'nBASIS

Home » ARTIKEL » MILAD: EMPAT BELAS MARET

MILAD: EMPAT BELAS MARET

AKSES

  • 551,562 KALI

ARSIP


Ayahku, Abdullah Siregar. Ia seorang guru. Ibuku Thobina Pasaribu. Dalam kolom keterangan pekerjaan pada KTP atau dokumen resmi lainnya, selalu dibuat “ibu rumah tangga” atau “ikut suami”. Keduanya adalah remaja yang sangat belia saat dijodohkan oleh kedua belah (pihak) keluarga. Saat itu masa pendudukan Jepang. Ayahku putera tunggal dalam keluarga, dan ompung doli (atokku) meninggal saat ayahku masih sangat kecil dan adiknya masih dalam kandungan. Adiknya, kalau tak salah bernama Asahan, meninggal dalam usia balita. Jadi, menurut pengakuannya, ia tak begitu kenal wajah ayahnya. Tapi mungkin bisa mencoba mengenali dengan jalan melihat wajahnya sendiri di cermin atau dengan memandangi wajah kedua kakaknya.

Konon semua anak muda, lelaki, termasuk remaja, sangat diperlukan oleh Jepang dalam pendudukannya di Indonesia, agar mereka bisa mobilisasi untuk bekerja mensupport pendudukan itu. Suatu ketika aku konfirmasi cerita seperti ini kepada seorang tua marga Siahaan di Muara. Ia berusia hampir 90 (Sembilan puluh) tahun, dan sangat jelas ingatannya tentang pendudukan Jepang. Ia ceritakan banyaknya anak muda yang dibawa dari mana-mana, dipekerjakan secara paksa membangun jalan.

Anak sasada (putera tunggal) yang jika akan pergi berdasarkan rekrutmen Jepang itu, tidak akan terjamin keselamatannya. Jangan-jangan kembali kelak hanya nama. Maka dimusyawarahkanlah di antara keluarga, agar Abdullah Siregar si remaja itu dinikahkan saja. Ia sendiri tidak tahu rencana itu, dan ketika dikemukakan kepadanya dengan semua alasan, ia pun murung beberapa lama. Tetapi tiada jalan lain, ia harus dikawinkan.

Itulah awal keluarga kami yang kemudian aku sebut “Bani Abdullah” (yang berarti anak-anak Abdullah, atau dalam bahasa lokal kami di Tapanuli pomparan ni ompung Abdullah). Julukan itu aku ajukan di antara keluarga setelah ayah meninggal, saat akan mendirikan sebuah yayasan keluarga sebagai sebuah alternatif pengamanan aset warisan yang sangat kecil jumlahnya jika dibagi berdasarkan faraidh kepada kami 10 (sepuluh) orang.  Jadi kami bagilah secara faraidh warisan itu, tetapi pengelolaannya diserahkan kepada yayasan. Semua lahan pertanian, kering dan basah.

Akulah anak kelima di antara 10 yang terdiri dari 5 lelaki dan 5 perempuan. Pada dasarnya tak ada halangan bagi keluarga kami untuk memberi kesempatan sekolah kepada lelaki maupun perempuan. Tetapi kaka tertua kami yang sekolah keluar kampung setelah SR tidak berlanjut. Mungkin itu menjadi preseden bahwa sekolah itu berat bagi perempuan, dan waktu itu aku perhatikan agak dianggap tak begitu perlu oleh masyarakat kami. Namun semua anak lelaki mendapat pendidikan hingga perguruan tinggi, meski tak semua menamatkannya.

Pendidikanku setelah SR adalah pendidikan guru. Ayahku merencanakan itu secara dini. Ia ingin ia digantikan pada satu saat. Menurutnya, guru di kampung itu sekaligus menjadi tokoh masyarakat. Antara magrib dan isya akan memberi pelajaran tambahan kepada semua anak-anak kampung, belajar alip-alip dan menuturkan cerita-cerita tentang nabi. Sebagai guru dan tokoh masyarakat, jangan tak menjadi tauladan. Karena itu janganlah nongkrong di warung kopi jika memang tak sangat perlu. Jangan suka menghabiskan waktu tanpa kemanfaatan. Main catur dan main kartu, tak disenangi ayahku.

Aku lahir tanggal 14 Maret 1958, di Tarutung. Hari Jum’at. Saat itu ayahku bekerja bukan sebagai guru, tetapi pegawai di departemen Agama di ibu kota Kabupaten, Tarutung. Ketika aku lahir, Tarutung dan kota-kota lain sedang bergolak dalam perang saudara PRRI/Permesta yang untuk wilayah ini tokohnya adalah Maludin Simbolon. Nenekku tak nyaman dengan suasana perang itu, dan minta agar tulangku menjemput kami. Sejak itulah kami pindah ke kampung halaman, Sibulan-bulan. Keberangkatan pindah itu adalah juga sebagai upaya proteksi nenekku agar putera tunggalnya jangan mati karena peluru perang yang berkecamuk itu. Sehingga proses pindah itu sendiri tidaklah sebuah keputusan mulus. Tetapi setelah beberapa bulan, ayahku dipanggil ke Tarutung, dan di situlah ia kemukakan niatnya untuk menjadi guru saja di kampung halaman. Kompromi terjadi meski tak tuntas. Ayahku diperkenankan menjadi guru, tetapi tidak di kampung halamanku Sibulan-bulan. Mula-mula di Hopong atau Balig. Lalu kemudian pindah ke Sirihit-rihit. Dari Sirihit-rihit akhirnya pindah ke Sibulan-bulan.

Ketika mengajar di Hopong, tak seorang pun anggota keluarga yang ikut. Jadi, ibuku tetap bertani di Sibulan-bulan. Setiap Sabtu sore ayahku pulang. Lain dengan Sirihit-rihit. Ibuku, aku dan adikku yang belum sekolah sesekali ikut. Aku ingat bahkan warga Sirihit-rihit malah memberikan sebidang swah untuk dikerjakan oleh ibuku. Aku pun kerap dibawa ke sawah yang jaraknya kurang lebih 3 km dari rumah. Hombar balok (petani yang memiliki lahan dengan sawah kami) kerap memberi hasil pertaniannya. Aku ingat pernah diberi haramoja, yang belakangan kutahu bahasa Indonesianya Semangka. Tak selamanya aku senang ikut ke sawah, terutama setelah aku dengan pasti tahu bahwa ibuku tidak mungkin menangkap burung layang-layang yang berterbangan dengan rendah mencari makan di atas persawahan kami untuk menjadi mainan buatku.

Di Sirihit-rihit ini praktis aku sempat bergaul dengan banyak teman sebaya yang aku masih ingat hingga sekarang. Orang tua yang anak-anaknya ikut mengaji di rumahku kerap mengirimkan kacang rebus, jagung dan pisang. Itu luar biasa menggembirakan. Kuingat aku sering bertanya kepada anak-anak yang mengaji di rumahku itu, apakah tak ada lagi kacang atau pisang di rumah untuk dibawa seperti kemaren-kemaren?

Jika ayahku pergi ke sekolah, aku pun ikut. Aku senang menempelkan pipi kiri dan pipi kanan ke papan tulis yang bertuliskan angka 10. Itu akan kutunjukkan kepada siapa saja yang kutemui sepanjang jalan menuju pulang. Biasanya, ayahku akan menghapusnya saat aku tertidur setelah kelelahan bermain. Ia membiarkan aku berekspresi semaunya. Ketika Sabtu, kami akan pulang ke Sibulan-bulan. Tak ada sarana transportase. Kadang kami bertemu dengan pedati yang mengangkut padi, bermain melintasi dengan susah payah di kubangan yang dilaluinya. Terkadang bertemu juga dengan pedati yang patah as.

Di sepanjang perjalanan antara Sirihit-rihit dan Sibulan-bulan lazimnya kami akan berhenti di Simangumban untuk minum teh manis. Aku ingat selalu merasa kurang. Tetapi ayahku selalu mengatakan, tak baik minum teh manis banyak-banyak. Padahal sekarang aku tahu, uangnya tak cukup.

Di Sibulan-bulan berdiri sebuah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah tahun 1938. Ayahku mengajar di sana setelah mendapat persetujuan dari atasannya di Tarutung. Gurunya kurang. Saat aku sudah duduk di kelas IV, ayahku sering meminta aku membantu memberikan arahan ke kelas lain, agar tak ribut dan tak pulang karena guru tidak ada. Biasanya aku akan memimpin bacaan sholat mulai takbir sampai salam. Setelah kupimpin, terkadang harus diulangi sekali lagi. Jika ayahku belum masuk ke kelas yang aku bimbing, aku akan memberi kesempatan kepada salah seorang murid untuk mencoba. Mulai dari murid lelaki. Jika ayahku masih belum juga masuk, aku lanjutkan ke murid perempuan. Kali lain aku juga pernah memimpin murid-murid di kelas untuk bernyanyi:

Didik pimpin ajar kami oh ayah dan bunda
Supaya selamat kami nanti hari tua

Itu salah satu bait syair lagu itu yang masih kuingat. Di SR lagunya berbeda. Ini salah satu syair yang kerap kami nyanyikan:

Marsingkola ahu amang dohot ho ale inang
Unang jolo suru ahu mangula hauma i

Lagu kedua memohon kepada ayah ibu agar dibebaskan dari pembebanan mengerjakan swah, karena masanya memang untuk sekolah. Ini menggambarkan pandangan masyarakat waktu itu tentang sekolah yang belum baik. Angka buta huruf waktu itu memang cukup tinggi.

Gedung Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sibulan-bulan. Di sinilah aku sekolah untuk pertamakalinya. Ayahku memberi tumpangan bagi SR untuk menyelenggarakan kegiatan pagi hingga tengah hari. Ini untuk menolong murid yang sebelumnya harus belajar di gereja yang jaraknya jauh dari pemukiman. Mulai pukul 14 siang, madrasah memulai kegiatannya, yang di kampungku selalu lebih dikenal dengan sebutan sikola mangaji. SR belakangan memiliki gedung sendiri, dan pindah. Tetapi di gedung inilah, gedung Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah yang didirikan tahun 1938 aku mulai sekolah. Pagi sebagai murid SR dan sore sebagai murid madrasah. Tetapi sayang sekali kini madrasahku sudah bubar. Gedungnya masih berdiri, tetapi sudah miring dan tak lama lagi kelihatannya akan runtuh ke bumi. Aku tak punya uang untuk merehabilitasinya agar misalnya dibuat saja menjadi gedung pertemuan dengan tetap mengabadikan namanya sebagai Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah.

Sekitar tahun 2009 almarhum Burhanuddin berniat merehabilitasinya dan meningkatkan bangunannya menjadi dua tingkat. Sebelum terlaksana, beliau pun meninggal. Ia salah seorang alumni dari Madrasah itu.

Kini 14 Maret 2014. Hari ulang tahunku ke 56. Tanggal itu bersamaan dengan hari lahir IMM (1964). Ini aneh juga. Sebuah organisasi yang pernah aku tekuni dan kupimpin (untuk Sumut, 1986-1988) lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal kelahiranku. Aku sama sekali tak pernah menyadari hal itu hingga pada suatu ketika di saat aku menjabat Ketua Umum DPD IMM Sumatera Utara, sekelompok Immawati (perempuan IMM) membawa kado dan mengucapkan selamat ultah buat aku. Ketahuan juga bahwa kami ada 3 orang yang bertanggal lahir sama. Satu orang beda tahun.

Dalam rangka milad setengah abad IMM, tadi sore aku berdialog dengan aktivis IMM se Kota Medan di Kampus UMSU. Itu atas permintaan mereka. Hadir Wakil Rektor III UMSU dan semua Wakil Dekan III di lingkungan UMSU. Juga para Kepala Biro. Dalam pembuka dialogku tadi, aku mengevaluasi diri dan mengevaluasi IMM, mengevaluasi Muhammadiyah dan mengevaluasi perjalanan bangsa dan Negara. Banyak yang merasa baru mengenal aku dalam forum itu, meski kusadari kerap bertemu selama ini. Aku memang tak selalu memperkenalkan diri sebagai mantan aktivis termasuk kepada anak-anak IMM saat ini. Mereka pun kuingat kerap juga menceramahi aku tentang IMM, yang menurut hematku, lebih baik kunikmati saja ceramah mereka.

Aku berharap IMM dan semua gerakan muda berseru tentang kondisi kita saat ini. Itulah salah satu anjuranku dalam ceramah tadi, sebab jika dibandingkan dengan kondisi saat IMM lahir tahun 1964, faktor-faktor yang melatar belakangi pendiriannya justru boleh jadi lebih ringan ketimbang faktor-faktor buruk masa kini. Itu sebuah kontemplasi. Aku tak berharap pujian dari semua audiens. Aku ingin menstrum semua, termasuk diriku sendiri.

Jika ingin tahu UMSU, aku akan sedikit menceritakannya. Kita dirikan sejak tahun 1957. Kini UMSU adalah satu dari 172 perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Rektor kita yang pertama dan kedua luar biasa ketokohan dan integritasnya (H Bustami Ibrahim dan TA Lathief Rousydiy). Setelah itu, kepemimpinan berganti dari satu ke lain tangan seolah dengan tanpa tanda-tanda akademis ilmiyah yang menggembirakan. Tetapi meskipun begitu, khusus untuk Dalmy Iskandar, ia adalah seorang yang menorehkan sejarah pertumbuhan luar biasa secara fisik dan kelembagaan tertentu. Selebihnya hanya mengikuti saja tanpa terobosan. Chairuman Pasaribu, pengganti Dalmy Iskandar, memulai kepemimpinan sangat sempit dan membuat keluarga menjadi patokan. Ia sendiri akhirnya merasa diterjang secara tak santun oleh “anak” yang dibawa dan dibesar-besarkannya secara prematur, meski pun di antara mereka belakangan ada kesepakatan jahat membuat gaji penisunan mantan rektor Chairuman Pasaribu sebesar 10 juta perbulan. Ini luar biasa naif. Bahdin Nur Tanjung adalah rektor yang mengganti “ayahnya” dan menganggap UMSU sebagai milik pribadinya. Ia memperagakan sifat udik terutama ketika tak mampu membedakan mana uangnya dan mana uang Muhammadiyah. Juga ketika tak mampu mengenali diri apakah sebagai politisi atau sebagai akademisi. Agussani mewarisi kekacawan dan mulai menata setelah sebelumnya dalam waktu singkat jabatan rektor diserahkan ke pejabat sementara, Dalail Ahmad, karena Bahdin Nur Tanjung memang terpaksa diberhentikan karena ketidak-pastian diri sebagai politisi atau sebagai akademisi itu.

Cerita-cerita pahit masih aku tambah lagi tentang fakta negeri terpuruk. Kaya raya dan dinyatakan sebagai negara agraris, tetapi karena pengelolaan buruk harus mengimpor beras. Akan ada yang menderita kemudian hari karena terlalu banyak diasupi beras raskin yang berkualitas buruk ini. Aku juga bercerita menyentakkan mereka tentang posisi umat saat ini yang bolehlah disebut numerical mayority dan technical minority. Suasana kampus juga tak begitu menggembirakan.

Sekiranya karena kalian sudah menyadari bahwa masjid adalah pusat ibadah dan pusat peradaban, maka saya sangat gembira pilihan tempat dialog ini di masjid. Tetapi jika karena kalian tidak berhasil memeroleh peluang untuk menggunakan fasilitas yang ada di lingkungan kampus, aku sangat bersedih. Kalian tak layak tamu di rumah sendiri.

Hari ini teman-temanku banyak yang mengucapkan selamat atas Milad 56 ini. Melalui inbox, melalui telefon dan juga email dan sms. Terimasihku untuk ketulusan mereka semua. Aku ingin menjalankan semua arahan dan do’a kalian yang tulus itu.

Kepada isteriku Rosmadana dan anak-anakku Ikhtiyar Zitraghara Nalar Siregar, Dzulhajj ‘Aeyn Abe Siregar, Dhabit Barkah Siregar dan Ijtihad Siregar, aku berharap kalian lebih baik.

Ya Allah. Aku bersyukur atas segala nikmatMu.

IMM

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: