'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANAK MUDA BERPOLITIK

ANAK MUDA BERPOLITIK

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


IMG_8556

Tentu saja anak muda itu tak harus menganggap politik itu aspek struktural belaka. Melawanlah dari pinggiran, karena James C Scott (1987) juga merekomendasikannya lewat kajian-kajiannya, dan itu real politic yang bergerak melalui jalur kultural. Lagi pula Indonesia ini dimerdekakan dan dibangun, bukan oleh partai politik saja. Karena itu, wahai anak muda, berpolitiklah. Tetapi politik yang luhur. Setuju?

PADA umumnya orang Indonesia menilai pemilu demi pemilu yang diselenggarakan hingga hari ini adalah perhelatan transaksional minus sifat substantif yang mesti dimiliki, yakni adil seadil-adilnya dan jujur sejujur-jujurnya. Semua media mewarnai pemberitaannya dengan kesan yang sama. Tanyakan jugalah kepada seluruh caleg dan parpol. Meski keluhannya akan sama, tidak harus disimpulkan bahwa ada setan dari langit yang mengacaukan pemilu. Negara lain, atas dasar perhitungannya sendiri akan bervariasi dalam memberi penilaian. Akademisi juga acap akan terbelah. Ada yang akan tetap tulen dan ada yang akan menjadi pemuja kesesatan. Tergantung pada kecenderungan integritas dan motif masing-masing.

Agenda rutin yang wajib terlaksana sebagai metode sirkulasi kekuasaan di antara elit ini akhirnya lebih tepat dianggap sebagai demokrasi prosedural belaka. Implikasinya bagi kehidupan sosial, ekonomi dan budaya tidak terjejaki, dan memang belum itu agendanya barangkali. Lembaga-lembaga demokrasi memang tidak memerankan diri secara optimal sebagai agent of change. Padahal mereka seyogyanya aktif melakukan share of value hingga demokrasi berubah tak sekadar pesta liar di antara pemburu kekuasaan dan jaringan pelaku korupsi politik yang mengendalikan nafas keadilan, pembentukan perundangan dan penentu atas apa yang harus disebut baik dan buruk. 

Kapan tahapan perkembangan demokrasi yang sangat memilukan ini dapat berubah menjadi lebih baik? Jika generasi muda dengan senang hati dan tanpa ragu-ragu terjun langsung mengadopsi budaya politik yang ada, gerangan apa peluang yang dapat digantang untuk kemajuan masa depan? Mengharapkan para pemburu kekuasan mengendalikan perubahan setelah “bertaubat”, adalah sesuatu yang sangat tak mungkin.

Mengulangi gerakan peruntuhan rezim seperti yang terjadi pada tahun 1998 juga tidak mungkin. Apalagi berharap munculnya fenomena social banditry yang melahirkan uncommon people seperti Robinhood, Naga Bonar, Si Pitung, si Jiih dan lain-lain yang melukiskan kompleksitas ketidak-percayaan yang mengkristal menjadi figuritas imamah perlawanan atas nama sebuah tanggungjawab untuk maslahat orang banyak. Akhirnya membiarkan Indonesia mengerdil di bawah kendali partisan-partisan yang tak kunjung belajar menjadi negarawan mungkin adalah satu-satunya scenario yang akan berlangsung.  

Budaya Politik.Orang tidak hidup dan berada dalam ruang hampa. Dalam rumus kehidupan sosial, ia harus selalu dibayangkan dipaksa serasi atau tanpa sadar menserasikan diri terhadap imperatif lingkungan melalui sosialisasi sejak tahapan kehidupan paling dini. Memang ada kalanya dimungkinkan munculnya wacana perubahan, dengan posisi mempertanyakan secara radikal semua standar berlaku dalam kehidupan sosial, melalui saluran yang tak diduga-duga dan bahkan bahasanya pun tak selalu mudah difahami oleh kekuasaan. Muncul sebagai deviasi, mereka bisa melawan melalui seni, budaya perlawanan keras (perkelahian antar kelompok, geng motor, narkobaisasi), bahkan ketak-berdayaan apatis yang bersalur ke hedonisasi serta ekslusivisme-ekskulsivisme lainnya yang sama sekali tak memberi bentuk bahasa apa pun dalam narasi umum.

Tak hanya karena ijtihad-ijtihad individual dan interaksi di antara kelompok seideologi, tetapi peluang memunculkan perlawanan juga mungkin karena resapan nilai baru yang tersebar secara globalized. Itu mekanisme yang tak mungkin dikontrol oleh siapa pun dengan peluang kemungkinan memiliki keleluasaan membanding antar nilai, dan pada gilirannya mempertanyakan dan bahkan melawan eksistensi kemapanan yang secara subjektif dipandang sangat memuakkan. 

Di berbagai Negara yang masyarakatnya sudah sangat kecewa, model-model gerakan FPI adalah sebuah cita-cita yang seolah pengejawantahan perfect state yang masuk akal menjelma untuk ambisi menjawab semua yang tak pernah sama sekali ditanggulangi oleh real state yang mestinya hadir. Real satate telah dirampas dari rakyat, karenaya cenderung menjadi institusi terbesar dalam penelantaran. 

Perhatikan kemiskinan struktural yang tak pernah membuat real state bersedih, dan bahkan ketika akan digugat malah akan menggunakan hak monopolinya untuk memberangus dengan kekarasan. Permusuhan paling halus dari real state adalah membuat program quasi kerakyatan agar dengan itu dapat merampas hak-hak kesejahteraan rakyat atas nama pembangunan yang berwatak tunggal: korupsional. 

Di Indonesia, dengan intervensi pemahaman oleh Negara, orang akan selalu merasa lebih enak menunjuk contoh terorisme sebagai transnational crime yang berbahaya, tetapi amat jelas bahwa memahaminya, apalagi memberi solusi, terbukti tak semudah menuding-nudingnya. Negara ini berpancasila. Tetapi carilah kepancasilaan yang dapat menjadi model. Anda hanya mungkin bertemu dengan kemiskinan yang rukun dalam budaya kemiskinan itu, nrimo, taat, dan tak bercita-cita. Hanya itu peluang terbesar menemukan fakta tersisa dari implementasi kepancasilaan.

Lalu, mengapa orang-orang jujur dan anak-anak muda idealis dipersoalkan membanding dan mencari-cari Indonesia yang sesungguhnya, yang tak kunjung ditemukan itu? Melalui saluran interaksi yang sangat terbuka dalam globalisasi, sangat mungkinkan bagi siapa saja secara resiprokal (memasarkan dan meresapkan) gagasan-gagasan perlawanannya menjadi milik dunia (marketing of rebellion).

Penutup.Jadi bagaimana menyelamatkan masa depan bangsa jika tanpa lead yang luhur dari elit dan dalam lingkup budaya politik yang destruktif?Anak muda kita adalah bagian integral dari bangsa. Akan kita terjunkankah mereka ke dunia politik yang sedemikian buruk itu menirukan para elit yang mendinastikan politik dalam bentuk baru yang menggelikan itu?

Meski ada pendapat politik itu jahat dan buruk, namun bukan itu yang harus dijejalkan kepada anak muda. Dimensi kehidupan mana yang tak diselesaikan dan diperjuangkan melalui politik? Anak muda itu harus didorong berpolitik, pertama-tama melawan kebobrokan politik dan menggali lebih banyak gagasan ideal tentang harapan Indonesia ke masa depan yang bahannya sudah barang tentu tak akan mereka temukan dari elitnya sendiri yang bertengger di kekuasaan. 

Tentu saja anak muda itu tak harus menganggap politik itu aspek struktural belaka. Melawanlah dari pinggiran, karena James C Scott (1987) juga merekomendasikannya lewat kajian-kajiannya, dan itu real politic yang bergerak melalui jalur kultural. Lagi pula Indonesia ini dimerdekakan dan dibangun, bukan oleh partai politik saja. Karena itu, wahai anak muda, berpolitiklah. Tetapi politik yang luhur. Setuju?

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan 28 April 2014, hlm B5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: