'nBASIS

Home » ARTIKEL » IMM SETENGAH ABAD

IMM SETENGAH ABAD

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


imm

Katakan dengan keras kepada setiap aparat yang kau temui di ruang-ruang mewah ber AC, atau di mobil-mobil mewah yang selalu diganti sebelum satu pun bannya layak ditukar; kapan keringatmu kita kucurkan untuk membela keadilan dan kebenaran, dan kapan keringatmu kita kucurkan untuk mengembalikan bentang nusantara yang terjajah lagi hingga kembali ke pangkuan bangsa? Seriuslah mempertanyakan kepada mereka, apakah mereka kini semakin menyesal dan dengan jalan apakah kita dapat menumbuhkan penyesalan di sanubari mereka? Bujuk mereka untuk tak lagi bernegosiasi dengan setan-setan yang selama ini mereka puja dan tawar-tawarkan kepada kita untuk diakui menjadi raja kita.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang lahir 14 Maret 1964 adalah bagian dari sejarah perjalanan Muhammadiyah yang didirikan tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan. Sesuai tuntutan perkembangan dan waktu yang memungkinkan, Muhammadiyah pun tercatat telah membangun berbagai bentuk kelembagaan supportif, baik yang menjadi pembantu langsung bagi semua level kepemimpinan dalam menjalankan programnya (Pusat, Wilayah, Daerah dan Cabang), maupun jenis kelembagaan yang dilahirkan berdasarkan pertimbangan kekhususan pembinaan sesuai segmentasi pengikut (pemuda, gender, pelajar dan sebagainya). Tidaklah dalam waktu bersamaan semua kelembagaan itu berdiri, karena faktanya ada yang muncul sebagai respon atas situasi tertentu, dan ada yang berawal dari gagasan pemikiran para tokoh Muhammadiyah yang kemudian dikukuhkan keberadaannya melalui permusyawaratan resmi.

IMM adalah salah satu di antara sejumlah organisasi otonom (mandiri) yang dibentuk oleh Muhammadiyah selain Aisyiyah (kaum ibu), Pemuda, Nasyiyatul Aisyiyah (Remaja Putri),  Ikatan Pelajar, Tapak Suci (pasukan bela diri),  dan Hizbul Wathan (kepramukaan). Dalam memperingati miladnya yang ke 50 tahun ini, IMM bertekad terus berkarya untuk Indonesia berkemajuan. Tema itu mengandung makna kesiapan menggelindingkan kiprah partisipatory dalam iklim fastabiqulkhairat (kompetisi) lokal, nasional dan global.

Sejarah telah Berulang. Kelahiran IMM 50 tahun lalu adalah respon atas persoalan-persoalan keumatan yang kurang lebih dapat dimaknai sebagai sebuah keniscayaan belaka bagi Muhammadiyah dalam mendirikan sebuah organisasi pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usahanya yang terdiri dari para intelektual muda yang berbasis keanggotaan di kampus. Farid Fathoni AF (1990: 102) menyederhanakan keniscayaan itu dengan mengidentifikasi fakta-fakta sosial yang buruk di zamannya, berupa situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal,   serta adanya ancaman nyata dari komunisme di Indonesia. Juga dengan fakta terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk  saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politik umat yang semakin buruk.

Di sisi lain, terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi kepentingan politik praktis sangat mencemaskan. Juga melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme, dan sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler. Kala itu begitu kuat dirasakan membekasnya ketertindasan imperialisme dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Dalam mendirikan IMM Muhammadiyah juga menggaris-bawahi fakta masih banyaknya praktik-praktik kehidupan yang serba bid’ah, khurafat, bahkan kesyirikan, serta semakin meningkatnya aktivitas para misionaris (Kristenisasi). Tak ayal lagi, semua kita tahu bahwa saat itu kehidupan ekonomi, sosial, dan politik berlangsung buruk seolah dengan tanpa harapan solusional dari komponen-komponen bangsa.

Setelah 50 tahun, apakah IMM melihat dan merasakan perubahan signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta dalam kehidupan kampus dan di luarnya? Tanpa kesombongan dan busung dada, semua fakta-fakta kekinian mestilah menjadi renungan besar bagi Milad setengah abad IMM. Sejarah telah berulang. Penjajahan bentuk baru telah semakin kokoh. Kapitalisme telah menghalalkan proses persempitan kesempatan dan hak-hak warga Negara untuk menjadi pemangku kepentingan di tanah sendiri. Semua dokumen kesepakatan internasional tentang kerjasama antar Negara terutama dalam ekonomi dan perdagangan telah diartikulasikan untuk mensahkan penguasaan asing di negeri baru melek huruf. Sekolah-sekolah telah cenderung diposisi-tunggalkan menjadi proses penundaan pengangguran besar-besaran tanpa bertanggungjawab atas hakekat keterhubungan kurikulum pengajaran dengan demand keahlian pasaran kerja.  Umat, keumatan dan organisasi keumatan bergeser pasti menjadi artikulasi pelayanan bagi neoliberalisasi yang dahsyat. Tak layak IMM tak menggugat.

Menyempurnakan Peran Negara. Jika hanya untuk sekadar mendapat serpihan remeh temeh dari rentetan dan proses kenegaraan yang dalam ekpresinya memang kerap memuncratkan keuntungan material sepihak dalam rivalitas di antara pemangku kepentingan di nusantara, agaknya sangat minimalis bagi eksistensi IMM. Bersama teman-temanmu yang masih berpikiran bening, bertanyalah tentang Negara yang tak mampu berdiri sebagai wadah berdaulat yang seyogyanya melindungi segenap tumpah darah. Bersama teman-temanmu, berdirilah menjadi saksi yang tangguh dan cerdas atas proses berkelanjutan hilangnya harta benda milik bangsa (stolen asset) baik yang dikukuhkan dengan legitimasi undang-undang maupun yang disiasasti terjadi sedemikian rupa dengan melampaui daya atur undang-undang yang memang hingga kini tampaknya selalu harus dicurigai mengapa dibuat begitu bodoh dan naïf.

Status kepeloporan yang kau sandang mewajibkanmu berseru keras untuk semua, membangunkan setiap orang yang karena tidur pulas atau pingsan tak menjadi nalar dan menjadi komprador, bahwa kini Indonesia telah kehilangan identitas diri meski dengan tetap masih mewajibkan setiap upacara kenegaraannya membacakan naskah Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, serta pemberhalaan simbol-simbol ekspresif (bhinneka tunggal ika, merah putih, dll) yang kemudian sangat jelas telah menjadi hampa tanpa makna, sambil memujikan secara diam-diam setiap orang yang menjadi raja dan kaya karena korupsi. Mengapa tak bertekad (bersama teman-temanmu) melakukan perombakan yang serius?

Bersama teman-temanmu yang sejiwa dan sesama patriotik yang jujur, tanyakanlah kepada para guru besarmu di semua perguruan tinggi, mengapakah kita masih tetap menjadi buruh dan kuli di tanah-tanah warisan sendiri sambil memakan “beras sampah” dari petani bangsa dan Negara lain, sedangkan setiap jengkal tanah tersisa telah dipatok untuk kepentingan nutrisi Negara besar (perkebunan raksasa) dengan penguasannya yang menjelaskan keterjajahan tak berakhir? Pertajamlah argumentasimu tentang demokrasi, bahwa jika hanya untuk mempergilirkan kekuasaan di antara para penjahat, mengapa tak kita sewa saja sebuah rejim pemerintahan pilihan dari Negara lain untuk “mengurusi” kita kembali dengan pola bagi hasil yang siapa tahu dapat membuat setiap orang miskin di negeri ini menjadi tersenyum lebar penuh harapan karena terjamin mendapat bagian dari eksploitasi harta kekayaan Negara yang diperjuangkan oleh nenek-moyang mereka dengan darah berceceran di setiap medan tempur?

Katakan dengan keras kepada setiap aparat yang kau temui di ruang-ruang mewah ber AC, atau di mobil-mobil mewah yang selalu diganti sebelum satu pun bannya layak ditukar; kapan keringatmu kita kucurkan untuk membela keadilan dan kebenaran, dan kapan keringatmu kita kucurkan untuk mengembalikan bentang nusantara yang terjajah lagi hingga kembali ke pangkuan bangsa? Seriuslah mempertanyakan kepada mereka, apakah mereka kini semakin menyesal dan dengan jalan apakah kita dapat menumbuhkan penyesalan di sanubari mereka? Bujuk mereka untuk tak lagi bernegosiasi dengan setan-setan yang selama ini mereka puja dan tawar-tawarkan kepada kita untuk diakui menjadi raja kita.

Penutup. Dengan bertekad terus berkarya untuk Indonesia berkemajuan, IMM tak berarti harus memaafkan sejuta keteledoran internal (Muhammadiyah) yang menunjukkan degradasi serius dalam mengelola 20.945.504   M² tanah miliknya. Pastikanlah 4.623TK/TPQ dan 2.604 SD/MI, 1.772 SMP/MTs, 1.143 SMA/SMK/MA, 67 Ponpes, 71 SLB dan 172 Perguruan Tinggi milik Muhammadiyah adalah lahan dakwah, bukan lahan korupsi. Tegaskan bahwa bukan kapitalisasi yang dituju oleh 457 Rumah Sakit, 318 Panti Asuhan, 54 Panti jompo, dan 82 Panti Rehabilitasi Cacat milik Muhammadiyah yang tersebar di seluruh tanah air. Kini ada lebih dari 6.118 masjid dan 5.080 Musholla, tidak termasuk yang didirikan di lingkungan amal usaha pendidikan, sosial dan perkantoran. Tegaskanlah bahwa itu semua bukan untuk sekadar memupuk kesalehan individual, karena rasulullah memerintahkan membangun peradaban dari sana selain sebagai tempat khusus untuk mengakui penghambaan di hadapan Al-Khaliq.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Senin 17 Maret 2014, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: