'nBASIS

Home » ARTIKEL » BUKU

BUKU

AKSES

  • 568,914 KALI

ARSIP


sampul baru mesjid

Judul Buku: SISI OBJEKTIF KEUMATAN DAN KEMESJIDAN
ISBN: 978-602-7620-17-9
(Kumpulan Tulisan)
PERPUSTAKAAN NASIONAL RI
KATALOG DALAM TERBITAN (KDT)
Oleh:
Shohibul Anshor Siregar
Cetakan Pertama Desember 2013
Ukuran 15,5 Cm x 23 Cm
Tebal: 131 halaman (di luar Pengantar dan daftar isi)
Disain Sampul: Studio ‘nBASIS
Diterbitkan oleh:
Pengembangan Basis Sosial
Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS)
Jalan Cendrawasih III Nomor 339, Mandala, Medan

Selain bagian pertama (Pendahuluan), dalam buku ini dihimpun beberapa judul yang diangkat dari artikel yang pernah ditulis oleh penulis buku ini pada media lokal (Medan). Di antaranya (bagian kedua: Keumatan), Pesan Sunyi dari Jaka Baring, Harmoni Berbasis Toleransi,  Puasa,  Korban Lebaran, Refleksi Ramadhan: Administrasi Keumatan, Dhuafa versi Feri Nofirman, Iedhulqurban, Agama dan Politik, Agenda Keumatan,  Kebangsaan dan Kemanusiaan, Kunjungan Dr Ahmad Shukri,  Lima Tokoh Muslim Dunia, dan Geliat Demokrasi Negeri-Negeri Muslim,  Bagian Ketiga: Kemesjidan, adalah kumpulan dari 7 artikel yang terdiri dari Perubuhan Mesjid: Wawancara dengan Seorang Jurnalis, Mesjid Mukim, Mesjid Pekerja dan Mesjid  Musyafir,  Sidi Gazalba,  Islamic Centre Medan, Menghadirkan 30 % Dari Total Komunitas dalam Setiap Sholat, Mesjid Agung Medan dan  Ground Zero.

Buku ini memilih berbincang tentang keumatan dan kemesjidan. Soal-soal keumatan itu tentulah sangat luas. Keumatan dalam sisi negatif dan juga keumatan dalam sisi proyektif yang dapat dilakukan. Kemesjidan juga demikian, ada sisi negatif yang sangat bertanggungjawab atas ketidak terdongkrakan posisi umat, dan sisi lain yang meng-gembirakan.

Buku ini tidak menjanjikan sebuah sorotan terpusat dan tajam ke suatu hal spesifik dalam dua bidang itu (umat dan mesjid). Buku yang mirip perbincangan ringan ini lebih bermaksud memancing diskusi, menggugah para pemikir dan pemimpin umat untuk menunaikan kerja-kerja strategis dan teknis untuk sebuah perubahan. Tetapi meski demikian beberapa dari tulis-an yang dirangkum akan membahas hal-hal menyangkut aspek yang lebih luas, bahkan soal kehidupan nasional dan internasional.

Buku ini tidak akan menabur pesimisme sama sekali, meski dalam banyak hal akan memaparkan fakta-fakta yang meneguhkan alasan untuk mengatakan ketidak-menyenangkan-nya posisi umat Islam saat ini dilihat dari peran-peran keterhitungannya dalam tingkat lokal, nasional maupun internasional. Ini sebuah tawaran untuk lebih memahami sisi objektif keumatan dan kemesjidan sebagaimana diributkan belakangan ini di kota Medan. Berikut salah satu tulisan dalam buku ini (hlm 9-13):

Minggu malam, Presiden SBY secara resmi membuka Islamic Solidarity Games (ISG) tahun 2013 di Stadion Utama Jaka Baring, Palembang. Event ini adalah sebuah ajang adu prestasi olahraga bertaraf internasional di antara negara-negara Islam yang tergabung dalam The Organisation of Islamic Cooperation (OIC). Meski sebagian pertandingannya sudah dimulai sejak 15 September lalu, namun pembukaan secara resmi diadakan Minngu malam, dan akan berlangsung sampai 1 Oktober 2013.

Menurut berbagai sumber, sebetulnya, setelah event pertama tahun 2005, agenda ini direncanakan berlangsung tahun 2009 di Iran. Kemudian dijadwalkan kembali menjadi April 2010, namun rencana itu terpaksa dibatalkan. Berbagai informasi tentang pembatalan ini menyebutkan bahwa keputusan itu dianggap sesuatu yang terbaik setelah terjadinya perselisihan antara Iran dan negara-negara Arab. Olahraga sebagai salah satu bahasa universal tidak mampu mereduksi ketegangan di antara Iran dan beberapa Negara Arab di sekitarnya.

Event pertama yang diselenggarakan pada tahun 2005 di Mekkah (Arab Saudi), dihadiri oleh 55 dari 57 Negara ang-gota OIC. Cabang olahraga yang dipertandingkan saat itu 13, dan jumlah atlit tercatat 6000 (enam ribu) orang. Predikat Juara Pertama (juara umum) diraih oleh tuan rumah, sedang-kan posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Mesir dan Kazakhstan. Kali ini di Jaka Baring, Palembang, terdapat penu-runan peserta. Dari 57 negara anggota OIC saat ini, ternyata hanya 47 Negara  yang mengirimkan atletnya untuk event yang mempertandingkan belasan cabang olahraga ini.

Pesan dari Kesunyian. Tahun 2011 di tempat inilah, Jaka Baring,  event Sea Games ke 26 diselenggarakan. Meriah. Bela-kangan, dari tempat ini pulalah sejumlah masalah terung-kap, yakni korupsi, yang gonjang-ganjingnya masih belum reda hingga kini. Kini dari tempat yang sama, yang pernah diusulkan menjadi Gelora SBY dan ditolak oleh rakyat, ISG diselenggarakan dalam kesunyian.

Dari segi publikasi, event ini sangat sepi dan hanya disiarkan secara langsung oleh TVRI, dan mungkin itu pun, bagi sebuah tv milik Negara, hanyalah karena Presiden SBY ada dalam event ini dan membukanya secara resmi. Secara protokoler acara ini dipandu dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggeris. Tidak terdengar bahasa Arab sama sekali. Bahkan pada bagian akhir pidato pembukaan, Presiden SBY sendiri malah membaca bagian dari pidato tertulisnya yang berbahasa Inggeris. Tak ada bahasa Arab kecuali saat mengucap salam dan menyebut beberapa istilah teknis seperti rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam) dan insyaa Allah (semoga diperkenankan Allah). Bukan berbahasa Arab.

Tetapi, di tengah sekularisasi yang semakin menguat di seluruh dunia, patut dipikirkan bahwa melalui event ini rupa-rupanya orang masih merasa sangat perlu menunjukkan bahwa dirinya (termasuk negaranya) adalah Islam. Sebaliknya, dalam banyak hal, termasuk dalam menata Negara dan pemerintahan, sangat perlu menyembunyikan dirinya sebagai Islam untuk menga-dopsi konsep lain semisal demokrasi ajaran Barat itu. Sebagai sebuah fenomena kenegaraan dan hubungan internasional, ini memang sangat menarik.

Sambutan dari Presiden Federasi Olahraga OIC sendiri, sebagai pengelola ISG, menaruh perhatian kepada solidaritas sesama bangsa yang diikat oleh ideologi (Islam). Event ini bukan sekadar mengasah prestasi olah raga, melainkan juga mendorong bangsa-bangsa sedunia untuk semakin memper-tinggi solidaritas dan kerjasama. Juga tetap ada harap bahwa event ini dapat menyumbang  bukti bahwa negara-negara Islam dapat bersatu. Begitu antara lain sambutan Presiden SBY. Kedua pidato itu dapat menjadi pesan utama Jaka Baring, yang memang belum tentu didengar oleh siapa pun mengingat keterpurukan dunia Islam saat ini.

OIC memiliki seorang perwakilan tetap di PBB. Organisasi ini didirikan di Rabat, Maroko, pada 12 Rajab 1389 Hijriyah, bersamaan dengan 25 September 1969 dalam Pertemuan Pertama para Pemimpin Dunia Islam yang diselenggarakan sebagai reaksi terhadap terjadinya peristiwa pembakaran Masjidil Aqsa pada 21 Agustus 1969 di Jerusalem. Sebelumnya OIC hanyalah organisasi konferensi Islam, dan sejak tanggal 28 Juni 2011 berubah nama menjadi Organisasi Kerjasama Negara Islam. Meski selalu ditonjolkan sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar dunia, tetapi putera Indonesia belum pernah tercatat menjadi Sekjend organisasi ini. Mungkin Indonesia merasa tak perlu. Berbeda dengan Ali Alatas, mantan Menlu RI, yang pernah dianggap patut diperjuangkan menjadi Sekjen PBB karena lembaga internasional ini memang “bergigi”.

IMF sendiri merasa perlu mengapresiasi Indonesia karena mempercayakan jabatan strategis (meski bukan nomor 1) kepada seseorang yang pernah dianggap menjadi salah seorang yang menjadi bagian dari permasalahan di negeri ini, Sri Mulyani.

Sisi Objektif Keumatan dan Kemesjidan adalah sebuah makalah yang pernah saya sampaikan pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh salah satu komponen MUI Sumut yang dipimpin oleh advokat Hamdani Harahap. Kemudian saya sampaikan lagi, setelah menyempurnakannya, pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Anwar Bakti Nashrallah. Itu penghujung tahun lalu.

Awal pikiran penerbitan buku ini justru berasal dari telaahan atas konflik mesjid dan pengembang di kota Medan. Konflik ini amat khas, karena sebagai mayoritas umat Islam tergusur di rumahnya sendiri. Sikap pengembang bukanlah sesuatu yang begitu saja muncul kecuali dilator belakangi oleh banyak faktor. Memang saya yakin sudah begitu parah degradasi keberagamaan umat Islam saat ini (secara keseluruhan). Itu faktor utama, disusul dengan degradasi posisi sosial ekonomi dan politik. Regulasi yang muncul, betapa pun tak dilnya ditinjau dari sisi subjektif umat Islam, menjadi begitu mudah bagi pemerintah karena di satu sisi ia berteman dengan dan sangat membutuhkan para pengembang untuk membangun kota, sedangkan di pihak lain ia hanya beururusan dengan orang-orang (umat Islam) yang mengalami degradasi posisi tadi.

Masih ada faktor lain, yakni perubahan komposisi demografis dan implikasi “pembagian” wilayah pemukiman. Kini, dengan kebijakan ekonomi yang tak berpemihakan kepada mayoritas, kita telah saksikan kemunculan kelas baru yang semakin kuat dalam ekonomi. Mereka menguasasi hampir semua sektor, dan ketergantungan mayoritas kepada mereka tak terelakkan sama sekali.

Saya sering terlibat dalam diskusi dengan para pentolan dan penggerak demonstrasi yang meminta perlakuan adil atas mesjid di kota ini (Medan). Dari sana akhirnya saya mengerti bahwa advokasi mereka hanyalah sebuah ketersinggungan atas ketidak-adilan. Bayangkanlah mereka melakukan perlawanan dalam kasus mesid di jalan Timor yang dirubuhkan paksa dengan mengerahkan kekuatan penguasa, padahal mesjid itu adalah milik umat Islam yang secara keperdataan sama sekali tidak terkait dengan lembaga apa pun yang selama ini berkantor di situ dan mengklaim itu miliknya.

Konflik masalah mesjid di kota Medan, betapa pun riuhnya belakangan ini, dan diyakin akan semakin riuh ke depan, tidak boleh dilihat dari fenomena hilir belaka. Akarnya ada pada masalah ketidak-adilan kebijakan ekonomi, sosial, politik dan budaya yang dijalankan oleh pemerintah selama ini, terlebih semasa Orde Baru. Jika ingin mendalami lebih serius, masalah ini akan sangat terkait dengan kondusivitas nasional. Itu sebabnya pemerintahan yang silih berganti wajib diingatkan, bahwa di masa pemerintahannya boleh jadi keadaan tidak begitu mengancam. Tetapi ibarat api dalam sekam, hal ini dapat menjadi faktor pemicu yang dahsyat ke depan dalam hal kondusivitas, apalagi kita semua tahu ada memori yang tak mudah hilang pada benak semua pihak tentang ini.

 

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: