'nBASIS

Home » ARTIKEL » SATU JAM LEBIH DEKAT DAHLAN ISKAN

SATU JAM LEBIH DEKAT DAHLAN ISKAN

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Saya duga ini siaran ulangan. Tetapi suguhan acara di 2/3 malam salah satu tv swasta Jakarta itu sangat saya nikmati, Rabu 16/04/2014. “Satu Jam Lebih Dekat Dahlan Iskan”, itu nama acaranya. Di situ dhadirkan Zainal Arifin Mokhtar yang adalah aktivis anti korupsi dari UGM, bersama Efendi Gozali yang aktivis dari UI itu. Catatan saya tentang acara itu saya buat rinci. Seusai siaran itu saya baca ulang. Saya rapikan bahasa dan mencoba menghindari perulangan isyu. Gaya khas yang sangat memukau dari Dahlan Iskan tentu saja tak akan terekam di sini. Cobalah telaah, kawan. Seingat saya inilah tulisan kedua saya tentang Dahlan Iskan. Sayakah yang sudah berubah atau Dahlan Iskankah?

Rupanya Dahlan Iskan hingga hari ini belum pernah duduk di kursi yang disediakan untuknya sebagai menteri (di kantor Kementerian). Apa motifnya? Ya, tidak enakan saja. Sadar Kementerian itu akan diisi oleh orang yang silih berganti sesuai periode kabinet, Dahlan Iskan antisipasi untuk tak “ketagihan” hingga nanti menjadi sangat sulit melepas kebiasaan bersenang-senang dan nyaman di kantor berkursi empuk itu.

Dahlan Iskan secara jujur mengakui ingin menjadi Presiden RI, tetapi bukan “pengeeeeeen” sekali. Itu gaya ungkapannya, barangkali untuk mengesankan bukan ambisi.

  • Prioritas saya, kata Dahlan Iskan, ialah kemiskinan. Dalam isu kemiskinan itu sekaligus akan tercakup masalah dan revitalisasi pertanian dan peternakan, juga tentu perikanan. Lalu masalah infrastruktur (termasuk listrik tentu saja) dan ilmu pengetahuan;
  • Efendi Gozali menyinggung ketidak-istimewaan metode blusukan untuk tak menyebutnya pencitraan. Ia membandingkan dari berbagai periode sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia. Tetapi bagi Dahlan Iskan, apa yang akan kita temukan di lapangan dengan blusukan itu kan semua orang sudah tahu. Intinya bukan di situ. Tertibkan birokrasinya, buat lebih responsif, itu yang prioritas. Temuan di luar saat blusukan itu penyelesaiannya justru di dalam (internal) birokrasi. Satu hari satu juta sambungan listrik, itu pernah saya perintahkan saat saya Dirut PLN. Tetapi bukan hanya perintah tanpa tindak lanjut. Harus ada perkuatan doktrin, dan harus juga ada perintah yang jelas, dan jelas pula ada sanksi. Tanpa itu tak akan bisa jalan. Jadi, sekali lagi kembali membenahi internal. Bukan blusukan;
  • Saya tak percaya jika di sebuah kantor, jika di sana ada spanduk “di sini tak ada calo”, atau “korupsi diharamkan di kantor ini”. Bukan di situ intinya. Semua tergantung ke perilaku kita;
  • Saya orang yang tidak mau diperas. Baik karena ada orang yang membuat fitnah seperti kasus di Maumere (di sana ia diberitakan dengan blow up negatif), ada pula tuduhan anak saya jualan genset (ini tentu terkait dengan giliran pemadaman dalam krisis listrik itu), dan lain sebagainya. Saya tahu orang yang memfitnah itu. Biarkanlah, tegas Dahlan Iskan;
  • Banyak sekali orang korupsi. Tetapi karena rapih, tak tersentuh. Koruptor itu memang lihai. Saya yakin pembuktian terbalik itu sangat penting. Jika kita tuduh orang yang sangat korup tetapi tak terbuktikan, kita yang masuk penjara kan? Jadi, pembuktian terbalik itu sangat penting;
  • Soal kemiskinan kita sekarang ini bercampur dengan ketidak-adilan. Sambil miskin warga kita jalan-jalan juga ke mall. Sambil miskin warga kita terpaksa juga menyaksikan kemewahan orang-orang yang berseliweran di depannya. Beda dengan zaman saya dulu, semua memang miskin keadaannya. Kemiskinan kita ini soal keadilan;
  • Ketika disodorkan beberapa tayangan termasuk bagian iklan “katakan tidak untuk korupsi”, lalu ditanyakan mengapa Dahlan Iskan tak memilih partai untuk maju. Pihak yang bertanya jelas seakan menyesalkannya masuk Partai Demokrat dan ikut konvensi capres melalui partai itu. Tetapi Dahlan Iskan berpendapat bahwa tidak hanya Partai Demokrat yang korup. Partai lain lebih korup sesuai data yang disiarkan, katanya. Masa lalu ya masa lalu saja, saya optimis ke depan ada yang dapat diperbuat untuk perbaikan. Kadang-kadang masih lebih mudah memperbaiki yang lama ketimbang membuat yang baru. Banyak pengalaman empiris tentang itu;
  • Rubi Rubiandini itu orang baik setahu saya. Awal bekerja sangat baik. Sangat baik. Itu membuktikan bahwa track record tak selamanya bisa menjadi satu-satunya pedoman menilai seseorang;
  • Ditayangkan beberapa gambar termasuk TKI yang mendapat hukuman (terancam hukuman mati). Kita, kata Dahlan Iskan, tidak boleh mengirim tenaga kerja lagi ke Negara yang tak memiliki sistem hukum yang dapat melindungi warga kita itu;
  • Ditayangkan lagi sebuah gambar: Dahlan Iskan berkomentar: Saya ingat beliau meninggal karena sakit lupus belum lama ini. Saya sudah merencanakan terapi untuk beliau tetapi beliau keburu meninggal. Saya ke takziah sana tidak membawa wartawan. Pernyataan ini diakui oleh kedua orang tua (dihadirkan di studio) dari perempuan (yang sudah meninggal) yang ada dalam tayangan foto;
  • Calak desa (tukang sunat di desa) memotong ujung sampul (kulit) kemaluan anak lelaki untuk sunatan itu dengan kulit bambu. Gambar ini (ditayangkan di studio) menunjukkan saya sunatan dengan ditumpangkan kepada sepupu. Keluarga kami miskin sekali waktu itu dan tak mampu menyunatkan saya. tiba-tiba sepupu tumpangan (sunatan) itu pun hadir di studio. Dipaparkannya kehidupan yang sangat melarat masa di desa bersama keluarga dan Dahlan Iskan ada dalam sejarah itu. Digambarkannya nikmatnya nasi “bancaan” kenduri yang diberi oleh orang yang memiliki perhelatan kampung.

Sebagai anak Abah, saya rasa lebih enak menjadi anak pengusaha ketimbang anak pejabat, kata putera sulung Dahlan Iskan. “Abah ini tidak akan membuat kita lebih senang, tetapi lebih baik”, begitu penegasan putera sulung Dahlan Iskan.

 

 

Shohibul Anshor Siregar

 


1 Comment

  1. […] SATU JAM LEBIH DEKAT DAHLAN ISKAN […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: