'nBASIS

Home » ARTIKEL » KAMPUNG KUBUR

KAMPUNG KUBUR

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


MALAM ini seorang jurnalis lokal bermaksud mewawancarai saya via handphone. Saya rasakan ada gangguan dalam signal sehingga suara di seberang sana hilang-hilang timbul. Lalu saya minta ia ajukan pertanyaan tertulis via email saja. Berikut hasil wawancaranya:

(1) Bang Gimana abg lihat Kampung Kubur? Kok macam ada pembiaran dari pemko medan

Beberapa bulan lalu saya mendapat pengakuan dari seorang warga Medan yang salah tangkap. Seorang pemakai narkoba teman sekerjanya meminjam sepeda motornya untuk beli narkoba. Tertangkap. Si tersangka, dia dan seorang teman kerja lainnya, diciduk di tempat kerja itu. Rupanya tidak segera dibawa ke kantor polisi. Dalam perjalanan diminta 86 atau 88. Saya baru tahu 86 itu rupanya lepas dengan sejumlah uang dari tersangka. Kode 88 rupanya semacam barter, jika kita sebagai tersangka dapat menunjuk seseorang dengan kelas lebih tinggi dalam peredaran narkoba. Syarat 88 itu, jangan yang di kampung kubur dan jangan di … (yakni sebuah tempat yg tak perlu saya sebut).

Lihat artikel saya:
https://nbasis.wordpress.com/2013/06/03/kode-86-dan-kode-88/

Jadi, saya merasa sudah menjadi rahasia umum di antara para penegak hukum, mana wilayah siapa dan mana wilayah yang menjadi kekuasaan pihak lain. Sangat mencengangkan bagi saya, setiap saat berita koran mengumumkan penangkapan gembong, tetapi kok masalahnya tak kunjung reda. Apa pengertian gembong menjadi sangat sulit difahami.

(2) Td sy udh konfirmasi BNN, mereka bilang tidak bisa hanya dengan cara penegakan hukum menghilangkan narkoba di kampung kubur, tp jg harus peran pemerintah. Nah sampai hari ini aku lihat belum ada peran pemerintah

Pekan lalu seorang jurnalis meminta tanggapan saya tentang rencana BNN yang akan memeriksa urin anggota legislatif. Logika mereka, ini akan efektif karena para anggota legislatif itu adalah tokoh populer dan sekali mereka baik akan diikuti oleh jaringan dan halayak di bawah. Jawaban saya waktu itu ialah, saran saya sebelum memeriksa urin yang lain, terlebih dahulu urin orang BNN dan seluruh jajaran kepolisian serta semua pihak yang dilegitimasi hukum sebagai pemegang senjata yang diperiksa setiap hari selama satu bulan tanpa henti dan tanpa kecuali. Jangan takut, jika memang tujuannya memerangi narkoba dan menyelamatkan negeri. Jangan pula takut jika misalnya 60% dari terperiksa akan dimasukkan ke institusi rehabilitasi, atau bahkan diberhentikan dari tugas. Kita perlu kejujuran.Saya sangat tak yakin peran serta masyarakat dalam konteks ini. Kini masyarakat sudah pada taraf takut. Mereka tahu ending dari segala proses hukum narkoba. Artinya, bukan tak ada dan bukan tak penting peran masyarakat. Namun apa yg dapat dilakukan oleh masyarakat saat para penegak hukum mereka ragukan komitmennya?

Beberapa bulan lalu saya diundang untuk sebuah pertemuan di BNN Medan. Dari puluhan peserta saya tak mau bicara apa pun. Tetapi saya simak ceramah Kepala BNN Medan (1) Dua pertiga uang yang beredar di Indonesia dan dunia adalah uang narkoba. Nah, ini kan mengisyaratkan kondisi dunia dan Indonesia yang begitu rentan terhadap uang narkoba. Kira-kira daya apa yg bisa untuk merubah keadaan? Ini jaringan internasional diam-diam legal atau diam-diam disepakati (2) Tahun 2015 dikatakan Indonesia akan bebas narkoba. Tetapi melihat kondisi sekarang saya tak yakin itu sama sekali.

Jadi, jika hendak memeriksa urin, dahulukan pemeriksaan atas petugas. Jika sudah clear pada bagian ini, saya kira urin siapa pun tak perlu lagi diperiksa. Masalah kita dengan narkoba otomatis selesai.
(3) Klo tau, boleh lah bg dijawab sejak kapan kampung kubur menjadi trademark sarang narkoba di Medan
Saya awam mengenai hal ini, dan juga banyak hanya mendengar cerita dari para jurnalis. Tetapi bagi saya tidak ada mitos di hadapan hukum. Seseram apa Kampung Kubur? Atau Kepolisian sudah menyatakan menyerah?
(4) Solusi nyata apa yg bisa membuat kampung kubur bisa terbesas dari narkoba. Pasalnya di dalam sudah sangat terang-terangan masyarakat menjual narkoba?
Perilaku dan kelaziman itu tidak muncul tiba-tiba. Itulah hasil “dialog” dengan hukum. Jika mereka tahu hukum adalah mainan komersial, maka mari beradu keuntungan dengan narkoba. Kira-kira begitu. Jadi, tak ada solusi jika pagar tetap saja makan tanaman.
(5) Tidak mungkin kan narkoba di kampung kubur dikirim dari atas pesawat, pasti ada jalur darat. Nah, kenapa kok bisa masuk terus narkoba di dalam Kampung itu. Kerja kepolisian gimana bg?
Nah, pertanyaan ini semakin memperjelas kepada saya bahwa networking jahat ada di situ. Piaraan siapa? Siapa yang kaya raya dari situ. Berfikirlah untuk Indonesia.
MERDEKA
MERDEKA
MERDEKA

 

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: