'nBASIS

Home » ARTIKEL » Dosa Tak Berampun Media Massa

Dosa Tak Berampun Media Massa

AKSES

  • 568,912 KALI

ARSIP


Oleh : Ustad Abdurrahman Lubis

Pertanyaan menggelitik nurani jurnalis, jika berita campur opini masihkah media independen ? Nabi Muhammad saw dilarang menyisip opini dalam berita (wahyu), ‘Tidak ada yang disampaikan kecuali wahyu yang sudah sempurna diwahyukan’(QS an Najm 3).

Kalau ditanya, Nabi saw menahan sebelum turun wahyu. Itu tarbiah (pendidikan) kepada kita (pembawa berita) untuk tidak campur aduk fakta – opini. Bukankah wahyu itu opini, seperti halnya berita itu opini, tanpa campur tangan pemberita ? Independensi media harga mati. Atau, lebih baik bungkam.Nabi saw, ‘Bicaralah yang baik, atau diam’.

Virus sensasi merongrong sosok independensi sehingga media terpeleset ‘un-profesional’. Wartawan, dalam penyajian berita kriminal dan seks cenderung berlumur lumpur dramatisasi. Itukah etika jurnalistik ? Apakah kalau pers ikut mengumbar selera rendah lalu jadi ‘tidak mengapa’, ‘soal biasa’ ? Hak kebal ? Walau, itu, dosa besar ? Zina dosa besar harus dirajam. Judi dan curi dosa besar harus potong tangan atau penjara. Sepasang berzina, 40 jiran kena laknat. Seorang makan riba lebih berat dari menzinai ibu kandung 36 kali. Kalau semua terjadi kerena andil pena atau kamera wartawan, apakah ia bebas dosa ? Meski di satu negeri belum berlaku syariat Islam, tapi hukuman atas dosa itu, sekarang di dunia dan kelak diakhirat, tetap menimpa pelaku. Dampak kemaksiatan tak hanya landa pelaku, tapi masyarakat. Pejabat negara yang membiarkan, apalagi mengizinkan, lebih besar lagi, karena dosa maksiatnya berjamaah. Jadi tak ada yang gratis. Lalu untuk apa mereka kerja digaji uang rakyat, kalau cuma menabung dosa ?

Seorang tersangka teroris, dalam al Qur’an belum jelas hukumannya. Sebab ada kelompok terzholimi mempertahankan eksistensi di luar keinginan penguasa. Kalau zina meracuni eksistensi suci keturunan dan warisan. Kalau riba pendzoliman massal, dua-dua berefek patologi sosial (kerusakan masyarakat). Sedang teroris, cuma bikin takut penguasa.

Karena takut, rakyat diajak memerangi. Padahal, sosok dan dampak terorisme belum jelas. Itu kalau betul-betul ada. Kalau rekayasa ? Penipuan besar-besaran kepada rakyat. Tergantung siapa pelakon panggung. Kalau yang di panggung tumbang, gantian ia yang dituduh teroris. Lihat Ali Butho, Saddam Hussain, Husni Mubarok, Gaddafi. Ketika ORBA naik daun, semua berbau Soekarno haram, segala aroma Soeharto harum.

Setelah reformasi, semua berbau Soeharto haram, semua aroma Susilo harum. Ganti pemain sinetron ok, yang penting the show must go on, sandiwara jalan terus. Ketika G30S/PKI dalam waktu 4 bulan rakyat sendiri dibunuh 5 kali lebih banyak dari korban perang Vietnam dalam 12 tahun. Dunia bilang ‘junta militer’ di negeri elok permai. Jargonnya pelaksanaan konstitusi murni dan konsekuen. Nyatanya junta militer menyilaukan peradaban. Untuk tidak disebut biadab, agar terkesan beradab, dibuat kendaraan politik dan restrukturisasi parpol. Untuk menyatuaruskan opini, media (terutama inner circle,anak kesayangan) dijadikan pelacur, juru ketik press release. Partai menjadi kendaraan politik penguasa. PNI terlalu kekirian, partai Islam terlalu kekananan digandeng separatis. Ujug-ujug muncul Golkar bak boneka dari India, menari-nari di atas catwalk, pemilu 71 langsung jadi gajah bengkak. Kelompok nasionalis dan Islam difusikan jadi dua partai, berpuas diri menjadi ‘anak bawang’ selama tiga dasawarsa berlaga untuk kalah.

Kalau mau jujur,masyarakat tak tahu menahu dan tak bersangkut paut terorisme. Tapi kalau harga minyak naik, dari ujung rambut sampai telapak kaki tubuh rakyat panas dingin, diteror susulan harga lain. Juga pelacuran, narkoba, miras berdampak pergaulan bebas dan menciptakan sifat hayawanaat (kebinatangan). Sayang, pers tak selera mendramatisir. Kenapa ? Karena beda pelaku dan tak memandang beban dosa. Lagi pula kurang bernilai ekonomis. Kalau rakyat pelakunya langsung jadi teroris, kalau penguasa yang melakukan, itu hasil kompromis. Selama belum mendudukkan diri menjadi ‘the fourth estate’ (pilar ke empat) setelah eksekutif, yudikatif dan legislatif, pers akan terus digagahi, bak pelacur jalanan berseragam pelajar. Tak tahu apa-apa tentang buku yang dibawanya. Yang penting nikmat ditiduri hidung belang informasi (sumber berita) dan dapat angpau untuk jajan.

Kode etik jurnalistik PWI tak mengikat apalagi keramat. Karena penaatannya hanya berdasar hati nurani wartawan. Tak ada standar iman takwa. Seorang tanpa iman takwa, walau punya hati nurani, tak mungkin rasa berdosa lakukan maksiat. Paling, tahunya kejahatan melanggar pasal UU. Namun tak kuasa menghindar, sebab lemah iman, atau diam-diam merangkap pelaku. Lihat saja, ada media jajaran redaksinya semua haji, tapi isi medianya maksiat dan syirik, dagang perempuan dan pedukunan. Ini terorisme nyata jatuhkan martabat bangsa mengundang azab.

Ada oknum media meliput berita terus ke rumah bordir sambil nyekek botol. Dengan mulut berbusa menulis berita. Ada media alih profesi jadi agen ghibah (gossip) seperti infoteintment. Ada yang jadi agen perempuan. Ada lagi jadi media pedukunan. Lengkaplah penderitaan. Semua akibat korban sistem tanpa kepastian hukum.

Kalau media mau berbenah mestinya mulai dari diri (self sensorsif). Karena dampaknya bukan racuni satu dua, tapi seluruh masyarakat. Kalau tidak, media berubah jadi universitas kejahatan. Seseorang mau jadi pelacur/germo, mau jadi penjudi, mau jadi dukun belajar dari media. Bukankah gaya individualistis, konsumtif dan hedonis keseharian anak generasi juga kuliahnya di universitas media ? Berita sensasi teori jarum hipodermik, audiens hanya pasif, siap lakukan apa saja sesuai pesanan. Di sini media abai ekses informasi akhirnya jadi-‘dosa besar tak berampun’-nya.

Teori yang dikritik teori lagi, via model uses and gratification, media cuma alat pemuas audiens, audiens yang utama adalah sumber beritanya sendiri. Bahwa dalam diri audiens ada filter selektif, itu perkara lain. Tapi cuma sedikit, karena ukurannya iman takwa. Dulu masih pemula, motret wajah calon cover girl, malu-malu. Yang dipotret lebih malu. Syariat masih terasa, rasa malu masih bertahta.

Sekarang, bagian mana tubuh wanita yang absen berita ? Anehnya itu dilakukan sadar tanpa dosa dengan dalih kebebasan pers ! Lihat saja kondomisasi, berdalih pendidikan seks, pencegah HIV/AIDS, ternyata aiiiddsss…. meningkat terus.

Amit-amit anak bau kencur ikut campur. Sebenarnya, pers yang punya sisa iman takwa, berhak untuk tidak memberitakan, setidaknya menyederhanakan. Tak selalu berpihak sumber berita, tapi kepada masyarakat korban berita. Pena media bukan peluru yang menembus dada lalu mati, tapi menembus mata dan membuka hati. Sebaliknya, kalau ia telah mencabut kodratnya, pers akan menyebar virus membutakan hati. Inilah yang disebut kepentingan umum atau keselamatan umum. Inilah nilai edukatif sisi kehormatan dan kemuliaan pers. Saat inilah ditampilkan naluri iman takwa pers yang nilainya jauh lebih besar dibanding kondom,rupiah dan nama besar,  na’udzubillah…!?

Kalau Nafsiah Mboi mau bagi-bagi kondom gratis, biarkan datang sendiri ke rumah bordil nggak usah bawa-bawa wartawan. Kondom itu bukan perkara besar yang harus dipublikasi, tapi urusan aib yang semestinya diperkecil. Urusan mucikari dan pelaku seks bebas, aib besar mereka yang tak perlu libatkan masyarakat yang tak berkepentingan. Toh pelakunya tak takut dosa, tak jera dan bebas rooming hukum. Bahkan dengan dalih HAM, difasilitasi, dibela dan dipuja bak pahlawan. Padahal, Nabi saw perintah anak usia tujuh tahun saja harus dilatih salat. Kalau sudah sepuluh tahun tak solat, pukul pakai rotan. Maksudnya ada tarbiah, rasa takut dan efek jera. Mula-mula solatnya karena takut pada rotan, lama-lama takut Allah. Dan ingat, orang yang menjaga salat berarti menjaga hubungan dengan Allah, Allah akan menjaga dari perbuatan keji dan mungkar. Itu jaminan Allah. Jadi pers belum dikatakan modern apabila gedung kantornya menjulang ke langit tapi akhlaknya meluncur ke dasar laut. Ingat, pers itu bukan makhluk aneh apalagi berlagak malaikat.

Seorang wanita datang kepada Nabi saw minta dirajam karena berzina. Ditanya,’Mana buktinya ?’ ‘Ini, hamil empat bulan’. Nabi saw geleng kepala (kagum atas pengakuannya), kemudian menyuruh pulang sembunyi menunggu anak lahir. Nabi tak membeberkan kasus perzinaannya dan tak menikahkan yang sedang hamil, meski kepada lelaki yang menzinai. Setelah lahir, datang lagi sambil menggendong bayi. Nabi saw minta menyusukan bayinya dua tahun. Setelah dua tahun datang lagi, barulah mengundang para sahabat, gali lubang, tanam separuh badan disaksikan para sahabat.

Dari lemparan batu-batu, mengenai ubun-ubun dan darah segar muncrat. Seorang bertanya, ‘Ya Nabi, saya terkena najis, darah pezina’. Dijawab, ‘Bukan najis, itu darah lebih suci dari ka’bah. Ia diampuni dan dijamin surga.’ Andai tak melapor, tentu Rasulullah tak akan merajam. Tapi karena iman, sadar kesalahan, Rasulullah rajam hingga wafat. ‘Andai imannya ditimbang dengan iman penduduk Madinah, jauh lebih berat’.

Sejak itu Madinah sepi dari zina. Gadis berjalan sendiri dari Sona’a ke Madinah, aman-aman saja. Kalau jumpa wanita seperti kakak kandung, jumpa lelaki seperti abang kandung. Alangkah nikmatnya iman takwa. Jadi, kalau ada iman, pendosa sadar minta dihukum, bukan bela diri sewa pengacara. Sebaliknya, pers juga lebih mawas diri, jangan-jangan karena kemapanannya ia melupakan idealisme.

Eksekusi hukum Islam depan mukminin, kalau tidak, dituduh langar HAM. Hukum Islam sangat toleran, tak langsung tapi disesuaikan. Bukan sekadar efek jera, tapi sadar dan taubat. Mengaku sebelum tertangkap, lebih baik dari tertangkap dulu baru mengaku. ‘Bila dibagi semua orang, taubatnya perempuan pezina itu pasti cukup’. ‘Bila taubatnya dibagi 70 orang Madinah, pasti cukup. Apa kamu tahu ada yang lebih baik dari taubat seorang menghadap Allah ?’ ‘Tak halal darah muslim kecuali; zina, membunuh dan murtad. (HR Muslim 3207). Hukum rajam, pertama diterapkan ke Yahudi, dasar hukumnya Taurat. Hukum rajam masa Nabi sebelum turun an-Nur ayat 2. Setelah itu, hukum cambuk 100 kali. Allahu a’lam bishawwab..

Penulis, pemerhati masalah keislaman.

Advertisements

5 Comments

  1. Raja says:

    Hukum islam sangat toleran? kalo toleran kenapa ada rajam2an

  2. Hukum Islam itu satu proses aktualisasi, bukan percobaan. Jalan ke surga itu juga proses aktualisasi, bukan percobaan. Iman itu adalah proses aktualisasi, bukan coba-coba dan bukan pura-pura.Toleransi tak boleh diukur dari sudut pandang ciptaan (makhluq) tapi diukur dari sisi pandang Sang Pedncipta. DIA Maha tahu apa yang harus dilakukan-Nya kepada ciptaan-Nya. Bayangkan dengan sifat Maha RahimNya, Dia menerima tobat seorang pezina, melalui proses yang sangat tolerans, ditunggu dulu sampai anaknya lahir, bahkan setelah anaknya lahir disuruh menyusukan dulu selama dua tahun, setelah itu baru dirajam di depan orang-orang beriman, sehingga mereka dapat menerima dengan senang hati. Hukuman itu tidak dilakukan di tengah kaum munafik dan musyrik, sebab nanti akan mereka bilang melannggar HAM dan sebagainya.Dan yang terpenting, DIA memastikannya masuk surga. Di dunia, kasus rajamnya menjadi alat ukur keamanan diri jutaan wanita lain dari pelanggaran hak-hak mereka yang lain. Timbulnya efek jera pada yang lain, rasa aman menyeluruh dari setiap wanita dan keluarga, naiknya derjat wanita ke kodrat asalnya.Allhu a’lam

  3. Raja says:

    “Toleransi tak boleh diukur dari sudut pandang ciptaan (makhluq) tapi diukur dari sisi pandang Sang Pedncipta. DIA Maha tahu apa yang harus dilakukan-Nya kepada ciptaan-Nya”?

    masalahnya yang menentukan bahwa ukuran toleransi dari sisi pandang Sang Pencipta tuh sapa???? bukannya hukum itu ada intrepretasinya? dan diterapkan sesuai dengan kondisi yang berlaku?

    lantas kenapa derajat tkw Indonesia di Arab saudi ga naik2? ??? mereka diperkosa, tidak pernah diberi kesempatan untuk membela diri dihadapan pengadilan akibat berusaha mebela diri dengan membunuh majikannya yang berusaha memperkosanya tau telah memperkosanya berkali-kali, dimana letak keberhasilannya??? dimana efek jera bagi para majikan tkw2 Indonesia itu? dimana dimasa modern ini para majikan tkw2 itu dengan senang hati menerima rajaman di depan orang2 beriman? pernakah anda mewawancarai para tkw2 itu? atau telinga anda ditutup untuk menerima kenyataan bahwa tkw2 itu diperlakukan tidak adil?apakah “standar iman” yang “sesuai intrepretasi” anda sendiri itu yang menutup telinga anda?

  4. Syariat tidak dapat diinterpretasi, harus berdasarkan wahyu dan hadis, Nabi saw sendiri tidak berkata kecuali wahyu yang sudah diwahyukan,MUI Indonesia dan MUfti Saudi sdh mengeluarkan fatwa melarang pengiriman TKW , bahkan hadis menyebutkan,
    لا يحل لامراة مسيرة يوما الا بذي محرم
    artinya:’Tidak halal bagi wanita bepergian seharian kecuali dengan muhrimnya’. ٍSekarang mereka bepergian bukan sehari, tapi berbulan bahkan bertahun. Saudi dan negeri-negeri lain penerima TKW tidak bisa dijadikan rujukan terhadap pelaksanaan rajam di zaman Nabi saw sebagaimana dalam kisah diartikel saya, itu, karena demikian jauhnya kadar keimana antara kita sekarang dengan Nabi saw dan para sahabatnya. Tetapi kalau kita usut terus, nanti akan berbenturan dengan sistem yang ada dan sistem itu akan berbenturan lagi dengan dolar dan real.Usaha kita atas iman minus, sementara usaha kita utuk maksiat jalan terus. Bahkan kesalahan demi ksalahan kita poles dengan semboyan kamuflase, seakan para TKW itu adalah para pahlawan devisa. Apakah dolar dan real yang mereka kirim ke keluarganya di Indonesia akan dapat menggantikan harga diri mereka yang terhinakan, padahal mereka sendiri sebebenarnya adalah korban propaganda dan iming-iming dari saudara-saudara kita yang menjadi raja tega, menjual bangsanya sendiri. Kenapa jiran kita India, Pakistan, Banglades dan Yaman, dan sebagian negeri lain tidak mengirim wanitanya bekerja ke luar negeri. Apa mereka tidak butuh dolah dan real ? Padahal menurut UNESCO, Bangladesh itu negara termiskin di dunia.
    Kalau begitu, kemiskinan tidak selamanya identik dengan kekafiran. Kalau miskin beriman ia selamat, Kalau Kaya tak beriman akan celaka. Apalagi sudah miskin tak beriman, ya celaka dua belas.Saya sudah melihat sendiri masyarakat Islami di Gujarat (India), Sylhat (Bangladesh), Peshawar (Pakistan) dan Hadramaut ( Yaman), yang hidup seperti di zaman Nabi saw dan sahabatnya dulu. Sederhana, Islami, damai dan tidak mudah menggadaikan imannya dengan dolar dan real. Ya Allah, beri kami petunjuk-MU. amien…

  5. Raja says:

    Kalau MUfti Saudi sdh mengeluarkan fatwa melarang pengiriman TKW, kenapa Negara tersebut masih mau meneriwa tkw tersebut? Kenapa ga langsung saja pulangkan ketika mereka mendarat? Jadi anda mengharamkan wanita untuk mencari penghasilan bagi keluarganya? Lantas kenapa tidak sekalian haramkan saja pendidikan buat wanita? Anda seperti mau arab Saudi yang warganya malas karena terus menerus dimanjakan oleh subsidi Pemerintah mereka, karena masih ada kekayaan mereka yaitu sumber daya minyak, coba bayangkan nasib mereka bila sudah tidak ada minyak lagi, saya yakin mereka tidak akan mampu bersaing dengan Indonesia.

    Dan ini yang menggelikan anda mengatakan,” Syariat tidak dapat diinterpretasi, harus berdasarkan wahyu dan hadis,” yang mau saya Tanya apakah fatwa itu juga sebenarnya bentuk intrepretasi dari yang menerbitkannya? Ingat MUFTI atau MUI bukan mahluk aneh apalagi berlagak malaikat, mereka juga manusia yang pasti juga punya salah. Salah intrepretasi/ fatwa adalah salah satunya, masalahnya apakah boleh menentang fatwa yang dikeluarkan oleh mereka? Karena sifatnya yang otoriter, Mufti tidak boleh ditentang bukan? Terlepas dia salah atau tidak? Lalu dimana letak toleran Hukum Islam?

    Anda mengharapkan seseorang mengaku sebelum tertangkap, lebih baik dari tertangkap dulu baru mengaku. Ide yang baik, namun adakah para ustad2 sendiri melaksankannya???

    Kenapa negara2 penerima TKW tidak bisa dijadikan rujukan??? Buat saya mereka bisa jadi rujukan Karena Negara merekalah yang kini paling dekat pelaksanaan syariah islamnya ke jaman nabi, atau anda sepertinya ingin menutup mata bahwa penerapan syariah di Negara itu tidak “setoleran” yang anda ingin harapkan. Disini terlihat bias dari sisi anda yang secara tak sadar anda lakukan sama seperti para jurnalis yang anda kritik. Anda hanya mau berkiblat ke masa lalu yang jelas sudah berbeda kondisinya.

    TKW memang pahlawan devisa buat keluarganya, bayangkan bila ada seorang wanita sudah kehilangan suaminya, lantas usaha apa yang harus ia lakukan untuk menghidupi keluarganya? Apakah anda mengharapkan mereka Merelakan diri dipoligami? Saya tidak mengharapkan TKW pergi keArab Saudi yang sudah pasti 70% dia akan diperkosa karena setiap kepala keluarga disana rata2 memang munafik. Penerapan hokum syariah disana membuat masyarkat bukan lebih baik, tapi jadi munafik. TKW itu pergi karena pilihan dia sendiri, kalau dia tidak mau ya tak apa2, kalau dia mau ya sudah ada resikonya. Kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri tidak apa2 kan? Apakah harga diri dapat menghidupi keluarga? Solusi yang lebih baik adalah TKW tersebut berangkat beserta SUaminya atau sodaranya laki2 bekerja di Negara tersebut. Kalo saya pengen TKW tidak usah ke Arab Saudi lagi, lebih baik ke SIngapura, Taiwan atau Hong Kong yang tidak mempunyai banyak masalah seperti di Arab Saudi. Pemerintah Filipin lebih baik dalam mengatur dan membina para warganya yang menjadi TKW di manapun mereka ditempakan.

    Pakistan Banglades tidak mengirimkan wanitnya keluar negeri? Mereka tidak mengirimkan wanitanya keluar negeri, namun mereka (bukan tkw saja)BANYAK yang jadi immigran illegal di luar negeri, mereka mencari kehidupan yang lebih beradab ketimbang miskin di dalam negeri mereka sendiri. India tidak mengirimkan wanitanya keluar negeri karena kasta dan ekonominya sudah lebih maju dari Indonesia , yang ironis musuh mereka yaitu Pakistan (Negara yang anda bawa sebagai contoh) banyak menjadi imigran illegal di India, jadi merekanya memang tidak mengirim, tapi mereka membawa diri mereka sendiri ke INDIA, dan mereka banyak juga ke AMERIKA dan sukes di sana.

    Dan bagaimana dengan Afganistan??? para wanitanya malah pengen keluar dari negara tersebut akibat penerapan hukum yang berlebihan, anda pengen negara Indonesia seperti Taliban memerintah Afganistan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: