'nBASIS

Home » ARTIKEL » AGAMA MALIM

AGAMA MALIM

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


malim

Menerima sesuatu dari kas negara tidak layak dalam pandangan subjektif Parmalim, apalagi mengorupsinya.

Penelitian saya pada peralihan tahun 1995/1996 yang lalu berusaha menemukan penjelasan yang masuk akal tentang mekanisme survival sebuah agama suku di tanah Batak yang secara struktural dan kultural mendapat tekanan yang keras. Penganutnya menyebut diri Parmalim, yang berarti penganut Malim.  Satu dari 4 (empat) aliran yang saya tetapkan sebagai sample telahaan waktu itu ialah Malim aliran Hutatinggi yang dipimpin Raja Marnangkok Naipospos.

Pada akhir penelitian saya merasa tak diperlukan waktu yang cukup lama untuk menyaksikan hilangnya ajaran-ajaran yang mengklaim sebagai warisan leluhur Batak kecuali aliran Hutatinggi. Itu juga bisa bermakna bahwa, tanpa harus dilihat sebagai rivalitas di antara sesamanya, aliran-aliran lain akan menentukan pilihan tereliminasi oleh zaman, atau muncul dengan kontras baru kurang lebih sebagai minoritas spiritual yang amat spesifik, atau bergabung ke aliran Hutatinggi. Pilihan terakhir itu sungguh bersifat  historis dan ideologis, yang mempertebal hasrat konsolidasi di antara orang-orang yang merasa senasib dan sepenanggungan.

Bertahan. Orang mungkin selalu tergoda mengasosiasikan nama agama ini dengan julukan yang sama terhadap pemuka agama Islam di Tapanuli, sebagaimana Mohammad Said (1964) dan beberapa penulis sebelum dan sesudahnya pernah berpendapat serupa. Baginya akar kata dan sejarah sebutan “Malim” adalah indikasi pertama mengenali Malim, yang tidak bisa dilepas dari pengaruh Islam. Arsitektur bale pasogit partonggoan/parsantian (rumah peribadatan) yang sangat mirip dengan Masjid lama di Indonesia (yang belakangan direplikasi dalam arsitektur Masjid Amal Muslim Pancasila yang dibangun Soeharto. Memang masih sangat diperlukan penjelasan sejarah untuk memastikan kedua rumah ibadah berasal dari warisan arsitektur yang sama),  elemen-elemen tertentu dari ajarannya termasuk berpantang (haram) makan babi, serta ritus-ritus tertentu terutama pada era awal, meneguhkan pendirian Mohammad Said untuk mengklaim keidentikan Malim dengan Islam.

Tokoh sentral agama ini adalah Sisingamangaraja dan dalam pemahaman Kozok (2011) hanya untuk kepentingan misionaris Kristenlah pemimpin spiritual itu didesas-desuskan sebagai pemeluk Islam. Meskipun begitu, tak semua orang sefaham dengan WB Sidjabat (1982) yang menyatakan bahwa stempel kerajaan Sisingamangaraja yang bertuliskan huruf Arab Melayu serta sebutan “Hijrah Nabi 1304” bukan pernyataan teologis melainkan pernyataan politis dalam kaitan hubungan diplomatik antar kerajaan terutama di kawasan Sumatera Timur, Aceh dan Sumatera Barat (yang Islam). Pendapat paling moderat lazim menunjuk mekanisme sinkretisme, sehingga dalam agama Malim akan dapat ditemukan elemen-elemen yang mirip sekali dengan tradisi beberapa agama terutama Hindu, Islam, Protestan, dan Katholik.

Tetapi Parmalim tidak akan pernah merasa ada kaitan dengan semua elemen ajaran agama-agama itu. Memang, penerjemahan kitab Kristen untuk bahasa Batak  diketahui telah banyak meminjam terminologi lokal yang kini banyak ditemukan dalam ajaran maupun peribadatan Malim. Untuk menyebut satu contoh, Protestan Batak dan Malim sama-sama mengenal Debata, Debata Na Tolu, dan lain-lain terminologi ketuhanan yang meski mungkin dimaknai berbeda.

Sekitar tahun 1970-an kebijakan nasional yang memberi pengakuan terhadap Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai wadah pembinaan dan artikulasinya melalui UU Nomor 8 Tahun 1985 telah dimanfaatkan sebagai peluang. Malim menjadi kelompok yang diakui meski bukan sebagai agama. Status itu penting, dan terbukti memberi peluang besar kebertahanan. Harus dicatat bahwa untuk bagian terbesar dari komunitas itu ternyata perolehan status tidak menjadi jaminan kebertahanan. Seharusnya kesempatan penataan organisasi dan penyesuaian dengan kemauan pemerintah serta akses terhadap birokrasi cukup terbuka lebar.

Tetapi, berbilang kelompok yang telah bertahan untuk waktu yang cukup lama, katakanlah kurang lebih satu abad, tak seluruhnya mampu berkembang kemudian seperti Malim aliran Hutatinggi. Agama ini telah lolos dari tekanan stuktural dan kultural yang sangat kuat dan masih akan menghadapinya ke depan sebagai komunitas minoritas yang kerap pula dianggap deferior (rendah). Sebelum era 1970-an agama ini hidup bagai kerakap yang tumbuh di atas batu. Bukan saja jumlah penganut yang terus menerus merosot, akan tetapi untuk bertahan hidup sebagai Parmalim begitu sulit bagi pemeluknya di tengah intoleransi sikap mayoritas.

Revivalisme Malim. Kebertahanan aliran Hutatinggi tak sekadar disebabkan faktor relative deprivation (perasaan keterampasan hak secara subjektif). Benar, hingga kini faktor itu tetap besar meski lebih menempati fungsi sebagai pendorong bagi sesuatu perubahan tertentu atau bahkan hanya sekedar kristalisasi sikap kritis, sinisme ataupun tingkat “permusuhan” tertentu terhadap sumber struktural yang dianggap bertanggungjawab atas keadaan yang tak tertanggulangi dengan cara-cara wajar. Sebagaimana Cameron (1966), Adas (1979), Thrupp (1984), Lauer (1989), Godthorpe (1992)  dan banyak ahli lainnya memang berpendapat bahwa teori relative deprivation dianggap mampu menerangkan latar belakang dan faktor-faktor sosial perubahan pada kelompok-kelompok tertentu termasuk kelompok keagamaan. Tetapi jelas, itu saja tidak cukup. Dalam kajian legendarisnya tentang pemberontakan misalnya, Robert Ted Gurr  (1949) menekankan adanya mobilisasi sebagai prasyarat.

Malim hari ini semakin difahami dan seiring munculnya perubahan drastis dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan, sikap-sikap sinisme dan perlakuan diskriminatif semakin berkurang. Mungkin kini sudah tak ada lagi tuduhan si pele begu (penyembah roh) terhadap Malim, meski saat tuduhan itu dilancarkan oleh kaum beragama, dalam komunitasnya sendiri tak terhingga luasnya kebiasaan persekutuan dengan dzat-dzat lain di luar tuhan yang diajarkan oleh agamanya sendiri.

Dahulu tak terbayangkan seorang Parmalim mendapatkan Kartu Tanda Penduduk dengan mengosongkan status agama dalam dokumen itu melainkan harus memilih salah satu di antara agama resmi. Kini sudah ada peluang kebebasan di sekolah-sekolah tertentu untuk tak memaksakan anak Parmalim mengikuti pelajaran salah satu agama resmi. Bahkan ujian agama pun disiapkan oleh pemimpin kelompok agama Malim untuk kemudian nanti diisikan dalam kolom nilai pelajaran agama dalam rapor. Lagi pula, politisi mana yang tak membutuhkan dukungan mayoritas warga di tengah iklim demokrasi langsung dan jika harus memahami keberadaan unik warga pemilih itu dianggap sebuah prasyarat dukungan dalam demokrasi, akankah politisi handal akan mengabaikan? Bahkan jika selama ini Parmalim dianggap hanya sebagai pemilih belaka, kini ia mempunyai bargaining dan peluang memeroleh wakil di parlemen (lokal).

Dengan sekitar 44 punguan (cabang) yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, agama Malim yang dikendalikan dari pusatnya di Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Tobasa, bukan saja mewartakan sebuah perubahan fantastis dibanding keadaannya satu atau dua dasawarsa lalu. Kini perkuatan kelembagaannya tak hanya ditopang oleh disiplin yang ketat yang membangun ethos berdasarkan poda hamalimon (rukun kehidupan Malim) tetapi juga dengan ekonomi kerakyatan Ugasan Torop (lembaga ekonomi komunitas) dan intensitas penggemblengan tunas na imbaru (generasi muda). Tak menjadi agama resmi seperti status yang akhirnya dapat digondol  oleh Kong Huchu  memanglah sebuah kesedihan yang belum berhasil mereka perjuangkan. Namun tidak dengan itu segalanya selesai. Mereka menerima perlakuan “diskriminatif” oleh Negara begitu legowo dan dianggap hanya pantas dialuhon (diadukan) kepada tuhan. Uniknya, Parmalim selalu memahaminya sebagai bagian dari hahomion (rahasia) dari tuhan yang wajib dijalani.

Penutup. Agama Malim akan dinilai unik oleh orang sekarang ketika diketahui dengan sangat halus pernah menolak bantuan keuangan Negara yang ditawarkan oleh orang dekat istana (Zahid Husein), dan faktanya kini mereka membuktikan kompleks dan gedung peribadatan dan penunjangnya yang kemegahannya tak mengapa dicoba dibandingkan dengan milik organisasi yang lain di wilayah ini (Sumut). Mungkin kini banyak organisasi keagamaan yang merasa sangat benar mengirimkan kadernya untuk berebut kesempatan ke eksekutif dan legislatif agar nanti alokasi kebijakan dapat dikendalikan secara menguntungkan bagi kelompoknya. Malim tak suka yang begitu. Sikap mereka ada di seputar pertanyaan “kapan harus terhindar dari rasa malu karena faktanya hingga saat ini belum mampu menyumbang banyak kepada pemerintah agar lebih mampu  membela orang miskin dan orang tertindas”. Menerima sesuatu dari kas negara tidak layak dalam pandangan subjektif Parmalim, apalagi mengorupsinya.

Awal bulan ini di Hutatinggi hadir para pemimpin dan warga Malim dari seluruh cabangnya dalam salah satu dari dua upacara tahunan Pameleon Sipaha Sada (upacara persembahan bulan Pertama). Upacara ini berinti peringatan ari hatutubu ni Tuhan Si Marimbulu Bosi (hari lahirnya Tuhan) dan bertepatan tahun baru berdasarkan parhalaan (penanggalan) Malim. Mungkin akan ada pertanyaan nakal: “sudah tahun ke berapa saat ini berdasar penanggalan Malim?” Monang Naipospos, salah seorang petinggi Malim, dengan tegas mengatakan bahwa hal itu hanyalah soal kesepakatan sebagaimana tahun Masehi dan tahun Hijriyah.

Event Pameleon Sipaha Sada adalah sebuah konsolidasi besar buat Malim. Para pewarta dan peneliti banyak yang tak ingin melewatkan event ini, dan dengan publikasi dan pewartaan itu pun image Malim dapat selalu menjadi lebih baik.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA Medan, Senin 10 Maret 2014, hlm B7.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: