'nBASIS

Home » ARTIKEL » TRAGEDI AMIEN RAIS

TRAGEDI AMIEN RAIS

AKSES

  • 568,727 KALI

ARSIP


ichwan

Beberapa pekan lalu Dr Ichwan Azhari, Kepala Pusat Studi Sejarah Unimed diwawancarai oleh sebuah Tim yang sedang mempersiapkan buku biografi Amien Rais yang akan diterbitkan sebagai penanda 70 Tahun Amien Rais bulan depan. Ichwan Azhari menyimpulkan dengan tiga kata: “Tragedi Amien Rais”, yang didasarkannya kepada dua gagasan gagasan besar dan brilian Amien Rais tentang federalisme dan kedaulatan ekonomi bangsa. Berikut adalah rangkumannya.

Kritik terhadap budaya Jawa mestinya memang dilakukan oleh Amien Rais dan Gus Dur.  Mereka kan  orang-orang egaliter. Saya ada di Jerman waktu beliau memimpin reformasi.  Tokoh gagasannya yang sangat mempesona kami di luar negeri, salah satu ialah federalisme. Itu salah satu esensi perubahan yang ditawarakannya. Waktu itu saya ketua Masyarakat Forumn Indonesia di Hamburg, LSM. Tiap tokoh Indonesia datang kita ajak diskusi, termasuk Yusril Ihza Mahendra. Gus Dur juga.

Jadi Indonesia masa depan yang paling memikat hati kami di luar negeri itu ialah ketika Amien Rais menjungkirbalikkan konsep NKRI. NKRI bukan harga mati, karena ia bukan titah kitab suci. Itu sebetulnya buatan tentara saja. Siapa yang mengatakan NKRI itu harga mati saya anggap menentang sunnatullah. Dalam perdebatan awal kemerdekaan sebetulnya sangat menginginkan federal. Hatta menjadi paradoks bagi Soekarno. Tetapi hingga kini Indonesia dikontrol oleh segelintir orang dari Senanyan. Mereka tak juga tahu Indonesia. Lihatlah para wakil kita yang hanya datang sewaktu pemilu. Jadi naïf sekali Indonesia, termasuk UU yang dibuat di Senayang itu tidak mewakili Indonesia. Indonesia direduksi oleh orang-orang Senayan. Itu sebabnya kita amburadul sekarang. Tahu apa mereka mengenai kita? Mereka hanay dating saat akan pemilu. Mereka hanya mewakili suara-suara politik yang tidak jujur.

 Sewaktu Amien Rais dating ke Jerman, kami sangat senang. Kita tinggal memilih model Jerman, Amerika atau Malaysia. Gagasannya sangat jelas. Kita-kita ini ikut membentuk PAN di Hamburg. Tujuannya untuk perjuangan politik merubah NKRI menjadi federal.

Kita kecewa.  Tokoh-tokoh PAN tak ada yang faham gagasan Amien Rais. Mereka tidak menjadi aparat yang meneruskan gagasan. Amien Rais yang kita harapkan representasi pikiran brillian Hatta akhirnya hilang begitu saja. Kita bingung semua. Akhirnya kami berkesimpulan bahwa mungkin Amien Rais itu memang membutuhkan dukungan tentara yang kita tahu sangat tidak menyukai gagasan federal itu. Saya kira ini satu sisi penting yang harus diungkap nanti dalam buku ini. Kalau belum bisa dilaksanakan sekarang, sebetulnya tidak mengapa. Tetapi tidak boleh Amien Rais menutup diri dalam hal itu. Saya cari-cari kata-kata federal selama lima tahun ini. Tidak ada. Bahkan muncul ketakutan sekarang. Preman pun dimobilisasi untuk itu. Padahal ia sendiri tidak tahu apa NKRI dan apa Negara federal.

Bolehlah saya mengkritik atas kehebatan AMien Rais. Dalam keadaan orang takut mendiskusikan, Amien Rais tampil dengan keberanian dan kecerdasarannya dan dalam kedudukan sosial politik yang demikian populis. Sebagai gagasan hal itu harus dihidupkan. Negara federal itu jangan dikaitkan dengan Negara boneka bikinan van Mook. Bisa saja aspirasi orang Indonesia kawin dengan kerjaan van  Mook.

VOC Modern. Kita sudah dijajah kembali. Amien Rais sudah sangat benar dan konsisten dalam memperjuangkan kedaulatan  ekonomi sebagaimana ia mengkritik habis Freeport. Tetapi, sekali lagi ia tidak punya kader. Terlalu besar gagasan Amien Rais itu untuk seluruh penerus PAN. Kita memerlukan banyak orang, dan Amien Rais kini solo ranger yang tak didengar lagi. Ada yang salah dalam masyarakat kita.

Sebagai sebuah gerakan, Amien Rais sebetulnya sudah gagal. Implementasi gagasannya tidak pernah ditemukan, baik dalam Muhammadiyah maupun dalam PAN. Sebagai  akademisi ya saya juga berteriak. Tetapi tak akan didengar dan saya bukan tokoh gerakan. Sayang sekali tokoh gerakan sebesar Amien Rais akan surut dan untuk selanjutnya dilupakan meski saya yakin nanti entah 50 tahun ke depan orang akan menyebutnya kembali.

Saya ingin tegaskan bahwa Amien Rais itu adalah intelektual yang kesepian. Tak ada pengikutnya. Ia memiliki banyak menteri. Tetapi, diam-diam secara prinsip memusuhinya. Amien Rais harus mencabut dukungannya dari calon yang tak setju dengan Negara federal dan kemandirian bangsa. Amien Rais mestinya sudah empu. Jika tidak diikuti akan menjadi resi. Saya lihat keadaan sekarang sudah mengarah seperti itu. Karena di sekitar Amien Rais kini hanya ada para petualang. Saya akan menegaskan Amien Rais dalam dua kata: Tragedi Amien Rais.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: