'nBASIS

Home » ARTIKEL » PLN

PLN

AKSES

  • 545,402 KALI

ARSIP


Pagi ini akun Sumut Pos menurunkan status demikian: “Pemadaman listrik yang masih berlangsung di Sumatera Utara disebabkan kurangnya sumber energi. Padahal, ada sejumlah pembangkit listrik berdaya besar di Sumut, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan. Tapi sejauh ini, hal tersebut belum maksimal dilakukan sehingga Sumut masih terus dihantui pemadaman listrik. Kirim komentar Anda dan akan dimuat di halaman Blak-blakan Sumut Pos, edisi Senin (4/11)”.

Banyak yang memberi komentar. Sebagian besar memang bernada caci-maki. Saya kira itu yang membuat seseorang merasa gerah, dan menuliskan kemarahannya “Tau apa kalian dengan PLTA Asahan dan pembangkit listrik lainnya yg ada di SUMUT…??” Lalu saya dengan santun menulis “Kalau begitu mohon dijelaskan senior tentang PLTA Asahan itu”.

Sahat S. Gurning, orang yang marah itu,  lalu memberi uraiannya yang cukup panjang dan jelas:

  1. PLTA ASAHAN 1 belum beroperasi, kendala pemasangan transmisi karena kontraktor lama (masalah) menyelesaikannya. (Kapasita daya 180 MW).
  2. PLTU pangkalang susu, masih tahap commisioning, kendala utama pemasangan jalur transmisi karena masyarakat menginginkan patokan harga pembebasan lahan dinaikkan. Kapasitas (400 MW).
  3. PLTGU Belawan : 3 turbing pemangkit dalam masa perbaikan (overhoule), 1 turbing disita KEJAGUNG (GT-122) kasus : korupsi dana penggantian suku cadang turbin (4 orang pimpinan dijadikan tersangka). Kapasitas Total Pembangkit (1080 MW).
  4. PLTU Labuhan Angin SIBOLGA, Kendala : Transmisi belum rampung. (300 MW).
  5. Total kekurangan daya listrik Sumut per bulan (8-11 )(keterangan Asmen PLTGU Belawan + Humas PLN Wil.Sumut : 400 MW)Sistem Transmisi Listrik Sumut : Interkoneksi Pembangkit. (Bayangkan jika semua pembangkit sudah aktif beroperasi..! ). NB : Kasihan para pekerja di Pembangkit Listrik kena maki terus sama masyarakat yg penggosip dgn informasi kosong mengada-ada. Tinjau langsung ke pembangkitnya baru cakap klen.

Saya setuju dengan pendapatnya. Maka, sebelum ia berkomentar saya sudah terlebih dahulu menuliskan pendapat saya demikian:

Sebetulnya ini bukan lagi urusan orang pintar. Karena orang bodoh dan anak-anak sekalipun tahu bahwa kita tak pantas mengalami krisis seperti ini. Ini urusan penguasa yang tak memiliki integritas yang dalam bahasa di Tapanuli, disebut sebagaimana yang akan saya kemukakan di bawah.
Mengingat krisis energi ini terjadi secara nasional dan sudah lama, berarti ada hal mendasar dalam paradigma pembangunan kita:

  • para pemimpin berela ria menjadi komprador bagi kapitalis asing. Tentu mereka kaya raya. Saya sudah periksa data harta kekayaan para capres 1999, 2004 dan 2009. Kebanyakan mereka sangat tak pantas memiliki kekayaan sebesar itu, kecuali yang pengusaha seperti JK.
  • para pemimpin tidak pernah merasakan tanggungjawab terbesar ada di pundaknya ketika rakyat tetap terbelakang.
  • Sudah tahu ada yang tak beres bahkan dugaan kuat korupsi, malah penegak hukum berdiam diri dengan penuh kecurigaan disumbat. Jadi tak beranjak ke perbaikan.

Khusus untuk level Sumut:

  • Memang sudah terlalu lama daerah ini capek mengurus konflik kepentingan. Rizal meninggal DPRDSU menjadi simpul utama untuk mobilisasi konflik besar yang membagi dua (pro dan kontra) masyarakat Sumut. PKS dan yang lain memimpinkan penggalangan menista Rodolf dengan dalih ijazah dan diam saja setelah itu meski Rudolf juga tetap Rudolf yang tak berijazah. Hanya KPUD Medan yang pernah berkata benar. KPU Sumut “berdamai” dengan Rudolf. PDIP dan yang lain force beri dukungan. Jadi energi habis di situ saja.
  • Syamsul Arifin berjanji dalam Sidang Paripurna pemaparan Visi dan Misi bhw masalah listrik kelar setahun kepemimpinannya. Bukan cuma karena ia terseret kelakuan buruk selama Bupati hingga ke LP, tetapi semasa kepemimpinannya juga tak ada perhatian.
  • Gatot lebih mau menjadi Gubernur ketimbang pemimpin rakyat. Baginya politik itu hanya berdimensi tunggal: kekuasaan, tak ada yang lain.
  • Di Pahae ada proyek geothermal (panas bumi). Tetapi karena ulah koruptif, hampir 20 tahun usianya hanya berhenti pada wacana. Membuat AMDAL saja tidak mampu. Memberi ganti rugi ke rakyat sangat tak bersedia. Ini sesuatu yang sangat mirip nanti dengan Inalum, dan tentulah ini bukan salah si Paijo atau si Painem tentu saja.
  • Para pemimpin di negeri ini sudah sangat tak peduli, dan tak menyadari bahwa radikalisasi rakyat terus-menerus terjadi karena kirisis listrik.
  • Anak kecil pun kini sudah lazim mencaci maki. Pemimpin itu hanya tahu duit dan kekuasaan atau sebaliknya, hingga tak merasa rugi rakyat menjadi anger (beringas).
  • Mereka, para elit dan pemimpin perampas mandat rakyat itu, menurut bahasa kami di Tapanuli, hanyalah sosok yang pantas disebut sebagai RAJA MARSAHALA HATOBAN. Jabatannya raja, mentalitas dan pengharapannya hanya hatoban (budak)

Menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang tak terkait dengan urusan pembangunan (konflik) membuat Sumut terbengkalai. Apa yang akan terjadi ke depan (lokal dan nasional), itu pun adalah sesuatu yang amat mengkhawatirkan buat saya.

Shohibul Anshor Siregar

PLN

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: