'nBASIS

Home » ARTIKEL » TEMANKU SYAIFUL SAGALA

TEMANKU SYAIFUL SAGALA

AKSES

  • 568,912 KALI

ARSIP


SAGALA

Posting ini adalah sebuah catatan ringan dari seorang teman untuk sebuah buku biografi. Prof.Dr.Syaiful Sagala, teman saya itu, meminta saya agar ikut memberi catatan untuk buku biografinya yang tak lama lagi akan diterbitkan.

Siang ini alangkah gembiranya hati saya membaca pesan singkat dari seorang teman yang meminta saya memberi catatan untuk dimuat dalam buku biografinya. Saya membaca beberapa buku serupa, seperti Mohammad Natsir 70 Tahun. Banyak manfaat bagi generasi muda membaca biografi seperti itu.

Kemarin di Medan ada sebuah acara peresmian nama jalan di sekitar Teladan Medan, yakni jalan GM Panggabean. Saya anggap mereka agak menutup-nutupi rencana itu sejak awal, seperti makan itak (itak adalah makanan khas Batak yang terbuat dari beras tumbuk. Ada jenis yang dimasak dan ada jenis yang hanya dipohul, dicetak dengan genggaman tangan tanpa dimasak. Jenis kedua ini, jika memakannya harus dengan mulut tertutup agar tidak berterbangan kemana-mana seperti abu vulkanik Sinabung). Mengapa GM Panggabean dipentingkan sebagai nama jalan? Terlepas dari pro dan kontra tentang itu, tentu maksudnya adalah agar ada yang dipetik sebagai suri tauladan bagi generasi berikut. Jika nama jalan kerap hanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal (kecuali teman saya Hadirat Manao yang kini masih hidup dan sehat wal-afiat, namun telah diberikan penghargaan besar dengan mengabadikan namanya sebagai nama sebuah jalan di kota Teluk Dalam, persis menuju kantor Bupati Nias Selatan. Ia memang tokoh pemekaran daerah tertinggal itu), sebuah buku biografi lazim diterbitkan saat orangnya masih hidup. Tetapi tentulah akan menjadi tantangan besar bagi seseorang jika biografinya ditulis saat ia masih hidup dan sehat wal-afiat. Mengapa? Ia sudah bertekad tak berhenti pada capaian-capaian yang diceritakan dalam buku itu. Ia akan terus maju dan maju.

Saya tahu ia sering tak sarapan pagi dan saat tiba di sekolah pun tak berani masuk kantin, kecuali memang ada temannya yang mengajak makan sepiring lontong misalnya. Pakaiannya boleh disebut sering lusuh. Banyak juga orang yang mungkin hanya memiliki sepasang seragam sekolah tetapi selalu berusaha membuatnya tetap “berseri” sehingga tak memberi tahu sesiapa pun bahwa ia hanya memiliki sepasang seragam. Tetapi Syaiful Sagala (SS) tidak setipe itu. Ia tipe apa adanya, tak akan pernah mendramatisasi, dan jatidirinya tak hendak disejajarkan dengan kelusuhan seragamnya itu. SS yang sesungguhnya sungguh tak lusuh, karena jiwanya hidup, malah penuh canda dan optimistik meski kerongkongannya kerap kering dan perutnya kerap kosong. Ia tak terkerangkeng dalam kemiskinan itu. Ia tidak fatalistik. Ia sama sekali tidak seperti ungkapan salah kaprah yang lazim sekarang ini: “sirik”. Tidak. Itu bukan SS. Di situlah mulai saya tahu bahwa orang miskin tidak selamanya harus selalu berjiwa miskin. Tetapi itu sulit tentunya, hanya dapat dilakukan oleh orang kuat seperti SS. Mungkin benar kesimpulan ini: mengikuti penjelasan Merton (1968) tentang dua nilai yang kerap bertabrakan dalam satu diri, ia tak mau mendalihkan keterbatasan apa yang dia bisa saat ini (value of capability) dengan apa yang dia mau (value of expectation) dan wajib perjuangkan. Dia memang selalu mau besar, meski jalan dan segala lorong yang ditelusurinya untuk besar itu tak selalu tersedia. Ia tetap penuh harap dan dipastikan hampir tak pernah berdoa secara naratif, karena ia tahu doa paling baik itu bukan narasi.

Tak mungkin Anda memperoleh pasal untuk memusuhi SS. Tidak mungkin. Tetapi jika mau berantam dengan dia, mengapa harus ragu-ragu? Ajaklah, ia pasti mau. Tetapi harus jelas dulu “kita mau berantam untuk apa dan karena apa. Bagaimana setelah berantam?” Maksud saya, ia tak punya musuh, atau tepatnya tak pernah dalam posisi tepat untuk dimusuhi. Mungkin saja ia sering dipanggil oleh Kepala Sekolah (Mansyur Luthan, Kepala Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah) karena menunggak uang sekolah. Bukan karena sesuatu yang tepat untuk menjadi bahan permusuhan. Itu tentu bukan karena ia mau mencari musuh. Ia hanya mau sekolah seperti yang lain, meski membayar tak semampu yang lain (Jika misalnya ia masih memiliki tunggakan uang sekolah sampai sekarang, apa boleh buat sekolahnya sudah lama ditutup. Ha ha). Karena ia merasa dirinya adalah warga negara Indonesia sepenuhnya, maka ia pun dengan amat tegar merasa berhak atas semua yang dapat diakses oleh semua yang lain. Artinya SS tahu konsep diskriminasi dan tak mau ia dikenakan dengan itu. Jika ia Negara, begitu dalam hatinya, ia akan tak menyia-nyiakan seseorang seperti SS (dirinya sendiri) dari semua akses yang seharusnya dipenuhkan, hanya karena berasal dari keluarga miskin. Seseorang adalah sangat tak berarti secara kuantitaif. Tetapi human, ya manusia, tak boleh dilihat dari aspek statistik belaka. Maka seorang SS takj boleh tak sekolah dan tak boleh tak dilayani meski uang sekolah kerap menunggak. Begitu. Hatinya tahu ada kemiskinan struktural, bahkan sebelum konsep itu diperkenalkan di Indonesia (HIPIIS, 1979) yang bukan menjadi atribut orang-orang melainkan atribut situasi dan struktur sosial. Lalu siapa yang menciptakan Struktur sosial? Bukan si Paijo, dan bukan SS. Orang menjadi miskin tak selalu karena ia malas dan apalagi bodoh. Tetapi kesempatan dan peluang tak tersedia dalam struktur yang sarat penindasan. Inilah kemudian yang dapat memicu konflik atas dasar faktor deprivasi relatif. Perasaan keterampasan yang dipanas-panasi kerap menjurus revolusi.

Saya pun tahu beberapa orang guru tak menyukai SS karena memang berfikirnya runtut dan tak mungkin dibungkam dengan dogmatika. “Apa? Mengapa? Bagaimana?” Pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu menguasai alam pikiran SS untuk setiap pelajaran apa pun di kelas. Tidak semua guru bersedia dengan pikiran dialektik terbuka menghadapi pembelajar yang kritis seperti SS. Mungkin saja di antara gurunya ada yang menuduh SS ini tak bertuhan, dan karena itu ia bukan saja dianggap ateis tetapi mungkin juga PKI. Ha ha ha. Tetapi di kelas, pastilah SS ini pernah mengantuk dan dimarahi oleh satu atau lebih dari guru-gurunya, seperti pak Mursal, pak Saldin Saleh, pak Nurut Sutan Sati, apalagi ibu Salafiah Chan guru bahasa Indonesia itu. Saya tahu itu.

Bersama Dr H Zakaria Siregar, Sp.AK atas nama Angkatan 66 Sumatera Utara saya pernah mendisain sebuah kegiatan di Medan dan untuk itu diperlukan konsultasi ke Jakarta. Itu saat transisi Orde Baru ke reformasi yang bersuasana anomali itu. SS bersama Joharis Lubis berperan penting di situ. dan ditugasi untuk mengurusi perbekalan di Jakarta. Akbar Tandjung yang saat itu Mensesneg menyanggupi semua keperluan koordinasi di Jakarta, termasuk meminta Nurcholis Madjid sebagai salah seorang pembicara yang akan dihadirkan ke Medan. SS dan Joharis Lubis bersedia tidak pulang ke Medan sebelum semua yang diperlukan selesai diurus. Urusan di sini berganda sebetulnya. Termasuk memuluskan Djanius Djamin untuk menjadi Rektor Unimed. Semua lancar. Joharis Lubis kembali ke Medan, dan seingat saya mendapat jabatan sebagai Kepala Bidang Humas di Unimed pasca pelantikan Djanius Djamin menjadi Rektor. Tetapi SS tidak pulang sama sekali. Ia ke Bandung. Di sana ia sekolah S2. S2 selesai ia hanya kembali ke Medan untuk urusan administrasi dan setelah itu kembali lagi ke Bandung dan hanya mau pulang sesudah menjadi doktor. Selama menempuh studi itu ia menulis beberapa buku. Saya ingat, inilah masa saya dan SS sama sekali tak memiliki kontak.

Saya tak mengenal salah seorang pun dari putera-puteri SS sehingga saya tidak tahu membandingkan apakah SS tua dan SS-SS muda identik bukan hanya secara biologis. Saya pun tak mengenal isterinya, tetapi kata orang isterinya aktivis juga dulunya. Saya hanya pernah sekali ke rumahnya ketika ia ada di luar kota, mengambil sebuah buku karyanya untuk dibaca oleh seorang ponakan saya yang akan maju meja hijau mempertahankan skripsi dan akhirnya tak bertemu siapa-siapa di rumah itu. Isterinya sedang ke pengajian waktu saya datang, lalu ponakan saya yang datang kembali pada malam hari mengambil buku itu. Tentang buku itu, saat itu tak ada akad apakah itu wajib saya kembalikan atau bagaimana. Tetapi hanya karena saya tahu SS, saya menyimpulkan ia sudah berhibah kepada saya, yakni sebuah buku karyanya sendiri.

Saya berharap agar SS-SS muda tak menjadi korban budaya kebanyakan orang Batak. Begini ceritanya. Karena dendam atas kemiskinan masa lalu, seseorang dari generasi pertama keluarga Batak yang sukses di perantauan kerap mengkompensasikan derita lamanya. Ia tak memberi sedikit peluang pun anak dan seluruh keturunannya beroleh derita mengulangi apa yang ia pernah alami. Akhirnya terjadi pemanjaan. Jika terlalu disuapi, anak-anak pun tak akan tahu menjawab tantangannya. Kalau tidak salah kini SS sudah pun mempunyai cucu. Ia tentu harus ingat satu lagi, bahwa antara seorang ayah dan seorang ompung, di dalam budaya Batak, ada jarak yang kerap begitu lebar dan yang melukiskan dua figur kuat yang kerap berbahasa berbeda dalam harap yang sama. Ayah bisa menampar, tetapi ompung bisa menjadi benteng perlindungan. Zig-zag memainkan pengaruh dua figur, kerap membuat generasi baru Batak di perantauan kembali merujuki sejarah masa silam orang-orang tuanya yang miskin.

Keluarga pembuat biskuit Khong Guan di Semarang sudah belasan generasi hingga kini. Juga keluarga penguasa Sampoerna. Itu karena mereka belajar sangat rinci tentang masa depan yang harus diukir serius tanpa menyia-nyiakan kesempatan sosialisasi penuh ketegasan. Haji Arbie (pendiri penerbit dan percetakan Madju, Hotel Garuda Plaza, Rumah Sakit Bunda) di kota Medan begitu gigih berjuang hingga berhasil mendirikan usaha monumentalnya yang menurut saya sangatlah menyolok di antara pribumi yang tak diback up oleh pemerintah dalam mekanisme erzats capitalism (Kunio, 1986). Haji Arbie itu bukan pengusaha yang lahir dari kebijakan pemerintah semisal Nasionalisasi aset atau program ekonomi Benteng (Linblad, 2002) yang gagal segagal-gagalnya itu. Haji Arbie adalah cemeti yang dapat diposisikan sebagai pemberi contoh yang menantang bagi para perwira-perwira tinggi militer sejamannya tempohari yang akhirnya menjadi kaya raya karena berbagi begitu saja (main tunjuk) aset yang “dirampas” dari kolonial Belanda yang terusir dengan Proklamasi 17 Agustus atas nama nasionalisasi. Jika mau mengajarkan kewirasawstaan, Haji Arbie itu patut masuk dalam kurikulum pembelajaran. Seorang yang dengan tangan kosong menjelaskan kepada dunia, bahwa hidup memang penuh tantangan tapi hidup adalah juga sebagai jawaban. Saya membedakannya dengan yang lain, termasuk TD Pardede.

Saya sama sekali tak berharap agar semua SS-SS muda menjadi professor seperti ayahnya. Jadilah mereka pengusaha, politisi atau seniman atau apa saja, yang menjalani pengasahan bakat-bakatnya hingga mencapai batas dan dengan itu mereka berbicara kepada diri sendiri, kepada masyarakatnya, kepada bangsanya dan kepada dunia. Insyaa Allah.

Kampus UNAIR Surabaya, 4 Desember 2013
Shohibul Anshor Siregar
Dosen FISIP UMSU. Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: