'nBASIS

Home » ARTIKEL » AHMAD ZUBEIR GULTOM

AHMAD ZUBEIR GULTOM

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


Pagi ini saya menerima sms dari no 0813769931514 bunyinya begini: “Tulang, ayah sudah gak ada. ini isteri Ahmad Zubeir Gultom”. Saya balas, “tolong sms-kan alamat”. Karena tak ada jawaban, saya telefon beberapa kali. Tetapi tidak menyahut. Kemudian ada balasan: “Tulang, ayah sudah tak ada lagi. Ini anak Ahmad Zuberi Gultom. Alamat Jalan Karantina Gg Silaturrahim No 10, Medan”. Saya ingin memperjelas dengan berbicara via hp, tetapi berulangkali tak disahuti.  Saya berkesimpulan: Rekan sekelas saya di Peanornor (1971-1974) dan di Padang Sidimpuan (1975-176), Ahmad Zuber Gultom, asal Batunadua, Pangaribuan, sudah berpulang ke rahmatullah.

Beliau meninggalkan seorang isteri dan seorang putra. Ahmad Zubeir Gultom tutup usia 56 tahun. Setelah menamatkan PGA sempat melanjutkan kuliah tetapi hanya sampai tingkat sarjana muda (hukum). Meski begitu, saya dengar sempat juga ikut membantu praktik bantuan hukum dengan seniornya.

Semoga segala kekhilafan beliau diampuni, dan mendapat tempat sebaik-baiknya di sisiNYA. Nanti sekitar pukul 09.00 WIB saya akan ke sana.

Orang yang sangat setia. Rendah hati, dan memiliki ingatan dan kecerdasan sangat kuat. Imaginasinya pun luar biasa. Saya baru bertemu dengan sepatu roda dan skateboard sekitar tahun 1990-an di Medan. Tetapi ia pernah bercerita kepada saya, kita bisa berjalan lebih kencang tanpa menguras tenaga dengan memberi roda pada sepatu. Tetapi harus pandai menjaga keseimbangan. Waktu itu saya tertawai saja dia. Kayuhlah sepedamu itu, lae. Berlomba kita. Siapa nanti paling cepat sampai di sekolah, akan digendong dari parkiran hingga ke ruang kelas. Jelas saya selalu kalah.

Itu kejadian di Padang Sidimpuan, setelah kami pindah dari Penornor. Ketika di Peanornor, Ahmad Zubeir Gultom sangat rajin mendermakan barang sedikit beras merahnya yang harum. Luar biasa. Saya ingat ia sangat hormat dan selalu mengalah kepada ipar (hula-hulanya) Amron Sitompul asal dari Janji Angkola. Memang sangat santun beliau ini.

Saya pernah dibawanya ke Batunadua. Menginap beberapa hari di sana. Kemudian ke Sigotom, ke rumah tulangnya.

Di Padang Sidimpuan kami mempunyai cerita sedih. Suatu ketika bertepatan hari pertama ujian akhir. Saya menjemputnya ke rumahnya di Jalan Rambin II Padang Sidimpuan. Ia tak mau karena ia tak mempunyai uang ujian. Saya yakinkan dia: Ini ada uang saya, nanti kita musyawarahkan agar uang ini menjadi bayaran masing-masing separoh dari kita berdua. Dia mau. Tetapi tiba di sekolah, kami tak dilayani. Kepala Sekolah, Pak Pulungan tidak memberi kesempatan kepada kami meski kami sudah menyatakan bahwa jika kami tak bayar pelunasannya nanti tentu ijazah kami tidak boleh kami anggap sebagai hak kami. Tetapi tak mempan juga.

Akhirnya kami meminta rapor dan surat keterangan. Saya tak membaca surat keterangan itu. Tetapi setelah di Medan saya baca, rupanya kami berdua dinyatakan tidak lulus Ujian. Cerita sedih itu berlalu begitu cepat, karena saya pun berusaha mencari jalan untuk memperoleh ijazah. Akhirnya saya mendaftar ujian extranei untuk PGA dan Aliyah. Tiba saatnya, saya ikut ujian: Lulus keduanya.

Sebagaimana halnya kedatangan kami berdua ke Padang Sidimpuan, baik saya maupun Ahmad Zuber Gultom tidak saling tahu. Kami hanya bertemu di kelas yang sama. Di Medan juga begitu. Setelah saya semester 5 baru bertemu dengan dia. Di Medan seolah kami bersepakat tanpa musyawarah: “Kita tidak usah lagi terlalu kompak seperti di Peanornor atau di Padang Sidimpuan. Jika harus mengulangi itu, kita akan sering lupa daratan dan tak ingat berbagai kewajiban studi”.

Meskipun begitu, ia kerap datang ke rumah saya dan pernah menginap beberapa hari. Bahkan isteri dan anaknya pun pernah dibawanya ke rumah saya.

Teman sekelas kami di Peanornor antara lain Bismar Rambe, Nurhayani Panggabean, Ibrahim Gultom, Maslia Sitompul, Alopsen Gultom, Rosmina Gultom, Batarindo Ritonga, Muhammad Panggabean (Kammat), Serlan Sitompul, dan lain-lain.

Di Padang Sidempuan kami seangkatan dengan Manahan Tambunan, Hamdani Lubis, Gundur Nasution, Abd Hakim Nasution, Muhammad Harahap, Hamdani Harahap, Zufri Siregar, Syafii Siregar, M Hasby Nasution, Musyaffa Daulay, Parlindungan Batubara, Syaifuddin Lubis, dan lain-lain.

Kini, setelah sahabat saya ini pergi, saya baru merasa tak banyak memberi perhatian kepadanya. Saya tak tahu apakah ia seperti itu juga kepada saya selama ini. Tetapi belakangan saya tahu sedikit, bahwa ia agak menutup diri karena mengira saya sudah berubah. Katanya waktu itu, ia pernah bertemu dengan seseorang yang lain, dan ternyata seperti tak mengenal. Sudah berubah jauh, katanya.

Saya tegaskan waktu itu, siapa yang berkesempatan di antara kita harus mendahului untuk menghubungi atau berkunjung. Saya tegaskan lagi, secara ekonomi kita tak jauh berbeda. Karena pekerjaan mungkin kita memiliki relasi-relasi yang berbeda. Hanya itu.

Dia setuju. Itu sekitar 3 tahun lalu barangkali.

Surgalah tempatmu, kawan. Insyaa Allah.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: