'nBASIS

Home » ARTIKEL » GOLONGAN PUTIH

GOLONGAN PUTIH

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Oleh: ustad Abdurrahman Lubis

 Namanya juga  Golongan Putih, sudah pasti warnanya putih. Kodratnya putih itu bersih, suci. Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Kullu mauluudin yuladu ‘ala al fithrah’, setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci.(HR.Muttafaqqun ‘alaih).

Begitu juga usai shaum ramahdhan, seorang hamba ‘idul fthri (kembali suci). Sayang, dalam urusan kursi, Si putih tak diperhitungkan dan dianggap rendah. Bahkan dipandang tak suci lagi, namanya saja disingkat jadi Golput. Salah-salah ucap bisa siput atau kentut. Seperti knalpot batuk berdeput-deput.

Di era Orba mereka jadi komunitas pinggiran kelas kambing. Kenapa, karena dianggap tak ambil bagian pesta demokrasi. Tak menggunakan hak untuk memilih. Tapi, tunggu dulu. Ini urusan memilih. Mereka punya alasan, ibarat ke rumah makan, tak satu hidangan jadi pilihan. Semua menu lama dan basi. Cuma iklannya yang hebat, katanya bikin awet muda nyatanya mual, meski gambar hidangan di poles di setiap sudut kota.

Namanya patah selera, walau disediakan yang enak-enak, tetap gak nafsu. Iklannya saja, kayak pemain sulap. Mau sim salabim agar banjir berhenti seketika. Dikira banjir itu bikinan nenek moyangnya. Kok calon pemimpin wawasan ketauhidannya cetek sekali. Ia belum lahir saja banjir sudah ada. Walau mau bikin kanalalisasi dari barat sampai ke timur, kalau Allah mau banjirkan apa bisa dihambat. Dulu, Kan’an diajak ayahnya Nuh as naik ke kapal agar tak tenggelam, tapi ia menolak dan akan berenang menyelamatkan diri. Jangan nak, ini bukan banjir biasa, ini azab Allah. ‘Gak  yah, nanti aku naik ke gunung’.

Akhirnya semua gunung ditenggelamkan, karena Allah tak suka kesombongan. Kaum Saba dikirim sailal arim (banjir besar) karena berpaling dari Allah(tidak bersyukur) nikmat. Ia tak faham, bahwa banjir, gempa bumi dan bencana alam lainnya adalah sebagai azab Allah akibat perbuatan tangan manusia. Kembali ke golongan putih, sayang, suara mereka jarang diangkat. Paling ada survey picisan, tak jelas targetnya. Yang pasti, sebagai penduduk Jakarta, mereka bukan awam dan punya kelas. Hanya tak duduk di birokrasi, tak ikut partai dan golongan, pribadi-pribadi yang punya pandangan politik sendiri. Tapi mereka putera dan warga negara yang baik buktinya mereka taat pajak. Mungkin karena semua sedang mabuk kepayang rebutan kursi, tak seorangpun peduli mereka. Tak pernah di sapa, aspirasinya, pemikirannya, dialognya.

Di Jakarta, mereka tak sedikit,  2012 mencapai 37,05 persen, atau naik sekira 2,6 persen dibanding pemilukada Jakarta 2007, 34,9 persen. Jika  penduduk Jakarta 10 juta, berhak memilih 6.962.348. Yang menggunakan hak pilih putaran pertama, 11 Juli, hanya 4.429.533 . Sisanya 11. 221 rusak dan 2.716.525 golput. Seharusnya yang nyoblos 6.962.348. Itu di luar penduduk tetap yang tak terdaftar, jumlahnya hampir 2 juta. Jadi golput ditambah yang tak terdaftar 4.716.525. Putaran kedua Pilgub DKI menjadi duel maut. Koalisi partai lebih bersifat sosiologis ketimbang taktis. Elektabilitas hasil putaran pertama tak selalu jadi pertimbangan koalisi. Setiap partai mengalihkan dukungan atas dasar bacaan kepada konstituennya.

Partai pengusung akan lebih all out. Sebab, ada risiko partai yang mengarahkan dukungan kepada salah satu calon, namun kalah, ditinggalkan pemilih dalam pileg 2014. Partai yang membelokkan dukungan dari pilihan mayoritas konstituennya akan dihukum konstituennya di pileg 2014. Karenanya, setiap parpol justru akan lebih all out membela calon. Fenomena lain, kalau dilihat angka-angka dan kalau golongan putih dimasukkan ke kotak suara sendiri, maka golput yang menang. Bendera  golongan putih di DKI nampak kian berkibar hingga 2014. Pemilu 1999, partisipan pemilu Jakarta 90 persen, 2009 menurun jadi 70 persen. Kalau selama  10 tahun menurun 20 persen,  maka pemilu 2014 yang menggunakan hak cuma 60 persen, lampu merah demokrasi ibukota karena presedennya sudah ada.

Kenapa pemilih turun sedang golongan putih  meningkat. Di atas kertas, lemahnya sosialisasi KPUD, terbatasnya waktu kampanye  juga menambah angka Golput. Mestinya kampanye tak dibatasi, dengan hanya 14 hari kampanye pemilih kurang leluasa mengenal sosok,  visi dan misi calon. Kenapa tak sejak dini, begitu bakal calon ditetapkan, otomatis kampanye dimulai.  Itu analisis surveyors. Di luar sana, ada segolongan yang tak disentuh  survey, yaitu masayarakat abstein. Merekalah golongan putih. Umat Islam sebagai komunitas terbesar sebenarnya mesti menjadikannya uang sekolah. Kalau orang Islam tak mau memperjuangkan agama, maka Allah membuat keputusan sendiri. ‘Jika kamu tidak berangkat berjuang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain….’ (QS at Taubah 39). Langkah pertama adalah diadzab, bisa azab fisik seperti gempa bumi, banjir dan sebagainya. Bisa juga berupa fitnah dunia seperti isteri yang nyeleweng, anak-anak kena narkoba, penyakit dan sebagainya.Tetapi kalau sudah diberi azab seperti itu, gak sadar-sadar  juga, maka Allah akan mengganti umat ini dengan orang lain. Kalau yang ikut memilih orang Islam yang taat, maka hasil pilihannya akan membuahkan kebaikan dan keberkahan. Tapi kalau orang Islam yang salah, tukang maksiat, maka hasil pilihannya akan mengundang bencana. Maka Allah akan mengangkat pemimpin zholim di tengah umat. Bahkan setulusnya, meski pemimpinnya orang salih, kalau rakyatnya tidak beriman dan tak mau memperjuangkan iman dan amal salih, maka Allah akan keraskan hati pemimpin untuk menzolimi umat. Begitu juga orang Islam yang golput, kalau golput karena sakit hati, hasad dan putus asa, maka golputnya akan berubah menjadi fitnah. Tapi kalau golputnya karena kesadaran dan keyakinan, dan senantiasa beribadah dan beramal soleh dan berdoa untuk diturunkan rahmat dan perubahan, maka golputnya membawa rahmat dan keberkahan. Sesungguhnya, golput itu bukan tidak  memilih, atau tidak adil. Justru mereka tetap memilih, tapi pilihannya, ya, golput itu. Kalau begitu mereka juga ikut pemilu, sama-sama menggunakan hak pilih.

Hitung-hitung, kalau jumlah golput meningkat terus, katakan 10 persen saja tiap pemilu, maka jika melampaui angka 50 persen, itu berarti yang menang adalah Golput, otomatis sistem yang ada tak kredibel lagi. Dan semua kebijakan pemda akan tinggal di atas kertas, Jakarta akan collaps. Karena mayoritas sudah tidak mendukung pemilu dan sistem.

Coba hitung  penduduk Brunei Darussalam  cuma 388 ribu jiwa, berarti kalau mau, golput DKI bisa bikin sepuluh negara sendiri, setara  Brunei. Dibanding Singapura 5 juta golput DKI bisa buat  satu negara sendiri. Karena agka golput yang sangat signifikan itu bukan spontanitas, tidak gratis dan percuma, pasti ada kaitan dengan  lorong gelap sejarah perpolitikan negeri ini. Iya kan, apa untungnya nyoblos, karena berkali-kali pemilu toh tak ada perubahan, bahkan semakin nyungsep. Urusan di kelurahan dan kantor-kantor, perpajakan, imigrasi, samsat, penuh birokrasi dan serba uang, tempat parkir dan jalan raya semakin semrawut, kederaan alternatif Busway bukan alternatif lagi dan tidak nyaman, lambat, padat, sumpek. Pengemis kian ramai dan sangat mengganggu.Harga-harga melonjak. Suap-menyuap jalan terus, tree in one disusupi joke. Kemacetan panjang yang menguras bensin dan enerji semakin tak terjawab. Artinya, sama saja nyoblos dengan tanpa nyoblos. Bahkan pemilukada berubah menjadi ajang fitnah, saling hujat, gugat dan mubazzair. Lagi pula, apa enggak dosa memilih sesuatu yang sudah jelas rusaknya ?

Ujug-ujug ada berita SMS gelap. Tapi kok dimuat di koran, berarti koran itu biang keladinya, Tempo, Kompas dan Suara Pembaruan. Isinya mengenai kubu Jokowi-Ahok akan didanai Vatikan dan Canada masing-masing 30 juta dan 40 juta USD, jika menang menjadi gubernur DKI akan dirikan 96 gereja di Jakarta. Ada lagi yang lucu, buat apa mereka ekspos 100 persen warga Tionghoa Jakarta pilih Jakowi-Ahok, bukankah ini lebih SARA ? Kalau begitu benarlah, orang cina itu SARA, gak punya toleransi, buktinya semua milih cina. Padahal, kalau diusut-usut kan mereka bukan pribumi, kenapa kok gak mau menyatu. Komunitas mereka juga mengelompok, kan ? Di Medan dan pada umumnya di Sumatera, mayoritas orang Cina tak pandai berbahasa Indonesia, padahal mereka lahir di Indonesia dan sudah dua-tiga generasi. Apa itu tidak primordial, sukuisme ?

Kalau katanya Jakowi-Ahok tenang saja dan senyum terus menghadapi SMS gelap, kenapa harus melapor ke polisi, dan bagaimana kalau nanti ternyata isu itu benar atau setidaknya datang dari pihak yang berteriak, atau aroma ke arah itu memang ada dan dapat dirasakan oleh umat Islam. Bukankah there is no free lunch ?  Tidak ada makan siang yang gratis ? Sebagaimana pengalaman selama ini ? Lagi pula, kalau memang toleransi umat beragama itu ada, berarti ayat Walantardho…’Sekali-kali tak pernah ridho Yahudi dan Nashoro sehingga kamu ikut agama mereka (QS al Baqarah 120) itu harus dihapus. Karena Allah Swt berbohong’.

Tapi, Mahasuci  Allah dari sifat bohong, yang bohong itu, ya, yang biasa bohong. Ingat, janji-janji pemilu ? Padahal, pemilu kan tidak sakral, buktinya tak pernah jurdil dan selalu dibumbui maksiat, joget-joget, hura-hura, hamburkan uang penuh mubazzir. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan. Kalau pemilu itu sesuatu yang sakral, seperti solat, puasa dan haji, lain lagi. Lagi pula, Jakarta bukan milik orang yang mencoblos saja, siapa tahu yang diam itu lebih baik dari pada yang…?  Siapa tahu diamnya  adalah emas ? Masyarakat Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya, masih terikat ketat dengan budaya. Jadi gak usah ngeritik primordial.

Lagi pula, primordial itu bukan kesukuan saja, tapi cara berfikir yang lari dari konteks hukum Allah , lebih primordial. Andaikata Jakowi-Ahok terpilih, mereka mungkin tidak menohok Islam, tapi tidak mungkin juga membela Islam. Karena umat Islam sudah makin tak punya porsi, dipecundangi terus dari dulu, dituduh ekstrim, teroris, primordial, SARA, untoleransi, ya sudah sekalian saja gak usah.

Padahal, kalau di Jakarta sudah tak ada lagi yang solat berjamaah, tak ada lagi yang berzikir, tak ada lagi yang baca Qur’an, tak ada lagi menangis malam minta ampun, tak ada lagi silaturahim, Jakarta sudah lama ‘dikiamatkan’  Allah. Setiap kerja ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Jangan mengkotakkan dunia dengan akhirat. Seakan perbuatan di dunia tak ada kaitan dengan akhirat. Sekular dan liberal. Na’udzubillahi min dzaalik.

Abdurrahman Lubis, Pemerhati Masalah Keislaman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: