiah sosial, interpretasi, dan analisis sejarah hukum dalam berbagai konteks sosial. Hukum bukan hanya kata-kata dalam dokumen resmi. Masih ada sisi dan urgensi lain yang malah paling substantif. Tetapi fakta telah membuktikan justru hal terpenting itu yang mustahil dicapai.

Selain itu ketika menyadari hukum juga kerap harus ditemukan dalam pemahaman yang sangat beragam, masalah menjadi semakin rumit. Ini tidak hanya disebabkan sifat khas ilmu sosial, termasuk hukum itu sendiri, yang berfenomena amat plastis, melainkan karena lebih disebabkan disain ketidak-tegakan hukum untuk memroteksi penguasa dan pemilik pundi terbesar. Juga tak diragukan sama sekali, bahwa fenomena ini tidaklah sekadar karena kealpaan belaka hingga hukum itu menjadi sesuatu yang berjalan dengan penekanan berlebih pada aspek positivistik belaka sembari menelantarkan dimensi lain (keadilan sosiologis dan filosofis).

Menampung Air di Keranjang. Begitulah telah berulangkali dipertontonkan, karena mencuri sandal jepit seseorang mungkin telah dihukum begitu serius, untuk membuktikan Negara memang masih bersandar pada hukum. Padahal saat yang sama, dan untuk perulangan yang amat kerap, penerabas hukum sangat dihargai sebagai raja yang wajib diistimewakan. Pertanyaan serius dalam konteks ini ialah, bahwa jika hukum adalah pasal-pasal mati, berhubung ia pernah disahkan untuk mengikat, dan jangan-jangan yang membuatnya mengikat hanyalah orang yang setiap mendegradasi nurani keadilannya sendiri, maka makanan empuknya pastilah orang-orang lemah yang menjadi mangsa untuk sebuah kepura-puraan keadilan.

Sepi sekalilah KPK itu kalau tidak mengagendakan penyadapan dan penangkapan atas kurcaci-kurcaci sambil berbicara kepada media yang mengamini kealpaan lembaga ini untuk penamaan prestasi dengan ukurannya sendiri. Mereka harus memeriksa beberapa kepala daerah, dan sensasinya pasti menimbulkan bangunan pengakuan bagi kalangan awam. Dengan caranya sendiri tampaknya KPK itu tidak merasa perlu heran jika semakin hari berkedudukan seolah-olah menjadi penjamin penghukuman atas semua koruptor di semua lini dan sektor. Kekhilafan ini seperti sesuatu yang diprogramkan, membuat masyarakat tetap merasa perlu berharap meski tak menjanjikan apa-apa.

Ketika sejumlah orang memberi usul membentuk detasemen khusus anti korupsi di lingkungan kepolisian, karena usulnya muncul dari institusi penting, tentulah sesuatu telah dihitung sebagai kegagalan yang tak termaafkan di kantor KPK yang pernah meneriakkan pembangunan kantor baru dan penambahan kantor pembantu di berbagai wilayah itu. Jika masih ada sesuatu yang perlu ditunggu dari KPK, maka mestinyalah itu bukan sekadar riak berkekuatan pokok wacana belaka. Sekiranya dapat dipastikan, bahwa orang tak boleh menunggu untuk limit waktu yang tak terbatas, seperti menampung air yang tak akan pernah penuh di dalam sebuah keranjang, sebesar apa pun ukurannya.

Share of Justice Value. Lapangan permainan yang menjadi lahan perbaikan penegakan hukum begitu luas. Karena itu semestinya pikiran-pikiran sempit tidak boleh menonjol. Sebutlah ketika dalam praktik orang yang berinteraksi dalam domain yang mengatur perilaku, termasuk dalam klaim yang dilakukan orang untuk hal ihwal keperdataan seperti  ketidak-adilan ganti rugi. Ancaman-ancaman yang tak terperikan telah menandai  hukum.

Dalam kekuasaan coersif yang dilakukan untuk menegakkan perintah yang sah, sejumlah pertanda buruk tidak terbantahkan. Mentalitas esprit de corps telah terbukti selalu menjadi bencana, dan seolah tak ada hak siapa pun untuk mengoreksi demi keadilan. Tampaknya para pakar  dari berbagai bidang telah menjadi alamat bagi aktivitas kajian hukum. Juga  perlawanan dan pembangkangan terhadap hukum, oleh rakyat jelata yang terjuruskan oleh rentetan keterpaksaan dan peluang-peluang yang dibukakan khususnya bagi orang-orang istimewa. Juga oleh kuasa coersif yang kebal atas mekanisme audit transparansi dan akuntabilitas.

Sama pentingnya sorot kajian alternatif hukum dalam penataan hubungan sosial. Kalau begitu, share of justice value menjadi sedemikian mendesak. Tak ubahnya saat membayangkan teritorial Negara yang semakin tak berperan oleh globalisasi yang meniscayakan pola dan kegiatan hidup berorientasi borderless dengan arus barang dan jasa serta manusia yang memang tak saatnya lagi dikontrol untuk maksud apa pun.

Tak ada pilihan kecuali bersedia mengakui bahwa Negara tergantung warga, karena kecerdasan dan kekuasaan coersif Negara tak akan menghasilkan apa-apa untuk pembelaan Negara dalam pergaulan para pemain yang mengatasnamakan dirinya sendiri untuk kepentingan yang dikalkulasikan sendiri secara otonom. Limpahan keberkahan pasti diterima oleh Negara pada etape berikutnya. Karena itu, adil harus menjadi milik bersama, dan begitu juga hukum.

Law and Society Association yang disupport oleh University of Utah S.J. Quinney College of Law and College of Social and Behavioral Science ini memiliki komitmen mendukung penelitian ilmiah dan penerbitan dalam berbagai bidang yang luas.    Di universitas-universitas lain juga ada kegairahan menjalankan program yang sama. Membawa bersama-sama, dalam sebuah sinergi yang kuat, para pakar sekarang dan masa depan dari seluruh disiplin ilmu, di seluruh negara dan wilayah, dan seluruh tradisi teoritis dan metodologis, juga menjadi angan-angannya.  Memberi perhatian dan penghargaan terhadap contoh penelitian sociolegal yang luar biasa. Membantu anggota dalam mengembangkan karir akademik mereka. Mempromosikan penelitian hukum sebagai bagian dari pendidikan liberal. Menyebarluaskan penelitian sociolegal tentang isu-isu publik yang pasti sangat penting untuk penyaluran rasa tanggap dan pemberian solusi atas masalah luas yang dihadapi halayak. Begitu juga advokasi penyebab keragaman dan inklusi dalam kehidupan akademik dan sosial.

Kampus dengan sendirinya menjadi titik penting untuk maksud itu. Tetapi Negara telah mengarahkan pendidikan (termasuk kampus) menjadi industri formalitas. Setidaknya bukti terkuat untuk itu ialah UN, sertifikasi guru dan dosen yang sangat tak masuk akal, dan lain-lain yang lucu-lucu.

Saya tidak hendak meragukan visi yang baik yang pernah dibuat untuk bermacam lembaga penegak hukum di negeri ini. Tetapi jika hukum yang akan dibangun dan ditegakkan itu adalah sesuatu yang secara sepihak tetap menjadi milik penguasa dan para pengendali dan pemegang pundi terbesar, sebetulnya hal yang mungkin dilakukan hanyalah berteriak sekaligus mencaci-maki dari luaran (proses radikalisasi). Tetapi ini bisa menjadi dasar yang kuat untuk diajukannya benteng pertahanan klasik dengan menggunakan pepatah lama “anjing menggonggong kafilah berlalu”.


Shohibul Anshor Siregar. Tulisan ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, Senin 4 Nopember 2013, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: