'nBASIS

Home » ARTIKEL » Malpraktik: THE OTHER SIDE OF THE PROBLEM

Malpraktik: THE OTHER SIDE OF THE PROBLEM

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


USAI diwawancarai oleh seorang jurnalis via telefon, kemaren, saya langsung menulis status pada wall facebook saya demikian:

“dokter? ya sebuah profesi. ada org sangat baik di sana. ada org sangat buruk. berdoalah tak ketemu orang paling buruk. berharap institusi dan pelayanan kesehatan tidak dikendalikan orang paling buruk itu”.

Saya berusaha proporsional. Saya ingin membuka ke jalan lebih jujur, bahwa di setiap tempat ada orang buruk dan ada orang baik atau sebaliknya. Dunia ini malah pertarungan antara keduanya. Tetapi malam ini seseorang telah menuliskan pada wall facebooknya sebuah status berbahasa Inggeris. Dengan menggunakan bahasa Inggeris mungkin ia ingin berbicara lebih universal. Lewat status itu ia memang mengeluh. Hatinya teriris. Tetapi ia sesungguhnya tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya ingin difahami. Bacalah “jeritan” nuraninya ini:

Saya bukan dokter, tapi saya tumbuh di sekitar dokter . Saya telah melihat ayah saya, ibu, saudara dan saudari saya semuanya belajar begitu keras dan begitu lama, siang dan malam bekerja untuk menjadi dokter yang baik bagi pasien mereka. Saya telah melihat berapa banyak mereka berkorban untuk kebutuhan medis pasien mereka. Kadang-kadang mereka bahkan mengorbankan kesehatan mereka sendiri karena dedikasi mereka (Contoh kehidupan nyata, saudara saya sendiri mengalami stroke bulan lalu karena kelebihan beban kerja dan tekanan. Hal terakhir yang dia lakukan sebelum serangan itu ialah melakukan tindakan operasi kepada pasiennya, dan berhasil).

Pernahkah terpikir olehmu bagaimana rumit tubuh manusia? Pernahkah terpikir olehmu bahwa menjadi dokter itu adalah sesuatu yang sulit karena terutama di antara Anda tak sedikit yang mengharapkan mereka untuk “mampu” menjadi seperti Tuhan? Padahal mereka hanya manusia seperti yang lain. Mereka tidak sempurna kan? Tetapi mereka mencoba untuk menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat mereka. Tapi tetap saja, ada hal-hal yang tidak bisa mereka ubah, seperti komplikasi dalam kondisi pasien yang menyebabkan kematian. Dan Anda tahu, kematian itu sesuatu yang menjadi urusan lain di luar ilmu kedokteran. Kita harus yakin itu, karena kita beragama.

Dan ya, dalam beberapa kasus, dokter mungkin salah didiagnosis . Bahkan aku sudah berada di sana juga. Tapi itu bukan karena mereka melakukannya dengan sengaja atau, katakanlah dengan mudahnya “mereka bodoh”, tetapi karena tubuh manusia memang rumit. Beberapa gejala bisa mengindikasikan ratusan kemungkinan, dan dokter harus mempersempit pilihan dan menetapkan salah satu untuk ditempuh. Kadang-kadang, hanya kadang-kadang, mereka mengalami kegagalan melalui kesalahan yang di luar hitungan mereka. Hal ini tentu saja tidak boleh serta-merta membuat mereka menjadi dokter yang buruk. Tapi apakah Anda pernah berpikir tentang berapa banyak kehidupan telah diselamatkan meskipun kesalahan yang mereka buat tak mungkin dinafikan? Katakan padaku, apakah ada orang di luar sana yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaan mereka?

Semua orang pernah membuat kesalahan. Hanya saja kesalahan di lain pekerjaan kerap tidak melibatkan kehidupan orang lain dan dengan sendirinya memang tak butuh dramatisasi. Kini, dapatkah Anda membayangkan betapa sulitnya menjadi seorang dokter? Atau kini malah sebaliknya kini Anda justru semakin yakin bahwa menjadi dokter adalah berarti bebas kesalahan? Anda tahu dan memang saya harapkan dapat membanding. Dengan fasilitas yang sangat terbatas dalam medis, tindakan optimal yang diharapkan seolah muncul dari alam pikiran yang kurang bijaksana.

Memang Anda bisa membantah saya sekarang, bahwa negeri ini pun masih saja belum lupa sejarahnya berurusan dengan dukun dan para pengendali institusi kesehatan tradisional yang mengandalkan alam pikiran gaib dan warisan cultural yang tak rasional. Kondisi itu memang telah menjadi latar belakang kita sekarang. Anda juga bolah mengatakan kepada saya, bahwa tanpa dokter Indonesia juga bisa. Saya akan sangat sedih jika itulah yang menjadi tuduhan dalam posisi Anda memandang saya.

Yakinlah, jika mereka, para dokter itu,  melakukan kesalahan, mereka juga akan berusaha keras untuk memperbaikinya.

Sekarang, Anda tidak tahu sisi dokter dari cerita di balik aksi protes mereka hari ini. Saya mendukung tindakan ini. Orang harus mulai untuk menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada dokter. Tidak begitu banyak, tapi hanya cukup untuk memungkinkan mereka untuk menjadi manusia dan manusiawi. Dan jika bukan dokter sendiri yang bisa membela satu sama lain, maka siapa lagi? Anda mungkin memilih posisi menjadi orang yang sibuk menghakimi mereka yang salah dan tidak profesional.

Anda pasti butuh  kesopanan untuk merasakan bagaimana berada dalam sepatu mereka. Maksud saya, ketika Anda berpikir hal terbaik adalah menempatkan dokter di penjara karena dia tidak bisa menyelamatkan pasien, saya pun tak mampu menyalahkan Anda. Tetapi, dia pasti, dan sangat pasti, bukan pembunuh. Dia berusaha untuk membantu pasien, tetapi jika kondisinya sangat mustahil dan Tuhan berkata demikian, maka apa lagi yang bisa dia lakukan? Tidak ada cara dia bisa mengalahkan kehendak Allah.

Dan sebelum Anda mulai menilai, Anda tentu saja memiliki hak untuk tahu bahwa bahkan dengan tindakan protes mereka, mereka sudah membuat pengaturan bagi pasien mereka saat ini terlebih dahulu. Jadi, mereka tetap masih berpikir mengutamakan tentang tanggung jawab mereka sebagai dokter.

Seandainya kini Anda benar-benar tidak bisa mempercayai dokter Indonesia, sehingga waktu berikutnya ketika Anda atau orang-orang Anda akan lebih suka pergi ke dukun, orang pintar, tukang pijet, atau yg semacamnya, negeri sudah pulang ke awal sejarahnya. Tetap saja ada yang menganggap mungkin jari ajaib para dukun pijat bisa menyelesaikan setiap symptom dan harapan Anda.

Kita bisa ke ruang tengah: nila setitik, susu sebelangga tak boleh rusak. Bukan cuma harus dilihat dari filosofi profesinya, tetapi fakta empiris tak akan pernah terbantahkan bahwa dari sejarahnya hingga sampai sekarang, para dokter itu sebagian besar melakukan hal terbaik daripada yang buruk.

Jadi, seandainya seseorang tak berpikir sebelum menghakimi apalagi berbicara untuk konsumsi publik dengan tanpa memilah, dunia bisa terhakimi tak adil.

Salam ta’zim dari seseorang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama dengan dokter.

Sekiranya Anda berada pada posisi yang tetap menyalahkan profesi dokter, tentu saja tak seorang pun akan mampu memaksa Anda berubah. Ketiga dokter yang dipermasalahkan itu membutuhkan proporsionalitas tak hanya dalam perlakuan, tetapi juga dalam penilaian dan pandangan.

Shohibul Anshor Siregar


1 Comment

  1. Ucok Simanjuntak 15 says:

    andai mereka tau sebagai manusia biasa “betapa kuatirnya” tim dokter bila tindakan operasi yg dilakukannya tidak berhasil nanti. Makanya setiap akan ada tindakan operasi, apalagi pada pasien yg bermasalah secara medis, dia selalu minta doa dari suaminya dan si suami juga tak kalah kuatir maka langsung di doakan di setiap sang suami menghadap padaNYA. Demikian 24hours on call terus hingga tak bisa lagi bekerja suatu ketika nanti.
    Klo boleh sang suami mengatakan penghasilanmu tak sebanding dgn waktumu yg hilang bersama keluarga, tapi itulah profesi yg kau pilih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: