'nBASIS

Home » ARTIKEL » Moralitas Pengelolaan Bencana

Moralitas Pengelolaan Bencana

AKSES

  • 564,816 KALI

ARSIP


Seorang jurnalis bertanya kepada saya:

Anda terganggu tidak dengan aksi/gerakan/aktivitas pengumpulan sumbangan bencana Sinabung yang banyak ditemukan di jalan-jalan itu? Bahkan, lucunya kok sepertinya jadi banyak yang menyalahgunakan ini. Ada kawan di sebuah media penerbitan cetak yang lihat seorang mamak-mamak yang duduk teronggok di simpang jalan, kemudian menulis sinabung pada karton yang didirikan di sebelahnya.

Pertanyaannya:
(1) apakah mamak-mamak itu korban sinabung atau pengemis yang memanfaatkan kondisi sinabung menjadi tujuan untuk meraih simpati orang yang melihatnya?
(2) Menurut Anda, secara sosiologis apa yang bisa diungkapkan mengenai hal itu? Kemudian, aksi-aksi sumbangan itu, kan harus ada ijin dari dinas sosial dan polisi, tapi beberapa nyatanya tidak memiliki izin.
(3) Bagaimana kaca mata Anda sebagai sosiolog melihat hal itu? Lalu dalam pandangan ilmu sosiologi, mengapa orang begitu mudahnya memberikan uang terhadap korban bencana? Apakah dengan memberikan uang, bisa menyelesaikan masalah si korban tadi?

Begitulah kira-kira pak pertanyaannya. Mohon dijawab. Terima kasih banyak pak.

***
Sewaktu bencana tsunami di Aceh, saya membaca berita ditangkapnya seorang pria yang pekerjaannya mencari mayat yang jarinya berhias cincin. Di kantong pria ini ditemukan cincin dalam jumlah yang banyak. Anehnya ia bukan orang Sumatera Utara. Ia hadir di arena bencana justru untuk “menanggok” , atau mencari kesempatan dalam kesempitan.

Setelah berlangsung sekian lama, kita pun membaca berita bahwa bantuan-bantuan yang disalurkan ke titik bencana menguap ke daerah lain. Banyak ikan kaleng, selimut dan lain-lain yang sesungguhnya adalah paket bantuan bencana ke Aceh justru ditemukan di sekitar Pangkalan Berandan dan wilayah-wilayah lain di Langkat yang berjarak terdekat dengan Aceh. Harganya lebih murah, tentu saja.

Kita harus berfikir benar, bahwa jika orang yang memiliki akses ke pengambilan kebijakan di arena bencana Aceh bertindak benar dan terukur, hal itu tidak akan terjadi.

Jadi, selain profesionalitas pengambil kebijakan, juga harus dilihat adanya orang jahat yang dengan mudah memanfaatkan keadaan buruk untuk keuntungan sendiri. Siapakah orang jahat ini? Bisa siapa saja dan bisa orang yang “main mata” dengan pengambil kebijakan.

Jika kita cukup kritis melihat setiap proses penanggulangan bencana di seluruh tanah air, tentu dengan mudah kita dapat menemukan berbagai ketidak beresan dan penyimpangan. Meski lazimnya tak akan terbuktikan oleh hukum, dan memang sengaja dibuat tak terbuktikan oleh hukum, tetapi berita yang disiarkan oleh media cukup jelas menggambarkan korupsi BRR, baik di Aceh maupun di Nias.

Tentulah itu sebuah puncak gunung es belaka. Artinya, yang terberitakan itu hanyalah bagian kecil dari fenomena. Tetapi sayangnya Negara majal seperti tak memiliki sense of crisis. Padahal pasal 2 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dinyatakan bahwa pelaku korupsi dana bencana bisa dijatuhi hukuman mati.
***

Selain eksploitasi rasa keagamaan, kita juga melihat anak-anak balita di jalanan dipergunakan untuk mengumbar rasa hiba demi segepok sumbangan dari pengguna jalan yang berlalu. Para peminta-minta pun melakukan pematutan diri untuk merangsang rasa hiba.

Dari satu segi ini menjadi dasar bagi pemberlakuan hukum larangan memberi dan menerima uang kepada peminta-minta meski patut disesalkan bahwa peraturan ini hanya mengerti fenomena hilir belaka. Memang naïf karena peraturan demikian tak berfikir masalah hulu, yakni problematika politik, ekonomi dan sosial yang melekat pada negara yang membuat kemiskinan massal.

Ini sangat berbeda dengan fenomena tunanetra yang datang dari satu ke lain rumah memperkenalkan diri dari sebuah lembaga dan menawarkan produk pekerjaan tangan mereka (sapu, alas kaki, dll). Juga sangat lebih mulia tunanetra yang bernyanyi dari satu pesta ke pesta lainnya sebagaimana sudah mulai lazim di Medan saat ini. Anda mungkin pernah melihat pamflet Tukang Pijat Berijazah Tunanetra. Itu lebih mulia.

Dalam kajian ilmu pekerjaan sosial (social work) seseorang harus diberi untuk dapat memberi (to help people to help themselves). Tidak boleh melulu bersifat karitatif (rasa hiba belaka), karena yang dituju ialah keberfungsi-sosialan seseorang penyandang masalah.
***

Saya pun tertegun mendengar penuturan kritis seorang teman. “Anda tahu, katanya, ada orang yang seolah berdoa agar ada bencana entah dimana. Bencana itu akan menjadi peluang buat dia, datang ke sana membawa “mi balap” murahan, jauh lebih murah dari biaya publikasi media yang dibayarnya untuk popularitas agar ia dianggap saleh dan peduli”. Begitukah yang terjadi?

Saya pun teringat ketika beberapa tahun lalu Parluhutan Siregar menceritakan bagaimana ia menjadi naik pitam karena bantuan yang dibawanya diklaim oleh sebuah partai.

“Saya baru tiba dan menurunkan beberapa ton beras di sebuah titik bencana di Langkat. Setelah itu saya pergi sholat ke sebuah mesjid. Alangkah terkejutnya saya ketika kembali dari mesjid menemukan sebuah bendera partai di tancapkan pada tumpukan beras yang akan saya distribusikan”.

Saya dengar dalam bencana Aceh pun ada hal aneh. Partai tertentu tak mau mengurusi mayat yang berserakan, karena mayat itu tak lagi memiliki hak suara, tentu saja.
***

Saya pun tak setuju sebuah tv nasional yang dalam wawancaranya kemaren malam terasa sangat tendensius seperti memberi pertanyaan-pertanyaan ujian yang menjebak kepada Bupati Karo. Benarlah mungkin ada kekurangan di sana-sini. Tetapi Anda harus tahu bahwa pilihan kata dan struktur berfikir yang tertuang dalam bahasa seseorang tak selalu sesuai dengan bahasa dan selera jurnalismemu, dan itu tidak menjadi bukti bahwa dia tak tahu apa-apa dan dia tak peduli. Bukan. Bukan seperti itu.

Bahkan saya yakin sebagai jurnalis Anda kerap dan lebih banyak bertemu dengan orang yang lancar bicara dan sangat masuk akal ucapannya, tetapi dengan itulah ia menjadi terlihat sangat baik, sangat jujur dan sangat profesional. Padahal sesungguhnya fakta sangat terbalik.

Ketika kau memojokkan Bupati Karo, sebetulnya apa yang kau harapkan? Apakah partaimu menganggap untung jika berhasil menumbangkan Bupati Karo saat bencana begini?

Kau lupa bahwa Presidenpun datang saat orang merasa sudah terlambat sekali. Kau tidak tahu kemaren orang sudah mendesak dengan geram Nurdin Lubis, sekdraprovsu, agar tak berpangku tangan saja menyaksikan bencana tak ditetapkan sebagai bencana nasional.

Saya menerima komentar dari seorang jurnalis senior, Tikwan Raya Siregar. Katanya begini:

Berita tentang bencana alam di TV ditampilkan seperti sinetron. Ada musik sedihnya, ada slow motion-nya, dan editingnya sangat reduktif seperti editing film China. Kadang-kadang ada pula syair dan puisinya oleh si pembaca berita. Orang menjadi tidak tahu apa yang dibutuhkan para korban bencana secara spesifik. Sebab yang ditampilkan TV adalah emosi. Di Jakarta, korban banjir malah sudah menolak beberapa bantuan karena merasa tidak memerlukannya. Masyarakat kita memang demikian halus jiwanya, sehingga emosi mereka sangat mudah tergugah untuk menolong, meski akhirnya sering salah sasaran dan tak mencapai tujuan. Semoga semua niat baik sumbangan itu tetap menjadi pahala di sisi Allah. Amin.

Jakarta tidaklah begitu tahu peran Tanah Karo dalam pemasokan sayur dan buah untuk Sumatera Utara dan Indonesia. Bukankah jika kau seorang penguasa harus lebih jeli dan rinci memetakan dampak perubahan sosial yang sangat luas akibat bencana erupsi?
***

Dalam beberapa rites of passage, katakanlah perkawinan, sebuah keluarga akan menghadapi pengeluaran-pengeluaran yang tak rasional. Kita analisis mulai dari tawar-menawar dua keluarga tentang apa yang lazim disebut “uang hangus atau antaran”.

Biasanya ayah dan ibu dan keluarga inti calon pengantin pria dan wanita akan dihadapkan pada suasana yang amat tak bersahabat karena tingkah memanas-manasi dari halayak yang hadir dalam acara. Lazimnya calon pengantin pria dan wanita jauh-jauh hari menyepakati angka tertentu. Misalnya Rp 5 juta.

Dalam pertemuan resmi di tengah halayak, mereka sebut saja Rp 15 juta. Dengan begitu, pihak luaran yang lazim ikut memanas-manasi tidak memiliki peluang untuk ikut campur memperkeruh keadaan. Lihatlah, kedua keluarga itu kan harus menjadi famili sangat dekat, tetapi dengan rangkaian rites of passage perkawinan tak jarang mereka mengawali hubungan dengan ketegangan.

Jika pesta (perkawinan) diadakan di sekitar lingkungan, saksikanlah aksi-aksi liar yang mengatas-namakan fungsi tertentu. Mereka bukan hanya meminta makan dan minum, tetapi juga rokok dan bahkan minuman keras. Jika mereka terlibat langsung dengan pekerjaan yang melancarkan pesta, tentu lazim mendapat makan dan minum dan mungkin juga rokok. Tetapi yang saya maksudkan bukan kelompok aktif yang memberi andil tenaga itu. Bukan. Melainkan kelompok lain yang seolah sangat siap akan melakukan kekerasan jika kebutuhannya tak dilayani.

Semua latar belakang ini sangat signifikan memengaruhi cara-cara kita dalam menanganggulangi bencana.
***

Lima bulan lalu saya ditelefon oleh seseorang karena kesulitan uang untuk mengadakan pesta kematian orangtuanya. Ia menggambarkan jika ia tidak memperoleh uang satu-satunya cara hanyalah menjual sawah warisan orangtuanya beberapa puluh juta (saya perhatikan mekanisme ini memiliki andil penting dalam proses pemusatan kepemilikan tanah) agar dapat membeli kerbau dan biaya makan minum serta biaya-biaya lainnya.

Kalau tidak seperti itu ia akan dianggap tak mengindahkan adat. Ia akan dikucilkan selamanya. Padahal setelah menjual sawah itu nanti ia tak lagi memiliki lahan usaha apa pun.

***

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: