'nBASIS

Home » ARTIKEL » RATIONAL CHOICE: NAWAR PIRO WANI PIRO (NPWP)

RATIONAL CHOICE: NAWAR PIRO WANI PIRO (NPWP)

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


Selamat malam, bang. Saya seorang jurnalis pada sebuah harian lokal di Medan. Bolehkah saya minta komentarnya? Pertanyaan yang diajukan melalui inbox facebook itu saya jawab dengan sebuah pertanyaan ringkas “Tentang apa gerangan?” Semula memang sudah saya duga bahwa ia akan mengajukan pertanyaan seputar pemilu. “Ini tentang sekelompok nelayan di Belawan yang enggan mencoblos dikarenakan selama ini di kampung mereka tidak ada perubahan. Siapapun yang terpilih kampung mereka tidak pernah ada kesejahteraan.”

Saya merasa perlu mengetahui kelompok mana yang dimaksudkan dan alamatnya di mana di kota pelabuhan Belawan yang relatif luas itu. Katanya, fakta itu direkamnya di kampung Kurnia, Belawan. Ia juga mengatakan telah langsung berbicara dengan Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Sumut, Effendi Pohan, yang juga membenarkan fakta itu. Satu hari sebelumnya, cukup lama saya berada di Belawan dan mengunjungi banyak tempat. Tetapi tak mendengar keluhan kampung Kurnia itu. Untuk meyakinkan saya, jurnalis itu memberi nomor telefon Effendi Pohan. Tetapi saya merasa tak perlu mengontaknya.

Fakta Kehidupan Nelayan Tradisional. Di hampir seluruh Indonesia masyarakat nelayan tradisional selalu mengalami perlakuan marginalisasi. Karena pengaruh lingkungan, watak masyarakat nelayan terbentuk sedemikian rupa hingga kelihatan sangat liberal. Dalam soal pemilu misalnya, umumnya susah mendapatkan komitmen dari masyarakat nelayan tradisional. Itu bukan saja karena mereka selama ini kurang mendapat sintuhan pembangunan, tetapi lebih karena watak yang terbentuk sesuai dengan lingkungan.

Sebetulnya saya sedikit curiga bahwa jika fakta ini sengaja diekspose keluar tentu dapat menjadi catatan penting untuk perebutan di antara caleg dari berbagai partai yang mengasumsikan mereka dapat dipikat dengan bujukan (persuasi) hingga praktik money politics. Sebagaimana diketahui, dalam kajian politik kita mengenal adanya teori rational choice yang pada intinya menerangkan adanya alasan yang mempertimbangkan keuntungan (ganjaran) tertentu dari sebuah pilihan. Dengan keadaan hidup “Senin-Kemis”, mungkin masyarakat nelayan tradisional itu tidak akan dapat menunda kebutuhan untuk mendapatkan uang dari laut hanya karena urusan politik atau memberi suara di TPS. Itu terlalu besar sebagai sebuah pengorbanan (ekonomi) buat mereka. Mereka akhirnya dengan mudah dan tanpa beban apa pun dapat merasionalkan bahwa jika ada imbalan, dapat saja tak pergi ke laut mencari nafkah harian, asalkan diberi uang pengganti oleh siapa pun. Tidak penting partai apa dan tidak peduli caleg mana.

Karakter Partai Indonesia. Tentang keluhan ketak-setiaan partai dan para caleg terpilih yang dikeluhkan di kampong Kurnia Belawan itu saya nyatakan tidak menjadi sesuatu yang cukup istimewa dalam tradisi politik Indonesia. Karena keluhan yang sama kelihatannya ada di mana-mana. Bukankah cukup jarang masyarakat yang memberi kesan baik dan memberi label responsif terhadap semua partai dan semua caleg terpilih dari semua dapil di Indonesia? Partai yang umumnya hanya lebih mementingkan agregasi dukungan tanpa kaderisasi dan rekrutmen yang sehat, jelas akan menonjolkan praktik-praktik kotor. Gaya bisa berbeda, tetapi intinya semua sama: sinterklasisme yang tak mendidik.

Memang mungkin saja para nelayan itu memperbandingkan kampungnya dengan kampung lain non nelayan. Rasa ketidak-puasan pun kerap semakin tinggi karena adanya proses radikalisasi. Harus dicatat bahwa selama ini mereka tidak terisolasi. Ada kontak intensif dengan dunia luar, di antaranya pemerintah, LSM dan sebagainya. Pemerintah yang selalu ingin menggurui dan simplistis sambil berusaha mendapatkan keuntungan pribadi-pribadi aparat dalam advokasi serta pemberian bantuan kepada nelayan sudah menjadi catatan baku dalam sejarah, tak hanya untuk desa-desa pantai. Mereka (masyarakat) sudah tahu nama paling tepat sebagai julukan kepada pemerintah dalam kebobrokan itu. Frustrasi dengan pemerintah seketika dapat terobati dengan kehadiran LSM. Tetapi banyak di antara LSM itu yang hanya sebagai perpanjangan tangan-tangan kapitalis asing, jika bukan LSM yang didirikan oleh orang-orang lokal yang lebih berharap mendapat uang dari sumber-sumber tertentu ketimbang memberdayakan masyarakat nelayan.

Kombinasi. Dengan mekanisme itu pengalaman dapat cukup lengkap bagi anggota masyarakat nelayan sebagai hasil interaksinya dengan pihak pemerintah dan pihak LSM. Responnya bisa berbeda-beda atas kedua pihak itu. Jadi bukan hanya karena sikap buruk para legislator terpilih dan partai itu saja, yang menurut pandangan mereka tidak setia, yang menjadi penyebab. Tetapi juga kombinasi dengan watak yang terbentuk oleh lingkungan. Masyarakat nelayan selalu sulit untuk diikat dengan sebuah komitmen dan itulah salah satu gambaran dari kehidupan mereka. Akan kita saksikan eksistensi toke-toke yang betul-betul bisa kaya-raya dari keringat nelayan tak berdaya ini. Sudah lazim itu, dan pemerintah diam saja.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: