'nBASIS

Home » ARTIKEL » NEGARA DI MATA SEORANG TUKANG SAPU

NEGARA DI MATA SEORANG TUKANG SAPU

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


PON SYAFII
Seorang tukang sapu di kampus bertutur tentang negara. Ia berharap negara mau berubah untuk kepemihakan yang cukup terhadap warga negara, terutama kaum miskin. Ungkapan-ungkapan yang mewakili kaum miskin Indonesia itu dikemukakannya saat didaulat memberi Kata Pengantar untuk sebuah buku kumpulan puisi berjudul Berharap Ponari Menjadi Presiden.

Nama saya Pon Syafi’i. Biasa dipanggil Pon. Pekerjaan saya sehari-hari memang di lingkungan kampus. Itu sudah saya jalani berbilang tahun. Karena itulah saya mengenal banyak mahasiswa dan mereka-mereka yang sudah diwisuda silih-berganti, juga banyak dosen, baik yang sudah pensiun maupun para asisten yang baru berlatih mengajar. Ya,  karena memang pekerjaan saya melayani para mahasiswa dan dosen ini dalam perkuliahan mereka. Meski sehari-hari saya bergaul seperlunya dengan mereka, tetapi saya bukan mahasiswa dan bukan dosen.

Mengapa saya yang diminta mengatakan sesuatu tentang Negara, bangsa dan politik, dan itu akan dicatat serta dijadikan menjadi bagian dari buku yang akan diterbitkan secara luas? Padahal saya bukan orang pintar, dan saya bukan siapa-siapa. Saya benar-benar sangat heran, kok seorang tukang buka-tutup ruang kuliah kampus seperti saya ini (memang itulah tugas saya setiap hari di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dianggap penting dalam urusan orang-orang yang waktunya setiap hari dihabiskan membicarakan soal-soal mengenai kuliahan dan hal-hal yang tidak dapat saya fahami? Apa tak salah? Begitu banyak orang pintar di sekitar mereka ini, dan begitu banyak relasi orang ini dari kalangan yang berpengaruh yang mestinya lebih tepat diminta pendapatnya ketimbang saya?

Dalam keadaan dan perasaan seperti itu sangat rikuhlah saya ketika dibawa oleh Roni Jambak ke ruangan pak Shohibul Anshor Siregar yang begitu mempersilakan saya duduk, langsung diwawancarai. Saya tahu beliau ini biasanya sangat serius meski akan selalu berusaha berguyon dalam keseriusan itu. Ia biasa sangat serius. Saya sudah lama kenal, dan beliau tak pernah membeda-bedakan satu dan lain orang. Jadi langsung saja saya jawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.

Tentang Negara, saya kira banyak sekali hal yang membuat kita tidak puas. Sebutlah pemberantasan korupsi. Tidak semua kebaikan yang diucapkan dapat dilaksanakan. Bagi saya, sesuai dengan pengalaman saya, hidup itu makin hari makin sulit. Saya bukan tak ingat berbagai janji pemilu. Dikatakan akan digratiskan biaya pendidikan. Saya punya sebuah perbandingan. Anak saya ada yang sekolah di sekolah negeri. Malah saya hitung-hitung biayanya lebih besar dibanding anak saya yang sekolah di sekolah swasta.

Saya merasa politik kita bukan untuk rakyat. Saya tahu mereka yang ingin kekuasaan itu berusaha sedekat-dekatnya dengan rakyat sewaktu pemilu. Setelah itu mereka berlalu. Seolah mereka tak mengenal lagi.  Misalnya, kebanyakan dari anggota dewan hanya memikirkan kemakmuran diri mereka saja. Kita tidak bisa berkata apa-apa.

Korupsi harus diberantas agar rakyat kecil seperti saya dapat merasakan kemakmuran. Jangan yang kaya semakin kaya. Saya tidak mengenal Akil Mochtar dan para elit lainnya karena saya hanya sesekali melihat berita tv atau membaca koran yang kerap terletak di meja dosen di kampus. Saya rasa itu bukan masalah saya, dan tak mungkin saya pikirkan itu.

Saya pernah mendengar dana BLT yang belakangan diubah namanya menjadi BLSM. Juga pernah mendengar raskin, atau beras yang diberikan kepada orang miskin seperti saya itu. Tetapi saya kira itu bukan bagian saya. Bukan saya tidak membutuhkan. Saya tidak tahu apa sebabnya, tetapi jelas mereka yang menerima bantuan itu saya tahu banyak yang lebih layak kehidupannya dibandingkan saya yang tak pernah menerima.

Soal calon presiden tak ada yang cocok  saya lihat dari nama-nama yang sudah mengajukan diri sampai saat ini. Meskipun saya selalu berharap, pada suatu hari nanti pemerintah berubah dan mau membela rakyat. Misalnya, jika saya dan orang-orang seperti saya diberi modal usaha, saya yakin saya bisa berhasil dalam bidang itu. Pertanyaannya, darimana saya mendapat modal? Dimanakah seseorang seperti saya bisa memperoleh modal usaha?

Soal narkoba, saya termasuk orang yang cukup keras. Jika di kampung tempat saya tinggal sekarang ada orang yang mencurigakan sebagai pemakain narkoba, saya selalu berusaha menasehati mereka. Saya bisa mengajak orang lebih banyak untuk memusuhi orang yang akan merusak di kampung kami dengan narkoba itu. Kalau di kampung orang lain warga kami menggunakan narkoba, saya rasa itu urusan kampung itu. Tetapi di kampung saya, saya berani menyiram mereka dengan air comberan kalau mereka kumpul-kumpul sedang menggunakan narkoba.

Dalam setiap memperingati hari Proklamasi 17 Agustus, apalagi setelah 68 tahun kemerdekaan ini, saya tidak merasa ada sesuatu yang begitu penting dalam pandangan masyarakat kecuali sekadar hiburan-hiburan rakyat. Itu saja yang saya rasakan.

Buku pak Shohibul Anshor Siregar ini (Berharap Ponari Menjadi Presiden) katanya tentang Ponari yang terkenal sebagai pemilik batu sakti dan tempat orang berobat itu. Makin heran saya ketika disebut Ponari mau jadi presiden. Tetapi setelah saya mendengar percakapan pak Shohibul Anshor Siregar dengan kerabat kerjanya saya sedikit menduga tentang ini. Saya kira maksudnya ialah bagaimana jika ke depan nanti presiden Indonesia itu orang yang mampu merasakan penderitaan rakyat. Mudah-mudahan dugaan saya tidak salah. Saya setuju dengan maksud itu.

Seperti saya katakana tadi, saya sudah cukup lama mengenal pak Shohibul Anshor Siregar. Karena itu saya senang ketika diminta melalui Roni Jambak, orang yang sering membantu pekerjaan pak Shohibul Anshor Siregar di kantornya di kampus, untuk diwawancarai agar hasilnya dimasukkan menjadi bagian dari buku ini. Dalam pikiran saya, dengan buku ini berarti akan makin banyak yang meminta pemerintah memperjuangkan kepentingan rakyat. Saya bergembira karena itu.

Rakyat harus dibela. Itu harapan saya.

Shohibul Anshor Siregar, dengan sebuah penghargaan tulus dan ucapan terimakasih tak terhingga untuk Pon Syafii. Semoga ini bukan sebuah eksploitasi untuk kemiskinan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: