'nBASIS

Home » ARTIKEL » KEMBALIKAN JAYAKARTA

KEMBALIKAN JAYAKARTA

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Oleh: Ustad Abdurrahman Lubis

Bung Hatta, pernah membuat angket di Sumatera Barat, ‘Mana lebih dulu, pembangunan mental atau fisik ?’. 70 persen responden menjawab, ‘Pembangunan fisik’. Dalam pandangannya, Wapres RI pertama itu mengatakan,’Kalau kita dahulukan fisik, nanti orang yang takut berzina jadi berani, yang enggan berjudi jadi hobi, yang malu minum arak jadi madati. Karena sarana fisiknya disediakan. Kekhawatiran Bung Hatta baru terbukti setelah setengah abad dari kepergiannya.

Tahun 2006 saya berada di Jepang, ada berita menakjubkan, ‘Walikota Nagoya mengundurkan diri’. Ternyata, gara-gara berita kecil di Koran, pembangunan Triple Decker (jalan tiga lapis) di Nagoya, di antara sub kontraktornya masih keluarga Walikota. Padahal proyek sudah diresmikan 4 tahun, sukses tanpa kebocoran. Hanya karena perkara kecil, itu, Walikota dianggap nepotisme. Dengan jiwa besar ia mengundurkan diri. Dan itu, tentunya masih untung dari pada ia harakiri. Minggu lalu saya mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Aman-aman saja meneruskan perjalanan di Jalan Tol Kuala Lumpur – Kuantan. Ketika separuh jalan, sekonyong  mobil terhenti. Ternyata kehabisan bensin. Hanya bilangan menit, mobil derek tiba. Dalam benak saya, ‘Pasti keluar duit banyak’. Ternyata petugas bilang, ‘Assalamualaikum tuan, jangan khawatir, ini percuma dari kerajaan’. Percuma maksudnya cuma-cuma alias gratis. Ketika alat derek beraksi, tiba-tiba kendaraan lain menyusul. Seseorang datang membawa derijen tangan dan langsung isi bensin. Bayarannya ? Ya, seharga bensin yang normal, cuma RM 20 kami teruskan meluncur enjoy. Memang sangat jauh beda dengan Si Jago Rawit, alias Jagorawi alias jalan tol Jakarta Bogor Ciawi. Dulu, jalan tol itu diiming-iming walaupun bayar tapi dijamin lancar, aman dan nyaman. Tapi sekarang, tidak lancar, tidak aman dan tidak nyaman. Semestinya secara otomatis jalan tol tidak bayar, atau kalau terlanjur bayar, tetapi tetap macet, uang harus dikembalikan.

Nah, saat kembali ke Jakarta. Baru saja mendarat, di depan gerbang bandara saya saksikan adegan tawar menawar dan tarik-menarik,   calo/pengemudi vs penumpang. Tegang dan tak nyaman ! Padahal semua taksi pakai argo meter, semua orang sudah melek tetek bengek kendaraan.Seorang warga Malaysia yang menyertai saya bertanya, ‘Ini bandara ape ?’ Saya berusaha mengalihkan suasana untuk tidak menjawab, karena malu. Meski sadar peristiwa tadi tentusaja tak ada kaitan dengan nama besar Soekarno-Hatta yang disematkan untuk Bandara tersebut. Turun dari Taksi di ‘segi tiga emas’ Sudirman, mengantar teman ke bilangan Tebet. Naik angkot M 44, Casablanca-Kampung Melayu. Di depan Carefour macet total. Rupanya sekawanan M 44  berhenti cari penumpang. Penumpang nyeletuk,’Bapak kok berhenti, semua jadi macet’. Dijawab,’Wah, kalau gak begini gak dapat penumpang’. Tiba-tiba seseorang sodorkan tangan, dan pengemudi menyerahkan selembar tukaran Rp 2000. Penumpang tanya,”Itu siapa dan duit itu untuk apa ?’ Dijawab, ‘Preman sini, keamanan’. ‘Kalau nanti ditangkap polisi ? ’’Justru uang itu untuk polisi’. ‘Kalau begitu bapak dan polisi berkomplot bikin macet ?’ ‘Wah, saya kurang tahu, saya orang kecil, Pak ?’

Pengalaman begitu, itu, ada di keseharian Jakarta, mungkin juga di kota lain, sudah meng-Indonesia. Dulu, diwacanakan mengatasi kemacetan, Jakarta harus tambah prasarana, struktur perumahan diubah dari melebar ke vertikal. Rumah susun dan apartmen diperbanyak. Karena, makin jauh tempat tinggal makin panjang akses kemacetan. Ada yang ingin bangun Triple Decker. Namun tetap sia-sia , kalau tak ada transportasi umum layak dan terintegrasi. Sebab jalan 3 lapis, akan mendongkrak penjualan mobil pribadi dan  motor. Awalnya saja kosong, tapi lama kelamaan padat lagi. Maka, perlu melirik sistem transportasi umum seperti di Jepang, Singapura dan Hongkong. Penambahan transportasi masal bawah tanah, seperti Mass Rapid Transport (MRT), lebih tepat, banyak muatan, frekwensi tinggi tak mengganggu lalu lintas permukaan jalan. Lalu tambah armada bis 2 lantai dan Busway.  Tapi,  itu ide lama dan lagu lama. Baru busway yang terujud meski masih gamang. Apa tak ingat,  Jakarta terletak di Indonesia ?!  Fisiknya dibangun tinggi ke langit, mentalnya masih terhunjam di bumi. Selagi polisi dan para abdi negara masih hijau matanya lihat duit, meski gubernurnya malaikat, gak bakal jalan. Dulu, di era Suharto muncul konsep Triple Decker, dengan usungan grup Mbak Tutut. Gak taunya, Pak Harto lengser Mbak Tutut ikut tergeser. Belum lama, survei konsultan multinational menunjukkan 10 kota paling mahal di dunia ada di Asia. Tokyo termahal,  menjadi kantor pusat bagi banyak bank investasi terbesar di dunia dan perusahaan asuransi. Menyusul  Nagoya, paling dinamis, pusat industri manufaktur, markas besar produsen mobil Jepang, produsen komponen pesawat dan perusahaan otomotif. Yokohama, kota terbesar kedua di Jepang, menjadi basis ekonomi, khususnya bioteknologi, semikonduktor dan industri pengapalan. Kobe, salah satu pelabuhan kontainer tersibuk di Jepang.

Seoul, Ibukota Korea Selatan, rumah bagi konglomerat terbesar atau Chaebol di dunia, seperti Samsung, LG dan Hyundai. Setengah dari total penduduk negeri itu, hampir 25 juta tinggal di Seoul. Hong Kong, Si sibuk ini, sebagai Oriental Pearl, lokasi paling mahal di kawasan China. Kota dengan ‘hutan beton’ alias gedung pencakar langit, pelabuhan dan properti mahal. Shanghai, pelabuhan terbesar di dunia, pusat perdagangan dan keuangan daratan China. Kota terkaya China, tuan rumah Expo Dunia 2010. Beijing, kota dengan istana mewah, kuil dan universitas papan atas, pusat budaya dan pendidikan RRC. Singapura, dikenal  infrastruktur, fasilitas kesehatan dan sektor jasa berkualitas. Posisi strategis menjadi pusat logistik Asia Tenggara. Busan, selain kota pelabuhan terbesar di Korea Selatan, juga pusat konvensi internasional. Pernah tuan rumah pertemuan negara anggota G-20, KTT APEC 2005, Asian Games 2002. Jepang, Korea Selatan dan Cina, sebagai ‘factory of the world’ berupa negara development state. Tingkat produktifitasnya sangat tinggi. Secara traditional, sangat menggiurkan karena pertumbuhan super tinggi dan cepat. Contoh Korea Selatan, 1950 kedua paling miskin, lalu disulap jadi negara kedua paling kaya di Asia Timur. Indonesia simbolis Jakarta  dengan legenda Jayakarta mau  jadi yang mana ? Apa yang ada di kepala setiap kandidat Gubernur DKI ? Siapa yang harus jadi gubernur, atau apa yang harus dilakukan gubernur dan warganya. Orientasi kepada orang atau kepada sistem ?  Julukan metropolitan kan cuma kegagapan dan kegugupan, lebih tepat mengusung nama lama, Kampoeng Besar Jakarta. Kalau cara liberal memang tumbuh lebih lamban, tapi konon lebih stabil. Contoh Inggris, bisa stabil berabad-abad. Orde Baru ? Sama sekali tak stabil, malah habis terkikis saat krisis.Rupiah amblas ke titik nadir, 1: 16.000. Negara stabil kalau dikelola demokratis. Tapi demokrasi yang mana dulu ? Tentu yang mahal, yang sempurna rule of law –nya. Rule of law yang mana ? Rule itu lurus, low itu hukum. Jadi hukum yang lurus ya Shirotol Mustaqiim lah. Makanya setiap solat ada doa Ihdinas shirotol mustaqiim (Tunjuki lah kami jalan orang-orang yang istiqomah, yaitu jalan para Nabi, Shiddiqiin, syuhada dan sholihin). Tanpa itu manusia akan pasti rusaknya, akan lahir korupsi dan unefisien, sehingga pertumbuhan lebih rendah ketimbang development state. Atau demokrasi dengan rule of law  yang syariat Islam sungguhan.Kalau syariat Islam pura-pura tidak lebih baik dari komunis, apa lagi demokrasi yang diliberalkan. Dulu, Orde Baru tumbuh lebih pesat dibanding pasca-Orde Baru, masih untung dalam 10 tahun 3 kali berganti rejim tanpa krisis politik. Kalau diingat-ingat, abad 16, Portugis adalah makhluk Eropa pertama tiba di Jakarta. Surawisesa, raja Sunda minta bantuan Portugis mendirikan benteng di Sunda Kelapa, berlindung dari serangan Cirebon yang separatis dari Kerajaan Sunda. 

Jadi motivasinya rebutan kapling, bukan membangun manusia seutuhnya. Nah, kalau kita sekarang cuma sibuk mengurus siapa calon gubernur, apa bedanya dengan Portugis penjajah untuk rebutan kapling ? Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya. Namun sebelum pendirian benteng, Cirebon dengan bantuan Demak langsung menyerang pelabuhan. Itulah tragedi. Membumihanguskan pelabuhan dan membunuh orang Sunda dan syahbandar.Hari jadi Jakarta 22 Juni 1956 oleh walikota, Sudiro, berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah, 1527. Fatahillah mengganti nama menjadi Jayakarta (kota kemenangan). Fatahillah itu artinya kemenangan dari Allah, atau Fathan Mubiina (Kemenangan yang Nyata, al Quran Surat alFath ayat 1), yakni berhasilnya mengembalikan izzah (kemuliaan) manusia dengan ngacirnya penjajah kafir dari ibukota. Kalau dibahasa sansekertakan menjadi Jayakarta, dan orang-orang Betawi (Batavia) menyingkatnya menjadi Jakarta.

Belakangan, Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan mahkota kepada putranya, Sultan Maulana Hasanuddin. Jadi penetapan hari jadi Jakarta ada landasan motivasi kesedihan, terdapat unsur rebutan kapling. Lalu,  kapan Jakarta jadi Jayakarta (kota kemenangan). Kemenangan mengusir penjajah, menghapus kemusyrikan, menghapus keserakahan, menghapus korupsi dan kezholiman. Kita nampaknya masih mengigau pangjang dalam mimpi indah kemenangan.

           Penulis, pemerhati masalah keislaman.

 

 

 

 


1 Comment

  1. Tom says:

    fatahilah,demak,cirebon juga rebutan kapling sebenarnya ga ada bedanya berarti jaman dulu memang kaya gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: