'nBASIS

Home » ARTIKEL » BARUS SEPANJANG BUKIT BARISAN

BARUS SEPANJANG BUKIT BARISAN

AKSES

  • 551,562 KALI

ARSIP


usman pellyOleh Prof.Usman Pelly, PhD
(Guru Besar Antropologi Unimed)

Orang Portugis pertama sesudah Marco Polo datang ke Barus dipastikan bukan mencari kamper (kapur barus) tetapi mencari emas

Pakansi Natal kali ini (2013), diniatkan untuk “sekali membuka pura dua tiga pulau terlampaui.” Pertama, memang telah lama keinginan untuk kembali ke Barus kota tua Nusantara itu, sejak perbincangan tahun 1960 dengan Dada Meuraxa, beliau tetap bertahan bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia melalui Barus.

Namun diskusi intensif dengan Buya Hamka, Mohd. Said, HA Thalib Lubis dan DR. Mukti Ali dalam seminar masuknya Islam ke Indonesia (1962),  menyimpulkan bahwa Pasai adalah kota tempat Islam pertama bermukim di Indonesia.

Memang seminar juga menyatakan bahwa Barus adalah kota internasional pertama dimana para taipan manca negara bermukim sebelum kedatangan Islam. Sekarang telah terbit buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (Jilid II, 2008) dari arkeolog Prancis Claude Guillot cs. yang mengemukakan bahwa (1) Kota Barus ada dua buah, (2) Ada kembaran Sriwijaya yang memiliki raja dan ibu kota yang berbeda, dan (3) Ditemukan sebaran mata uang emas Barus di nusantara dan Timur Tengah (Iran, Mesopotamia dan Mesir), Timur Dekat (Gujarat, India). dan (4) Bahasa Melayu telah digunakan dipantai Barat Sumatra sejak abad ke 10, maka dorongan untuk ke Barus menjadi lebih kuat.

Walaupun, dua tahun yang lalu kami sekeluarga telah ke Sorkam, ke kampung Akbar Tanjung, mengawinkan anak angkat kami dengan seorang putri Sorkam, dan kali ini kami kembali ke Sorkam menghadiri perkawinan adik kandungnya dengan seorang pemuda Jawa dengan upacara adat pesisir. Berada di tengah keluarga kaum kerabat Sorkam, memang sesuatu yang unik dan menarik. Bukan masalah kuliner, makanan yang serba lezat itu, tetapi yang menarik lagi, bahasa Melayu Pesisir dengan dialek Minang yang kental, sopan santun dan tegur sapa mereka, serasa di kampung halaman sendiri.

Air terjun Pulau Mursala. Siang tengah hari itu boat kami timbul tenggelam dibuai gelombang menghadap air terjun pulau Mursala yang gagah menjulang langit. Suasana seram dan ceria silih berganti antara gelombang yang menghayun badan dan gelinding air terjun yang menjamah tubuh. Kami berdiri terpukau. Air terjun pulau Mursala ini luar biasa. Boat kami kemudian menghindari pulau Mursala menghadap Bukit Barisan.

Kali ini kami sungguh terkesima menikmati keperkasaan deretan Bukit Barisan yang seakan muncul dari permukaan laut dari Utara sampai jauh ke Selatan, penaka barisan pasukan kehormatan yang rapi. Dititik Utara sebelah kanan pandangan kami itu terletak Barus. Itulah kota penyair legendaris Hamzah Fansuri. Kami singgah dahulu di pulau Putri makan siang.

Dua kota Barus. Kami mendarat di Barus membawa tanda tanya dimana kembaran Barus yang baru? Dalam cacatan Guillod “… nama Barus dipakai untuk  kampung di daerah Minangkabau itu tidak muncul secara kebetulan. Menurut interpretasi yang masuk akal, setelah beberapa peristiwa, sejumlah penduduk Indrapura yang terpaksa melarikan diri memilih Barus sebagai tempat pengungsian …” Para pengungsi ini sebenarnya berasal dari Barus-Pancur. Semua ini menurut arkeolog Prancis itu menunjukkan keterlibatan Barus yang kuat dalam “collective memories” (ingatan bersama) masyarakat dibahagian Selatan daerah Minangkabau.

Selain itu salah satu kronik Sejarah Barus yang berjudul “Sejarah Tuanku Batu Badan,” mencacat bahwa beberapa keluarga dari raja Indrapura telah berpindah ke Tarusan, sekitar 60 km diselatan Padang, disuatu tempat yang bernama“Barus.”(Guillod, 2008) Kecendrungan munculnya Barus-Barus kembaran ini disebabkan karena kota Barus memiliki daya tarik yang multi demensi.

Orang Timur Tengah dan Timur Dekat (India) lebih melihat Barus sebagai pelabuhan ekportir Kamper (Kapur Barus) dan Damar disamping barang tambang lainnya, sedang orang Jawa dan para penguasa Sriwijaya, melihat Barus tidak hanya sebagai muara kapur barus, tetapi pusat eksportir barang tambang yang berharga, emas dan perak. Tambang-tambang emas sepanjang Bukit Barisan, terutama di Tapanuli (Batang Toru dan Padang Lawas), Minangkabau (Tiku dan Pariaman) serta Bengkulu (Rejang dan Lebong) mengirim hasil tambang emas mereka untuk di ekspor ke manca negara via Barus.

Pedagang-pedagang emas dari Jawa sangat berperan meramaikan perdagangan emas di Barus dan di sepanjang “jalur emas” Bukit Barisan. Munculnya kota Barus abad ke 17-19 diluar kawasan Lobu Tua oleh penduduk Kerinci disebelah Timur Indrapura, dimungkinkan dalam kaitan perdagangan emas.

Dua Sriwijaya. Orang Portugis pertama sesudah Marco Polo datang ke Barus dipastikan bukan mencari kamper (kapur barus) tetapi mencari emas. Tome Pires juga mengemukakan daftar bahan perdagangan di Barus : emas, sutera, kemenyan, kapur barus, lilin dan madu serta berbagai jenis obat-obatan. Dari daftar diatas dapat disimpulkan bahwa Barus merupakan pelabuhan dan sumber bahan dagang yang terkaya pada abad-abad 9 dan 10 masehi.

Tetapi jaringan perdagangan manca negara ini seakan hanya didukung oleh hinterland pedalaman yang kaya. Memang hubungan kepedalaman, menurut kronik Batak berjalan sangat baik, mereka menghormati kepala-kepala suku apabuila datang berkunjung ke Barus. Tetapi sukar untuk dapat dimengerti pebila Barus tidak berada dalam kekuasaan kerajaan atau dilindungi oleh negara yang kuat ketika itu.

Para arkeolog memang belum mendapatkan bukti yang dapat menjelaskan hubungan Barus dengan Sriwijya, walaupun pada masa Lobu Tua (sebelum abad ke 9), kapur barus telah di ekspor dan dipasarkan di Sriwijaya dan keping-keping mata uang emas Barus telah ditemukan di Muara Jambi. Sumber-sumber dari China yang banyak mengungkapkan bahwa dalam periode yang bersamaan ada dua kerjaan Sriwijaya, satu di Palembang dan satu lagi di Jambi. Sriwijaya di Jambi inilah menurut catatan dinasti Tang (Xintang Shu) yang menguasai pelayaran Dunia Melayu sebelah Barat (Kerinci-Barus). Dinasti Tang ini menyebutnya sebagai dua Sriwijaya dengan “…dua kerajaan yang pemerintahannya terpisah.”

Memang China mengimpor kapur barus  dari Brunei, baru pada abad 15 mereka mengimpor kapur barus langsung dari Barus. Jalur pantai Barat Sumatra inilah kemungkinan yang dianggap oleh China sebagai jaringan Sriwijaya kedua (Xintang shu: Lang-po-lu-si atau Barus)? Bagaimana dengan keramik Cina yang banyak di dapati tidak hanya di Barus tetapi juga disepanjang pantai Sumatra bahagian Barat?

Dalam kaitan ini Guillod mengemukakan walaupun hubungan langsung antara China dan Barus tidak terjalin sebelum abad ke 15, tetapi keramik-keranmik China dimpor ke Lobu Tua (Barus) melalui suatu sistem pelayaran komersial yang menggunakan beberapa pelabuhan perantara. Pedagang-pedagang Jawa banyak berperan dalam komuditas China ini.

Penyebaran mata uang emas Barus. Penyebaran mata uang Barus abad 7-9 diberbagai kota dunia tidak hanya menunjukan tingkat kota Barus sebagai sebuah “negara” adikuasa, tetapi juga menampilkan betapa luas jalur maritim yang telah dikuasai atau terkait dengan luasnya perdagangan yang telah terbina. Walaupun hubungan dengan Sriwijaya umpamnaya belum terungkap oleh artifak arkeologis lainnya tetepi penemuan tiga keping mata uang emas Barus  dalam sumuran Candi Gumpung di Muara Jambi abad ke 10, sangat memberikan makna.

Apakah Siwijaya dan barus menguasai tambang emas bersama di Muara Enim (Bengkulu) atau di Tiku dan Pariaman bersama Minangkabau? Mata uang emas Barus dengan berhias “Bunga Cendana” ditemukan juga dikerajaan-kerjaan Jawa seperti Kerajaan Mataram Pertama pada abad 10 (Wonosobo). Mata uang Barus itu tidak hanya menunjuukan kekayaan dan kejayaan kota Barus tetapi juga dalam sejarah telah dicacat sebagai mata uang logam emas yang pertama dan terkuno di Indonesia. Begitu juga temuan mata uang Barus di Tanah Genting Kra (Thailand), Teluk Benggala.

Kemudian penemuan ini terungkap pula dalam penggalian-pengalian arkeologis  di Persia, Irak, Mesir dan Mesopomia. Dapat dicacatat bahwa hubungan antara Barus dan Mesir pada masa dinasti Fatimid sangat kuat, ini dibuktikan temuan mata uang Barus di Fustat. Tetapi orang-orang Mesir di Barus selalu disebut sebagai orang Arab!

Bahasa Melayu sebagai linggua franca.
Kota Barus merupakan sejenis republik kecil yang dikuasai sejumlah pedagang. Kesimpulan Guillod ini tidak berubah. Berbagai prasasti menunjukkan keberagaman budaya bangsa dikota tua itu. Ada prasasti dalam bahasa Jawa, Sansekerta.Arab dan Tamil. Nahaisan Tengah kota (down-town) dikuasai para pedagang besaryang telibat dalam perdagangan internasional dan menguasai kota.

Dalam kesatuan multi etnis dan ras ini muncul problem “linggua franca” bahasa bersama yang dipergunakan untuk komunikasi. Barus menggunakan bahasa Melayu, ini terbukti dengan parasasti dari berbagai daerah pertambangan dengan Barus (Padang Lawas : Lokanatha; Krui : Batu Bedil). Sepanjang pantai Barat Sumatra menggunakan Bahasa Melayu dialek Minang (salah satu dari tujuh dialek Melayu Nusantara), sejak abad ke 7, sehingga pujangga Hamzah Fansuri (abad 15) yang melantunkan syairnya dalam bahasa Melayu yang sejuk itu, dapat kita nikmati sampai sekarang.

Jadi tidak benar bahwa dealek Melayu Pesisir (yang digelari juga bahasa ogek-ogek Sibolga) adalah bahasa Melayu Barus (Batak Rusak). Barus adalah kota internasional yang melahirkan peradaban baru dan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa nusantara pertama di Indonesia.

source

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: