'nBASIS

Home » ARTIKEL » Ibu Pertiwi Minus Berkah

Ibu Pertiwi Minus Berkah

AKSES

  • 564,816 KALI

ARSIP


Oleh: Ustad Abdurrahman Lubis

 Prof. Mubyarto, sekali waktu pidato dies natalis. Sangkin kayanya Indonesia, hasil udang kelong di laut Sorong saja jutaan US dollar, langsung diekspor ke Jepang, Amerika, Ingggeris, Jerman dan sebagainya. ‘Dari udang kelong cukup memberi  makan 250 juta rakyat. Gak usah garap minyak, timah, emas, kelapa sawit, karet. Biarkan pulau-pulau Indonesia ditumbuhi kayu pinus dan hutan belantara. ’ Ibaratnya, rakyat Indonesia cukup  makan, tidur, buang hajat, ibadah… makan, tidur, buang hajat, ibadah, dan….masuk surga.

Tapi karena minus  keberkahan, walau semua hasil bumi, laut dan udara, sektor hulu dan hilir digarap, kekayaan Indonesia hanya digenggam 100 orang, maka jadinya seperti sekarang. Laut Arafura tergolong salah satu daerah penghasil udang terbesar di dunia sama dengan Gulf of Mexico di Amerika Serikat. Sebagai  gambaran, Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 130 di antaranya aktif. Luas daratan 1.922.570 km² dan luas perairan3.257.483 km².Luas lahan karet terbesar di dunia 3,4 juta hektar. Tahun 2007 produksi karet Indonesia 2,55 juta ton, naik sekitar 5,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2015 Indonesia akan menjadi negara produsen karet terbesar di dunia.

Pengekspor kopi terbesar ketiga ke Jerman, Gorontalo penghasil tebu terbesar Indonesia, areal tanaman kelapa terluas di dunia, eksportir batubara kedua terbesar setelah Australia, eksportir batubara thermal (ketel uap) terbesar dunia. PT.Timah Bangka produsen timah terbesar dunia,

Budidaya ikan sebenarnya jauh di atas Cina. Tahun1949, produksi perikanan Indonesia dari budidaya ikan terbesar mengalahkan Cina. Luas sungai Cina yang dapat digunakan budidaya air tawar  371 ribu ha , Indonesia 5,9 juta ha. Masih ada 13,6 juta ha rawa yang sebagian dapat digunakan untuk budi daya ikan. Belum lagi minyak dan emas, semua terbesar di dunia.

Anehnya, negeri arab yang gersang, dipenuhi gunung batu dan padang pasir, tapi orang-orang dari tanah subur–yang punya ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’– justru  eksodus mengais sesuap nasi di sana. Bahkan juga ke negeri yang miskin sektor hulu, seperti Jepang, Korea, Hongkong dan Malaysia,  dibanjiri tenaga kerja Indonesia. Mereka ‘darah biru’ anak-anak Ibu Pertiwi, petani yang ayahnya jadi buruh tani di bekas tanahnya yang dijual kepada ‘darah biru sulapan’ dari kota. Kapitalis dadakan dari kota ramai-ramai ke desa memborong tanah dan sawah dengan sangat mudah dan murah melalui kong kali kong para ningrat kelurahan, untuk investasi. Rakyat jelata mau tak mau tergeser dan tergusur. Untuk menghibur mereka ciptakan senandung lipstik,”Selamat datang pahlawan devisa…”. Pahlawan?

Berapa dolar atau rial sih yang mereka kirim ke sanak keluarga–setelah disunat itu-ini –dibanding tergadainya harga diri mereka yang berlanjut terjualnya harga diri bangsa ? Betapa susahnya mereka cari sesuap nasi. Betapa jauhnya hidup mereka dari keberkahan. Dan betapa teganya kita membiarkan mereka seperti itu. Meski MUI sudah mengeluarkan fatwa pengiriman wanita ke luar negeri tanpa mahram, itu, haram. Diikuti fatwa Mufti Saudi mengharamkan penerimaan TKW Indonesia, tanpa mahram. Nabi saw bersabda, ‘Tidak halal seorang wanita bepergian dalam sehari tanpa mahram’. Lha, TKW itu bukan hanya sehari, tapi bertahun, bagaimana dosanya, siapa yang akan menanggung ? Apakah dosa pengiriman TKW dengan segala resiko, dapat  ditebus dengan dolar atau rial ? Ma yalfizhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS 50:18). Kenapa saudara kita dari Bangladesh, India, Pakistan, Nepal dan sebagainya dapat menahan diri tak mengirim wanita bekerja di luar negeri?

Apa mereka tak ngences  dolar dan rial ? Ini akibat akumulasi modal di tangan perorangan dan larinya harkat manusia dari agama, sebagai indikasi suburnya kapitalisme. Hati Ibu Pertiwi pun tersedu, jangan- jangan nyanyian keberkahan– gemah ripah loh jinawi–cuma menyentuh tataran kapitalis ? Aduhai, pemandangan amat kontras, di satu sisi menyilaukan di sisi lain kegelapan. Segelintir tuan besar hidup mewah bermandi hedonis dengan gaya borjuis dan hipokrit, di tepi jalan raya anak-anak kecil –seperti tanpa ayah-ibu–mengemis sambil meringis, wajah menghitam dipanggang matahari dan asap knalpot. Para perempuan muda pengagum Kartini yang mengaku wanita karir, bergaul bebas dengan dandanan norak bergelantungan dalam Busway, yang tak aman dan tak nyaman (tidak cepat karena bersaing jalan umum yang dikapling jadi jalannya, tidak sejuk karena AC nya sering rusak dan tidak nyaman karena terlalu padat dan rawan copet), meski masih diiringi  senandung  musik kamuflase demokrasi.

Sebagian besar mereka–dengan alasan menambah penghasilan– buruh pabrik, jaga toko, pegawai kantor dan pembantu rumah tangga. Di mana-mana kaum mereka dominan. Akibatnya, banyak lelaki pengangguran, hidup diatur wanita sebagai cerminan azab Allah dan dicabutnya keberkahan. Hadis dari Abu Laits Samarqandhi, dalam kitab Tanbihul Ghofilin menyebut,’Kalau wanita jadi pemimpin, lebih baik di bawah tanah dari pada di atas tanah’. Maksudnya lebih baik mati dari pada hidup. Ketika  arah kebijakan negara terkesan melemah dalam berbagai bidang, maka atmosfer  global ekonomi mencari muara baru bagi akumulasi modal. Eropa yang crumbling  (perlahan berguguran), seret pertumbuhan ekonomi, krisis bayar hutang antar negara anggota, Yunani pesakitan pertama yang gagal mengatasi krisis. Tinggal tunggu jarum jam, apakah Portugal, Italia atau Spanyol, sedangkan Republik Irlandia lebih awal runtuh (pada 2010).

Gaung penggunaan mata uang bersama Uni Eropa yang tadinya ingin menindih dolar Amerika, nyatanya terkubur. Apa mungkin Jerman merelakan tabungan hari tua yang tersimpan dalam cadangan nasional dinikmati negara yang tak mampu bayar hutang, misal Spanyol atau Italia. Inikah dosa global ? Orang lain yang bikin ulah kok  kita yang jadi susah ?

Benua yang menua, nampak dari semakin besar jumlah penduduk usia lanjut, membebani daya dukung ekonomi negara yang berlandasan platform Welfare State (negara kesejahteraan). Meledaknya pengangguran karena tak kondusifnya ekonomi Eropa bikin beban negara kesejahteraan terjebak serba sulit. Mungkin perbankan Eropa tak mudah gugur. Tapi untuk menggenjot produktifitas ekonomi, pasca krisis moneter, bak mimpi di siang bolong. Akhirnya, semakin tak gairah mendengar insentif mengembangkan investasi Eropa.

Pada titik nadir inilah pemilik modal, bernafsu  menyemai modal di Indonesia, lahan terbesar di Asia Tenggara. Dari data BKPM 2011, Singapura negara penanam modal terbesar 5,1 milyar dolar di Indonesia. Jepang 1,5 milyar dolar, Amerika Serikat 1,5 milyar dolar dan Korea Selatan 1,2 milyar dolar. ‘Pabrik gula’  Indonesia sertamerta dikeroyok semut-semut kapitalis. Lengkaplah penderitaan Ibu Pertiwi ….

Singapura  memang  pelabuhan bagi Eropa. Sangat mungkin kapitalisme yang gugur menemukan ‘lubang geliat’nya di kawasan ini. Lalu, apakah boleh dikatakan takdir, Indonesia,  menjadi pembuka pintu kapitalisme ? Melihat kepemimpinan nasional saat ini serba tak jelas, jantan atau betina,  apakah punya nyali menghadapi gejolak itu.Numpang tanya,  kalau modal  Eropa menerobos, apa Indonesia dapat berkutik ?  Dikemanakan ekonomi kerakyatan ?  Sebagai terminologi yang masuk dalam dokumen pembangunan resmi, mestinya Bappenas memberi cetak-biru tentang kebijakan dan program kerja ekonomi kerakyatan. Sehingga  lebih terarah. Bukan cuma seglintir kapitalis dan punya akses pada pengambil kebijakan. Jurang  akan semakin melebar dan menjauhkan kita dari keadilan dan keberkahan bila praktik ekonomi seperti itu masih

Abdurrahman Lubis, Pemerhati masalah keislaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: