'nBASIS

Home » ARTIKEL » SENIOR

SENIOR

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


ibrahim sakty batubara

Saya pun berharap, ia akan mampu aspiratif: memahami kondisi keterpurukan kita di Sumut dan memperjuangkannya lebih baik, agar tak ada lagi akademisi dan pihak-pihak kritis yang mengumandangkan gugatan memerdekakan Sumut dari Indonesia. Gugatan itu bagi saya sangat beralasan, karena kita dianggap sepele oleh Pusat. Otonomi kita pun aneh, tak mampu mendorong gerak daerah untuk mengembangkan diri sendiri. Bayangkanlah, pendapatan asli daerah hanya bertumpu pada pajak kenderaan bermotor. Artinya kreativitas pemerintah kita sangat dipertanyakan.

Mungkin, fakta terburuk bagi seseorang ialah ketika ia tak memiliki seseorang yang menjadi tempatnya mencurahkan pikiran dan perasaan dengan leluasa tanpa kendala psikologis apa pun. Itulah teman, ya seorang teman yang tak cuma bersama dalam tawa. Seseorang itu mampu menebak perasaan kita meski terkadang masih belum kita ungkapkan.

Entah kenapa, setelah pertemuan tadi sore di Ade Taufiq Institute, Mandala, Medan, saya teringat Ibrahim Sakty Batubara, senior saya. Mungkin karena forum yang didominasi oleh sejumlah mantan aktivis yang kebanyakan dari HMI tadi (Selasa, 14 Januari 2014) sangat dinamis, dan tulus mempersilangkan gagasan-gagasan orisinal dari 10 orang peserta dan menghasilkan sesuatu yang akan ditindak-lanjuti ke depan. Ini mengingatkan saat-saat menjadi aktivis mahasiswa tempo doeloe.

Ibrahim Sakty Batubara, sebetulnya adalah senior saya. Ia memberi saya gelar Abu Bakar dan menyuruh saya menuliskan essay ringkas tentang tokoh itu sewaktu menjadi penanggung jawab Posma (perpeloncoan untuk calon mahasiswa), itu tahun 1970-an. Ia koreksi semua yang saya tulis, saya rasakan ia torehkan sesuatu dengan perlahan dan mendalam. Ia seperti berkebun. Ia menjadi figur identifikasi yang menjalankan scenario tutwuri handayani.

Aktivis Dibui. Suatu ketika dalam gelapnya malam, beberapa orang bersenjata lengkap memasuki wilayah kampus kami. Seram. “Mana Ibrahim Sakty? Ibrahim Sakty Batubara ada di mana?” Mereka bertanya terus, dan tanpa menunggu jawaban, langsung memasuki setiap ruangan, membuka semua lemari, memeriksa kamar mandi, dan bahkan mencongkel-congkel asbes.

Seseorang (Hasanuddin Panggabean) telah memberi jawaban kepada semua petugas itu dengan jelas “Tak ada di sini. Ibrahim Sakty Batubara tak ada di sini. Percuma kalian mencari di sini. Ia tak ada di sini”. Lalu seseorang bereaksi dengan mengangkat senapan hendak membenturkan ke kepala seseorang itu. Petugas yang lain menghalangi dengan berucap “ah, itu sebuah solidaritas di antara sesama mahasiswa. Jangan ambil pusing. Itu artinya Ibrahim Sakty Batubara ada di sini. Ayo terus kita cari”.

Ibrahim Sakty Batubara akhirnya ditemukan di sebuah ruangan. “Oh, di sini Anda bersembunyi rupanya”, kata seseorang petugas yang kelihatannya selalu bersikap lebih galak. Ibrahim Sakty Batubara menjawab: “Saya tidak bersembunyi. Saya tinggal di sini. Kamar saya ya ini. Mengapa saya dicari? Kejadian apa yang membuat saya harus dicari?”

Ibrahim Sakty Batubara sudah memahami betul bahwa ia adalah salah seorang target di antara sejumlah orang yang menjadi otak gerakan perlawanan terhadap Orde Baru saat itu. Akhirnya malam itu Ibrahim Sakty Batubara dibawa ke tahanan di Jalan Gandi. Di sana sudah ada aktivis yang lebih dulu ditangkap. Mungkin Mayyasyak Djohan sudah di sana. Juga Ibrahim Sinaga dari IKIP, Rahmat Adi Wiganda dari UISU, dan yang lainnya. Selama 3 bulan mereka ditahan di sana, dan dilepaskan tanpa sebuah peradilan sama sekali.

Seiring penahanan sejumlah aktivis mahasiswa di seluruh Indonesia, pemerintah merekrut tokoh-tokoh lain untuk dikumpulkan di Jakarta. Mereka yang berkumpul di Jakarta itu diberitakan telah membuat statemen yang mengutuk gerakan mahasiswa, teman-teman mereka sendiri. Ini memang sebuah taktik kuno: bipolar and segmentary process (politik belah bambu).

Kita tak memusuhi mereka yang membuat statemen di Jakarta itu. Kita gali perasaan mereka. Kita gambarkan implikasi politik dari scenario yang membuat mereka kurang lebih wayang. Kami juga menyadari mereka tak punya pilihan lain. Memusuhi mereka adalah memusuhi teman sendiri, atau keluarga sendiri. Memang didesign agar kesatuan pandang mahasiswa atas kondisi yang ada tidak pernah terjadi. Kampus yang kuat dan masyarakat yang kuat, untuk pemerintahan dengan model tertentu, adalah ancaman. Nilailah sendiri.

Jenderal AH Nasution. Suatu ketika, Jenderal AH Nasution hadir di Medan dan diselenggarakanlah sebuah Stadium General dengan tema “Evaluasi Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 Secara Murni dan Konsekwen”. Pidato Jenderal AH Nasution waktu itu sangatlah kritis.

Ibrahim Sakty Batubara dengan semangat memobiliasi teman dan junior untuk ikut Stadium General. Setelah itu kami lumat lagi semua bahan Jenderal AH Nasution dan radikalisasi pastilah meninggi. Semakin jelas penyimpangan dari Pancasila dan UUD 1945 di mata mahasiswa, dan pemerintah ternyata berteriak sesuatu yang tak dilaksanakannya.

Jenderal AH Nasution saya ingat tidak satu-satunya orang Pusat yang pernah hadir di Medan dan dimanfaatkan kesempatannya untuk mengeksplorasi masalah yang kita hadapi sebagai sebuah bangsa. Aktivis di Sumut juga kerap mendapatkan informasi dari pemberitaan-pemberitaan media kampus seperti Tabloid SALEMBA yang diterbitkan di UI dan Majalah Pustaka yang diterbitkan di ITB.

Bertemu Kasman Singodimejo. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan kritis Ibrahim Sakty Batubara tentang kenegaraan pada masa mudanya. Saya ingat ia pernah bersama aktivis lainnya pergi ke Kaliurang, Jogjakarta, untuk sebuah pertemuan nasional yang diselenggarakan oleh Dzulkabir, aktivis dari Bandung. Lazimnya, sepulang dari kunjungan mana pun, Ibrahim Sakty Batubara yang Ketua Umum Dewan Mahasiswa itu selalu memberi laporan untuk dibahas bersama, lalu menggariskan langkah-langkah yang diperlukan. Ia sangat berbakat untuk itu dan bahasanya sangat mudah dicerna, halus dan jelas. Keahlian menulisnya ditopang oleh aktivitas sehari-hari sebagai wartawan, sezaman dengan Bersihar Lubis yang pernah menjadi Kepala Biro Tempo di Medan sebelum dibredel itu.

Suatu ketika, begitu tuturnya, saya keluar dari kelas. Saya ke pemondokan. Guru saya datang menanyakan mengapa saya begitu. Mengapa? Ya, kata Ibrahim Sakty Batubara, ia baru saja mengikuti pemberitaan tentang penindasan di Palestina. “Saya tak dapat tidur beberapa hari. Saya tak fokus belajar. Saya resah, dan saya tahu bukan air mata jawabannya”, katanya. Itu kejadian sewaktu ia masih SLTA.

Jadi, masalah-masalah besar selalu menjadi hal yang menarik untuknya. Saya pun heran ketika ia berbicara tentang proses kejadian alam. Itu membuat saya bertanya sampai sekarang, bagaimana mungkin ia tahu sesuatu yang di luar disiplin ilmu yang dipelajarinya secara formal.

Saya ingat ia menulis skripsi tentang hijrah. Belakangan saya membaca bagaimana pandangan Ali Shariati tentang hal yang sama. Saya pastikan ia tak pernah bertemu dan tak pernah membaca naskah Ali Shariati sebelumnya, tetapi saya temukan pandangan yang sama. Hijrah itu momentum sangat penting. Teori Hijrah dapat sangat membantu untuk menjelaskan proses perubahan sosial universal.

Dosen Pancasila. Ibrahim Sakty Batubara adalah seorang dosen untuk mata kuliah Pancasila sebelum menjadi politisi. Ia menikmati pekerjaan itu, dan juga mata kuliah itu. Tanyalah tentang piagam Jakarta, ia pasti menerangkannya dengan baik. Tanyalah sejarah perumusan Pancasila. Ia sangat lihai menerangkannya tanpa membosankan. Tanyalah detik-detik proklamasi atau penculikan Rengas Dengklok, PPKI, BPUPKI, Maeda, ia sangat memukau dalam menjelaskan itu diselang-selingi humor yang kocak.

Reformasi menarik minatnya menjadi politisi. Ia pun berhenti menjadi dosen. Kegairahannya dalam dunia politik sangat besar. Saya ingat untuk setiap Pemilu, kecuali untuk 2014, ia akan secara khusus menanyakan kepada saya untuk ikut menjadi Caleg. Tetapi ia selalu memahami dan menghargai pandangan saya: “saya harus tetap berada di luar politik praktis”. Ia menjalani proses yang runtut dalam dunia politik. Mulai menjadi anggota DPRD Kota Medan. Disusul pada periode berikutnya menjadi anggota DPRD Sumut. Periode sekarang menjadi anggota DPR-RI. Dalam partai pun demikian. Ia menjadi Ketua untuk Kota Medan, disusul Ketua Provinsi dan kini menjadi pengurus di tingkat pusat.

DPD RI. Belum lama ini ia menikahkan putri tunggalnya si bungsu Anggi yang adalah seorang calon dokter. Saya tak berkesempatan hadir dalam acara pernikahan itu karena kesibukan di luar kota. Tetapi belakangan kami bertemu di sebuah pesta (pernikahan putera sulung Agussani, rektor UMSU). Ada waktu singkat berbincang, dan ia menjelaskan sudah mendaftar menjadi calon Anggota DPD RI periode 2014-2019. Saya fahami rencananya itu bukan sesuatu yang kebetulan. Tentu ia sudah memiliki argumen yang kuat untuk beralih dari perpolitikan melalui jalur kepartaian.

Kita hanya memiliki 4 orang wakil untuk DPD RI kan?, tanya saya untuk memperjelas rivalitas dalam jalur itu. Dia tertawa renyah, dan dengan ungkapan yang hangat dia bilang “saya berani maju kan karena dukungan pak Shohib”. Saya tahu gaya bahasa itu.

Senior. Entahlah akan rumit memosisikan diri dalam pemberian dukungan kepadanya di sela teman-teman yang juga sedang berjuang pada jalur yang sama. Tetapi saya pun yakin, teman-teman yang saya hormati pastilah akan sangat faham jika saya akan aktif membantu pemenangan Ibrahim Sakty Batubara, senior saya calon DPD RI bernomor 13 ini. Dalam kertas suara fotonya akan kelihatan kontras, karena satu-satunya yang mengenakan baju biru.

Saya pun berharap, ia akan mampu aspiratif: memahami kondisi keterpurukan kita di Sumut dan memperjuangkannya lebih baik, agar tak ada lagi akademisi dan pihak-pihak kritis yang mengumandangkan gugatan memerdekakan Sumut dari Indonesia. Gugatan itu bagi saya sangat beralasan, karena kita dianggap sepele oleh Pusat. Otonomi kita pun aneh, tak mampu mendorong gerak daerah untuk mengembangkan diri sendiri. Bayangkanlah, pendapatan asli daerah hanya bertumpu pada pajak kenderaan bermotor. Artinya kreativitas pemerintah kita sangat dipertanyakan.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: