'nBASIS

Home » ARTIKEL » Benteng Tuanku Rao dan Andalan Pariwisata

Benteng Tuanku Rao dan Andalan Pariwisata

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


oleh Hirvan Zued

Dalam catatan sejarah  yang valid lagi faktual, Tuanku Rao, gelar Pakiah (Faqih) Moehammad, asal Padang Matinggi, Rao, Pasaman adalah salah seorang aktor Gerakan Paderi (1821-1837).

Kaum sejarawan baik yang berkategori otodidak maupun yang berlatar belakang akademik lebih cenderung menyebutnya Gerakan Paderi, dan tidak hanya berupa Perang Paderi tok—sebagaimana yang dipahami, bahkan ditularkan oleh sebagian besar penulis-penulis Belanda. Soalnya, sebuah gerakan intelektual, spiritual dan kultural jutru bertumpu pada: setumpuk gagasan, visi-misi dan action program. Sedangkan perang justru menyembulkan konflik horizontal antara kaum adat dan kaum agama, semisal yang dikesankan kebanyakan penulis Belanda tadi, dengan manuver politik devide et emperanya!

Gerakan Paderi yang berorientasi pembaruan pemikiran/pemahaman Islam (tajdidu fi al-Islam) itu, terpusat di utara Minangkabau dengan tiga lembah cukup luas. Masing-masing di lembah Alahan Panjang  Bonjol, lembah Rao dan lembah atau dataran rendah di hulu sungai Rokan dan Barumun yang mengalir ke pantai Timur.

Mastermind Gerakan Paderi di Alahan Panjang  Bonjol dinahkodai oleh Tuanku Imam Bonjol, di lembah Rao dibiduki oleh Tuanku Rao, dan di dataran rendah hulu sungai-sungai kecil yang mengalir ke Timur tadi, ditransformasikan oleh Tuanku Tambusai yang bermarkas di Dalu-Dalu. (Riau). Dengan begitu, tidaklah heran kalau sejarawan otodidak, Prof Dr Hamka, menyematkan prediket “Tiga Serangkai” nya Minangkabau terhadap Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai itu tadi. Yaitu di forum seminar Sejarah Islam di Minangkabau, pada 23-26 Juli 1969 di Padang (diprakarsai sosiolog Dr Muchtar Naim, (mantan Anggota DPD RI dan Ketua Minangkabau Study Club).

ABS-SBK & Tokoh Dakwah

Khusus Tuanku Rao, beliau telah menorehkan jasa besar membidani secara spektakuler ABS-SBK (Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah)—yang pada 1837 M, disepakati sebagai kepribadian dan jati diri (self identity) Minangkabau secara kultural dan Sumatera Barat secara provinsial—bersama Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai, di Surau Tuanku Bandaro, berlokasi di Lembah Bukit Tajadi (dilumatkan Belanda pada, 1834), pada 1813 M silam. Selain itu, Tuanku Rao juga tercatat sebagai tokoh dakwah (Rijalu ad-Da’wah) ke Sumatera Utara—khususnya sejumlah komunitas di bibir Danau Taba.

Dan, untuk mengenang jasa yang ditabur oleh Tuanku Rao, di tanah kelahiran Calon Pahlawan Nasional tersebut, yakni di Padang Matinggi, Pemerintah otoritarian Orde Baru (1966-1989) sengaja merancang-bangun sebuah benteng cukup representatif, dan dibubuhi nama Benteng Tuanku Rao. Namun, sejak  era reformasi, demokratissi dan otonomi bergulir di negeri ini, pada 1998 lalu sepertinya benteng tersebut kurang terawat sebagaimana idealnya.

Padahal bukankah sejak otonomi daerah, Pemerintah Kabupaten Pasaman yang kini dinakhda-i duet Beny Utama-Daniel Lubis lebih leluasa mengatur anggaran sendiri.Tetapi itulah rumitnya—kurenah dan kakobeh pemerintah sejak level pusat hingga menjamah kabupaten/kota. Mereka terkesan lebih berselera merancang-bangun yang berorientasi tangible asset alias konkret berupa infra struktur. Sebut saja prasarana jalan; jembatan; gedung gedung; dan atau menukuk kenderaan dinas yang nota-bene anggarannya selangit; dan lain sebagainya.

Bagaimana pembangunan berorientasi intangible asset alias yang abstrak, dan atau yang tidak nampak di mata? Nyaris lah basuluah mato-ari; bagalanggang mato rang banyak (jelas & terang benderang) mereka kayaknya hampir cuek setengah mati. Sekali lagi begitulah tipologi yang bergelayut pada makhluk yang menklaim diri dengan mulut berbuih sebagai tiang-penyangga reformasi, demokratisasi dan otonomi itu tadi.

Bagimana social control dari DPRD? Mereka itu (ulaa-ika) justru asik-maksuk dengan permainan baru. Yaitu sikap politik (politics attitude) berorientasi sehasta ke depan. Dalam bahasa yang akrab di telinga kaum kontemporer kini—itulah yang disebut sikap politik materialisme, konsumtifme dan pragmatisme.

Malah yang membuat kita terhenyak-bengong segelintir mereka terpuruk ke dalam kubangan hedonisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. Ironis lagi, menghambur-hamburkan uang yang berasal dari cucur-keringat rakyat berupa pajak dan restribusi itu, tidak hanya melanda politisi nasionalis sekuler. Tapi yang membuat rakyat mengurut dada dan kecewa, juga dimainkan oleh segelintir politisi dari Parpol yang mengusung azas Islam dan, atau berbasis umat Islam. Na’udzubillahi min-dzalik!

Hati siapa sih tidak terenyuh! Kalau seorang politisi Islam di tingkat pusat selain merampok uang Negara dalam jumlah badagok-gadang (amat sangat banyak)—juga dikelilingi dua puluh perempuan cantik, lihai dan bahenol! Tsumma na’udzubillah! Dan,  bukan rahasia umum lagi, bahwasanya habitat yang satu ini (legislatif) sejak level atas sampai bawah memang berbakat dan hobi benar menilep uang rakyat.

Dengan dalih yang didalil-dalilkan: comparative study alias studi banding; kuker/kunjungan kerja; turlap/turun lapangan dan entah apalagi terminologinya. Kalau hanya sekadar mempelajari kiat-kiat dan kaifiat menyusun dan memformulasikan sebuah Peraturan Daerah (Perda)—kenapa mesti ke luar negeri segala? Bukankan di alam digital yang kian menapak maju sekarang semuanya bisa diakses lewat internet! Tapi ya itu tadi—raun sabalik sambil berbelanja menghabiskan uang rakyat.

Sementara rakyat yang diwakili dan namanya dipidatokan tiok-cecah (tiap sebentar) tetap saja berkayuh di lumpur-lumpur kemiskinan. Rumitnya pula, di tengah lilitan kemiskinan yang semakin mendera, harga kebutuhan pokok semakin meroket. Sebut saja beras, gula, minyak goreng dan lain sebagainya. Kondisi sepertinya bertambah parah. Sebab, begitu demerintah menaikkan tarif bahan bakar minyak (BBM), harga kebutuhan primer dan sekunder di pasar sekali lagi semakin membubung hingga ke langit ketujuh!

Langkah ke Depan

Agar rakyat yang berposisi sebagai pemegang kedaulatan tertinggi secara konstitusional di negeri ini tidak lagi dijadikan sebagai sapi perahan dan dipolitisir untuk menjuluk tujuan berjangka pendek—agaknya menyelinap beberapa langkah strategis yang sejatinya diayunkan ke depan. Pertama, menyeimbangkan pembangunan fisik material dengan pembangunan mental spiritual. Sebab, guna memanusiakan manusia tidaklah cukup dengan pembangunan infra struktur doang. Melainkan mesti ada semacam check and balances.

Kedua, pembangunan yang berorientasi religius-kultural semisal membenahi dan merenovasi Benteng Tuanku Rao seperti disinggung di muka—agaknya juga sebuah keniscayaan. Sebab, di samping mengenang jasa-jasa yang diwariskan oleh Tuanku  Rao—bukankah Benteng sutradara gerakan Paderi itu bisa dijadikan andalan/ikon pariwisata yang mampu menggaet turis domistik dan manca Negara!

Lebih jauh dari itu, sejak Kabupaten Pasaman dibelah/dimekarkan menjadi dua, pada 2002 lalu, yaitu Kabupaten Pasaman (Kabupaten Induk) dan Kabupaten Pasaman  Barat yang kini dibiduki duet Baharuddin R-Datuak Syahrul itu—PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Pasaman tidak lagi sebanyak yang dahulu (sebelum pemekaran). Dan, dalam kerangka ini merehabilitasi Benteng Tuanku Rao, sepertinya sebuah gawe/tupoksi (tugas pokok & fungsi) mendesak. Lagi pula, sebagaimana yang pernah saya tulis di Haluan ini: bukankah pembangunan pariwisata justru dinikmati pertama kali oleh rakyat—yang namanya dipidatokan dengan mata berbinar setiap Pilkada dan Pemilu. Termasuk Pemilu 2014 yang sudah di ambang pintu. Semoga!*

(H MARJOHAN)

Sumber


1 Comment

  1. Tools SEO says:

    makasih sharingnya.. benar2 bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: