'nBASIS

Home » ARTIKEL » ADIOS

ADIOS

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


SBY

Saya padukan ketiga gambar ini seolah untuk mengatakan:

“Waktu saya sudah tiba.
Mohon maaf atas segala kekurangan saya yang memimpin negara ini selama dua periode.
Selamat tinggal”.

Mengevaluasi secara umum perjalanan negeri ini selama dipimpin oleh Presiden SBY (dua periode), banyak hal sangat perlu dicatat. Katakanlah keutuhan nasional yang selalu terganggu karena diskriminasi yang tak berubah meski Orde Baru sudah ditinggalkan. Banyak orang harus merasakan dirinya bukan Indinesia yang difahamkan oleh Jakarta. Belum lagi jumlah orang yang harus pergi meninggalkan sanak famili untuk mengadu nasib menjadi pekerja migran entah di mana.

Lembaga-lembaga dan struktur politik serta budaya politik yang berkembang semakin hedonis dan tanpa pertanggungjawaban. Semua asyik dengan kepentingan dan mainan sendiri. Apa yang disebut legitimasi di negeri ini adalah sesuatu yang rupanya boleh dengan metode perampasan. Meski sukses demi suksesi berlangsung dengan pemilihan, tetapi yang terjadi adalah perampasan berbau kriminalisasi demokrasi. Sumber daya alam dan distribusinya begitu senjang. SBY sendiri telah mengganti istilah Cina dengan Tionghoia, mengikuti Gus Dur yang memanjakan minoritas Cina ini dengan menghadiahi status agama kepada Konghuchu. Adil dan keadilan tak dikenal.

Rasanya bukan saya saja yang risau. Maka dengan gambar di atas itu saya pun mengarang lagi dan menginterpretasi lagi, demikian:

“Hendaknya kalian catat baik-baik. Saya ini tentara lho.
Kalian semua tahu itu.
Saya juga raja Citra dan raja Pencitraan. Tahu maksud saya kan?
Kalian semua tahu itu”.

Mengamati dinamika yang berkembang, mungkin tak salah jika menyimpulkan bahwa kekuatan politik saat ini telah mengasah persaingan untuk alasan tunggal: perebutan kekuasaan. Tidak ada lagi agenda serius selain itu.

Maka saya interpretasi lagi ketiga gambar itu demikian:

“Karena itu, pesan saya, belajarlah kalian memilih seseorang yang akan menggantikan saya ke depan. Satu bangsa yang berulang-ulang terjerembab pada lubang yang sama adalah musibah besar”.

Anda percaya saya kira, bahwa negeri ini tak akan beranjak maju dengan, misalnya, dengan memandang salah seragam militer dan sejarah kemiliteran seseorang yang dianggap menjadi nilai plus untuk menjadi presiden karena dianggap disiplin, kuat dan seterusnya. Padahal disiplin, misalnya, tak terkait sama sekali dengan baju seragam. Sama sekali tidak. Kebaikan, profesionalitas, tanggungjawab, juga sama sekali tak identik karena puja-puji media yang mematikan nalar dan nurani. Indonesia bukan ajang perebutan politik.
Adios.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: