'nBASIS

Home » ARTIKEL » Menjawab Pertanyaan (2)

Menjawab Pertanyaan (2)

AKSES

  • 551,228 KALI

ARSIP


Seandainya ada pertanyaan tentang nasib pemberantasan korupsi untuk pemerintahan 2014-2019, jawaban saya akan begini: “Sebaiknya kita mulai dari siapa presidennya. Jika pada pencapresan KPK tidak menganggap penting penelusuran untuk memastikan ketak-wajaran atau kewajaran asal-usul harta para capres, maka pemberantasan korupsi ke depan hanyalah retorika belaka. Sebaiknya wacana tentang itu dihentikan saja”

Pertanyaan-pertanyaan ini saya kumpul dari berbagai forum dan juga dari perbincangan informal dengan beberapa orang. Jawaban spontanitas saya tak saya perbaiki dalam tulisan ini.

  • Pertanyaan (1): Amien Rais menurunkan Gus Dur. Itu catatan buruk. Masak seorang Kiyahi digusur?” Amien Rais seorang King Maker yang talentfull. Apalah harapan Gus Dur menjadi presiden kalau bukan karena porostengah yang didesign oleh Amien Rais? Buktinya untuk periode berikutnya setelah dilengserkan, Gus Dur berusaha mencalonkan diri. Mengapa tak diterima? Apa ada peluang lain untuk Mega jika bukan karena faktor yang sama (poros tengah)? Periode berikutnya Megawati, dalam keadaan berkuasa dan banyak uang justru kalah. Itu fakta. Karena itu, Gus Dur dan orang-orangnya, serta Megawati dan orang-orangnya harusnya berterimakasih sebesar-besarnya kepada Amien Rais.
  • Pertanyaan (2): “Bagaimana Rhoma Irama mau menjadi Presiden isterinya saja 4?” Bagi saya, Rhoma Irama itu fenomenal. Biarkan ia menjadi capres. Mengapa pula harus dikaitkan dengan jumlah isterinya? Mana lebih berbahaya dibanding orang yang berpura-pura setia dengan seorang isteri tetapi sesungguhnya bertingkah aneh?
  • Pertanyaan (3): “Bagaimana nasib partai Islam di Indonesia?” (1) Agama sebagai motor ideologi dalam menjalankan politik dan pemerintahan itu bukan khas Indonesia saja. Obama saja dalam pilpres terakhir dianggap berbahaya karena diposisikan sebagai seorang muslim. Amerika masih mendengungkan my vote is my faith atau my faith is my vote”. (2) Di partai yang dilabeli secara formal sebagai nasionalis Anda bisa menemukan bercokolnya orang-orang agama dan yang berfikiran lebih seru dari orang-orang pengusung partai agama, dengan tujuan dan niatan keagamaannya pula. (3) Di Indonesia partai agama itu bukan cuma partai Islam. Anda tahu sendiri partai agama mana saja yang sudah tenggelam. Pertanyaan saya, kemana pengususng partai non muslim itu setelah partainya bubar? Apakah mereka berhenti dengan cita-cita keagamaannya setelah masuk ke partai yang secara formal memang dinyatakan sebagai partai nasionalis?  (4) Mana yang lebih patut dipertanyakan, apakah mantan pentolan partai agama non muslim yang masuk ke partai yang secara formal dilabeli nasionalis itu atau orang-orang yang membangun partai Islam? (5) Kalau kita bandingkan dengan hasil pemilu 1955 dan seterusnya, apakah benar-benar terjadi penurunan yang sangat drastis dalam perolehan suara partai-partai Islam?
  • Pertanyaan (4): “Masa kampanye pemilu 2014 segera berakhir. Sudah idealkah kampanye yang diterapkan parpol selama masa kampanye ini?” Memang ada yang masih mengandalkan perlunya mobilisasi massa, padahal hampir dipastikan mobilisasi itu pakai bayaran. Kampanye kali ini saya lihat sudah bergeser ke arah teknis, amat teknis. Orang, dari awal, begitu ingin memastikan keterpilihannya dan karena itu langsung ke sasaran. Kini tinggal maintenance konstituen, dan memastikan tak ada kecurangan. Meskipun demikian, kampanye kali ini juga tak berbuah kesadaran politik yang lebih baik di tingkat akar rumput, begitu juga elit.
  • Pertanyaan (5): “Tingkat partisipasi pemilih tahun 1999 mencapai 93,33 %. Tahun 2004 84,9% dan 2009 menjadi 70,99 %. Bagaimana untuk 2014?” Nah, ini yang harus ditertawai. Indonesia tak memiliki data politik seperti itu. Yang Anda kemukakan itu adalah data klaim politik. Entah betul entah tidak, kita langsung bisa mengatakannya karena integritas penyelenggara pada setiap pemilu lalu sangat rendah. Lihatlah apa yang diteriakkan AU beberapa hari lalu. Itu lebih dari cukup untuk meragukan hasil-hasil pemilu yang lalu itu beserta data partisipasi politik
  • Pertanyaan (6): “PDIP berkeyakinan bahwa pencapresan Jokowi akan meningkatkan partisipasi pemilih di pileg nanti. Bagaimana komentar Anda?” Kalau itu betul, maka sebaiknya PDIP bersyukur. Jika itu tak betul, ya bersyukur jugalah. Orang di Jakarta dan dimana-mana di Indonesia ini sangat tahu membedakan Jokowi dengan PDIP. Itu bisa membuat harapan optimistik itu tak tercapai.
  • Pertanyaan (7): “Ada stigma menarik untuk kekuatan politik PPP. Selagi ada masyarakat yang menggunakan sarung dan peci, maka akan tetap ada pemilih PPP. Komengtar Anda?” Saya tidak suka pertanyaan stigmatif ini. Kita harus menempatkan semua partai dalam jarak yang sama. Jika kita memiliki kegeraman, maka ingin saya ketahui kegeraman apa yang membuat berlebih untuk PPP dan partai berbasis Islam? Menurut saya, atau tolong saya diberi data, apakah partai-partai berbasis pendukung Islam itu pernah menjadi dalang kejahatan terhadap negara dan dalang korupsi terbesar?
  • Pertanyaan (8): “PKS diterpa isu perempuan dan korupsi yang akhirnya telah menurunkan elektabilitas. Namun dalam kampanye nasional di GBK, PKS dihadiri oleh 150 ribu kader. Apakah PKS akan solid dalam target perolehan suara?” Saya tadi sudah bilang, kampanye 2014 amat teknis meski masih ada partai yang merasa harus mobilisasi massa. Mobilisasi massa itu pakai uang. Jika Anda yakin PKS memobilisasi tanpa dana, artinya mereka datang dengan penuh keihlasan ke GBK, maka tak ada alasan untuk meragukan target mereka itu. Tetapi jika Anda lebih yakin PKS memobilisasi dengan uang, maka ia perlu diminta istigfar.
  • Pertanyaan (9): “Bagaimana pemetaan politik Islam untuk pemilu 2014?” Secara resmi konon PKS kan sudah menjadi bukan partai Islam. Kita keluarkan dia dari pembicaraan ini. Jadi yang tinggal hanya PBB dan PPP? Iyakan? Saya tidak tahu kekuatan finansial kedua partai ini, di samping figuritas orang-orang yang menjadi pentolan dan para celegnya. Rumus lama kan (1) figuritas (2) networking dan (3) budgentting.
  • Pertanyaan (10): “Apa prediksi Anda tentang perolehan suara partai politik yang bertarung pada pemilu 2014?” Jika akan menjawab pertanyaan itu, kita terlebih dahulu harus dapat memastikan apakah pemilu 2014 akan berlangsung jujur sejujur-jujurnya dan adil seadil-adilnya. Akses warga yang berhak tak terkendala. Tidak ada intimidasi. Tidak ada money politic. Perhitungan suara jujur. Jika semua itu tak terjamin, jawaban saya akan sangat mirip angan-angan atau kicauan burung yang tak bermakna sama sekali.
  • Pertanyaan (11): “Anda sudah tahu hasil-hasil survey politik 2014. Apa komentar Anda?” Sebetulnya saya sangat ingin menyarankan agar pengambil data survey yang melaksanakan wawancara setiap kali diganti.
  • Pertanyaan (12): “bagaimana posisi perolehan suara PAN?” Ini memang menarik didiskusikan mengingat perannya selama 5 tahun ini lebih sbg partai pemerintah atau penguasa. Tetapi membayangkan PAN memperoleh peningkatan suara agaknya lebih mudah ketimbang membayangkan degradasinya.
  • Pertanyaan (13): “Anda mengenal tokoh dalam gambar di bawah ini?” Oh, itu laeku Efendi Naibaho. Ia bekas Ketua Umum Gamki Sumut. Juga pernah menjadi wartawan SIB dan periode 2004-2009 anggota DPRDSU. Bagi laeku ini Bung Karno dan Mega adalah simbol. Belakangan, dalam proses kecalegannya untuk DPR RI Sumut 1, ia tambah satu lagi tokoh simbolnya, yakni Jokowi. Tapi aku merasa laeku ini malah lebih hebat dari Jokowi.

Seandainya ada pertanyaan tentang nasib pemberantasan korupsi untuk pemerintahan 2014-2019, jawaban saya akan begini: “Sebaiknya kita mulai dari siapa presidennya. Jika pada pencapresan KPK tidak menganggap penting penelusuran untuk memastikan ketak-wajaran atau kewajaran asal-usul harta para capres, maka pemberantasan korupsi ke depan hanyalah retorika belaka. Sebaiknya wacana tentang itu dihentikan saja”.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: