'nBASIS

Home » ARTIKEL » APA YANG DITANYAKAN DI DAPIL ANDA?

APA YANG DITANYAKAN DI DAPIL ANDA?

AKSES

  • 564,825 KALI

ARSIP


pertanyaans

Ini sebuah pengalaman dalam penyamaran sebagai calon legislatif (caleg) 2014-2019. Memang bukan sebuah hasil penelitian yang serius.

Untuk “memotret” sebuah wilayah atau komunitas, berulangkali saya melakukan penyamaran sebagai caleg. Inilah materi perbincangan prioritas yang lazim saya temui (1) Anda selama ini jadi apa [pertanyaan seputar figuritas termasuk dengan sangat halus menyelidik agama dan suku serta pekerjaan] (2) Partainya apa? (3) Nomor Urutnya? (4) Ganjaran kerja dan harapan ke depan.

Untuk butir (1) kerap bisa mengalahkan yang lain, termasuk ganjaran. Oh, bapak yang penulis itu ya. Saya sering membaca tulisan bapak. Lalu saya tanya, di koran apa? Dia sebut satu demi satu yang pernah ia baca. Tetapi ia tak bisa membedakan saya menulis (artikel) atau saya diwawancarai oleh jurnalis dan memberitakannya. Mereka juga merelatifkan (menganggap tak penting) makna partai karena merasa sangat dekat dengan figuritas caleg. Bahkan pengurus partai bisa mengkhianati partainya dalam konteks ini (butir 2). Juga yakin seseorang caleg bisa melaju dengan rumus suara terbanyak. Berbagai kiat pun dipaparkan (butir 3).

Mereka tahu political cost sangat beda dengan money politic. Tetapi tak seorang pun yakin tanpa uang bisa menang. Juga mereka sedikit faham bahwa kedekatan dengan pengurus inti partai atau bayaran tertentu menjadi hal yang umum dalam pola rekrutmen caleg dan penempatan dalam urutan. Mereka, nah ini penting sekali, tahu bahwa suara seseorang caleg sebetulnya bisa dicuri atau diperoleh dengan cara mencuri. Tentang bagaimana caranya, sangat sedikit orang yang bisa memberi keterangan dengan sangat masuk akal. Mereka tahu juga bahwa Indonesia tak akan kemana-mana (tak akan bisa berubah) dengan pemilu ini.

Setelah data yang saya ingin peroleh cukup sempurna, saya pun mengaku bahwa saya bukan caleg. Ternyata mereka senang. Kalau bisa gak usahlah pak. Gak usah bapak ikutlah, kata sekitar 75 % responden.

Ketika ia saya anjurkan memilih seseorang, hal pertama yang muncul dalam perbincangan ialah kesan bahwa saya hanyalah seorang agen yang sudah mendapat bayaran dari caleg yang saya anjurkan dipilih itu.

Ketika pemilu 2009 ada yang menanyakan kepada saya hal-hal teknis yang cukup mendasar. Misalnya tentang parliamentary treshold. Juga tentang kesulitan menentukan pilihan di antara dua figur, padahal keduanya dicalonkan untuk level yang berbeda (satu untuk Kota, yang satu lagi untuk provinsi atau DPR RI). Musim politik 2014 tak saya temukan pertanyaan itu, atau belum bertemu dengan orang yang serupa.

Pada umumnya tak dianggap penting mengetahui apakah sudah terdaftar atau belum dalam DPT. Mereka tahu DPT itu tak ubahnya proyek untuk menguntungkan orang-orang tertentu secara tak bertanggungjawab.

Bagaimana dengan caleg dari dapil yang sama untuk kedua atau ketiga kalinya? Umumnya ada kekecewaan. “Sudah lupa. Sekarang saja mau datang kembali untuk dipilih. Itu fatal”, katanya.

Satu lagi, reaksi para pengurus parpol amat berbeda, begitu pula para caleg yang merasa akan menjadi saingan keras. Karena saya tak pernah menyatakan diri (dalam penyamaran) sebagai calon anggota DPD dan tak pernah bertemu dengan calon dari jalur itu, maka saya tak dapat melaporkan reaksi itu untuk Anda.

Mudah-mudahan bermanfaat buat rekan dan rekanita caleg.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: