'nBASIS

Home » ARTIKEL » AMIEN RAIS: CERDAS, BERANI DAN RENDAH HATI

AMIEN RAIS: CERDAS, BERANI DAN RENDAH HATI

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Posting ini didasarkan pada wawancara dengan Arnold Budiman Hutasoit, seorang pengusaha Medan yang memiliki hubungan dekat dengan AMien Rais. “Waktu itu PAN belum didirikan. Tetapi saya sudah mendengar nama pak Amien Rais. Saya tertarik. Saya bermaksud mengundang beliau untuk bicara dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh organisasi kami (gabungan pengusaha Kristen). Waktu itu saya hubungi salah seorang yang dekat dengan beliau, yakni pak Amri Siregar.  Saat itu pak Amien Rais sedang transit di Bandara Polonia dalam perjalanan ke Aceh”. Itu penuturan Arnold saat memulai wawancara.

Mengapa pak Amien Rais? Saya melihat pak Amien Rais orangnya pemberani, jujur dan pintar. Banyak tokoh kita yang pintar tetapi tak berani mengambil resiko. Pak Amien Rais saya lihat selalu seakan tak peduli resiko.  Tanpa mengecilkan tokoh-tokoh lain, tentulah kita harus mengakui bahwa tanpa pak Amien Rais kita tidak dapat membayangkan reformasi di Indonesia. Jadi, saya berfikir, inilah orang yang sangat tepat dibawa berbicara di organisasi kami. Saya memang berfikir waktu itu bagaimana mendekatkan umat Kristen dan umat Islam.

Tetapi saya tidak tahu bahwa di dalam Anggaran Dasar organisasi kami itu tidak diperkenankan membawa orang non Kristen sebagai pembicara. Saya tegaskan pendirian saya bahwa jika organisasi kami tak dapat menerima beliau sebagai pembicara, maka saya tetap akan membawa beliau untuk acara yang sama (seminar) tetapi atas nama organisasi lain. Tetapi akhirnya  saya berhasil meyakinkan pengurus lain itu, dan mereka menerima meskipun ada catatan bahwa segala resiko akan saya tanggung sendiri. Waktu itu kan pergolakan di Indonesia karena reformasi yang dipimpin Pak Amien Rais itu belum selesai . Jadi bukan saja orang di organisasi kami yang merasa tak nyaman. Bahkan hotel yang sudah saya pesan akhirnya menolak karena pembicaranya pak Amien Rais. Karena ditolak di hotel ini saya pun pindah ke hotel lain.

Kali ini saya pakai taktik dengan segera membayar lunas biaya yang dikenakan hotel. Tetapi setelah mendekati hari H pihak hotel akhirnya tahu bahwa pembicaranya adalah pak Amien Rais. Hotel kedua ini pun menolak. Tetapi saya mengancam: saya sudah bayar. Saya bisa menuntut. Sangkin takutnya pihak hotel ini malah kepada saya dipertanyakan “jika hotel ini hancur Anda tanggung jawab?”  Ha ha ha.

Acara itu sukses. Pak Amien Rais berbicara dengan topi “Memberantas Diskriminasi Menuju Indonesia Baru”. Setelah acara itu saya ditelefon pimpinan  organisasi kami dari Jakarta. Mereka memuji dan model yang saya buat dianggap bisa menjadi patron. Malah Anggaran Dasar yang rada ekslusif itu pun akhirnya dirobah.

Saya merasa diistimewakan oleh Pak Amien Rais. Banyak orang PAN yang kaya dan punya mobil mewah. Tetapi saya lihat pak Amien Rais senang naik mobil saya.

Saya melihat Pak Amien Rais ini begitu tulus. Karena tulusnya hingga rasa takutnya tidak ada. Bayangkan saat musim kampanye mobil kami dicegat massa. Beliau langsuyng turun dan berdialog sejenak. Rupanya massa itu meminta Pak Amien Rais mencoblos alat peraga yang sudah disediakan di tempat mereka yang tak jauh dari jalan lintasan. Saya sendiri sebetulnya cenderung ingin mengabaikan permintaan massa itu. Siapa tahu sekadar modus untuk mencederai pak Amien Rais. Tetapi nyatanya pak Amien Rais benar.

Saya banyak membuat acara untuk Pak Amien Rais. Saya sangat memuji kecerdasan, karakter dan kepintarannya. Biasanya saya menghubungi beliau dan langsung diberi jawaban. Paling soal waktu yang kerap kami bincangkan.  Tidak soal tema. Tetapi, lazimnya sebelum naik podium Pak Amien Rais akan bertanya kepada saya “ Pak Hutasoit, apa topik yang akan saya bicarakan?” Tapi setiap ulasannya sangat bernas, penuturannya runtut dan dengan bahasa yang sangat teratur.

Pak Amien Rais itu sangat rendah hati. Saya pernah membawa beliau ke pertemuan pendeta HKBP se-Indonesia yang berlangsung di Tarutung.  Saya Tanya beliau apakah mungkin menghafalkan beberapa kalimat pembuka yang lazim dalam pidato orang Batak pada umumnya. Beliau bersedia. Audiens pun sangat terharu. Setelah itu kami pun mengunjungi Bupati Taput. Di sana pak Amien Rais tak lupa memberitahu, bahwa yang mempersiapkan pembukaan pidato berbahasa Batak itu adalah saya. “Saya mendapat pelajaran bahasa Batak 4 sks dari pak Hutasoit”, kata beliau sambil menunjuk saya dengan jempol beliau. Bayangkan betapa tersanjungnya saya di depan halayak.

Saya tidak meninggalkan PAN. Anak saya tahun ini ikut calon. Semangat pak Amien Rais saya lihat masih tetap ada di PAN.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: