'nBASIS

Home » ARTIKEL » DIKHOTOMI SIPIL DAN MILITER

DIKHOTOMI SIPIL DAN MILITER

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Dikhotomi sipil-militer masih akan tetap mengemuka dalam setiap event demokrasi (suksesi) Indonesia. Berdasarkan pengalaman yang luas di berbagai negara, diketahui bahwa Negara-negara yang pernah diperintah oleh rezim militer dengan berbagai kemungkinan variasinya, selalu sulit untuk tak kembali ke figur militer ketika negara itu mulai menerapkan demokrasi.

 
Indonesia mencatat sejarah itu, bahkan pemilu yang menghasilkan kepemimpinan sipil tercatat tidak stabil hingga SBY malah berhasil memeroleh mandat melalui pemilu bahkan untuk dua periode. BJ Habibie yang memerintah kurang lebih selama 512 hari untuk menghabiskan sisa masa jabatan yang ditinggalkan oleh Soeharto yang mundur sesuai gugatan reformasi, justru tidak direkomendasikan untuk mencalonkan diri menjadi Presiden. Dalih formalnya ialah nota pertanggungjawabannya ditolak MPR.
 
Kemudian, tokoh poros tengah bikinan M.Amien Rais (Gus Dur) berakhir tragis, dipaksa mundur meski telah terlebih dahulu menerbitkan dekrit yang tak digubris oleh siapa pun. Mega yang meneruskan sisa masa jabatan itu harus mencatat gagal mempertahankan kekuasaannya pada pemilu berikut  (2004) meski duduk sebagai incumbent dengan latar belakang sebagai pemenang pemilu pada periode sebelumnya (1999).
 
Bagaimana 2014? Pertanyaannya apakah kini Indonesia masih akan mengidolakan figur militer? Berdasarkan hasil (hitung cepat) pemilu 2014 tampaknya hanya ada kemungkinan 3 (tiga) Calon Presiden, yakni figur yang muncul dari PDIP dan koalisinya, Golkar dan Koalisinya, Gerindra dan Koalisinya. Tetapi PD juga dapat dibayangkan maju dengan calon sendiri dengan menggandeng seluruhnya atau sebagian dari kekuatan partai-partai berpendukung muslim yang jumlahnya lebih dari 30 %. Ditambah perolehan suara PD agregat suara partai yang didukung oleh muslim (PKB, PAN, PPP, PKS, PBB), malah dapat mencapat 40 % lebih.   
 
Tanpa melihat salah satu figur (Prabowo Subianto) sebagai mantan petinggi militer, lazimnya parpol di Indonesia masih belum dapat melepaskan diri dari pertimbangan figur militer dalam kombinasi pasangan capresnya nanti. Ini mengindikasikan secara kuat bahwa peran militer di Indonesia masih memiliki agenda yg belum tuntas. 
 
Benar bahwa militer generasi baru cukup berbeda jauh dari figuritas militer sebelumnya seperti Wiranto, Sutyoso, SBY dan Prabowo. Tetapi backmind pemilih apalagi di grassroot masih menganggap militer sebagai pemimpin yang tepat karena antara lain dianggap tegas, kuat dan sebagainya. Penilaian itu tak selamanya benar, karena rakyat di bawah kerap tak dapat mengidentifikasi kapasitas figur secara baik, misalnya akan dengan mudah mengatakan militer lebih disiplin hanya dengan melihat pakaian seragam, model organisasi komando dan berbagai ekspresi lainnya seperti baris berbaris. 
 
Jangan pula dilupakan betapa masih banyaknya kelompok sosial di Indonesia yang masih gandrung mengidentifikasi diri dengan militer, bukan cuma dalam kesukaan menggunakan loreng, tetapi dalam model organisasi dan bahkan frasa-frasa umum di tengah masyarakat. Perhatilanlah ketika orang ber-sms: “di mana posisi? Boleh saya merapat? Apa perintah ketua?” Dan lain sebagainya. Semua itu frasa yang mendewakan militer.
 
Dalam agenda panjang demokratisasi fenomena ini ada plus dan tentu ada minusnya. Di antara minus terbesarnya tentulah figur militer sama sekali tak memiliki referensi pengalaman dalam demokrasi. Karena jika tak diperintah maka setiap figur militer pastilah dalam plsisi memerintah. Berbeda pendapat tak dikenal sama sekali, dan rakyat kecil dengan amat awam akan menganggapnya disiplin.
Shohibul Anshor Siregar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: