'nBASIS

Home » ARTIKEL » DUKUN DAN POLITIK

DUKUN DAN POLITIK

AKSES

  • 538,550 KALI

ARSIP


Dukun. Anda pernah berurusan dengan dukun?  Kata Wikipedia, “A dukun is an Indonesian-Malay term for shaman. In Malaysia, they are often referred to as bomoh, but dukun is the more ancient term. Their societal role is that of a traditional healer, spirit medium, custom and tradition experts and on occasion sorcerers and masters of black magic”. Kira-kira akan bagaimanakah Indonesia jika diawaki oleh orang-orang yang sangat setia dengan dukun?

Seorang rekan mengirimkan naskahnya sebagai bahan diskusi. Judulnya Praktik Perdukunan dalam Pentas Politik Lokal. Bagus tulisan itu. Saya pun memberi tanggapan demikian:

  • Barang sedikit kerangka teori tentang ini diperlukan. Misalnya kerangka pikir yang dibuat oleh Agus Comte tentang hukum Tiga tahap. Dalam masyarakat modern pun ada residual factors, katanya, yang sangat tak masuk akal bagi nalar modern namun tetap berlangsung. Nativisme ini ada di Timur dan ada di Barat. Kemudian tentulah sangat baik dirangkaikan dengan Riggs yang akan lebih menjabarkan itu dalam teorinya tentang prismatic society yang terkenal itu.
  • Menurut saya kerangka pendekatan untuk kasus ini dapat mencakup (1) value of expectation yang tinggi tak sebanding dengan (2) value of capability (3) mentalitas tak siap berkompetisi dalam hidup modern (tak cuma dalam dunia politik) mengarahkan orang kepada peluang-peluang abnormal, termasuk ke usaha supranatural. Perhatikan bagaimana  Talcott Parsons mengurai ini dalam konsep AGIL atau Adaptation itu (4) indikasi kuat kelemahan mentalitas dan kekeroposan keberagamaan (kecuali yang dalam ajaran agamanya dukun dianggap sebagai bagian dari institusi keagamaan yang penting).
  • Sangatlah perlu untuk menegaskan keterbatasan kajian ini. Meskipun disebut politik lokal, di lokal mana itu terjadi dan ketika pemilukada itu ada untuk Kabupaten/Kota rupanya ada pula untuk Provinsi. Perlu ditegaskan di mana posisinya.
  • Sangat perlu juga diidentifikasi berbagai jenis pedukunan ini antar satu dan lain budaya. Artinya ada konteks budaya di sini.
  • Dalam kajian Emile Durkheim tentang Suicide (bunuh diri) ada penekakan solidaritas. Mengapa orang Protestan lebih gampang bunuh diri ketimbang Katholik adalah tersebab konsolidasi. Ajaran kedua agama itu berbeda penekanan atas konsolidasi dan solidaritas. Itu temuan Emile Durkheim. Juga antara lajang dengan yang menikah.

Dalam banyak pemberitaan media masalah ini sudah mengemuka sejak beberapa bulan lalu. Mereka mempersiapkan diri untuk menjadi legislator dengan jalan pedukunan itu. Sangat besar biaya untuk itu, tetapi mereka relakan saja.

Akan bagaimana Indonesia setelah ini? Mungkin tak akan apa-apa (maksudnya seperti biasalah, tak maju-maju). Soalnya, menurut Wikipedia, fenomena ini sangat dekat dengan politik Indonesia, dan juga bisnis.

 

The dukun is the very epitome of the Kejawen or kebatinan belief system indigenous to Java. Beneath the thin superficial practice of Islam, very strong and ancient beliefs of animism, ancestor worship and shamanism run through the people of the Nusantara. While modern medicine along with revivalist Islam and Christianity have undermined the dukun’s prominence, they remain highly respected and somewhat feared figures in Indon-Malay society, even in the most orthodox Islamic areas. In the pre-colonial past, dukun were exempt from paying taxes, as with Hindu priests and Buddhist monks.

Many highly prominent and highly educated Indonesians, even those with Western doctorate and masters levels degrees will still consult dukun or soothsayers. Indonesians who are known to have employed dukun include former President Soekarno, former president Soeharto, former president Megawati Soekarnoputri, Sultan Hamengkubuwana IX and Sultan Hamengkubuwana X and many more.

Dukun are most common on the island of Java, though the island of Madura is especially feared for being very powerful practitioners of dark magic, and Balii is well regarded for its dukun. The Dayak people of Kalimantan are also feared for their use of dukun when head-hunting. In Sabah, the Kadayan community are renowned for their dukun who are said to look waif-like with red eyes.

 

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: