'nBASIS

Home » ARTIKEL » LAMPET SUB-ORDINASI TUMPENG

LAMPET SUB-ORDINASI TUMPENG

AKSES

  • 544,897 KALI

ARSIP


lampet

Masalah yang lebih serius tentu motif festivalisasi yang menyebabkan modifikasi lampet menjadi tumpeng atau setidaknya mensub-ordinasikan diri pada ide pokok tumpeng. Akan tergodalah setiap orang untuk bertanya apakah tumpeng harus diakui lebih hebat dari lampet

Lampet adalah sejenis makanan dari Tapanuli. Ia bisa berbahan dasar beras. Juga bisa berbahan dasar beras pulut. Diduda (digiling) sampai halus, diayak lagi, dibentuk dan dibungkus dengan daun pisang yang masih muda setelah memasukkan kelapa dan gula merah sebagai intinya. Meski pada perkembangannya lampet bisa juga berbahan dasar ubi, jagung dan lain-lain, tetapi dalam proses memasaknya sama saja, yakni dikukus.

Melihat fakta bahwa panganan yang sama atau hampir sama juga terdapat di luar Tapanuli, agaknya perlulah mencari sejarah dan asal-muasal lampet ini. Jika di tempat lain mungkin dikenal dengan lepat, dan bentuk serta ukurannya juga bisa beragam, maka pertanyaan awal tentulah yang mana yang lebih tua (lampet, lopek atau lepat). Paling tidak, dugaan “jangan-jangan ia berasal dari Melayu dan orisinalnya mungkin dari India”, sangat relevan.

Mengatakan lampet sebagai panganan khas Batak juga tak ada masalah, sebagaimana suku-suku lain di Sumatera juga dapat mengklaim serupa sepanjang sejarah asal-muasal ini belum jelas. Kita lihatlah misalnya ketika Wikipedia bertutur. Katanya, lepat adalah makanan khas Indonesia, yang banyak dijumpai pada masyarakat Sumatera, seperti Minangkabau, Aceh, dan Melayu. Ditambahkan, pada masyarakat Gayo ada kaitan religius. Di sana lepat lazim disajikan pada hari-hari tertentu, terutama menjelang puasa (megang) dan Lebaran. Orang Gayo mahir memasak lepat yang bertahan lama, tergantung pada waktu memasak atau mengasapinya.

Lampet Panjaitan. Rabu pagi pekan lalu, laporan khusus sebuah tv swasta memaparkan tentang lampet raksasa yang digunakan sebagai simbol pemersatu sekaitan dengan perayaan ulang tahun sebuah lembaga pendidikan di Medan. Ukuran (tingginya) tidak tanggung-tanggung, 1 meter. Herannya lagi, bentuknya pun dibuat seperti tumpeng Jawa yang menjulang bagai gunung. Ada arak-arakan diiringi tortor (tarian) untuk lampet raksasa itu. Acara ini dimaksudkan sebagai penanda ulang tahun sebuah sekolah swasta di Medan. Ketua panitianya seorang bermarga Panjaitan.

Rupanya simbolisasi lampet raksasa sebagai pemersatu ini sudah dimulai dari Jakarta pada awal tahun lalu. Inilah catatannya. Pertama, pesta Bona Taon (Pesta awal tahun) punguan (Perkumpulan) marga Pandjaitan Dohot Boruna (klan Panjaitan) se-Jabodetabek 2013, di Jakarta, Minggu tanggal 27 Januari. Dikhabarkan halayak dikejutkan ketika para Naposo (kelompok remaja) tiba-tiba mengarak lampet raksasa berbentuk gunungan berdiameter 3 meter, dengan tinggi lebih kurang 1 meter, ke tengah-tengah acara. Artinya, ada nilai kejutan karena dua hal (tak lazim dan tak disangka). Apalagi dibumbui dengan konstruk baru bahwa lampet lambang persatuan, sesuatu yang mungkin akan menjadi pertanyaan bagi orang di luar perencana acara.

Kedua, juga perayaan Bona Taon Punguan Raja Panjaitan dohot Boruna (PRPB), yang jika dibahasa Indonesiakan adalah perayaan tahun baru klan Panjaitan, untuk Kota Medan, yang dilaksanakan di sebuah hall milik orang Batak pada tanggal 7 Februari 2014. Lampet raksasa dihadirkan lagi, juga setinggi 1 meter. Jika tema yang diusung pada pesta Bona Taon tahun lalu di Jakarta adalah “Pandjaitan Martumba untuk Indonesia” (keluarga besar Panjaitan menari dan berdendang untuk Indonesia), maka pada perayaan awal tahun ini di Medan tema yang diusung ialah “aku cinta keluarga Panjaitan” dan dengan sub-tema yang direfleksikan dari Kolose 3:14, yakni “dalam cinta kasih-Nya; dari Panjaitan kepada Panjaitan untuk kota Medan dan negara.”

Sub-ordinasi dan Komodifikasi. Bagaimana lampet bisa sebagai substitusi simbol sakral yang dikenal lama dalihan na tolu (tiga tungku sejarangan) atau suhi ni ampang na opat (empat komponen esensial dalam struktur inti masyarakat Batak) adalah problem yang mengindikasikan proses pencarian makna baru yang sayangnya dapat sebagai bentuk kegalauan atau keterjebakan masyarakat modern akibat ketak-menentuan diterpa arus globalisasi. Atau mungkin ini bisa sebagai bentuk “pemberontakan” atas nilai lama?

Masalah yang lebih serius tentu motif festivalisasi yang menyebabkan modifikasi lampet menjadi tumpeng atau setidaknya mensub-ordinasikan diri pada ide pokok tumpeng. Akan tergodalah setiap orang untuk bertanya apakah tumpeng harus diakui lebih hebat dari lampet. Orang bisa mengundang pemikiran Sutan Takdir Ali Syahbana yang tak mengakui hegemoni sepihak karena baginya kebudayaan nasional itu hanyalah puncak-puncak kebudayaan lokal yang jamak. Tidak ada yang harus dipertarungkan, karena Bhinneka Tunggal Ika bukan ladang kompetisi saling mengeliminasi. Ia bukan gagasan yang identik dengan melting pot (pot peleburan).

Komodifikasi memang semakin lazim saja. Pertengkaran seputar pemberian marga Siregar kepada SBY beberapa tahun lalu masih segar dalam ingatan. Bukankah semua orang tahu maksudnya ketika Gatot Pujo Nugroho menjadi Lubis dan T Erry Nuradi menjadi Nasution menjelang pemilukada 2013? Jelas ini bukan sekadar sebentuk reifikasi (proses pendangkalan makna) yang lazim berakar pada proses komodifikasi (commodification), melainkan komodifikasi itu sendiri. Gejala ini sedang terjadi besar-besaran tak hanya sebagai pengaruh turisme yang memaksa penyederhanaan berlebih hingga menyebabkan entropi yang serius. Jika menyimak diskusi Karl Marx, komodifikasi adalah proses bagaimana membuat barang nonsaleable becoming saleable, dan itu semua berlangsung dalam lingkup motif yang tak selalu dapat dipertanggungjawabkan di hadapan keluhuran budaya.

Dari segi momentum introduksi makna baru lampet khas keluarga besar Panjaitan ini telah berlangsung dalam iklim yang sangat politis dan memang di tahun politik. Demokratisasi sebagai nilai modern dan universal dicoba untuk ditundukkan pada primordialitas yang amat lokalistik, atau setidaknya mencampur-adukkannya. Kesimpulan ini agaknya tidak terlalu jauh dari tanda-tanda yang dapat dimaknai. Di Tapanuli (khususnya eks Tapanuli Utara), kini dapat disaksikan model-model penyatuan proses demokratisasi kepemiluan dengan nilai lokal berbasis dalihan na tolu. Banyak baliho yang memampangkan nama dan gambar caleg dengan mementingkan pencantuman nama isteri dan marga mertuanya. Itu dimaksudkan untuk memicu simpatik dan diharapkan dilanjuti dengan keputusan memilih. Tetapi jika semua caleg yang berharap mendapat dukungan solidaritas mekanistik melalui sentimen dalihan na tolu ini berada pada dapil yang sama, dengan partai yang sama atau berbeda, tentulah pemilih harus mencari rasionalisasi tersendiri untuk menentukan pilihan.

Penutup. Keluarga besar Panjaitan berangkat dari sebuah ekslusivitas dengan tema pesta bona taon (di Medan, 2014), yakni “aku cinta keluarga Panjaitan” dan dengan sub-tema yang direfleksikan dari Kolose 3:14, yakni “dalam cinta kasih-Nya; dari Panjaitan kepada Panjaitan untuk kota Medan dan negara.” Tentulah susah menyangkal motif komodifikasi dalam tema dan sub-tema ini. Juga tak mungkin dibantah bahwa jika kepercayaan diri yang berlebih keluarga Panjaitan yang secara numeric menganggap dirinya bisa berbuat sesuatu, tentu perasaan dan konsolidasi serupa pasti sedang terjadi pula pada marga-marga lain, khususnya yang saat ini memiliki caleg. Atau mungkinkah setiap marga ini sedang berangan-angan pula untuk mengelus anggotanya menjadi Capres atau Capres dan kalkulasi apa gerangan yang membuatnya sebegitu optimis? Lalu pengkotak-kotakan ini akan menghasilkan apa untuk orang Batak yang jumlahnya semua orang sudah tahu? Tak sulit menebak hasil akhirnya bukan? Siapa yang tak dapat berhitung tentang akibat pemosisian eksklusivitas kelompok-kelompok kecil ini? Horas be ma (selamat sejahteralah kita semuanya).

Shohibul Anshor Siregar. Pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, 31 Maret 2014, hlm B7.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: