'nBASIS

Home » ARTIKEL » Paradigma Naga Bonar dalam Dunia Pendidikan

Paradigma Naga Bonar dalam Dunia Pendidikan

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Karena pertanyaan seorang jurnalis, kemaren  saya terpaksa membuka refenrensi tentang guru, dosen dan sertifikasi.  UU mengatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Dosen adalah pendidikan profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Guru besar adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. Sedangkan sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Apa yang kurang dalam batasan-batasan normatif ini? Rasanya sudah sempurna. Padahal kemaren pertanyaan jurnalis itu ialah bahwa dengan sertifikasi banyakj guru menjadi malas mengajar. Semua mengejar uang saja.

Kebijakan pemberlakuan sertifikasi sebetulnya tidak perlu membuat segalanya menjadi transaksional. Juga sangat tidak diharapkan menstimulus (merangsang) para guru dan dosen bertindak di luar koridor hukum (antara lain menjadi plagiator) dan berbagai tindakan melawan hukum dan moral lainnya. Ada juga berita yang menuturkan pengaruh uang sertifikasi terhadap pola hidup dan bahkan perilaku seksual para guru. Penghasilan bertambah, gairah seksual bertingkah. Perselingkuhan terjadi. Meski bukan hasil penelitian ilmiah, saya kira agak masuk akal pemberitaan itu.

Semula kita menganggap hanya ada tindakan-tindakan individual yang menyimpang, tetapi mengikuti pemberitaan media, kita menjadi sadar bahwa sertifikasi ini sudah memaksa banyak guru dan dosen di Indonesia untuk menjadi manipulator ulung. Ibarat Deddy Mizwar dalam filem Naga Bonar yang sesukanya saja “memproduksi” dan menyematkan tanda pangkat ke sesiapa yang dianggapnya perlu. Ini sebuah ironi bangsa. Persis seperti persandiwaraan UN yang dikerjasamakan oleh guru dan sekolah, sertifikasi guru dan dosen sudah berkembang di luar aras pendidikan menjadi motif ekonomi murni, dengan menghalalkan segala cara. Kalau begitu apa bedanya dengan dunia perbanditan di luaran? Ada calon guru besar mengubah nama pada karya orang lain dan mengirimkannya menjadi karya sendiri ke jurnal internasional. Masih lumayan jika ia hanya memberi gagasan-gagasan pokok untuk dituliskan oleh orang lain, atau setelah menuliskan karyanya dengan sempurna dalam bahasa Indonesia, ia meminta jasa terjemahan kepada orang lain.

Institusi pendidikan kita sama sekali tidak mampu melakukan pengendalian terhadap seluruh potensi penyimpangan itu. Para guru dan termasuk guru besar yang mendapatkan kepangkatannya dengan cara seperti itu menandai pendidikan Indonesia secara kontras pada hari ini. Guru besar dengan moralitas kecil. Guru besar dengan kemampuan kecil. Guru besar dengan hasrat menjadi “wasit” ilmu pengatahuan tetapi apa daya, ia hanya guru besar berkas. Hanya administrasi pemberkasan yang dia punya, selebihnya ia seorang berkapasitas kecil dengan sumberdaya manusia yang sebetulnya menjadi beban bagi rakyatnya. Tetapi apa daya pula, institusi pendidikan kita secara nasional melegitimasi para “penjahat” atau si akal bulus menjadi pendidik. Mampuslah Indonesia.

Bukan tidak mungkin ia berhasrat menjadi nara sumber untuk sebuah forum keilmuan dalam bidangnya. Tetapi apalah daya, ia tak memiliki modalitas untuk itu. Ia tak pernah dihitung, dan sebetulnya ia cuma beban bagi komunitasnya dan dengan demikian otomatis menjadi beban pula bagi negaranya. Inilah salah satu jawaban mengapa pendidikan kita tidak maju.

Negara memberi ketentuan konstitusional anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari total APBN dan APBD. Tetapi belumlah ada manfaat langsung terhadap pengembangan pendidikan. Mengapa? Aparatur pendidikan dikendalikan oleh semangat koruptif. Begitu juga seluruh pemerintah daerah. Mereka menukangi korupsi dari dana pendidikan yang besar itu. Banyak cara yang mereka lakukan, dan rakyat sangat dirugikan. Karena itu sangat terpujilah sejumlah kecil guru dan dosen yang sangat berdedikasi dan menjadi suluh di gelap gulita ini. Mereka harus kita sebut pahlawan.

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Selasa, 26 November 2013, hlm 2.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: