'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMBACA MANUEVER POLITIK SBY PASCA PILEG 2014

MEMBACA MANUEVER POLITIK SBY PASCA PILEG 2014

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


 

Sebuah pameo lama dalam politik telah dipilih oleh SBY untuk sebuah komunike yang diliput luas oleh media pasca pengumuman hasil hitungan cepat pileg 2014. “Segalanya amat mungkin terjadi dalam dunia politik”, ucap SBY dalam komunike itu. Pameo ini adalah sebuah gambaran “kekayaan” alternatif yang dimiliki oleh SBY meski partainya sudah dipastikan kalah dalam pileg 9 April 2014.

Karena itu mungkin hingga kini banyak orang agak sulit membayangkan munculnya capres dan berpeluang menang satu putaran di luar kubu PDIP, Golkar dan Gerindra beserta koalisi masing-masing dari ketiga partai papan atas ini. Lembaga survey paling berpengaruh sekali pun tampaknya hendak memaksakan kehendak bahwa SBY is over. Itu sebuah kesalahan besar by design. Siapa di belakangnya tentu tak sulit diurai. Tetapi sangat pasti, bahwa membayangkan pasangan capres untuk pilpres 2014 hanya dengan keterpusatan analisis pada ketiga partai papan atas itu adalah terlalu sederhana. Orang tidak boleh seenaknya menganggap SBY berdiam diri dan menerima kekalahan begitu saja. 

Faktanya SBY hingga kini, dengan perolehan suara di atas 10 % dan menjadi “raja” papan tengah, masih sangat berpeluang besar mengendalikan Indonesia lima tahun ke depan dengan memotori sebuah koalisi mayoritas dengan menggandeng sluruh partai berbasis dukungan muslim. Ingat, bahwa angka 10 % lebih itu hanya terpaut tak begitu jauh dari perolehan suara terkecil partai di papan atas (Gerindra).  Ketiga, menikmati kekuasan itu enak, dan jika akan terdegradasi atau terlempar dari orbit kekuasaan adalah sesuatu yang sukar sekali untuk dibayangkan oleh semua partai. Harapan rata-rata (diperlakukan secara mulia) seluruh partai-partai berbasis dukungan Islam itu justru lebih besar pada koalisi yang diprakarsai oleh SBY. 

Hanya saja proses pencapaian kesepakatan akan sangat alot ketika memutuskan siapa yang akan dikedepankan menjadi Cawapres dari partai-partai berbasis dukungan Islam itu. Jika itu selesai, maka salah seorang dari peserta konvesi Capres Demokrat akan menjadi Capres dan penandatanganan kesepakatan termasuk peta pembagian jabatan menteri dapat dilakukan seketika. Bukankah itu begitu memikat?

Memang bermanfaat untuk mengulas nasib Jokowi dalam konteks pemataan ini. Tetapi biarlah itu diabaikan saja dulu, karena pertentangan internal PDIP tidak begitu mudah difahami baik dengan menerka-nerka pikiran Mega dan para pembisiknya, maupun dengan menganalisis kualitas dan ekspresi desakan kebosanan atas kewibawaan tradisional yang diasah relatif sangat hati-hati dalam partai ini. Tetapi satu hal cukup mudah dibayangkan, bahwa aroma politik persaingan akan didrive oleh sentimen yang kuat sehingga daya tarik figur seperti Jokowi akan dapat tak berarti sama sekali jika akan dipasangkan menjadi Capres dari PDIP dan koalisinya.

Terpaku Hasil Pileg. Sebagaimana diketahui, berdasarkan hasil hitung cepat pileg 2014 tampaknya kini orang lebih mau terpaku pada peluang hanya ada kemungkinan 3 (tiga) Calon Presiden untuk pilpres 2014, yakni figur yang muncul dari PDIP dan koalisinya, Golkar dan koalisinya, Gerindra dan koalisinya. Apalagi dengan popularitas yang diagung-agungkan tentang figur Jokowi, opini publik tergiring hanya kepada nasib mantan walikota Solo ini. Juga nasib Abu Rizal Bakri yang sudah terlebih dulu menjanjikan Indonesia dengan bahasa simbolik “padi menguning” sejak pencapresannya yang sangat dini, dan nasib Prabowo Subianto yang kelihatannya tak begitu cerah dengan fakta capaian pemilu serta pertengkaran-pertengkarannya yang sangat tak produktif dengan kubu Mega seputar Jokowi.

Pertanyaannya partai-partai mana yang akan diajak berkoalisi oleh ketiga partai papan tengah ini dan apakah serta merta akan menurut? Apa ganjaran yang menjanjikan untuk koalisi? 

Karena itu saya sangat yakin Mega, Abu Rizal Bakri dan Prabowo diam-diam sangat menakuti inisitif yang masih penuh kewibawaan dari SBY di depan para pemimpin partai berbasis dukungan Islam itu. Maju dengan calon sendiri dengan menggandeng seluruhnya (atau sebagian saja) dari kekuatan partai-partai berpendukung muslim yang jumlahnya lebih dari 30 % sangat menjanjikan. Ditambah perolehan suara PD maka agregat suara partai yang didukung oleh muslim (PKB, PAN, PPP, PKS, PBB), malah dapat mencapai 40 % lebih. Apalagi jika SBY bisa meyakinkan Surya Paloh dan Hary Tanoesudibjo untuk ikut dalam barisannya. Ini menjadi lebih dahsyat. Bukankah ini gambaran meyakinkan tentang pilpres akan selesai dalam satu putaran?Katakanlah Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo memilih alternatif lain, itu juga tidak mengapa.

SBY malah akan lebih solid dengan partai-partai berbasis dukungan Islam itu sembari mengenang betapa nikmatnya berada di pentas kekuasaan selama KIB I dan atau KIB II.Seburuk-buruk alternatif bagi SBY adalah menempatkan figur hasil konvensi Capres PD menjadi Wakil di salah satu partai papan tengah. Mungkin sulit ke kubu Mega karena urusan masa lalu yang belum dianggap usai. Tetapi halangan apa bergabung dengan Abu Rizal Bakri atau Prabowo Subianto?Pilpres 2014 akan memberi label “pensiun” sekaligus bagi Mega, Abu Rizal Bakri dan Prabowo. Ketiganya diperkirakan tidak akan mau menjadi wapres untuk siapa pun. Oleh karena itu, kondisi yang memudahkan bagi koalisi PD dengan partai-partai berbasis dukungan Islam sudah tersedia sejak lama.

Nasib Perbaikan Indonesia. Pemerintahan yang akan dibentuk oleh pemenang Pilpres 2014 tidak menjanjikan sesuatu yang cukup berarti. Semua partai ini sudah letih dan jenuh berbicara hal-hal ideal untuk bangsa dan negara. Kampanye yang baru berlalu telah membuktikan itu. Praktik money politic dan ketidak-beresan pemilu 2014 malah lebih membuktikan kepada siapa pun tentang tema primer ketertarikan yang membuat partai dan pemimpinnya berbuat apa saja untuk menang pemilu. Ditambah lagi kemelut yang mereka hadapi lima tahun terakhir dengan sendirinya telah membuat mereka terpaksa lebih menempatkan urusan kekuasaan di atas segalanya, termasuk di atas negara. 

Shohibul Anshor Siregar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: