'nBASIS

Home » ARTIKEL » KETIKA KOMUNITAS TIONGHOA MOGOK

KETIKA KOMUNITAS TIONGHOA MOGOK

AKSES

  • 564,277 KALI

ARSIP


Pada tanggal 10–13 Januari 1946, selama 4 hari berturut-turut, terjadi pemogokan total oleh pedagang dan pengusaha Tionghoa di Surabaya. Mereka memprotes tingkah-laku sewenang-wenang dan pengkambinghitaman dalam kaitan dengan penyediaan barang keperluan sehari-hari tentara dan personel pemerintahan pendudukan Sekutu yang didasarkan pada diskriminasi rasial. Ekonomi Surabaya lumpuh. Keperluan tentara dan personel Sekutu maupun komunitas Eropa, juga ekonomi distribusi umumnya, tak terlayani.


Baru sesudah pemimpin tertinggi tentara Sekutu saat itu, Mayor Jenderal Mansergh (yang kita kenal dari sejarah peristiwa 10 November 1945), mengajukan permohonan maaf dan memenuhi permintaan komunitas Tionghoa, perdagangan dan usaha pulih kembali.

Episode singkat ini, yang sempat menggemparkan media dalam maupun luar negeri waktu itu, nyaris telah dilupakan orang, termasuk dalam komunitas Tionghoa sendiri. Yang masih diingat orang, kiranya karena memang disebut-sebut terus oleh kaum rasis anti-Tionghoa, adalah milisi pro-Belanda Pao An Tui (Pasukan Pelindung Keamanan) yang reaksioner itu.

Dalam rangka mengingatkan kita kembali militansi komunitas Tionghoa-lah pentingnya penerbitan buku Andjarwati Noordjanah ini, yang berasal dari skripsinya pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Banyak kenyataan sejarah yang ditutup-tutupi atau secara tak sengaja terlupakan masyarakat kita dibuka, dan memang sudah saatnya-lah diingatkan kembali kepada masyarakat. Tujuannya sederhana: agar yang buruk tak terulang, dan yang baik dapat digunakan sebagai pelajaran.

Bersama penerbitan ulang buku Indonesia dalem Api dan Bara karangan Tjamboek Berdoeri (Kwee Thiam Tjing), yang menggambarkan keadaan di Malang dari tahun 1939 hingga 1947,[1] buku ini mengingatkan kembali kerumitan pengalaman komunitas Tionghoa di dua kota utama Jawa Timur; Malang dan Surabaya. Dan memang kajian-kajian lokal seperti inilah yang kita perlukan untuk memahami sejarah hubungan interaktif komunitas Tionghoa dengan komunitas lainnya di Hindia Belanda/Indonesia.

Andjarwati dengan cermat dan teliti menggali berbagai sumber dalam literatur maupun ingatan seorang informan serta berita-berita surat kabar dan majalah masa itu, sehingga muncul suatu kisah yang hidup mengenai zaman awal republik kita dan peran golongan Tionghoa yang tidak kecil.

Ini penting, karena stereotip di masyarakat, terutama setelah depolitisasi licik rezim Orde Baru sejak 1966, seakan mengatakan bahwa golongan Tionghoa, sebagaimana dicitrakan oleh mesin propaganda Orde Baru,[2] hanyalah sekumpulan oportunis yang menginginkan kekayaan tanpa prinsip dan tidak punya kepedulian apa pun terhadap masyarakat dan politik di sekitarnya.

Banyak orang Tionghoa maupun lainnya di masyarakat kita saat ini hanya tahu stereotip itu, karena kajian-kajian mengenai masyarakat Tionghoa lokal kontemporer kurang sekali. Akibatnya pandangan mereka tentang posisi ketionghoaan dalam masyarakat cenderung sempit dan salah. Apalagi pandangan tentang sejarah ketionghoaan di masa lampau.

Sesudah membaca buku ini kita akan makin yakin bahwa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, berbagai golongan ikut serta secara heroik dan militan, sementara ada juga golongan yang lebih mempertaruhkan nasibnya pada kembalinya rezim kolonial, termasuk golongan bumiputra. Nasionalisme yang kompleks dan inklusif kiranya dapat memproses kerumitan kenyataan ini.

Dari sini kita juga belajar bahwa kaum pedagang dan pengusaha tidaklah selalu apolitis dan cari amannya melulu, melainkan apabila diperlakukan dengan tidak adil akan melawan dengan militan.

Dalam kebangkitan kembali aktivisme golongan Tionghoa di Indonesia sesudah 1998, materi seperti yang diuraikan dalam buku ini niscaya bermanfaat, karena dapat memberikan pelajaran keberhasilan masyarakat kewargaan menghadapi kezaliman penguasa.

Leidschendam, 21 Agustus 2003

Catatan Akhir:

Dede Oetomo adalah dosen Program Pascasarjana Universitas Surabaya dan Koordinator Kelompok Kerja Pengkajian Tionghoa Indonesia.

[1] Lihat rubrik Iqra dalam Tempo No. 14/XXXII/2–8 Juni 2003.

[2] Untuk uraian komprehensif mengenai konstruksi citra orang Tionghoa di bawah rezim Orde Baru, baca Ariel Heryanto, “Chinese Identities and Erasure: Chinese Indonesians in Public Culture,” in Joel S. Kahn (ed.), Southeast Asian Identities>/I>, London, Tauris, & Singapore, Institute of Southeast Asian Studies, 1998, pp. 95–114.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: