'nBASIS

Home » ARTIKEL » Tawarkan Pawang Topeng Monyet itu pekerjaan: Gubernur, misalnya

Tawarkan Pawang Topeng Monyet itu pekerjaan: Gubernur, misalnya

AKSES

  • 544,897 KALI

ARSIP


Saya senang topeng monyet. Ya. Saya senang menonton topeng monyet. Emang masalah buat siapa? Ha ha ha.

Siapa bilang tidak ada latihan yang keras? Ada. Emang gratisan begitu? Tidak. Ada investasi.  Itu agar monyet bisa mengikuti kemauan pawang sesuai senario pertunjukan. Para pawang juga melakukan berbagai bentuk pelatihan agar bisa secepatnya naik ke pohon kelapa, memilih yang matang dan menjatuhkannya.

Beratkah latihannya? Siapa bilang tidak? Samalah seperti orang melatih lumba-lumba untuk mahir beberapa atraksi yang diinginkan. Begitu juga singa sirkus, gajah sirkus, dan tak ketinggalan kerbau pembajak sawah sebelum digantikan perannya oleh hand tractor itu.

Apa ujug-ujug kuda delman di Jogja dan kuda Bendi di Bukit Tinggi dan kuda Sado di Tapanuli itu akur saja dengan tugas membawa beban tanpa latihan? Sudah dilatih dengan begitu berat, setiap hari dieksploitasi lagi untuk mencari nafkah. Bahkan oleh budaya yang dikembangkan malah dianggap sebuah aset daya tarik tourism. Lihat kakinya dipaku (ladam). Lehernya diberi lonceng. Kira-kira bisa dibayangkankah kuda-kuda itu senang atau tidak dengan diberi hiasan warna-warni, tali kendali yang mencokok hidung dan cambuk yang membuatnya harus menganggap tak berat beban yang ditimpakan ke punggungnya?

Apa ujug-ujug anjing-anjing pelacak yang diperbantukan di beberapa satuan Polri itu bisa mengendus target tanpa latihan berat? Harus lulus dulu melewati sejumlah menu latihan baru boleh diberi seragam dan tanda pangkat. Apa anjing ini senang dengan atribut itu semua? Apa beda monyet yang bekerja untuk pawang dengan anjing yang bekerja untuk kepolisian?

Kira-kira lebih kejam mana pelatihan topeng monyet ini ketimbang pertunjukan sadis para gladiator yang berurusan dengan banteng-banteng itu? Kira-kira lebih kejam mana pelatihan topeng monyet ini ketimbang pelatihan untuk menjadi tentara atau polisi dan apalagi untuk menjadi anggota satuan khusus? Mereka dipersiapkan untuk tak memiliki pilihan lain: dibunuh atau membunuh. Di Jatinangor malah ada sekolah yang agak rutin mengkhabarkan berita pembunuhan antara senior dan junior, dan itu harus dianggap bagian dari pelatihan.

Topeng monyet itu eksploitasi, kata mereka. Jadi, taman margasatwa itu bukan eksploitasi. Mengapa bukan?

Karena yang menyelenggarakan pemerintah. Apa bedanya? Pawang monyet itu manuysia jembel, beda dengan pengurus taman margasatwa. Beda dengan orang-orang besar yang mengurung banyak burung dirumahnya, juga banyak binatang.

Apa ada yang mau menjadi bos topeng monyet kalau pekerjaan yang layak ada?  Saya tak habis pikir hingga kini. Jika ditawarkan kepada pawang monyet apakah ia mau menjadi Gubernur atau wakil gubernur, tentu ia mau saja. Satpol PP? Itu pun boleh. Bagaimana nasib merekja pasca razia dan pelarangan aktivitas? Dalam hati banyak orang akan berkata “ya, pulang kampung”. Jadi, mengapa dulu mereka meninggalkan kampung? Apa sekarang justru tak lebih sulit kehidupan di kampung?

Hingga kini dunia masih menyenangi duel saling tukar pukulan di atas ring, dan itu industri pembuat uang. Ini beda sekali dengan sabung ayam, kawan. Beda. Atas nama kemanusiaan, proteslah itu semua. Jangan cuma berani kepada orang miskin tak berdaya dan yang tak punya alternatif untuk hidup.

Tapi saya senang menonton pertunjukan topeng monyet. Saya senang. Kini saya berpikir akan kemana menonton topeng monyet setelah ini.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: